Sejenak cewek itu memejamkan mata. Membaringkan tubuh di atas ranjang hotel bintang lima. Ia merasa lelah. Padahal acara resepsi pernikahan masih akan dilakukan pukul tujuh malam. Seharusnya sekarang Septa bersiap-siap untuk didandani layaknya princess seperti impiannya. Tapi, entah kenapa ia mendadak tidak bersemangat. Pernikahan ini seakan tak berarti. Septa bahagia, tapi kebahagiaanya terasa hampa. Bukan karena keputusannya memilih Nandeka sebagai suami melainkan karena ketidakhadiran Ibu, Bapak dan Abang kandungnya. Dibalik kebahagiaanya ada kesedihan yang tak bisa diceritakan pada siapapun. Septa merindukan Bapak dan Gatta—abangnya. Seharusnya juga di hari bahagianya ini tiga orang yang berharga bagi Septa bisa datang dan menyaksikan. Tapi, sayangnya Tuhan sudah menakdirkan rencana

