5

1726 Kata
Ratu Kaluna, wanita itu selalu ada bersama dengan Jevan dan teman-temannya. Bukan hanya dengan Jevan, tapi Ratu dekat dengan semuanya. Namun, dia lebih suka dan lebih sering menghabiskan waktunya bersama dengan Jevan. Kenapa? Karena Ratu sendiri yang menyerahkan dirinya pada Jevan. Bukan Jevan yang menggodanya, tapi Ratu yang melakukannya. Dia yang akan mencium pria itu lebih dulu dan dia yang selalu mengundang Jevan untuk datang ke rumahnya. Seperti sekarang misalnya. Suara mobil yang sangat dia kenali terdengar di pekarangan rumahnya dan Ratu tidak perlu menebak siapa yang datang. Karena jawabannya pasti Jevan. Sebelum Jevan sempat mengetuk pintu rumah Ratu sudah lebih dulu membukakan untuknya. Tanpa menunggu waktu lagi wanita itu langsung menyatukan bibir mereka selama beberapa detik. Perbuatannya itu membuat Jevan tersenyum. Begitu Ratu menjauhkan wajahnya dia masuk ke dalam rumah wanita itu. "Setelah nganterin Kinara pulang, lo langsung kesini?" tanya Ratu penasaran. Jevan mengangguk singkat sebagai jawaban. Pria itu duduk di sofa yang langsung membuat Ratu mendekat lalu duduk di pangkuannya. "Cewek lo enggak bisa kasih apa yang gue kasih ke lo ya Jev?" tanya Ratu yang membuat Jevan tertawa. Wanita yang kini duduk di pangkuannya itu hanya memakai kaos putih oversize juga hot pants yang menutupi tubuhnya. Belum sempat Jevan bicara dan memberikan jawaban Ratu sudah kembali mendekatkan wajahnya. Wanita itu menyatukan lagi bibir mereka membuat Jevan tersenyum kala Ratu mulai menggerakkan bibirnya. Dia mencium Jevan dengan tidak sabaran. Kedua tangannya mulai bergerak mengusap tubuh Jevan lalu membuka satu per satu kancing kemeja yang Jevan kenakan. Ketika bersama dengan Jevan tidak ada lagi rasa malu dalam diri Ratu. Wanita itu akan menyentuh Jevan lebih dulu dan menggodanya hingga Jevan mau menyentuhnya. Seperti sekarang Jevan akhirnya mulai menyentuh wanita itu. Satu tangannya menyusup masuk ke dalam kaos oversize yang Ratu kenakan. Jevan menyentuh kulit mulus itu dengan tangannya. Hal itu membuat Ratu tersenyum dan menghentikan ciumannya. "Kenapa enggak minta sama pacar lo Jev?" tanya Ratu dengan senyuman manisnya. Jevan tertawa pelan lalu memberikan jawaban yang membuat wanita itu ikut tertawa. "Baru pacaran masa langsung minta," kekeh Jevan. "Gaya lo anjir biasanya cewek enggak kenal juga lo bawa ke kamar," ujar Ratu masih diiringi dengan suara tawanya. "Yang ini beda Tu," Jevan tersenyum miring lalu dia menarik pelan dagu Ratu seraya menyentuh bibir wanita itu dengan jari telunjuknya. "Yang ini just kiss and cuddle kalo sama lo bisa semua." Kata Jevan. "Gila." "Baru tau? Gue gila, tapi lo suka kan?" tanya Jevan sambil tersenyum sinis. "Anjing." Makian itu malah membuat Jevan tertawa bukannya tersinggung. "Kalo dia tau gimana Jev?" tanya Ratu. Jevan hanya mengangkat bahunya acuh. Bukan memberikan jawaban satu tangan Jevan malah mengusap paha Ratu dengan penuh kelembutan. "Gimana ya reaksi cewek lo kalau tau kelakuan b***t lo ke gue Jev?" Tanya Ratu. Jevan masih tak memberikan jawaban apapun. Dia malah mendekatkan wajahnya ke leher jenjang Ratu dan meninggalkan beberapa kecupan di sana. Hal itu membuat Ratu melenguh pelan. Tangannya mencengkram kuat kemeja yang Jevan kenakan. "Gue enggak peduli soal dia Ratu," bisik Jevan. Ratu tersenyum. Suara lenguhannya kembali terdengar ketika Jevan menggigit pelan telinganya dengan tangan yang mulai menyusup masuk ke dalam bajunya. "Kalau dia tau itu bukan masalah besar buat gue karena gue juga enggak serius sama dia," kata Jevan dengan santainya. Kedua orang itu saling melemparkan senyuman satu sama lain. "Enggak ada dia masih ada lo kan?" Jevan tersenyum. Satu tangannya semakin naik ke atas yang malah membuat senyuman Ratu mengembang semakin lebar. Keduanya memang sudah benar-benar gila. ••••• "Cerita ke kita sekarang!" Kedatangan Kinara langsung disambut dengan pertanyaan oleh teman-temannya. Mereka benar-benar penasaran tentang bagaimana Kinara bisa berpacaran dengan Jevan. Lebih dari itu mereka juga bingung karena mereka kira Kinara tidak akan benar-benar berpacaran dengan cowok playboy seperti Jevan Abinaka. Sedangkan itu Kinara sendiri masih diam. Dia tidak tau harus memberikan jawaban apa kepada teman-temannya. Karena alasan dia dan Jevan bisa berpacaran itu sedikit aneh juga tidak masuk akal. Memang ada orang yang berpacaran karena dicium hingga bibirnya nyaris bengkak? Oh jelas saja ada. Kinara orangnya. Sampai sekarang Kinara masih diam sambil menatap ketiga temannya secara bergantian. Hal itu membuat ketiga temannya jengkel bukan main. "Kinara anjir jangan diem aja lo." Kata Laura kesal. Kinara malah menyengir lebar dan membuat ketiga temannya itu gemas sendiri. "Bingung anjir gimana ceritanya." Kata Kinara sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Cerita aja terserah mau mulai dari mana." Ucap Teressa. Kinara menghela nafasnya pelan sebelum benar-benar memberikan jawaban. Setelah cukup lama terdiam akhirnya Kinara mulai bercerita dengan suara yang terdengar pelan. Wajahnya memerah hingga ke telinga dan selama Kinara bercerita ketiga temannya hanya bisa menatapnya dengan tidak percaya. "Gilaaa!" "Gila Ra sumpah harusnya jangan mau, gimana kalo lo cuman sekedar pelampiasan nafsunya aja?" Kata Teressa yang tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Kinara meringis pelan. Dia merasa bingung harus bereaksi seperti apa. Tatapan teman-temannya itu menyeramkan. Mereka seperti ingin memukul Kinara saja. "Tapi, mungkin Jevan enggak sebrengsek itu mungkin aja dia bakal berubah," kata Kinara tak yakin. Ketiga temannya itu hanya bisa menghela nafasnya pelan. "Gue enggak bisa larang lo deh karena lo udah dewasa dan pastinya lo tau konsekuensi apa yang bakal lo hadapin ketika pacaran sama Jevan," ucap Teressa dengan senyuman tipis di wajahnya. "I know Sa." "Tapi, kalau dia nyakitin lo gue yang bakal maju duluan buat nonjok muka sok kegantengannya itu," geram Teressa. Perkataan itu membuat Kinara tertawa. Begitu juga dengan yang lainnya. Jelas saja Teressa selalu menjadi pelindung mereka dalam urusan apapun. "Sesuka apapun lo sama Jevan jangan sampe bego ya Ra?" Laura mengingatkan teman baiknya itu. Dia tau bahwa Jevan jauh dari kata baik, jadi dia tidak mau pria itu merusak teman baiknya. Tapi, sayangnya Kinara akan berubah menjadi sangat bodoh ketika jatuh cinta. ••••• Seorang wanita dengan balutan dress pendek di atas lutut sudah duduk di pangkuan Jevan sambil memeluk pria itu menggunakan kedua tangannya. Perbuatannya itu sama sekali tidak membuat Jevan terusik atau merasa tidak nyaman. Jevan terlihat santai dengan minuman beralkohol miliknya. Dia juga membiarkan tangan wanita itu menyentuh tubuhnya. "Jev mending lo putusin Kinara kalau lo masih mau deket sama semua cewek." Kata Daffa geram. Wajah Daffa memerah karena menahan amarah. Rasanya dia ingin memukul wajah Jevan berkali-kali karena masih saja menempel dengan wanita-wanita seksi padahal sudah memiliki kekasih. "Daf ini urusan gue sama dia, jangan ikut campur," kata Jevan sambil tersenyum. "Jelas gue harus ikut campur Jev! Lo nyakitin Kinara tau gak?!" Seru Daffa dengan wajah memerah karena menahan amarah. "Tapi, dia seneng pacaran sama gue Daf," elak Jevan. "Iya karena dia enggak tau kelakuan lo," kata Daffa sambil menunjuk wajah pria itu. Jevan tertawa pelan mendengarnya. "Gue udah ke apart dia Daf tunggu aja gue tidur sama dia ya? Nanti kalau udah baru gue tinggalin setelah itu kalau lo mau ambil aja." Kata Jevan. Jevan yang memang sengaja memancing amarah Daffa tertawa ketika pria itu mengumpat cukup kuat. "Anjing!" Sebelum Daffa sempat berdiri dan memukul wajah Jevan bahunya sudah ditarik oleh Bryan. Hal itu bukan karena Bryan membela salah satu dari keduanya. Dia melakukan hal itu karena tau jika keduanya susah bertengkar maka akan sangat sulit untuk dipisahkan. Mereka tidak akan berhenti untuk saling memukul jika salah satu diantara mereka belum ada yang kehilangan kesadaran. Bryan tau karena hal seperti itu sudah terjadi dua kali, jadi sebisa mungkin Bryan menghindari pertengkaran diantara kedua temannya. "Sampe lo ngelakuin itu habis lo sama gue Jev." Kata Daffa. Sebelum pergi Daffa menendang kursi cukup kuat yang hanya ditanggapi Jevan dengan santai. "Jangan gitu lah Jev," tegur Bryan. Jevan tak mau memberikan tanggapan apapun. "Masih dendam lo sama Daffa?" Tanya Bryan. "Menurut lo aja gimana Bry." Kata Jevan. Bryan tak mau banyak berkomentar dia hanya diam sambil menatap Jevan dengan lelah ketika pria itu mencium pipi wanita yang ada di pangkuannya sambil berbisik pelan. Mata Bryan jelas melihat Jevan yang memberikan sesuatu sebelum wanita itu beranjak pergi dari pangkuannya dan berjalan menjauh dari mereka. "Jangan jadiin Kinara pelampiasan Jev," tegur Bryan "Biar dia juga tau gimana rasanya orang yang dia suka tidur sama sahabat baiknya sendiri Bry." Kata Jevan. "Posisinya mereka sama-sama mau Jev, jangan gitu Kinara enggak tau masalah diantara kalian berdua, jadi jangan seret dia," kata Bryan dengan penuh keseriusan. "Makanya gue pacarin Kinara biar nanti posisinya gue sama dia juga ngelakuin itu karena sama-sama mau." Kata Jevan sambil tertawa pelan. Bryan benar-benar lelah memiliki teman seperti Jevan dan Daffa yang sama-sama tak mau mengalah juga pendendam. "Terserah deh Jev." Bryan sudah malas menasehati. Tapi, Bryan berharap suatu saat nanti Jevan akan bertemu dengan wanita yang membuatnya tunduk. Dia berharap akan ada seorang wanita yang membuat Jevan menangis karena ditinggalkan. Kalau hal seperti itu sampai terjadi Bryan akan menjadi orang yang tertawa paling keras. ••••• "Kak Jevan kemana sih?" Reva terlihat cemas karena Kakaknya tak kunjung pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Sejak tadi Reva tak bisa tidur, dia terus terbangun untuk memastikan Kakaknya sudah pulang atau belum. Sayangnya hingga jam segini Jevan tak kunjung pulang atau sekedar membalas pesannya. Karena sudah cukup panik Reva menghubungi salah satu teman Kakaknya. Bukan Daffa, tapi Bryan soalnya Reva tau kalau Daffa itu lebih sering pulang lebih cepat. Reva menunggu panggilannya diangkat dan tak butuh waktu lama suara Bryan terdengar bersamaan dengan suara bising yang memekakkan telinga. "Kak Bryan?" Telinga Reva menangkap suara bising musik yang mulai menghilang. Hal itu karena Bryan berjalan keluar agar bisa mendengar suara Reva dengan jelas. 'Iya Va, kenapa?' "Kak Jevan masih di sana? Aku khawatir dia enggak balas chat aku soalnya," keluh Reva. 'Jevan? Ada kok masih asik minum, enggak usah ditungguin Va aman dia sama gue.' "Huh bukannya balas chat aku malah asik minum," gerutu Reva. 'Lo sendirian?' "Iya hehe aku dari tadi kebangun terus," adu Reva pada Bryan. 'Tunggu bentar deh gue suruh Jevan pulang dulu.' "Enggak papa Kak aku biasa sendirian kok tadi aku khawatir karena Kak Jevan enggak balas chat aku aja," kata Reva. 'Enggak papa suruh pulang aja, memang Jevan suka enggak ngotak adeknya ditinggal terus.' "Haha enggak papa Kak," ucap Reva sambil tertawa. 'Tunggu aja Va nanti dia pulang, gue pukul palanya kalau dia enggak mau pulang.' "Makasih Kak." Reva tersenyum ketika mengatakannya. Tak lama dia mematikan sambungan teleponnya. Beberapa menit kemudian Reva mendapat balasan pesan dari Kakaknya. Kak Jevan : gue otw pulang tidur sana Reva kembali tersenyum. Kalau sudah begini dia jadi merasa tenang. Huh Bryan memang selalu bisa diandalkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN