Kepalaku sedikit ke kanan, rasa sakit seketika menjalar ke kepalaku. Perlahan mataku terbuka, samar-samar melihat warna putih terang. Aroma khas rumah sakit masuk ke lubang hidung yang dominan bau obat-obatan. Ekor mataku melirik ke tali infus yang menggantung dan cairan nya perlahan masuk ke tanganku.
Apa kejadian kemarin memberikan luka parah seperti ini? Sampai aku di bawa ke rumah sakit untuk pertama kalinya. Ya, aku sama sekali tidak pernah menginap di rumah sakit, alhamdulliah. Kedua orang tuaku tidak perlu mengeluarkan biaya rumah sakit yang bisa di katakan 'mahal'.
Mungkin ini adalah momen tidak mengenakan buatku. Di serang oleh makhluk halus yang kuat membuat fisikku terluka parah. Ah, apa teman-teman ku baik-baik saja? Terutama Zulfa. Mataku terpejam sedikit seraya berdoa untuk Zulfa kalau dia tidak apa-apa. Aku yakin, dia adalah gadis yang kuat begitu pun April dan Yuli.
Tangan kananku ingin ku gerakkan tetapi aku urungkan sebab ada seseorang yang tidur di samping ranjang ku. Ingin melihat siapa yang tidur dan menjagaku semalaman, tidak bisa. Aku gerak dikit, kepalaku rasanya pusing.
Jika di ingat lagi, aku memiliki luka yang kecil tidak separah ini. Ku coba tanganku bergerak berusaha untuk membangunkan orang itu. Terdengar suara pintu terbuka tanda orang masuk ke kamar inap ku.
"Atma!" itu suara mama bersama Mas Fajar dan Mas Daisuke.
Mama langsung memegang pipiku yang sedikit tembem lalu mencium kening. Akibat suara mama yang berisik, orang yang tidur menjagaku terbangun. Ternyata itu, Mas Taiga.
Ia mengucek kedua matanya lalu menatapku. Awalnya ia tidak merespon apa-apa seperti orang linglung lalu tidak memerlukan waktu lama, ia tiba-tiba memelukku erat.
"Adik manis! Kau udah siuman!" serunya memelukku membuat ku kaget sesekali menguap di pipiku.
Dasar kakak laknat! -- batinku.
"Jangan menguap di pipiku, jorok!" protesku.
Mas Taiga kembali berdiri sembari terkekeh,"Sorry, Sorry, nggak sengaja,"ucapnya.
"Sorry, sorry, memangnya lagunya Suju apa? Sorry, Sorry!"kataku kesal.
Mama melepaskan pelukannya padaku seraya menggeleng,"baru siuman udah bertengkar aja," kata mama,"mama khawatir banget sama kamu, Atma."
Aku memakluminya kalau mama dan lainnya mengkhawatirkan ku tapi yang membuatku bingung. Nada bicara serta raut wajah menekuk seperti orang yang mau kehilangan orang yang di sayang.
"Kenapa mama wajahnya menekuk begitu?" tanyaku.
"Kamu selama tiga hari tidak bangun-bangun." kata Mas Fajar seketika mataku terbelalak tidak percaya.
Apa tiga hari? Aku tidur selama tiga hari? Tetapi aku seperti tidak merasakan apapun.
Mas Taiga menggeleng pelan melihatku,"apa adikku ini telah menjadi putri tidur? Susah bangun!" ucapnya berkacak pinggang.
Mas Daisuke menjelaskan kalau aku tidak boleh tidur terlalu malam, harus tidur pukul sembilan malam. Karena aku ini sukanya bergadang terkadang suka lupa waktu kalau sudah mengerjakan tugas sekolah, belum lagi kalau aku streaming youtube sukanya kelewatan sampai tengah malam.
Itu membuat organ dalam ku tidak sehat terutama di otak. Aku menghela nafas panjang dan meminta maaf, aku memang tipe orang susah bangun dan harus ada yang bangunin kalau tidak, kesiangan lagi.
"Jangan sering streaming youtube malam-malam!" satu peringatan dari Mas Daisuke. Kakakku yang kedua ini memang mengutamakan kesehatanku dan kedisiplinan yang luar biasa, sangat pantas jadi komandan militer. Namun, ia hanya pegawai perusahaan terkenal dan jasa menggambar di bayar gede. Belum lagi membantu polisi, menghack data-data tanpa ketahuan.
Kalau Mas Fajar selaku anggota kepolisian ia juga berperan penting di sana. Ia masih mencari siapa pemimpin organisasi besar bernama Black Hawk.
"Iya, ya. Aku tidak akan streaming youtube malam-malam." kataku menghela nafas sebal. Mas Taiga menyentuh kepalaku,"nah, kalau udah sembuh. Aku ajak membeli ice krim couple lagi ya!" ajak Mas Taiga membuatku melotot.
"WHAT!"
*Sekolah Aneh*
Lima hari berlalu sangat cepat aku sudah kembali bersekolah lagi. Seulas senyum terukir jelas di sudut bibirku melihat ketiga teman-temanku tidak apa-apa. Aku langsung memeluk mereka satu-satu membuat mereka terkejut yang melihatku tiba-tiba memeluk tanpa kata 'permisi' atau meminta izin terlebih dahulu.
Semua murid 1-E bertanya padaku karena kesal dan sedih saat menjengukku. Aku belum siuman padahal hanya mendapatkan luka kecil tidak separah Zulfa. Hanya ada senyuman hambar tidak bermakna yang terlukis di bibirku, bingung harus menjawab apa.
Yuli hanya menatapku tersenyum tipis, aku pikir ia akan mewakilkan aku--ngomong sama semua murid.
Dimas paling heboh di kelas sama Fian Xian Lu. Mereka berdua sama sekali tidak bisa diam, aku sampai heran dulu ibunya ngidam apa ya?
"Zul, apa kau baik-baik saja?" tanyaku pada Zulfa.
Gadis berambut sebahu yang memiliki kekuatan seperti Rapunzel itu mengangguk, "aku tidak apa-apa, Atma."
"Kau juga tidak apa-apa, Pril?" tanyaku. April yang sedari tadi melamun menatap sesuatu segera buyar.
"Eh apa? Maaf, apa bisa kau ulangi lagi? Atma?" pintanya mengorek telinganya bentar lalu menyimak pertanyaanku.
"Kau juga tidak apa-apa,Pril?" tanyaku lagi pada April.
Gadis itu menganggukkan kepala mantap,"iya. Aku tidak apa-apa. Berkat kekuatan Haku yang menahan luka dengan es, aku tidak apa-apa. Zulfa juga seperti itu." ucapnya dengan pipi bersemu merah.
"Pril,apa kau demam? Biar aku antar ke UKS?" ucapku mencekal tangan April dan menyeretnya pergi ke UKS. Namun, April menahan ku membuat menoleh ke arahnya.
"Nggak usah. Aku nggak demam, kok." katanya.
"Tapi pipimu merah kek gitu?" kataku tidak percaya.
Lalu terdengar suara tawa yang membuat perhatian kami berdua mengarah ke pemuda bernama Jesse.
"April, itu suka sama Haku. Setiap ia mengingat momen di mana ia sama Haku. Pipinya akan merah kek tomat, buah kesukaan Rudy." katanya fokus ke ponselnya.
April menghela nafas panjang. Aku melihat pipinya semakin memerah dari sebelumnya. Pasti ia sangat marah mendengar Jesse bilang gitu apalagi di dalam kelas juga ada Haku. Aku melihat pemuda berambut abu-abu menyibukkan diri menatap layar ponselnya seolah tidak menggubris perkataan Jesse.
Fian Xian Lu terkejut bukan main mendengar Jesse mengatakan itu terang-terangan dan mengajak perang wakil ketua kelas, April.
"Apa kau bilang! Kau mau terkena hukuman dariku, Jesse!" ucap April yang tidak bisa di deskripsikan lagi raut wajahnya.
Tangannya mengepal, keluar dari bangkunya dan menghampiri Jesse, menarik daun telinga ke atas. Aku yang melihat itu ikut merasakan sakitnya, bagaimana rasanya jeweran maut dari wakil ketua kelas?
"Aduh, April sakit. Kuping ku iki entar copot!" Jesse mengadu kesakitan dan memohon untuk melepaskan jeweran maut April.
Gadis itu masih ingin melihat rasa derita dari Jesse, pemuda singa merah yang menjengkelkan. Dimas dan Fian Xian Lu tertawa melihat Jesse menderita lebih tepatnya mentertawakan di atas penderitaan orang.
"HAKU! TOLONG AKU DARI JEWERAN APRIL. KAU KAN KETUA KELAS!" teriak Jesse kencang ke Haku.
Pemuda bersurai panjang abu-abu itu sama sekali tidak mengalihkan pandang dari ponsel,"tanggung sendiri hukuman dari ucapan mu yang membuat hati betina sakit." katanya enteng.
April menambah jeweran telinga Jesse sampai pemuda itu ikut berdiri. Ini pemandangan yang mengerikan, mataku menyipit sebelah.
"Tuh dengerin, Pak Ketua kelas. Kalau kau harus bertanggung jawab atas omongan lu!" lalu April melepaskan jeweran lama nan maut itu.
Telinga Jesse menjadi merah seperti warna rambutnya, pemuda itu menggosok-gosok telinga bekas jeweran April. Gadis itu kembali duduk di bangku masih kesal.
Jesse menoleh ke belakang di mana Haku duduk di sana,"kau ini bagaimana sih Haku? Temannya susah malah nggak di bantu. Partner magang macam apa kau ini?!" protesnya membuat laki-laki kaget kecuali; Haku,Alvin, Dewa dan Daniel.
"Ha? Partner magang?" kata Dimas menutup mulut dengan kedua tangan, tidak percaya.
"Kau magang membantu polisi bersama Haku?!" tanya Yugo menunjuk pemuda yang bodoh amat.
"Haku, apa itu benar?"t anya Niall ke Haku.
April juga kaget mendengar kalau Jesse adalah partnernya Haku, magang di kantor polisi. Ini sulit di percaya. Aku juga kaget mendengar nya kalau Jesse juga ikut magang bersama Haku.
"Iya."
Jawabnya singkat, jelas dan padat langsung ke inti. Semua mata tertuju ke Jesse. Fian Xian Lu yang duduk bersama Jesse tepuk tangan atas pencapaiannya. Ia merangkul pundak Jesse dan berkata kalau pemuda penakut bisa di ajak oleh ketua kelas magang bersamanya.
"Wah pasti, misi mu berat juga!" sahut Dimas.
"Haku, apa kau masih menyelidiki sekolah ini? Sampai ujung akar?" tanya pemuda berkacamata, Judy.
"Ya, seperti itulah. Dan aku minta maaf pada kalian yang kemarin telah membantuku sampai ke masalah rada besar. Untungnya Alvin datang tepat waktu dan membuka penutup matanya." kata Haku panjang lebar menatap kami berempat, Daniel dan Jesse lalu Alvin.
"Apa? Alvin membuka sebelah matanya. Bagaimana matanya? Apa ada yang cacat atau apa? Alvin sama sekali tidak menunjukkan pada kami." kata Haru membenarkan kacamatanya menatap pemuda datar penutup mata itu.
"Aku sudah kata kalau mata ini tidak boleh di buka,sembarangan!" tegas Alvin menatap Haru tajam.
Aku hanya diam, tidak bersuara. Karena aku ingat betul, sebelah mata pemuda datar itu saat di buka serta fungsi mata yang bisa di katakan 'berbahaya'.
*Sekolah Aneh*
Bersambung...