19. Membuat Hiasan Kelas

1590 Kata
  Ribuan suara terdengar jelas di telinga seorang pemuda yang kini berdiri di rooftrop sekolah. Matanya terpejam berusaha untuk fokus mencari suara milik temannya yang kini masih belum datang juga. Tidak seperti biasanya pemuda tampan rupawan itu datang terlambat. Pasti ia memiliki misi yang tidak bisa di tinggalkan sejenak. "Duh mana sih suaranya, Haku?" monolog pemuda itu terus mencari suara milik Haku. Yugo Orochi adalah pemuda yang bisa mendengar suara dari jauh, walau suara kecil bak semut pun ia akan tahu. Jadi semua orang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Yugo. Ia juga pemuda yang pengertian, pendiam dan peduli. Bagaimana ia selalu menegur Dimas kalau anak itu membuat naik darah April? Hembusan angin menerpa wajah kalem dan lugu. Beberapa helaian rambut yang mulai gondrong menari-nari sesuai arah angin. Mata sipitnya terbuka, bulu mata lentiknya menatap ke depan. Jika menggunakan kekuatan pendengar jarak jauh sangat susah, biasanya ia mendengar dengan jarak meter bukan ratusan meter. Mendengar suara dari jauh tanpa melihat pemilik suaranya itu susah, dari jutaan manusia di bumi pasti suara-suara mereka ada yang mirip seperti orang yang kita kenal.   Pemuda itu menghela nafas berat, percuma ia berusaha mencari informasi Haku dari jarak jauh. Yugo berbalik badan ingin menuju ke kelas, pasti mereka semua sudah merencanakan membeli hiasan kelas. Saat ingin menginjakkan kaki ke anak tangga. Mata Yugo terbelalak, indera pendengarannya menjadi tajam dan bisa di tebak kalau suara yang di dengar berada di kantor polisi. Pemuda itu diam sejenak dengan dahi berkerut samar sebab ia hanya bisa mendengar ucapan, pak ketua kelas. Dari percakapan yang Yugo mendengar, ucapan Haku sangat serius tentang 'Sekolah ini akan di tutup'. "Aku dan teman-temanku, tidak akan membiarkan sekolah itu di tutup. Dengan seratus persen, berita itu akan menjadi angin lalu, tidak akan jadi badai topan yang ingin menghancurkan sekolah, sekejap mata!" jelas Haku kalem nan tegas. Seulas senyum terukir jelas di sudut bibir pemuda itu lalu Haku berkata kalau ia harus cepat bergegas di sekolah karena terlambat. Yugo segera menuruni anak tangga cepat lalu berlari ke kelas 1-E. Di sana ada April, Judy dan Yuli tidak lupa dengan kembaran Haru tengah mem-video kegiatan untuk konten serta promosi sekolah. Yugo memanggil April sebutan Bu Ketua. April menghentikan kegiatan menyapu, menatap pemuda kurus di depannya. Seulas senyum yang jarang terlukis di wajah Yugo kini terlihat serta wajahnya juga berseri-seri seperti cahaya. Yuli menoleh dengan senyuman. "Berita bagus kan,Yugo?" tebak Yuli dibalas angguk pemuda itu. "Berita bagus apa? Orochi?" tanya Judy membuat April yang ingin bertanya terkurung karena kedua temannya mewakilkannya. "Haku berkata kalau sekolah ini tidak akan di tutup. Ia dan teman-teman akan berjuang, supaya sekolah ini tidak jadi di tutup!" kata Yugo senang. Mereka berempat senang mendengar nya, "Haku sebentar lagi datang ke sekolah kalau gitu aku akan pergi ke kelas 1-A." ucapnya mengangkat tangan sampai jumpa dan keluar kelas.      April tersenyum senang bisa mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk mencapai sekolahan ini kembali sejahtera. Di kelas lainnya terutama di kelas 1 A dan B, kelas paling heboh. Setelah kelas B berisik karena aku takut dengan binatang berkaki delapan yaitu laba-laba. Entah, kenapa aku sangat takut dan benci sama laba-laba? Apalagi kalau binatang itu merambat ke tubuhku seperti tadi. Aku akan menyingkirkan laba-laba itu tetapi tidak bisa. Fian Xian Lu dan Jesse mengambil pel serta sabun untuk membersihkan lantai dari kotoran yang menempel. Aku yang melihat lantai penuh noda dan debu yang masih menempel, risih. Meski aku jarang bersih-bersih kalau melihat barang acak-acak kan atau tidak enak di pandang.   Rasanya ingin menata sebagus mungkin kalau bisa merilekskan pikiran dan membuat hati senang jika memandang. Kelas 1-A ribut perihal ada sarang tikus di kolong meja. Zulfa yang katanya asik membersihkan kolong meja kaget dan berteriak setelah Jesse berteriak karena 'kuntilanak'.     Jesse tidak tahu jika hantu di sampingnya bukan kuntilanak melainkan jauh lebih menyeramkan dari hantu wanita. Yaitu hantu tanpa kepala, aku yang membayangkan dengan imajinasi saja sudah merinding apalagi kalau aku di takdir kan sebagai anak indigo pasti bakal pingsan melihatnya langsung. "Hii,jijik gue!" kata Zulfa merinding jijik menjumpai sarang tikus. Mas Daniel dan Rudy berhasil menangkap sebanyak 2 ekor tikus besar dan lainnya adalah tikus kecil-kecil. Suara khas terdengar dari dalam kresek hitam di tangan Rudy dan Yugo membersihkan sisanya. "Udah tidak ada. Semua tikusnya udah ketangkap." katanya, aku yang mengamati di luar juga ikutan jijik. "Atma!" panggil seseorang membuatku menoleh ternyata itu Haku. "Haku, kau baru datang?" tanyaku kaget. "Aku tadi mendengar teriakan histeris dari kelas ini memangnya ada apa?" tanya Haku. Aku ingin menjawab tetapi Alvin datang menyerobot. Jadi aku tidak menjawab pertanyaannya. Haku mengangguk mengerti lalu pergi ke kelas 1-E.   Waktu terasa sangat cepat sebab kami tengah asik bergotong royong membersihkan kelas sampai lupa mengisi perut dan salat. Untung saja Mas Daniel dan Yuli mengingatkan yang lain sedangkan sisanya istirahat.    Awan biru terlihat lebih indah, sinar matahari yang menyorot panas membuat siapa saja silau. Rasa haus mulai terasa, tenggorokan terasa kering karena kurang pasokan air. Setelah salat dhuhur di musholah, tempatnya di belakang sekolah. Aku memakai sepatu dan menoleh ke Zulfa, April dan Yuli bergantian. "Selesai bersih-bersih kita mau ngapain?" tanyaku pada yang lain. Zulfa memegang dagu berpikir,"kita akan membeli hiasan kelas. Nanti aku suruh Niall dan Judy sedangkan kita memikirkan konsep. Kelas yang pertama di dekor adalah kelas kita," jelas Zulfa panjang lebar.    Aku tersenyum mendengarnya. Matahari perlahan bergeser ke arah barat, sinar yang terang benderang memberi cahaya serta kehangatan kini sudah mulai meredup. Jalanan sudah mulai ramai kendaraan. Kelas 1-E begitu serius membuat hiasan dari kertas warna-warni, melipat kertas warna menjadi bentuk-bentuk seperti burung, kupu-kupu, cinta dan ada juga yang membuat pesawat terbang.    Aku membuat orang-orangan, dimana mulutnya bisa menganga jika kertas di bawah, naik-turun. Mulut orang kertas akan ikut terbuka dan tertutup. "Pril lihatlah ini!" ucapku menunjukkan ke April. "Hai April, namaku adalah Macan. Macan singkatan dari malaikat cantik by Atma." ucapku menggerakkan boneka kertas itu. April tertawa melihatnya. "Suaramu lucu sekali, macan!" kata April. Pasang mata tertuju ke bangkuku. "Iya-iya dong. Suaraku harus lucu karena aku itu menggemaskan!" kataku dengan suara di buat-buat biar terlihat seperti dubber di televisi gitu. April terkekeh mendengarnya,"iya, suaramu lucu kayak tikus kejepit!" celetuknya membuat mimik wajahku seketika berubah. Dasar emang yeah--batin ku kesal. "Atma, kalau masang muka gitu pengen aku cubit!" kata Dimas gemas pengen cubit pipiku. "Hiii, merinding gue!" kataku lanjut membuat hiasan kelas lagi. "Elah, Atma. Gue kan bukan hantu." kata Dimas datar. Jesse tertawa ngakak mendengar perkataan Dimas,"hahaha,makannya jadi orang itu jangan kebanyakan modus!" sindirnya membuat Dimas mendesah kesal,"tuh, Atma sampai nggak gelem ambek awakmu karena kau suka modusin cewek dan kepedean. (tuh, Atma samai tidak mau sama kau karena kau suka modusin cewek dan kepedean)." lanjut Jesse yang membuat bunga kertas mawar. Dimas memasang wajah datar mendengar sindiran Jesse. Fian Xian Lu selesai membuat puluhan hiasan pita yang cantik. "Akhirnya selesai juga!" kata Fian Xian Lu merentangkan kedua tangan ke atas menghilangkan rasa lelah di tubuhnya. "Cepet amat selesainya!" kata Niall.   Pemuda berambut blonde bangkit berdiri melihat hasil kerja Fian Xian Lu. Aku yang curi-curi pandang, Niall sangat kagum dengan kerja seni hasil Fian Xian Lu. "Wah cantik sekali kau buat pita seperti beli di pasaran." kata Niall. Fian Xian Lu memberikan sesuatu ke Niall sebuah gelang tali berwarna merah putih. Semua anak laki-laki kagum dengan kerajinan Fian Xian Lu. "Wih, ternyata lu jago juga buat beginian!" kata Dimas melihat dua gantungan tali untung ponsel. Kami berempat juga iri dengan Fian Xian Lu yang diam-diam pandai membuat kerajinan tangan. Aku yang suka sekali dengan accesories, kegirangan. Fian Xian Lu membagikan gelang buat kami berempat. "Ini serius, kau memberikan kami percuma?!" kataku tidak percaya di balas angguk oleh Fian Xian Lu. "Wah, Fian Xian Lu langsung di hampiri para cewek! Aku iri!" celetuk Haru selesai membuat pita panjang. Judy yang ada di sebelah bangkunya hanya tersenyum,"yang sabar. Kau harus memiliki kemampuan yang membuat mereka menghampirimu." "Selera mereka berempat beda dengan cewek di luar sana!" lanjut Haku membuat kertas bunga lalu menempelkannya ke jepit kecil. Tidak lupa meniup kecil ke lem tersebut agar cepat mengering. Haru mengerut melihat Haku yang membuat jepit dengan hiasan bunga kertas berwarna pink. "Kau hanya membuat jepit? buat siapa?"tanya Haru kepo. Haku melihat lamat-lamat hasil kerajinan tangan nya,"orang yang sederhana tapi memesona." kata Haku.   Jam sudah menunjuk kan jam tiga sore tanda jam sudah usai. Seharian ini tidak ada pembelajaran sebab minimnya guru dan waktu pembelajaran sedikit. Jadi murid 1-E lebih memilih membuat promosi. Besok, kami akan di temani oleh wali kelas yaitu Samuel Jin kembarannya Jungkok. Aku rasa, diriku ini harus minta maaf pada Pak Sam karena chatku kemarin. "Atma, ayo! Mas Daisuke sudah ada di depan nunggu." kata Mas Daniel. Aku segera bergegas dan tidak lupa pamit ke Yuli, Zulfa dan April yang masih berkutat dengan hiasan kelas. - - - - -   Semua murid sudah pulang masing-masing menyisakan empat orang yang masih di dalam kelas yaitu; April, Haku,Jesse dan Alvin. Mereka berempat membereskan hiasan-hiasan kelas ke kantong kresek besar. Lalu mereka keluar bersama-sama. Haku menutup pintu kelas lalu menyusul mereka yang sudah di depannya beberapa meter. Pemuda bersurai abu-abu itu melihat jepit hasil karyanya meski tidak sebagus pita di pasaran atau giok seorang permaisuri. Tetapi di mata netra ungu itu terlihat indah. Di genggam lembut pita itu lalu menatap punggung gadis tinggi semampai dengan rambut yang selalu ia gerai.   April sudah di jemput oleh ayahnya. Ia ingin sekali memanggil April jadi terkurung. Alvin pulang duluan dan Jesse di tarik oleh Haku untuk mengikutinya. "Eh Haku, mau kemana?" tanya Jesse ke Haku karena tidak seperti biasanya Haku bersikap seperti ini. Sebenarnya ada apa dengan ketua kelas, Irish Haku? --batin Jesse. -Sekolah Aneh- Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN