Ada satu hal yang selalu gagal dalam hidup Daffa.
Cinta.
Pria itu selalu gagal dalam hal percintaan. Dari sekian banyaknya wanita yang mendekat Daffa malah mencintai seseorang yang bahkan tidak melihat kehadirannya.
Kenapa harus begitu?
Kenapa dia tidak menyukai wanita yang juga menyukai dirinya?
Setelah mencintai dan berusaha keras merebut hati sang pujaan semuanya malah terancam gagal dengan kehadiran pria yang gadisnya sukai.
Dan sekali lagi Daffa gagal dalam hal percintaan.
"Udahlah Daf enggak usah sedih gitu lo," tegur Bryan pada Daffa yang sedari tadi hanya diam.
Pria itu melihat story di akun i********: Kinara yang di sana tertera jelas nama Jevan juga mirror selfie keduanya.
"Gue enggak akan kayak gini kalau aja cowok yang sama Kinara bukan Jevan!" kata Daffa geram.
"Lo tau Jevan gimana Daf nanti juga ditinggalin sama dia," ucap Bryan.
"Karena itu Bryan! Gue tau dia enggak tulus, masalahnya Kinara cinta sama Jevan dan gue enggak mau Jevan nyakitin dia," ungkap Daffa yang membuat Bryan menatapnya dengan senyuman.
"Sayang banget Daf?" tanya Bryan.
Daffa menghela nafasnya pelan dan mengangguk sebagai jawaban. Dia memang amat sangat menyayangi Kinara, meskipun gadis itu tidak pernah melihat ke arahnya.
Tidak peduli Daffa yang selalu ada setiap kali dibutuhkan hati Kinara tidak pernah berpindah untuknya.
Dan mungkin tidak akan pernah.
"Kenapa lo bisa sesayang itu? Kayaknya gue baru pertama kali lihat lo kayak gini ke cewek," kata Bryan sambil tertawa pelan.
Daffa tersenyum tipis ketika mendengarnya.
"Because she deserves it Bry."
Jawaban singkat itu berhasil membuat Bryan berdecak kagum. Ini beneran kali pertama Daffa jatuh cinta dengan seorang wanita.
Perasaan pria itu terlihat sangat tulus sekarang. Bahkan dia setakut itu jika Jevan menyakiti gadis yang dicintainya.
"Mungkin lo bakal ngetawain gue kalau dengar ini, tapi gue benar-benar jatuh cinta sejak pertama kali gue ketemu sama dia di fakultas," ungkap Daffa.
"Enggak Daf. Lo tau enggak ada yang harus di tertawakan untuk itu kan? Itu normal, suka dan jatuh cinta pada pandangan pertama itu normal dan semua orang pasti pernah ngerasain Daf," ucap Bryan.
Daffa mengangguk singkat sebagai tanggapan. Kemudian dia menenggak habis minuman miliknya.
Memikirkan Jevan dan Kinara yang mungkin akan berpacaran membuat hati Daffa nyeri sendiri.
Jujur saja dia belum siap melihat Kinara menjalin kasih dengan teman baiknya sendiri.
"Gue juga tau Jevan enggak bakal serius, tapi gue rasa Kinara juga cukup tau Jevan gimana," kata Bryan yang membuat Daffa menatapnya.
Dia melihat Bryan menyunggingkan seulas senyum tipis.
"Kalau Kinara nerima Jevan itu artinya dia udah cukup siap untuk ditinggalin secara tiba-tiba," tambah Bryan.
Benar kan?
Daffa juga sudah pernah memberitahu tentang Jevan dan jika Kinara masih tetap menerima pria itu artinya dia sudah siap dengan segala konsekuensinya.
Tapi, tetap saja Daffa tidak bisa diam saja jika Jevan menyakiti gadis itu.
Dia tidak akan menerimanya.
••••
Mata indah Kinara menatap Jevan yang berdiri sambil menatap keluar jendela dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Katakan saja dia gila karena tidak memberikan sedikitpun penolakan ketika Jevan menciumnya dengan gila hingga dia hampir kehabisan nafas.
Tubuh Jevan benar-benar terlihat kekar. Bahunya lebar sekali sangat pas kalau untuk bersandar.
Ah belum lagi matanya. Tatapan tajam milik pria itu membuat Kinara tidak bisa berkutik ketika berada di dekatnya.
Bahkan sekarang Kinara masih tidak percaya kalau Jevan adalah kekasihnya.
Saat dirinya tengah asik memandangi wajah Jevan tiba-tiba saja dia berbalik menghadapnya. Hal itu membuat Kinara langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Kemudian Kinara berjalan menuju dapur untuk mengambil minum dan untuk menjaga jarak dari Jevan.
"Jevan mau minum enggak?" tanya Kinara dari arah dapur.
Bukan memberikan jawaban Jevan malah menyusulnya ke dapur. Dia tersenyum sambil menatap Kinara dari arah samping.
"Gue cuman ada air putih." kata Kinara sambil memberikan satu gelas air putih kepada Jevan.
"Gue enggak haus sebenernya, tapi thanks." ucap Jevan.
Jevan mengambil alih gelas itu dari tangan Kinara dan meminumnya hingga habis dalam waktu singkat. Kegiatan meminumnya itu tidak lepas dari pandangan Kinara yang terus menatap ke arahnya.
Sadar bahwa Kinara menatap ke arah jakunnya yang naik turun ketika dia sedang minum membuat Jevan langsung tersenyum.
Dengan tidak sopannya Jevan menyentuh tangan gadis itu dan membuatnya tersentak. Kemudian Jevan membawa tangan lembut Kinara untuk menyentuh jakunnya.
Mata Kinara membulat. Jantungnya langsung bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Pegang aja jangan cuman diliatin." Kekeh Jevan.
Kinara terdiam sejenak. Kemudian dia menarik tangannya dengan wajah yang sudah sangat memerah.
"Lo salting terus," tutur Jevan.
Kinara sudah akan menyangkal, tapi pria itu sudah kembali bicara.
"Karena suka sama gue makanya salting ya? Dulu waktu lo pacaran sama mantan-mantan lo atas dasar suka gak?" tanya Jevan lagi.
"Kepo banget." ucap Kinara.
Jevan kembali tertawa lalu meletakkan gelas yang ada dalam genggamannya ke atas meja.
"Apa yang lo suka dari gue? Karena gue ganteng ya? Apa karena lo kira gue baik?" tanya Jevan sambil melipat kedua tangannya di d**a dan menatap Kinara dengan penuh rasa ingin tau.
Kinara terdiam sejenak, terlihat sedang berpikir.
"Hm keduanya." Kata Kinara jujur.
Suara tawa Jevan kembali terdengar. Kemudian pria itu mengajaknya untuk duduk kembali di ruang tamu.
"Lo udah lama tinggal di apart ini?" Tanya Jevan.
"Dari gue sma berarti kurang lebih lima tahun." Jawab Kinara.
"Gue cowok yang pertama kali kesini atau yang kesekian kalinya?" Tanya Jevan.
"Dua"
"Dua? Siapa yang pertama? Penasaran." Tanya Jevan sambil menatap Kinara dengan penuh rasa ingin tau.
"My ex."
Jevan mengangguk singkat lalu secara tiba-tiba tangannya terulur untuk membawa helaian rambut Kinara ke belakang telinganya hingga membuat wanita itu tersentak kaget.
"Lo bilang gaya pacaran lo memang enggak sehat, tapi lo enggak pernah sampai having s*x kan? Terus cuman sampai mana pacaran enggak sehat yang lo jalanin selama ini?" Tanya Jevan.
Entah kenapa kali ini Jevan merasa penasaran dengan Kinara.
"Just kiss"
"Kiss? Cuman sebatas itu? Sebatas ciuman dan lo bilang gaya pacaran lo enggak sehat?" Tanya Jevan dengan raut wajah terkejut.
"Ya memang kan?" ungkap Kinara dengan alis bertaut.
Jevan langsung tertawa mendengarnya, dia merasa lucu dengan apa yang Kinara baru saja katakan.
"Iya"
Kinara yang melihat Jevan mengatakan itu sambil tertawa langsung merasa kesal.
"Enggak usah ketawa." protes Kinara.
"Oke sorry babe." ucap Jevan yang langsung membuat Kinara terdiam.
Jantung Kinara berdegup dengan semakin kencang hanya karena Jevan memanggilnya begitu, tapi dia berusaha untuk terlihat biasa.
"Sekarang giliran gue yang tanya," kata Kinara.
"Mau tanya apa sayang?" tanya Jevan.
"Lo sering tidur sama cewek ya?" tanya Kinara.
"Kenapa penasaran banget sih?" kekeh Jevan.
"Ya... Ya mau tau aja sebagai pacar lo," ucap Kinara dengan gugup.
Jevan tertawa pelan, tapi tetap memberikan jawaban.
"Cuman dua kali itu juga karena gue enggak sadar lagi mabok," jawab Jevan jujur.
"Bohong ya?" tanya Kinara tak yakin.
"Untuk apa juga gue bohong," kata Jevan sambil mengangkat bahunya acuh.
Melihat Kinara yang hanya diam dan menatapnya dengan wajah sedih membuat Jevan kembali berbicara.
"Kenapa? Itu udah lama kejadiannya Kinara gue juga enggak bakal kayak gitu lagi," kata Jevan meyakinkan.
Setelah mendengar itu Kinara tersenyum tipis sebagai tanggapan. Kemudian Kinara berniat untuk pergi, tapi baru saja berdiri Jevan sudah menarik tangannya dan membuat dia jatuh ke dalam pangkuan pria itu.
Nafas Kinara tertahan untuk beberapa saat apalagi ketika Jevan mendekatkan wajahnya hingga Kinara dapat merasakan hembusan nafas pria itu di lehernya.
"Lo deket sama Daffa?" Tanya Jevan sambil membawa rambut Kinara kebelakang telinga.
"Iya udah dari awal masuk kuliah." jawab Kinara dengan jujur.
Jevan tak memberikan tanggapan lagi. Kini pria itu malah sibuk mengendus wangi tubuh Kinara hingga membuat kekasihnya itu tersentak.
Dia berusaha untuk turun dari pangkuan Jevan, tapi pria itu malah menariknya untuk semakin dekat.
"Daffa pernah bilang apa tentang gue? Pernah cerita ke lo enggak gue gimana? Lo pernah kepoin gue ke dia enggak?" Tanya Jevan.
"Daffa enggak bilang apapun dan gue enggak pernah kepoin lo." jawab Kinara.
"Lo pake parfum apa sih? Wangi banget." Kata Jevan jujur.
Pria itu membawa Kinara semakin mendekat dan mendusal di leher gadis itu.
Beberapa saat kemudian Jevan berniat mendaratkan ciuman di leher jenjang Kinara. Namun, ponsel disaku celananya berdering hingga beberapa kali.
Hal itu membuat Jevan mengumpat kesal. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dengan satu tangan yang tetap berada di pinggang Kinara.
"Kenapa Daf?" Tanya Jevan dengan suara beratnya.
Mata Kinara kini menatap Jevan yang terlihat serius ketika sedang menelpon dan tanpa sadar dia tersenyum.
"Sekarang? Ada siapa aja?" Tanya Jevan.
Sambil bicara di telpon Jevan ikut menatap Kinara lalu memainkan rambut kekasihnya itu dengan satu tangannya.
"Iya iya gue ke sana sama cewek gue." kata Jevan dengan senyuman di wajahnya ketika menatap Kinara.
Entah dorongan dari mana tangan Kinara tiba-tiba menyentuh rahang pria itu dan mengusapnya membuat Jevan memejamkan matanya untuk sejenak.
"Kinara.. Kinara Rayhana." Kata Jevan.
Mendengar namanya disebut Kinara menatap pria itu dengan tanda tanya.
"Ngapain juga gue bohong... Iya Daf gue ke sana kalau cewek gue mau nanti gue bawa." Kata Jevan.
Jevan mematikan sambungan telponnya lalu meletakkan benda itu di sampingnya.
"Mau ikut?" tanya Jevan.
"Kemana?"
"Ke tongkrongan ada Daffa sama Bryan terus temen gue juga," kata Jevan.
"Cewek?" tanya Kinara.
Jevan hanya bergumam pelan sebagai jawaban.
"Mau enggak? Kalau mau lo siap-siap," tanya Jevan.
"Mau."
"Yaudah ganti baju dulu sana," titah Jevan.
Kinara mengangguk patuh. Kemudian dia turun dari pangkuan pria itu dan pergi ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
Sedangkan itu Jevan kembali membuka ponselnya dan melihat banyak pesan yang Daffa kirimkan untuknya dengan seringaian di wajahnya.
Daffa :
Jev jangan gila
Jangan ngelakuin apapun ke Kinara
Lo enggak pernah niat pacaran Jev untuk apa sekarang lo pacarin dia?
Jev
Jev anjing bales chat gue
Jev
Jevan hanya membacanya saja dan memilih untuk tidak memberikan balasan. Matanya malah tertarik melihat ponsel milik Kinara yang ada di meja.
Jevan mengambil benda itu dan menghidupkannya. Berhubung Kinara tidak menguncinya, jadi Jevan melihat-lihat ponsel wanita itu.
Saat membuka aplikasi chat Jevan melihat ada banyak sekali pesan dari pria yang kebanyakan tidak Kinara balas.
"Banyak juga yang suka," gumam Jevan.
Merasa kalau Kinara tidak menyimpan nomor ponselnya Jevan berniat memasukkan nomornya, tapi ternyata nomor itu sudah ada di kontak Kinara membuat Jevan tersenyum.
"Udah,"
Suara itu membuat Jevan mendongak dan melihat Kinara yang sudah keluar dari kamarnya dengan memakai kemeja juga celana jeans panjang.
"Baru sampe padahal, tapi enggak papa gue juga bosan kalo di apart sendirian," kata Kinara sambil tersenyum.
Jevan tak memberikan tanggapan, dia bangun dan memasukkan ponselnya ke saku celana lalu menyerahkan juga ponsel kekasihnya.
Tangan pria itu kini merangkul pinggang Kinara dan keduanya bersama-sama kembali keluar dari apartemen.
Ah kalau diingat sebenarnya ini merupakan harapan Kinara dulu.
Menjadi kekasih Jevan Abinaka.
•••••
Kinara merinding juga geli ketika Jevan secara tiba-tiba menyandarkan kepala di bahunya bahkan hidung pria itu kini sudah menyentuh lehernya. Perbuatannya itu membuat teman-teman Jevan melihat ke arah mereka berdua.
Berbeda dengan Kinara yang merasa malu dan canggung, di sampingnya Jevan terlihat biasa saja. Kepala pria itu masih asik bersandar di bahunya dan dia malah sibuk memainkan ponselnya.
Kinara tidak sadar bahwa Daffa terus memandang ke arahnya dengan raut wajah yang sulit untuk diartikan. Ekspresi wajah itu malah disadari oleh Jevan yang langsungnya tersenyum puas.
"Jev anjir tau tempat kenapa kalo mau pacaran, " keluh Bryan yang membuat Jevan tertawa pelan.
"Biarin Bry namanya juga baru official," kata Ratu.
Perkataan yang keluar dari bibir wanita itu membuat Kinara langsung menatap ke arahnya. Bukan apa, tapi dia melihat jika wanita itu tidak menyukai kehadirannya.
Saat mengatakan itu saja dia terlihat sangat ketus dan jujur saja Kinara agak terkejut ketika melihat wanita itu hanya sendirian ditengah beberapa teman Jevan yang semuanya pria.
Tapi, mungkin salah satu kekasihnya ada disini.
Karena merasa tidak enak Kinara tersenyum canggung. Kemudian dia menyenggol lengan Jevan dan meminta pria itu untuk menjauhkan wajahnya.
Sayangnya bukan menjauh Jevan malah memeluk Kinara dan semakin menempel padanya.
"Pergi aja lah lo Jev," usir Bryan.
Jevan tertawa pelan. Dia kembali melirik ke arah Daffa yang sejak tadi mengalihkan pandangannya ke arah lain.
It's funny.
Kinara benar-benar merasa canggung. Apalagi setelah dia menyadari tatapan tajam Daffa mulai mengarah ke arahnya.
"Jev gue mau ke kamar mandi," kata Kinara beralasan.
Kali ini Jevan menjauhkan tubuhnya dan menatap mata Kinara.
"Jangan lama," kata Jevan.
Kinara mengangguk dan bergegas pergi ke kamar mandi meninggalkan tempat yang sekarang berubah menjadi mencekam dengan tatapan tajam Daffa juga senyuman sinis Jevan.
"Katanya enggak suka lo Jev." Kata Bryan.
"Memang enggak." Kekeh Jevan membuat Daffa merasa semakin kesal.
"Kalo enggak suka ya enggak usah dipacarin." Kata Daffa.
"Terus lo pacarin dia untuk apa Jev?" Tanya Ratu.
"Untuk seneng-seneng bosen sama cewek di club malam." Kata Jevan tanpa dosa.
"Anjing lo Jev." Maki Daffa yang tak terima bahwa Jevan hanya main-main saja pada wanita yang sudah lama dia suka.
Bukan tersinggung karena makian temannya Jevan malah tertawa dan mengambil satu batang rokok yang ada di meja lalu menghidupkannya.
"Serius amat Daf hidup lo kayak enggak pernah liat gue main-main sama cewek aja." Kata Jevan.
"Kalo lo enggak suka lebih baik putusin Jev." Kata Daffa.
Jevan menghisap rokok yang ada dalam genggamannya dan menatap Daffa dengan wajah menyebalkannya.
"Terus kalo gue putusin mau lo pacarin gitu? Kenapa sih suka lo sama cewek gue Daf?" Tanya Jevan sambil menekankan kata cewek gue.
Belum sempat Daffa memberikan jawaban Kinara sosok Kinara sudah terlihat berjalan mendekat membuat pria itu memilih untuk diam saja.
Daffa menyukai Kinara, tapi wanita itu menyukai Jevan.
Sayangnya Kinara mungkin menutup mata dan memilih untuk menjalin hubungan dengan Jevan Abinaka yang jelas-jelas tidak memiliki perasaan apapun padanya.
'Gue enggak pernah ada niatan untuk nikah, kata itu enggak akan pernah ada dalam kamus hidup gue'
Jevan tidak pernah ingin memiliki pasangan hidup, dia hanya ingin bersenang-senang dan Kinara menutup diri dari kenyataan itu.
Dia enggan sadar jika Kinara adalah salah satu tempat Jevan untuk bersenang-senang.
•••••
Kinara keluar lo!! (4)
Nayara :
Anjir Kinara jadian sama Jevan!
Pengkhianat lo Ra enggak bilang-bilang
Laura:
HAH?
SERIUS???????
Teressa :
Eh serius lo Nay?
Nayara:
Iya anjir
Lo liat i********: story Jevan
Itu jelas-jelas Kinara orang di tag sama dia
Teressa :
Anjir Kinara
Kurang ajar lo Ra enggak jujur sama kitaa
Lo anggap apa kita ini Raaaa????
Laura:
Sumpah?
Kinara gila lo ya kabar sefantastis ini enggak lo kasih tau
Kinara :
Sorry guys
Enggak gitu bukan enggak mau bilang
Nanti aja deh gue cerita kalo ketemu
Mager gue mau ngetik panjang
Nayara :
Apa gunanya fitur voice note sayang?
Cerita sekarang!!!!
Kinara :
Nanti aja masih ada Jevan di apart gue
Laura :
HAH?
GILA LO RA MAEN BAWA KE APART AJA
Teressa :
Anjir sadar Raaa
Kinara :
Dia cuman ambil barang yang ketinggalan bentar lagi juga pulang
Sebelumnya memang sempet mampir ke apart
Gue masih waras yaaa!!!
Enggak bakal gue sejauh itu!!
Nayara :
Bagus, tapi buktiin ya Ra
Orang kalo udah cinta suka bego soalnya
Jangan sampe lo gitu juga
Kinara baru akan membalas pesan yang Nayara kirimkan untuknya, tapi suara Jevan terdengar dan membuat dia mengurungkan niatnya.
Pria itu sudah ingin pulang, jadi Kinara langsung menghampirinya. Begitu dia muncul Jevan langsung memeluknya dan hal itu membuat Kinara tersenyum.
Setelah merasa cukup Jevan menjauhkan tubuhnya dan memberikan ciuman singkat di bibir Kinara.
"Gue suka lip yang lo pakai rasanya manis,"
Jevan mengacak pelan rambut Kinara sebelum akhirnya keluar dari apartemennya dan meninggalkan wanita itu tersenyum dengan wajah memerah karena ulahnya.
Sayangnya Kinara tidak tau bahwa ketika Jevan keluar dari apartemennya Jevan sudah menghubungi seseorang melalui ponselnya.
"Gue ke rumah, beneran enggak ada siapa-siapa kan di sana?"
Sial! Jevan memang sebrengsek itu harusnya dia dihindari bukan di dekati.