22. Mengecat dan Bercocok Tanaman

1213 Kata
    Mentari pagi sudah menyapa bumi dengan sinar hangat. Burung-burung mulai terbang membela langit, ulat keluar dari kepompong menunjukkan sayap yang indah lalu terbang ke angkasa dan hinggap di atas bunga, mengambil sari bunga.   Pintu terbuka dan ada seseorang yang menepuk pipiku lembut,"bangun, udah pagi ini!" ucapnya lembut segera aku membuka kedua mata, mengucek, bangun duduk. Mulut menguap segera aku tutup dengan tangan. Aroma parfum khas pria cool tercium masuk ke dalam lubang hidung. Aku mendongak sedikit melihat dengan mata yang belum sempurna bisa terbuka lebar. "Mas Fajar?" ucapku pelan. Laki-laki itu menggeleng melihatku kalau pagi harus di bangunkan terlebih dahulu,"kalau tidur, jangan malam-malam. Kata mama, kau kemarin mencari ku, Atma. Apa di sekolah kau mendapatkan masalah?" tanya Mas Fajar, ku balas gelengan cepat. "Bu-bukan itu! Aku ingin bertanya pada Mas Fajar tapi kenyataannya Mas, pulangnya malam. Aku ketiduran di depan televisi. Mungkin, Mas Daisuke yang membawaku ke sini." kataku sedikit cemberut. Laki-laki dengan rambut rapih sedikit cokelat tersenyum menatapku,"maaf, kemarin. Mas ada perlu dadakan dan katanya sekolahmu mau di tutup serta teman-temanmu berusaha untuk mempromosikan lagi sekolahmu ya?" kata Mas Fajar dibalas anggukkan mantap dariku. Aku menatap Mas Fajar lama lalu bertanya,"bagaimana Mas bisa tahu soal itu?" laki-laki yang sudah memakai seragam polisi hanya tersenyum dan menyuruhku untuk mandi serta bersiap-siap karena sudah siang. Aku mendengus sebal mendengar Mas Fajar mengalihkan topik pembicaraan padahal aku ingin sekali bertanya tentang organisasi 'Black Hawk'. Mencari sendiri di artikel itu sangat sulit belum lagi aku harus menterjemahkan bahasa yang sama sekali tidak ku mengerti. - - - - - -   Kami berdua sudah sampai di sekolah ketika kami berjalan menuju kelas 1-E. Aku dan Mas Daniel bertemu dengan Pak Sam. Melihat kedua tangannya membawa beberapa cat buat melukis dinding. Di grup chat, Kepsek bilang jika promosi ini berhasil memikat semua orang di luar sana. Anak 1-E akan mendapatkan hadiah. Selama perjalanan aku tidak lupa mengucapkan kata maaf atas kelancangan ku waktu itu. Aku kira username Kembarannya Jungkok itu adalah Jesse ternyata Pak Sam. Astaga! Apa yang aku pikirkan? Malah Jesse username-nya Hakken yang sering fotonya ku lihat di i********: dan di f*******:. Sampai di kelas aku melihat semua murid sudah hadir di sini dengan wajah berseri-seri karena hari ini adalah mengecat kelas dengan kreasi anak masing-masing. Oh sama kreasi guru mudah nan ganteng Pak Samuel Jin.   Kamera sudah terpasang di sudut kelas. April memanggilku dan Mas Daniel menyuruh memakai celemek putih meski kami semua memakai baju olahraga. Dan di sudut kiri, ada potongan gabus. "Gabus itu buat apa?" tanyaku menunjuk potongan gabus yang masih polos belum di potong atau di hias apapun. "Oh itu buat foto-foto kalau semuanya udah selesai. Hiasan kelas kemarin di pindahkan ke kelas sebelah." jelas April. Mataku tidak sengaja menangkap benda asing yang ada di rambut April. "Itu jepitnya siapa? Selama aku sekolah di sini kau tidak pernah memakai jepit itu?" tanyaku ke April. Gadis itu diam sejenak lalu memegang jepit di kepalanya. Tersenyum,"oh ini, aku menemukannya di jendela kamarku. Tiba-tiba ada jepit indah ini. Mungkin ada orang yang meninggalkan jepit ini di jendela kamarku." jelas April. Aku hanya mengangguk.     Judy sebagai pemimpin di acara kali ini karena ia seorang seniman. Pemuda berkacamata dengan poni panjang menyuruh kami semua untuk mengecat dinding terlebih dahulu sebelum melukis. Semua peralatan sudah semuanya. "Kalau yang tidak ikut mengecat ngurusin taman depan. Banyak tumbuhan yang mepet dan mati. Pak Kepsek sudah membeli perlengkapannya tinggal kita bercocok tanaman." kata Judy. Kelompok mengecat: -April -Aku -Dewa -Dimas -Niall -Haru -Judy -Pak Sam. Kelompok bercocok tanaman: -Haku -Jesse -Rudy -Alvin -Daniel -Yugo -Yuli -Zulfa -Fian Xian Lu. "Siap laksanakan!" ucap kami semua. Dua kelompok sudah terpisah. Aku dan kelompokku memulai mengecat kelas dengan warna biru cerah. Pak Sam menunjukkan kami cara mengecat dinding itu gimana? Yang benar. Walau terlihat mudah, jangan salah kalau ini itu mudah seperti bayangan kita. "Mengecat dinding sama seperti mewarnai kanvas dengan cat harus satu arah, jangan berbelok-belok!" jelas Pak Sam sambil memperingatkan kami. "Siap pak!"   Semuanya mulai mengecat dinding dengan full warna biru. Aku melirik ke arah pemuda yang selalu diam tidak banyak bicara, ia mengeluarkan kartu dan menempelkannya di pengangan kuas. Pemuda bernama Dewa mulai mengecat dinding kelas hanya satu garis kecil, perlahan catnya dengan sendirinya satu garis ke atas sampai bawah. Aku yang melihat itu hanya terkagum dalam hati.   Waktu sudah berlalu sangat cepat saking serunya kami tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan angka 12, salat dhuhur dan jam makan siang sudah datang. Selama menunggu catnya kering, kami keluar kelas membantu teman yang asik bercocok tanaman.   Selama aku dan lainnya membantu mereka bercocok tanaman. Ada saja yang jail terutama pemuda yang sudah ku garis bawahi 'trio biang kerok'. Sampai heran sendiri, kenapa harus ada tiga orang antara lain; Dimas, Fian Xian Lu dan Jesse. Dalam hatiku berkata bukankah Jesse dan Dimas selalu bertengkar. Ya, tidak selalu sih. Awal masuk, mereka selalu saja rame dan ada-ada saja yang di buat ulah. Ketika aku membantu Zulfa mengangkat pot berukuran sedang terbuat dari batu. Kami berdua saling junjung susah payah sebab tumbuhan di pot itu tumbuhan gede yang entah aku tidak mengerti namanya. "Bagaimana nih Atma? Berat banget!" kata Zulfa berusaha junjung lagi. "Kita bisa, Zul. Masa kalah sama laki-laki kita juga perempuan kuat!" ucapku berambisi. Kami berdua kembali junjung lagi, pelan-pelan tapi pasti. Lalu datanglah Dimas bukannya membantu ia malah berdiri melihat kami berdua yang bersusah payah angkat,tersenyum, "wah calon istriku kuat banget, junjung pot besar itu!"u capnya menggoda. Aku dan Zulfa adu tatapan, tidak peduli dan berusaha untuk mengangkat pot besar itu lagi seraya mencibir Dimas balik. "Kita tidak mau memilih calon suami kayak lo, Dim!" kata Zulfa. "Hooh. Aku lebih memilih suami yang kuat dan perhatian." sahutku. "Dih, gitu aja ngambek. Calon istriku." kata Dimas lagi. "Hoek!" ucap kami berdua pura-pura muntah mendengar ucapan Dimas yang... "Basi!" ucap kami berdua kompak melirik ke arah Dimas, tajam.    Jesse dan Fian Xian Lu yang mengangkat pupuk organik menoleh ke arah kami bertiga,"hoi hoi, apanya yang basi?" tanya Jesse tersenyum mengejek. Dimas membuang muka enggan menatap Jesse. "Burung puyuh terbang kan basi tuh!" kata Dimas asal membuat yang lain mengalihkan perhatian ke pemuda tersebut. "Njir, nggak nyambung lo, Dimas. Mana ada burung puyuh terbang basi?" sahut Yugo. "Loh, memangnya burung puyuh bisa terbang sejak kapan?" tanya Niall polos. Kami semua tertawa mendengar pertanyaan Niall yang polos. Pemuda berambut blonde hanya diam memandang kami dengan tatapan polos.   Haru yang ada di sebelah Niall mengetuk pelan dahi Niall,"tok tok, apakah otaknya ada yang konslet?" "Tidak ada, Haru. Saya hanya bercanda," kata Niall, suara lain yang lucu. "Niall kalau pakai suara itu, gemas gitu. Kawaii, hehehe,"kata Yugo.    Niall menyuruhku dan Zulfa sedikit menjauh kemudian pemuda blonde membuat pot itu menghilang dari depanku. Mata mulai ke kiri-kanan mencari pot besar itu kemana. "Niall, kau tahu pot itu berada di mana?" tanyaku. Pemuda ber-netra biru itu menunjuk di depan kelas 2-C. Aku terbelalak tidak percaya. Bagaimana bisa? Apa barusan itu sulap. Seketika pikiranku berputar kembali saat aku dan ketiga teman baruku ingin pergi ke kantin. Lalu bertanya ke Zulfa kalau makanan yang di pesan oleh Niall itu, uang miliknya sendiri.    Aku berpikir keras dan menebak kalau kekuatan Niall adalah memindahkan atau bisa disebut teleportasi benda. Apa itu benar? "Itu benar, Atma!" celetuk Yuli membuyarkan lamunanku. Memang Yuli adalah manusia peka, bisa tahu semuanya. -Sekolah Aneh- Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN