12. Energi Kuat Makhluk Astral

1396 Kata
Jesse tersenyum manis memperlihatkan lesung pipi dan ada sedikit bolong (pacek) di sana,"biasa, aku ini memang memiliki kekuatan api." katanya,aku mengangguk mengerti. Aku menoleh ke Haku,"kalau kau, Haku. Kekuatanmu apa?" tanyaku melihat pemuda bersurai putih. Haku ingin angkat bicara, tiba-tiba Zulfa berteriak dan menuding di dinding bercat biru kusam. Kami menoleh ke arah tunjuk Zulfa. Di sana ada tulisan berwarna merah darah. Lawan aku atau kalian akan mati! Mataku membulat sempurna melihat tulisan merah bak darah di sana. Suara gledek samar-samar terdengar, air terus turun dari langit. Cuaca yang sangat mendukung sekali. Jesse berusaha untuk memberanikan diri setelah membaca tulisan yang mengerikan. Aku menelan ludahku susah payah, semakin lama tubuhku terasa bergetar hebat. April mengeluarkan kertas dari sakunya sampai aku berpikir berapa banyak ia menyimpan kertas-kertas dalam saku seragamnya. Pesawat kertas ia lempar ke dinding bercat darah, kertas itu jatuh ke lantai dan di sana ada bekas darah menempel. Tandanya tulisan itu baru di buat beberapa menit yang lalu. "Lihat di papan itu!" teriak Zulfa menunjuk ke papan. Tulisan yang sama dengan warna merah darah. Haku menyuruh Jesse untuk mengecek apakah itu darah asli atau hanya cat warna merah darah. "Aku nggak wani! (aku nggak berani!)" kata Jesse terlihat seperti anak gadis lalu bersembunyi di balik punggung Haku. April yang melihat itu kesal dan marah. "Mana rasa jantanmu itu! Masa di suruh ngecek apakah itu darah asli atau bukan takut kayak gitu," cibir April kesal. Jesse melirik sinis ke April,"gini-gini aku berani tahu!" elaknya yang jelas ia sangat ketakutan, kedua kakinya aja sampai bergetar nggak ketulungan. 'Semoga saja, dia nggak kencing di celana beneran'-batinku. "Kalau berani. Check sono! Tunjukkan rasa jantan lu. Apa jangan-jangan lu laki-laki jadian lagi!" kata April menunjuk pemuda berambut merah itu yang tidak-tidak. Aku hanya bisa menggeleng melihat mereka yang bertengkar karena masalah sepele. Jesse mengembung kan kedua pipinya, mode ngambek. Sumpah, aku yang lihat mimik Jesse pengen banget ketawa gitu. Haku hanya tersenyum tipis memberi dukungan Jesse berjalan menuju ke papan. Pemuda itu berdiri tepat di depan papan dan menggosok tulisan itu dengan jari telunjuknya. "Bagaimana Jesse?!" kata Zulfa penasaran. Jesse tertawa kecil, berbalik badan ingin berkata tapi tiba-tiba badan Jesse terpental menabrak papan tulis hingga papan itu terbelah menjadi dua bagian. Sontak saja kami berlima terkejut. "Jesse!" teriak kami berlima. Lalu Zulfa tiba-tiba terpental menabrak jendela sangat kuat hingga jendelanya retak. Gadis itu berusaha untuk menahan rasa sakit di punggungnya. "Zulfa!" kami bertiga segera membantu Zulfa. "Ada darah!" kataku. Yuli ingin menyanyikan lagu tetapi suaranya tiba-tiba hilang. Ia memegang leher menatap aku dan April bergantian. "Ada apa Yul?" tanya April. Yuli menggunakan bahasa isyarat membuat otakku loading lama. Ah, aku tidak terlalu pandai bahasa isyarat. April terbelalak tidak percaya, aku menoleh,"ada apa?" "Suaranya tiba-tiba menghilang," ucapnya memandangku.   Aku bangkit berdiri melihat Haku dan Jesse sudah memasang kuda-kuda bertarung. "Sepertinya makhluk kita adalah makhluk halus yang paling kuat. Makhluk ini mungkin bisa membunuh seseorang dan bisa menyentuh." kata Haku membuat mataku terbelalak. Hujan yang tadi rintik-rintik kini menjadi deras kembali. Awan semakin hitam dari sebelumnya, rasa dingin kembali terasa. Pemuda itu mengeluarkan kekuatan esnya ke luka Zulfa. Gadis itu merintih kesakitan, lagi-lagi aku seolah merasakan rasa sakit Zulfa. Aku sangat benci kalau melihat ada orang terluka apalagi lukanya menganga, mengeluarkan darah banyak. Tubuh ini seolah merespon, bagaimana rasa sakit yang di deritanya? "Bertahan lah, Zul. Semoga saja ada teman kita yang masuk ke dalam sini. Kalau bisa, Alvin." kata April berharap penuh. -Sekolah Aneh-    Hujan yang sempat reda kini kembali deras dari sebelumnya membuat seorang pemuda tampan dengan sebelah mata tertutup kain, menunggu di depan super market. Sudah beberapa helaan kasar keluar dari mulutnya, rasa dingin menusuk sampai ke tulang-tulang. Mata hitamnya melihat jalanan yang rada sepi kendaraan sebab hujan turun begitu derasnya dan banyak orang-orang memilih untuk berhenti berkendara, mencoba menunggu. Mereka takut kalau di perjalan ada sesuatu yang tidak-tidak. Contohnya kecelakaan akibat jalan yang licin itu sangat berbahaya. Pemuda itu menghela nafas kasar bersandar di dinding super market, mendongak melihat air turun dari langit. Bulir-bulir air itu,tangan kanannya ia ulurkan. Tangannya di basahi banyak air seketika penglihatannya melihat sesuatu membuat pemuda bernama Alvin itu kaget. "Apa?" ucapnya pada dirinya sendiri. Ia melihat sekitar. Ada beberapa makhluk halus yang ada di sini tetapi mereka semua tidak menganggu, di bawah kaki Alvin juga ada makhluk halus pria renta yang tangannya buntung, kedua kakinya hampir putus. Tetapi Alvin sama sekali tidak takut  dengan makhluk bertubuh mengerikan. 'Kenapa saat aku membiarkan air hujan ini membasahi tanganku. Aku melihat teman-teman mati di dalam kelas?'--batin Alvin. Dengan cepat ia menggeleng cepat mengusir pikiran negatif itu. Ia tidak akan memiliki pemikiran seperti itu. Lalu ada seseorang yang memegang ujung seragam Alvin membuat si empu menoleh melihat seorang wanita berambut panjang menutupi wajahnya. "Kem-kem, kembali," kata wanita itu membuat Alvin mengerutkan kening, tidak mengerti. Wanita itu berkata lagi susah payah dengan kalimat yang sama, kembali. Jika Alvin bertanya pada wanita itu yang jelas sudah beda alam. Orang-orang yang keluar masuk super market atau menunggu hujan reda, Alvin akan di pandang orang aneh. Alvin mulai dilema dengan penglihatannya barusan. Teman-temannya tidak akan mati bukan? Tanpa basa-basi lagi pemuda tersebut menerobos hujan deras menuju ke sekolah. Ia tidak peduli dengan seragam sekolahnya yang sudah basah kuyup. Alvin berlari sekuat tenaga, bayangan mengerikan itu terus saja berdatangan saat ia terpaksa menerobos hujan deras ini. Ia memegang mata kanan yang tertutup kain hitam. Ada alasan mengapa, Alvin menutup sebelah matanya. Sampai di sekolah yang sudah sepi, tidak dengan makhluk tak kasat mata yang masih stay di sini. Sebenarnya ada banyak makhluk tak kasat mata meminta Alvin untuk membantu mereka tetapi Alvin selalu menolak. Ia tidak mau,hidupnya seperti 'paranormal'. Hatinya selalu saja tidak tenang, susah tidur belum lagi anak makhluk yang jail padanya. Benar-benar menyusahkan. Alvin membuka pintu kelas 1-E tetapi tidak ada satu pun di sana. "Teman-teman!" panggilnya melihat kelas yang kosong melompong, tidak ada orang,"ah apa penglihatan ku tadi, salah?" lanjutnya menggeleng kuat. "Tapi penglihatan ku,tidak pernah salah." Tiba-tiba ada seseorang menepuk pundak Alvin, refleks pemuda itu berbalik dan terkejut dengan kemunculan sosok makhluk kuntilanak dan ada juga dua tuyul yang mengikutinya. Alvin berusaha untuk tenang, menyentuh dadanya. 'Untung bukan pocong'--batinnya sebab Alvin sangat takut sama pocong belum lagi aroma busuk dari bungkus permen menyeramkan itu. - - - - - Rasa nyeri di tubuhku semakin terasa. Energi makhluk halus memang tidak bisa di pandang sebelah, kalau tidak salah makhluk ini—makhluk yang kuat dan bisa menyerang manusia secara langsung serta mematikan. Aku melihat semua teman-teman terkapar tidak sadarkan diri. April berusaha untuk bangkit tidak bisa, Haku mencoba membekukan luka-luka teman-temannya dengan energi tersisa. Tidak ku sangka, Haku yang terlihat kuat, terkalahkan oleh makhluk tak kasat mata. Kami juga sempat membaca ayat kursi dan tidak kami sangka makhluk itu semakin kuat. Seperti mengamuk karena tubuhnya perlahan terbakar, energinya tidak menciut tapi malah tambah membesar. Aku mencoba untuk bangkit berdiri. Kedua tanganku menyangga tubuh. Namun, tiba-tiba tubuh yang kecil ini melayang dan menubruk dinding kuat. Mulut dan hati terus membaca doa. Jesse juga berusaha untuk berdiri mengeluarkan api dan ingin menyerang makhluk tak kasat mata. Namun, di cegah oleh Haku,"jangan! Nanti Atma bisa terluka terkena kekuatanmu. Kita tunggu, ia akan datang ke sini?" ucap Haku yakin, mencekal tangan Jesse menatapku yang masih di sergah oleh makhluk kuat ini. "Siapa?" tanya Jesse menatap Haku, penasaran. Beberapa menit kemudian pintu yang awalnya terkunci rapat kini terbuka lebar dengan keras. Brak! Menampilkan sosok pemuda bertubuh tinggi dengan wajah super datar nan tajam. Aku merintih kesakitan, air mataku perlahan mengucur deras seperti hujan di luar sana. "Makhluk hitam besar dengan lidah menjulur ke bawah sampai lantai," kata Alvin memberikan gambaran makhluk yang kini membuat semua tubuhku nyeri dan kesakitan. Tidak hanya aku saja, teman-temanku juga ikut terluka. April, Zulfa, Yuli, Haku dan Jesse. Alvin masuk dan menatap makhluk itu yang sama sekali tidak bisa aku lihat.  "Lepaskan teman-temanku! Kalau tidak, aku akan membuatmu semakin menderita!" ucapnya lantang. Leherku terasa seperti tercekik. Alvin masih berdiri diam di sana menghela nafas kasar. Pasokan nafasku sudah minim,"arkh!" "Cursed Eye!" ucap Alvin pelan melepaskan penutup matanya. Mataku hampir terpejam melihat ada kobaran api seraya mendengar teriakan kesakitan. Yang aku yakini adalah suara makhluk hitam besar dengan lidah panjang yang menjulur ke bawah. "Rasakan itu! Akibat menyerang teman-temanku!" lantang Alvin marah lalu membaca surat pendek dan ayat kursi. Seketika makhluk itu benar-benar hilang dan tubuhku ambruk dan perlahan, kesadaranku mulai menghilang. -Sekolah Aneh- Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN