Mike tertawa menatap Collin yang bersungut-sungut lalu membawa Aaron berdiri. “Kau seharusnya mengerjakan tugasmu dan belajar, bukannya malah enak-enakan bermain. Ingat, ada tanggung jawab yang ditinggalkan Dad untuk kau urus,” ujar Mike sambil menatap Collin dengan ekspresi mengejek.
“Kepalaku sudah mau pecah dengan segala macam buku dan tugas-tugas darimu itu. Dan aku bukan bermain, hanya butuh refresing,” balas Collin marah. “Lagi pula selama ini kau yang mengurus perusahaan-perusahaan itu dan semuanya baik-baik saja. Kenapa tidak kau urus sendiri saja lagi. Kenapa harus menyiksaku?”
Sejak Collin memutuskan untuk melanjutkan hidup—saat dimana ia akhirnya menerima jika apa yang terjadi di masa lalu tidak sepenuhnya salahnya—Mike mendatangkan guru private untuk mempersiapkan Collin terjun ke salah satu cabang perusahaan yang ditinggalkan ayah mereka. Karena Mike sudah punya bagiannya sendiri dan sudah mengembangkan apa yang menjadi miliknya, ia merasa Collin harus menerima bagiannya sendiri dan mengurusnya seorang diri.
Mike tersenyum menatap adiknya. “Aku tidak menyiksamu, hanya mengajarkan bagaimana caranya agar kau mampu menerima dan mengurus bagianmu dengan baik. Enak saja aku yang harus mengurus semuanya, kau harus tetap dapat bagianmu.”
“Bagaimana bila aku malah menghancurkannya?” tanya Collin ragu pada kemampuannya sendiri.
“Tidak akan, aku tahu kau mampu mengurusnya,” jawab Mike penuh keyakinan.
“Kalau aku menolak?” tantang Collin.
“Silakan saja. Tapi kau juga harus hidup di jalanan.”
“Kau tidak akan tega,” ujar Collin tersenyum senang.
“Demi kebaikanmu aku bisa saja tega,” jawab Mike cuek.
“Kau kejam. Aku bahkan belum bisa berjalan dengan baik. Kau tahu, kau seakan meletakkan batu besar di atas pundakku,” protes Collin tak terima.
Mike menatap Collin dengan ekspresi geli. “Jika apa yang kuberikan padamu saat ini seperti batu besar, mungkin apa yang aku pikul selama belasan tahun lalu adalah sebuah gunung.”
Collin terdiam karena kebenaran kata-kata Mike itu. Ia menyadari betapa besar tanggung jawab yang dipikul Mike seorang diri sejak dulu. Tidak sepantasnya ia marah-marah dan menolak untuk membantu meringankan beban saudaranya itu.
Menyadari kata-katanya telah merubah atmosfer menyenangkan di sekitar mereka, Mike mencoba mencairkan suasana. “Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Aku hanya mengingatkan jika besok gurumu akan datang dan memeriksa tugasmu. Dan untuk tugas yang aku berikan, kuharap setelah makan malam nanti aku bisa langsung memeriksanya,” ujar Mike lalu mengulurkan tangan pada Ailee yang langsung disambut oleh istrinya itu.
“NANTI MALAM?!” pekik Collin tak percaya. “Kau baru saja memberiku tugas itu kemarin malam. Bagaimana mungkin aku bisa menyelesaikannya secepat itu.”
“Kalau tidak selesai mungkin aku bisa memberi tugas tambahan nanti,” kata Mike santai lalu menarik Ailee menuju pintu. “Oh ya, kuharap kau bisa menahan diri untuk tidak berteriak-teriak di hadapan Aaron. Aku takut dia akan tumbuh menjadi anak yang gemar berteriak-teriak pada orang lain.” Mike berbalik saat mereka sudah berada di depan pintu.
“Oke, maaf kalau aku telah berteriak-teriak,” sesal Collin.
“Tidak apa-apa, ingat saja dengan tugasmu nanti malam.” Mike kemudian membawa Ailee dan Aaron keluar dari ruangan itu.
“Apa kau tidak terlalu keras padanya?” tanya Ailee saat mereka sedang berjalan menuju lantai dua sayap timur.
Sebelah tangan Mike memeluk Aaron di dadanya, sementara sebelahnya lagi menggenggam tangan istrinya. “Tidak, dia itu sudah dewasa. Kelakuannya saja yang masih seperti remaja,” jawab Mike. “Lagi pula, meskipun terkurung selama belasan tahun, Collin tetap belajar selayaknya anak-anak pada umumnya. Aku selalu mendatangkan guru untuk mengajarinya. Apa yang kuberikan belakangan ini hanyalah untuk mempersiapkan dirinya agar tidak terkejut berhadapan dengan dunia baru yang masih asing untuknya.”
Ailee mengangguk mengerti, lalu tiba-tiba teringat akan kertas yang berisikan nomor telepon wanita di taman botani kemarin.
“Mmmm… Mike, apa kau masih ingin menyimpan nomor telepon wanita yang kita temui di taman botani kemarin?” tanya Ailee saat mereka telah tiba di kamar.
“Hah? Wanita siapa?” tanya Mike bingung.
Melihat Mike yang sepertinya tidak terlalu mengingat wanita itu membuat Ailee tersenyum senang. “Hmmm… wanita yang suka bersepeda itu, yang katanya bertemu denganmu di toilet saat kau mengganti baju. Eee… aku lupa namanya.”
“Memangnya ada apa dengan wanita itu?” tanya Mike lagi lalu membawa Aaron masuk ke dalam walk in closet. Ia merasa tidak ingat pernah bertemu dengan seorang wanita saat mereka pergi ke taman botani kemarin. Apalagi saat di toilet. Apa Ailee berpikir ia mengganti pakaian di toilet wanita? Rasanya kemarin ia hanya masuk ke toilet pria, berganti pakaian, lalu kembali ke mobil untuk menjemput Ailee dan Aaron. Tidak ada waktu untuk bertemu orang lain sedikit pun. Tapi Mike tidak mau ambil pusing, ia pikir mungkin itu adalah salah satu wanita iseng yang ingin mengganggu istrinya sehingga membuat mereka berdua bertengkar.
Ailee mengikuti di belakang dan mengulurkan kertas yang sejak tadi ia simpan di saku celananya. “Emmm… kertas ini berisikan nomor telepon wanita itu. Tapi tidak sengaja ikut tercuci bersama pakaian kemarin,” ujarnya dengan harap-harap cemas. Takut bila Mike marah karena kehilangan nomor wanita itu. “Sepertinya tulisannya juga ikut terhapus bersama air.”
Mike menoleh sekilas setelah meletakkan Aaron ke lantai dan mengalungkan si kecil itu dengan dasinya. “Buang saja, untuk apa kau menyimpan hal tidak penting seperti itu,” ujarnya lalu membuka laci dan mencari pakaian ganti.
Ailee langsung merasa sangat senang dengan jawaban yang diberikan Mike itu. Tapi untuk memastikan, ia pun akhirnya bertanya lagi. “Apa tidak apa-apa?”
Mike menoleh ke arah Ailee dan tersenyum geli. “Honey, ada apa denganmu? Apa kau mau aku menyimpan nomor wanita itu?” tanyanya dengan senyum menggoda.
Ailee cepat-cepat menggelengkan kepala. “Tentu saja tidak,” jawabnya cepat.
“Lalu kenapa masih bertanya? Buang saja,” seru Mike lalu melepas jasnya.
Tersenyum senang Ailee langsung membalik badan untuk membuang kertas tersebut di tempat sampah. Sebelum membuangnya, ia menyempatkan diri untuk merobek-robek kertas tersebut menjadi potongan-potongan kecil.
Setelah merasa telah berhasil menyingkirkan apa yang menjadi kekhawatirannya sejak kemarin, Ailee segera kembali ke dalam walk in closet dan memunguti pakaian yang dilucuti oleh Mike.
Aaron sedang sibuk menatap dirinya sendiri di depan kaca setinggi ruangan yang terdapat pada salah satu dinding dengan mata penasaran saat Ailee datang mendekatinya. “Boleh Mommy minta dasinya, Sayang?” bujuk Ailee sambil melepaskan perlahan-lahan dasi yang dikalungkan Mike pada Aaron beberapa saat sebelumnya. Takut bila si kecil akan mengamuk. Tapi sepertinya Aaron tidak ingin melepaskan dasi itu begitu saja. Ia menggenggam ujung dasi tersebut dengan erat.
Melihat istrinya sedikit kerepotan, Mike cepat-cepat mengancing celananya lalu berjalan mendekati Aaron. “Oke, jagoan, coba lihat ini.” Mike mencoba mengalihkan perhatian Aaron dengan mengajaknya menatap kembali ke arah cermin saat Ailee berusaha menjauhkan tangan si kecil dari ujung dasi yang dipegangnya.
“Itu Aaron, Daddy, dan Mommy,” ujar Mike sambil menunjuk satu persatu bayangan mereka di dalam cermin. Si kecil itu tersenyum melihat pantulan dirinya dan langsung melupakan dasi yang dipegangnya tadi.
Ailee sukses membawa pergi pakaian kotor Mike lalu berjalan keluar menuju kamar mandi untuk meletakkan pakaian itu ke keranjang pakaian kotor. Setelah memeriksa saku jas dan celana Mike serta memastikan tidak akan ada lagi barang yang nantinya ikut tercuci, Ailee kembali menyusul Mike dan Aaron yang belum beranjak dari lemari pakaian itu.
“Rambut coklat, mata toska yang sama, Mommy selalu menyebut kita kembar.” Mike menunjuk bagian yang disebutnya tadi sementara sebelah tangannya memeluk Aaron menghadap kaca. Si kecil itu memperhatikan apa yang dilakukan ayahnya dengan seksama.
Ailee tersenyum lalu berjalan mendekati keduanya. “Ya, benar sekali anak kembar. Dan Mommy sayang kalian berdua,” serunya tiba-tiba sambil memeluk keduanya dari belakang. Aaron menjerit senang sementara Mike tertawa pelan karena serangan mendadak itu.
Ailee kemudian berjalan ke sisi tubuh Mike dimana Aaron diletakkan lalu berjinjit untuk mencium pipi suami dan anaknya bergantian. “Laki-lakiku,” sambungnya yang beberapa saat kemudian teredam karena Mike telah menunduk dan mencium bibirnya.