Malam yang gelap penuh bintang tanpa ada sinar rembulan. Di bendahara terlihat seorang pemuda bertudung jaket menyeret koper dan tas besar di punggungnya. Raut wajahnya tidak bisa di deskripsikan, suasana hatinya benar-benar hancur. Ia sengaja pergi ke luar negeri untuk menetap ke negara yang sekarang ia pijak.
Di Jepang, ia selalu sendirian tanpa kawan. Ia juga di pandang manusia tidak normal, memiliki kekuatan. Manusia jenis apa itu? Yang memiliki kekuatan seperti cerita fiksi. Pemuda itu juga enyah dengan orang-orang di sekitarnya membuat risih. Bahkan bersikap baik pada orang-orang sekitar pun tidak bisa. Semenjak tahu, ada anak yang lahir memiliki kekuatan hebat.
Orang-orang yang gila ilmu dan memiliki rencana yang rumit memilih mencarinya. Ia yang sudah tahu perihal ini, memutuskan untuk mencari perlindungan terutama perlindungan orang tua, orang yang paling dekat. Tetapi kedua orang tuanya malah di butakan oleh harta secara paksa ia mengeluarkan kekuatan ke orang tuanya itu.
Wajah kalem polos itu menahan untuk tidak menangis meski air matanya perlahan menetes membasahi kulit putihnya. Sekeliling ruangan sudah penuh kristal es. Apa yang di pikirkan oleh orang tuanya? Demi untuk mendapatkan uang harus menjual dirinya pada orang asing.
"Gomen'nasai, okāsan to otōsan. Watashi wa anatatowatashi no tame ni kore o suru koto o yoginaku sa rete imasu. (maafkan aku,ibu dan ayah. aku terpaksa melakukan ini demi kebaikan kalian dan aku.)" ucapnya terisak menatap pemandangan yang buruk baginya.
"Watashi wa okonatte, watashi no chikara de seigi no hito ni narimasu. (aku akan pergi dan menjadi orang penegak keadilan dengan kekuatanku.)"
"Mata okāsan to otōsan itsuka kami ga anata o futatabi atsumetara, anata ga watashi to kono chikara o ukeirete kureru koto o negatte imasu.(sampai jumpa ayah dan ibu. suatu hari jika tuhan mempertemukan lagi,aku harap kalian bisa menerimaku dan kekuatan ini.)" ucapnya tanda perpisahan pada kedua orang tuanya untuk terakhir kalinya.
Pemandangan buruk itu segera ia jauhkan dalam pikirannya. Di sini, di rumah barunya akan menciptakan lembaran-lembaran baru. Mobil taksi melaju kencang menerobos jalan nan sepi. Dalam pikiran pemuda itu, kota ini tidak seramai di Kota Tokyo di malam hari.
"Ini mau pergi ke mana? Mas?" tanya Pak Supir.
Pemuda itu mengerutkan kening, tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh pak supir tersebut.
"What?" ucap pemuda itu, jika ia menggunakan bahasa Jepang pasti supir tersebut tidak mengerti.
Pak supir itu tersenyum melihat kaca mobil,"Where are you going?"
Tangan kanannya merogoh ke saku jaketnya mengeluarkan secarik kertas bertuliskan alamat. Supir itu melihat alamat yang tertera di atas kertas lalu mengangguk.
Sampai di tempat kost yang tidak sebegitu mewah. Pemuda bertudung jaket memberikan selembar uang ke supir lalu masuk ke kost. Ini masih pukul 11 malam, pemuda itu mengetuk pintu pemilik kost. Harusnya saat perencanaan pergi ia memilih jam siang bukan malam tetapi ini sudah terlanjur, apa boleh buat.
Pemilik kost keluar dari rumah bertanya pada pemuda tersebut. Ia mengeluarkan ponsel untuk mentranslet kata-kata yang di ucap oleh wanita paruh baya sekitar umur 39 tahun. Mendapatkan kost dengan biaya murah sudah membuat pemuda tersebut bersyukur pada tuhan.
Jaketnya ia lepas menunjukkan warna rambutnya yang abu-abu panjang sepunggung. Mata tajam nan kalem melihat setiap sudut kost yang hanya ada satu ruang saja dan fasilitasnya, kipas, listrik serta air. Baginya udah cukup. Pemuda tersebut melepas penat, tidur di lantai tanpa alas dan lipatan jaketnya buat bantal.
-Sekolah Aneh-
Sudah mendapatkan satu minggu lebih tinggal di indonesia. Pemuda itu juga harus bolak-balik mengurus surat menetap di sini, ia masih belum bisa bersosialisasi pada orang lain. Takut, kalau kejadian di negara kelahirannya terulang kembali.
Haku selalu menyembunyikan rambut abu-abu yang mencolok. Apakah di sini juga? Ada orang yang memiliki pikiran kalau ada beberapa anak memiliki kekuatan,entahlah.
Kedua kaki galahnya dengan kedua tangan di saku kan, berjalan santai di trotoar. Kendaraan pribadi di sini jauh lebih banyak daripada kendaraan umum. Orang-orang di sini juga tidak mau jalan kaki meski jarak rumah dan tempat tujuan hanya beberapa meter.
Kedua kakinya tidak berhenti melangkah terus yang entah ia sendiri tidak tahu mau kemana. Menegakkan keadilan untuk orang-orang yang tidak mendapatkan keadilan, sangat sulit. Langkahnya berhenti ketika melihat sekolah megah bernama 'SMA Krias 04'--begitu banyak murid di dalam sana. Ia jadi rindu suasana sekolah di Jepang.
Tetapi ia takut kejadian itu terulang kembali. Setelah terdengar bel berbunyi Haku ingin pergi masuk ke dalam sama tetapi seorang pria menghalanginya. Pemuda itu melihat topi yang dikenakan pria tersebut, Security.
"Orang asing tidak boleh masuk. Lebih baik kau pergi! Jangan ganggu murid belajar di sini!" tegas Satpam itu mengusir Haku.
"Haira sete! (Biarkan aku masuk!)" ucap Haku tapi masih di halangi oleh satpam itu membuat pemuda berjaket kesal.
Ia melirik satpam itu sinis,'Bakku doa kara furonto doa ni hairu koto ga dekinai baai. (jika aku tidak bisa masuk pintu depan lewat pintu belakang)'--ucapnya dalam hati tersenyum.
Pemuda tersebut lewat pintu belakang seperti seorang murid yang sempat membolos dan kembali ke sekolah. Haku berjalan masuk dengan was-was berusaha untuk tidak ketahuan orang lain terutama guru piket. Saat sudah sampai di koridor, sudah tidak ada siapapun. Ia mulai berjalan santai melihat sekolah ini begitu megah, banyak ruangan kelas dan lengkap dengan ruangan ekstrakulikuler.
Dalam hatinya ia ingin sekolah di sini. Ia mengintip di balik jendela melihat guru mengajar murid-muridnya dan ada-ada saja yang tercipta di ruangan kelas itu.
'Koko no gakkō wa tanoshīdesu.(sekolah di sini menyenangkan sekali.)--batinnya tersenyum tipis.
Lagi seru mengamati kegiatan kelas dari luar tiba-tiba ada orang menjewer telinganya membuat pemuda itu meringis kesakitan.
"Itai de~yu!" ringis Haku.
"Masuk ke dalam kelas sono! Jangan malah berdiri di sini, mau jadi apa kamu saat besar nanti. Orang pengangguran ha!" ucap Pria berkumis, mata melotot.
Pria itu menyeret Haku masuk ke dalam kelas 2-B. Tentu saja, membuat guru dan murid terkejut dengan kedatangan guru BK killer bersama seorang pemuda. Dalam hati Haku menggerutu kesal mendapatkan ke s****n.
"Ada apa Pak?"tanya guru mengajar ramah.
"Ini ada murid bolos. Masa tidak tahu sih. Dia malah asik lihat dari jendela, takut di marahi." kata guru tersebut geram melihat Haku dan melepaskan jeweran itu.
'Shinken ni! Watashi wa koko ni wa daremoinai! (yang benar saja! aku bukan siapa-siapa disini!)--batin Haku kesal dan pasrah.
Atas insiden itu ia menjadi murid SMA Krias 04 dadakan. Haku juga merasa risih karena teman-temannya membahas tentang dirinya. Orang asing yang tiba-tiba masuk ke sekolah megah ini? Para gadis di sini juga aneh. Bukannya menatap dia dengan 'aneh atau apa?' tapi malah perkataan kagum, memuji apalagi dengan ketampanan.
Mirip tokoh fiksi atau apalah. Memang perubahan yang fantastik. Haku selalu bersikap dingin dengan para gadis yang menggodanya. jika ada gadis menggodanya bahkan menyentuhnya, Haku akan bergegas keluar dari kelas dan memilih bolos sekolah.
Lagipula statusnya di sini hanyalah orang asing. Pemuda itu keluar dari sekolah lewat pintu belakang. Kedua kakinya berlari sangat kencang sampai tidak melihat kalau di depan ada orang yang arahnya bertantangan.
Pada akhirnya mereka berdua ber-tubruk kan membuat kertas dan pensil yang baru di beli oleh gadis berambut keriting gantung itu jatuh serta barang-barangnya keluar dari plastik. Gadis itu melotot melihat kertas dan peralatannya berserahkan serta angin menerbangkan kertas-kertas ke jalanan.
Ia menatap pemuda di depannya yang duduk diam menunduk tanpa ada kata maaf,"dimana sih? Matamu! Udah tahu ada orang asal main tabrak aja!" protesnya mengeluarkan kata-k********r yang sama sekali tidak bisa di cerna oleh pemuda bernama Haku itu.
"KAU DENGAR AKU TIDAK!" bentak gadis itu membuat Haku menatap mata cokelatnya membuat gadis menganga tidak percaya, apa yang ia lihat.
"Gomen'nasai, gomen'nasai. Gūzen anata ni butsukatta, (maafkan aku,maaf. aku tadi tidak sengaja menabrakmu,)" ucap pemuda itu bangkit berdiri dan membungkukkan tubuh,"Mōichido hontōni gomen'nasai.(sekali lagi aku benar-benar minta maaf.)"
Gadis itu hanya mendongak dengan mulut menganga tidak percaya. Satu hal yang melesat di pikirannya adalah apakah ia orang Jepang atau seorang wibu? Pemuda berjaket itu menatap gadis di depannya masih belum berdiri jadi uluran tangan datang bermaksud membantu gadis itu berdiri.
Ia menatap uluran tangan putih padanya, awalnya ragu lalu menyambut tangan itu dan berdiri.
"Yurushite kuremasu ka? (apa kamu memaafkanku?)" tanya Haku pada gadis itu.
Gadis berambut panjang keriting itu menggaruk kepala tidak gatal. Bingung harus bilang apa dan tebak-kannya kalau ia orang wibu adalah kesalahan besar. Pemuda yang menabraknya adalah murni dari Jepang.
"Hai, yurushimasu.(iya,aku memafkanmu)." ucapnya tertawa hambar memalingkan wajah ke arah belanjaannya yang sudah hilang dan hanya tinggal pensil, penghapus, pena dan dua kertas saja yang tersisa.
'aku harap bahasa Jepang ku nggak salah'-batin gadis itu.
Haku tanpa babibu mengumpulkan sisa belanjaan gadis itu dan memberikannya ke gadis berambut panjang itu,"Kore wa anata no shokuryōhindesu otoshitanode gomen'nasai, nakami ga zenbu dete kite shorui ga kaze ni nabīte. (ini belanjaanmu. maaf gara-gara aku menjatuhkannya , semua isinya keluar dan kertas-kertas terbang di bawah angin.)" ucapnya sekali lagi dengan wajah bersalah.
"Sore wa daijōbudesu, watashi wa anata o yurushimashita. (tidak apa-apa , aku sudah memaafkanmu.)" ucap gadis itu tersenyum ke pemuda yang memiliki mata tajam dan iris ungu.
"Hmm, Watashi ga saisho ni ikimasu. Jā matane! (hmm,aku pergi dulu. sampai jumpa!" ucapnya melambaikan tangan malu-malu, tersenyum kemudian segera bergegas pergi.
Haku diam sejenak lalu menoleh melihat punggung gadis itu yang membiarkan rambut panjang keriting gantung tersebut tergerai tertiup angin. Mata Haku membulat sempurna melihat gadis itu. Ia tidak pernah berbicara banyak pada seorang gadis seperti ini.
Tangan kanannya menyentuh d**a bidangnya, detak jantungnya berdetak kencang.
'Shinpuruna miwaku-tekina deai. (pertemuan sederhana yang memesona)'--batin Haku tanpa sadar wajah kalem tersebut kembali tersenyum setelah kecewa mendengar kalimat buruk dari orang tuanya yang berani menjualnya hanya karena uang dan kekuatan. Tanpa memperdulikan ke selamatan dan hidupnya di masa depan.
Watashi no atarashī shīto wa, miryoku ni deatta nochi ni hajimarimasu. Ima watashi wa Indoneshia-go o manabanakereba narimasen.
Sonogo, watashi wa keisatsusho de hataraki, kuriasu 04 kōkō de sokuseki no gakusei ni narimashita.
Watashi no atarashī ha, tawagoto wa un ni deau.
(Lembaran baruku di mulai setelah bertemu pesona. sekarang aku harus belajar bahasa indonesia. setelah itu aku bekerja di kantor polisi dan menjadi murid dadakan di sekolah SMA Krias 04. lembaran baruku, s**l bertemu untung)
-Sekolah Aneh-
Bersambung...