21. Misi Kecil Jepit Bunga

1587 Kata
"Eh Haku, mau kemana?" tanya Jesse ke Haku karena tidak seperti biasanya Haku bersikap seperti ini. Sebenarnya ada apa dengan ketua kelas, Irish Haku? --batin Jesse. Mereka berdua menaiki bus hijau. Pemuda berambut merah bertanya-tanya melirik Haku yang sudah memakai kacamata ala detektif. Dahinya berkerut, 'darimana Haku memiliki kacamata itu!'--batin Jesse. Ia tidak mau berkata langsung ke ketua kelas dan lebih baik berpikir positif perihal kacamata itu. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka sudah sampai ke tempat tujuan, menyebrang jalan. Jesse membututi Haku di belakang seperti anak bebek, percuma kalau ia bertanya dengan Haku pasti pemuda itu akan menjawab "entar tahu sendiri". Jujur saja, Jesse benci dengan itu. Pemuda bersurai abu-abu dari fisik ia terlihat kalem memiliki mata tajam, waktu sekali ngomong apalagi saat memimpin. Aura dari Haku sangat berbeda. Jesse juga tahu, kekuatan Haku itu seperti apa tetapi pemuda tersebut memilih untuk diam menutup mulut. Hanya ia dan Yugo yang tahu kekuatan Haku yang sebenarnya. Pemuda tersebut tiba-tiba berhenti membuat Jesse menubruk punggung Haku. "Aduh!" ringis Jesse pelan. Haku menoleh ke Jesse,"kalau jalan pakai mata?" "Jalan itu gawe sekel moso gawe mata! Nggak masuk akal!(jalan itu pakai kaki masa pakai mata! Nggak masuk akal!)" kata Jesse sedikit kesal. "Kau tunggu di sini saja nanti aku kembali!" "Ha?" Haku segera pergi meninggalkan Jesse sendirian di sana, menatap pemuda tidak memiliki hati yang tega meninggalkannya sendiri. Katanya ia akan tahu sendiri tetapi apa? Ia malah di tinggal sendirian, partner magang apa itu? Jesse terus menggerutu kesal di sana, menghembuskan nafas panjang berusaha untuk tenang dan sabar. Ia memilih menyandarkan punggung di tiang listrik di dekatnya, melipat kedua tangan di d**a, menunduk kepala sedikit. "Wes di tarik dadakan wes teko kene teros dikei janji 'tahu sendiri'. Kenyataan e malah di tinggal dewean. Wes nasib jomblo ngenes. Padahal aku iki wes ganteng loh moso nggak onok seng arep ambek aku seh!(udah di tarik dadakan sampai datang ke sini terus di kasih janji 'tahu sendiri'. Kenyataannya malah di tinggal sendiri. Udah nasib jomblo ngenes. Padahal aku ini udah ganteng lo masa nggak ada yang naksir sama aku seh!)"gerutu Jesse sambil mengumpat di sana. Seorang gadis tengah menyisir rambutnya di depan cermin. Poni yang sedikit panjang selalu aja mengganggu pandangannya. Di selipkan di belakang telinga ujung-ujungnya ke depan. Jepit rambut? Ia tidak punya kalau poninya pendek, takut jelek. "Hachim!" Terdengar suara bersin seorang laki-laki tidak jauh dari kamarnya dan suara tersebut ke jendela. Refleks gadis itu menoleh ke jendela terbuka berjalan mendekat, kepalanya condong ke depan melihat ke kanan-kiri, tidak ada seorang pun di sana. Ia yakin, kalau tadi ada orang yang bersin di sini. Indera pendengarannya masih tajam dan yakin tidak salah mendengar. Kalau tetangganya, tidak mungkin bersin dengan jarak sedekat kamarnya. Gadis itu sedikit merinding mendengar bersin seseorang yang sama sekali tidak ada wujudnya. "Hii, kok merinding. Apa jangan-jangan penunggu sekolah ngikutin aku lagi!" katanya negatif thinking, ia segera menepuk kepala pelan. "Astagfirullah, jangan sampai. Masa penghuni sekolah ngikutin aku, hii!" ucapnya memeluk dirinya sendiri. Lalu ia mengecek ke luar jendela masih nihil tidak ada siapapun. Ia memilih menutup jendela rapat-rapat. Setelah menutup jendela, mata gadis itu terbelalak melihat ada jepit rambut dengan kertas berwarna pink, bunga. 'Ini miliknya siapa ya? Perasaan aku tidak memiliki jepit apalagi ada bunga mawar pink dari kertas lipat?'--batinnya bertanya-tanya menoleh ke kaca yang ada di lemari. Jepit tersebut sudah berada di rambut gadis bernama April. Seulas senyum terlukis jelas di sudut bibirnya, ia tidak menyangka kalau jepit sederhana ini membuat hatinya ikut berbunga-bunga. "Indah sekali! Kira-kira siapa yang naru jepit di jendelaku? Aku ingin bilang terima kasih secara langsung." ucap April memegang jepit bunga itu tanpa di sadarinya ada seseorang melihat dari luar jendela, tersenyum. - - Di mana Jesse masih menunggu Haku balik, ia selalu bersenandung pelan menyanyikan lagu One Direction-Drag Me Down. Jesse menyanyikannya begitu lantang dan menikmati lagu yang dinyanyikannya lalu di hubungkan dengan lagu 'What Makes you beautiful'. Saat di awal bait lagu itu, ia berhenti dan menggeleng dan mengganti liriknya menjadi lirik versi Jesse. Pemuda berambut merah maron tersebut menyanyi dengan lantang walaupun lirik yang ia ubah dengan lagu boyband terkenal itu, mana ia peduli. Pemuda yang sudah di sampingnya melihat dan mendengar Jesse, diam. Ia mendengar pemuda berambut merah api itu nyanyi dengan versi lain. Haku menggeleng melihat Jesse kasihan tidak bisa menjadi penyanyi profesional serta ia juga sempat menggagalkan rencananya karena Jesse selalu menyindirnya dalam lagu. Pantas saja, ia bersin tadi, untungnya benda itu masuk ke dalam rumah serta bergerak cepat supaya pemiliknya tidak mengetahui keberadaannya. "Oh pantesan, aku bersin ternyata ini pelakunya," sindir Haku menatap ke depan, kacamatanya masih bertengger di hidungnya. Jesse yang awal-awalnya dengan lirik nggak nyambung, kaget. Matanya terbelalak melirik ke kiri, Pak Ketua Haku sudah ada di sebelahnya. "Ah Pak Ketua! Kapan kau sudah ada di sini?!" kaget Jesse sedikit menjauh dari Haku. Pemuda itu menoleh ke Jesse,"ayo kita ke kantor polisi. Aku mau melapor tentang sekolah kita." Jesse mengerutkan kening bingung, berjalan beriringan, menatap wajah pinggir Haku yang kalem dan santai. "Mau ngelaporin apa di kantor polisi? Sekolah kita tidak ada yang aneh belakang ini?" kata Jesse. "Sebenarnya aku bukan mau ngelaporin tentang sekolah kita." "Terus apa dong!" "Mau laporin kamu nyanyi dengan lirik lagu yang udah bagus kamu ubah jadi nggak jelas?" kata Haku melirik Jesse bentar lalu menatap ke depan. "Kan aku calon boy band Twins Direction dimana member bernama Jesse Payne yang tampan ini. Akan tampil di konser dan terkenal hahaha," ucapnya pede tingkat dewa. Haku yang mendengar itu pengen muntah, adanya mah konser besar akan meledak kalau Jesse yang nyanyi. Suara Jesse seperti bom apalagi kalau nada tinggi, mengerikan. Bisa-bisa kaca semua pecah dengan gelombang suara dari Jesse James Payne. "Mending yang nyanyi Rudy, suaranya sangat enak di dengar!" kata Haku. Sontak saja, Jesse yang udah menghalu ria membayangkan kalau ia masuk ke boyband terkenal, ia bisa di ke rumuni oleh fans cewek-cewek seketika anjlok dalam sekejap mata. Menoleh ke pemuda bersurai abu-abu,"apa kau mau semua fansnya tidur ha! Adanya mah ia me-nina bobok kan para penggemarnya." kesal Jesse mengerucutkan bibirnya seperti anak gadis tengah ngambek. Haku hanya menggeleng melihat partner humor garing. Demi apapun ia akan terus berjalan ke depan dan menjadi 'penegak keadilan' serta memegang tanggung jawab besar. Tangan Haku menggenggam erat, menggenggam tanggung jawab besar. Jika ia sudah menjadi orang berguna di masa depan nanti, ia akan melindungi semua orang dengan kekuatannya meski hal itu sulit dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Sebelum melindungi semua orang dengan kekuatannya. Haku harus melindungi teman-temannya dan membantu sekolah SMA Krias 04 mendapatkan kesejahteraaan seperti dulu. Hal ganjil di sana masih dalam proses. "Aku akan melindungi kalian semua dan mendapatkan apa yang harus di dapat!" ucapnya yakin. Jesse yang mendengar hal itu menoleh ke Haku,"melindungi apa?" "Melindungi semut biar nggak di injak sama orang-orang!" ucap Haku asal dan mempercepat langkahnya meninggalkan Jesse untuk kedua kalinya. "Loh, malah di tinggal. Enteni (tunggu) aku! Haku!"teriak Jesse mempercepat langkahnya menyusul Haku di depan. -Sekolah Aneh- Deretan kalimat yang banyak membuat pikiranku bertanya-tanya, ku scroll atas kembali 'Organisasi Drak Ilegal Bernama Black Hawk'. Kepala sudah terasa cenat-cenut memikirkan organisasi hitam ini serta ngeri membayangkan kalau mereka kembali muncul. Polisi sudah mencari keberadaan organisasi itu tetapi tetap saja, nihil. Yang aku baca ini adalah gambaran saja, belum pasti yang tertulis di artikel ini benar. Salah satu yang bertugas mencari tahu organisasi ini adalah Mas Fajar. Aku sama sekali tidak tahu, bagaimana cara Mas Fajar mencari informasi tentang organisasi 'Black Hawk' itu? Pengen tanya tapi malu karena aku sama Mas Fajar tidak terlalu dekat apalagi datang-datang bertanya organisasi gelap. Bagaimana coba reaksi Mas Fajar? Ku peluk guling erat-erat membayangkan kalau aku mendekati Mas Fajar dan bertanya tentang itu. Tunggu! Mas Fajar bukan tipe orang pemarah melainkan lembut. Kalau Mas Daisuke, mungkin aku bakal di telan hidup-hidup seraya berkata,"ini urusan orang dewasa, anak kecil jangan ikut campur!" seperti itulah kalau sama Mas Daisuke. Aku juga pernah dengar, Mas Daisuke pernah mengolok Mas Taiga seperti ini,"anak mami udah gede aja. Padahal kemarin aku baru beli wallpaper helo kitty!" ucapnya. Sontak saja, aku tertawa terbahak-bahak melihat pipi Mas Taiga merah padam, serius--lucu bat gila, kalau mode begitu. Tidak sadar kalau aku ketawa sendiri sambil meluk guling, ah jadi teringat member SixTones, Kyomoto Taiga. Aku bergegas keluar kamar mencari Mas Fajar kalau hari Kamis, ia bakal pulang cepat. "Ma, Mas Fajar udah pulang?" tanyaku ke Mama yang asik menonton televisi bersama Mas Daniel. "Dia belum pulang. Kenapa tiba-tiba cari Mas Fajar biasanya Mas Taiga yang di cari," celetuk Mas Daniel menatap televisi sembari memakan snack di genggamannya. 'Dasar tukang makan'--batinku sinis ke Mas Daniel yang begitu santainya ngomong kek gitu. Adanya Mas Taiga yang nyari aku bukan aku yang nyari Mas Taiga, protes ku dalam hati. Mama tersenyum dan menyuruhku duduk,"memangnya nyari Mas Fajar buat apa?" tanya mama padaku. "Aku hanya ingin tanya aja, ma. Tanya sesuatu sama Mas Fajar," mama mengangguk mengerti,"ngomong-ngomong Mas Daisuke udah balik ke kantornya?" tanyaku mencari keberadaan pria tinggi, bermuka datar, rambut yang selalu rapih dan wangi. Semenjak aku terluka di kelas misterius 3-B. Mas Daisuke menyempatkan untuk menjemput kami berdua, di waktu kerja yang masih menyibukkan. "Iya, Mas Daisuke sudah pergi ke kantor." kata Mama. Diam sejenak, mama memberitahu tentang Mas Taiga padaku,"Mas Taiga menginap di rumah temannya dan besok baru pulang." kata mama. Aku yang mendengar itu antara sedih dan senang. Sedih karena tidak bisa mengganggu Mas Taiga. Senang, karena tidak di bangunkan dengan cara menjatuhkan ku dari kasur serta tidak di paksa ikut ke super market membeli 'Es Krim Couple', Yeah. -Sekolah Aneh- Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN