11. Terjebak di kelas 3-B

1323 Kata
   Awan hitam sudah datang, angin berhembus kencang membuat dedaunan mengarah sesuai arah angin. Aku menoleh ke jendela, gelap sekali-pikirku seperti dua hari yang lalu. Beginilah kalau sudah musim hujan datang, kadang panas dan kadang dingin. "Tutup semua bukunya dan segera pulang sebentar lagi hujan datang," kata guru mempersilahkan semua murid membaca sesuai kepercayaan masing-masing. Setelah itu semuanya berbondong-bondong keluar kelas. Daniel menatap ku,"hati-hati, kalau sudah selesai jangan lupa pulang dan kabari Mas Taiga." pesan Mas Daniel padaku. "Siap, Mas Daniel." seraya memberi jempol ke Mas Daniel. Aku melihat punggung Mas Daniel yang sudah hilang dari pandanganku. Sekarang, hanya tinggal enam orang saja di kelas. Sesuai perjanjian kami kemarin. Haku menyuruh kami ke depan dan berdiri melingkar. Ia menjelaskan cara-cara untuk menarik ruangan kelas itu muncul. Belum apa-apa aku sudah merinding mendengarnya.   Aku dan teman-teman menuju lantai tiga sekolah. Suasana mendung seperti ini menjadi lengkap sudah, melakukan uji nyali walau masih siang hari. Jesse menghela nafas panjang berusaha untuk tidak takut atau terkejut karena kelas itu akan muncul tiba-tiba di tambah ada suara-suara seperti pintu di geser. Dari keenam yang ikut memecahkan misteri kelas 3-B yang paling berani adalah Haku. Pemuda itu seolah tidak takut apapun dengan ke ganjalan yang ada disini. "2,4,6,8,10,2,4,6,8,10," kata Jesse berjalan menyentuh pintu kelas yang berjajar lalu kembali dan mulut terus menghitung angka genap. Apa hantunya menyukai angka genap?-pikirku. Jesse sudah menghitung sebanyak tiga kali terus menerus tetapi tidak ada tanda-tanda suara pintu bergeser atau apapun, sunyi. April angkat bicara memprotes Jesse. "Sepertinya kau salah password-nya!" "Aku iki nggak salah loh, mungkin--" belum sempat Jesse berucap suara gesekkan pintu terdengar begitu nyaring membuat Jesse refleks memeluk April. Tentu saja, April langsung mendorong Jesse kuat sampai terjatuh. "Waduh, b****g ku lama-lama trepes nih (waduh, pantatku lama-lama jadi tipis)." keluh Jesse bangkit berdiri menggosok pantatnya yang sakit. "Habisnya lu tiba-tiba meluk gue. Ya udin, gue dorong aja. Gue jijik sama lu," protes April membersihkan bekas tempelan Jesse.   Kami melihat ada satu ruangan yang asing di mata kami. Aku mengerit melihat kelas itu yang di pintu ada tulisan 3-B atau 12-B. Sedari tadi aku melihat Jesse waktu menepuk pintu kelas 3,hanya ada huruf A,C, D, E dan F saja. Tidak ada kelas 3-B. Tangan kami saling bergandengan dan memasuki kelas 3-B bersamaan suara gledek terdengar, membuat kami semua terkejut. "Aaa!" Sontak saja kami langsung masuk dan jatuh di depan pintu 3-B, badan kami saling menindih. Aku merintih kesakitan karena punggungku di tindih oleh Zulfa. Ya allah, kurus sama gemuk, jadi penyet seperti tempe penyet aku--batinku. Zulfa cepat-cepat berdiri dan meminta maaf padaku,"sepurane, Atma. Aku--(minta maaf, Atma. Aku--)." "Ah, tidak apa-apa," kataku melihat Zulfa memasang wajah bersalah sembari membantuku berdiri. "Kalau di sini ada murid. Pasti kita akan di tertawa kan, masuk kelas tetangga nggak elit." komentar April menepuk jidatnya pelan. "Suara gledeknya tidak kompromi sama kita, langsung jedar! Gitu aja. Kan kaget!" kata Jesse. Haku membersihkan seragamnya yang kusut karena ia juga ikut terjatuh. Tangan saling bergandengan terus terdorong dari belakang, bagaimana nggak ikut jatuh? Kami sudah masuk ke dalam kelas 3-B yang sama sekali tidak memiliki aura kehidupan dan lebih cenderung dengan energi negatif. Persis seperti bayangan jahat kemarin tetapi ini energinya banyak. Aku yakin, kalau disini ada begitu banyak jenis makhluk halus. Meski aku tidak memiliki 'mata batin' seperti pemuda datar mata tertutup sebelah, Alvin. Tapi aku tahu jika ada makhluk halus yang berjumlah banyak. Seluruh badanku langsung merinding  dan aku menggenggam tangan April, menempel di belakang gadis itu. April menoleh ke arahku,"ada apa?" "Merinding, aku. Sepertinya di sini ada banyak makhluk halusnya." ucapku. Yuli mulai memasang wajah bingung seperti ada yang membisiknya. Zulfa yang melihat itu bertanya,"ada apa Yul?" tanyanya. "Aku mendengar suara hati berjumlah banyak," kata Yuli melirik kami berlima. "Mungkin itu suara hati kita," kata Jesse enteng. Yuli memasang wajah datar, "dih, kau sedari tadi batin agar nggak kencing di celana, bukan?" kata Yuli membuka kartu Jesse. Raut wajah Jesse berubah antara malu dan marah. Matanya melebar menatap Yuli, pipinya memerah lalu membuang muka. Menghela nafas kasar, mengantungkan kedua tangan ke celana supaya ia terlihat lebih cool dan tidak terlihat penakut. Aku menahan tawa di sebelah April dan masih stay menggandeng tangan April seperti seorang kekasih. Iya tahu, aku jomblo, tahu kok. "Siapa juga yang takut dan kencing di celana? Ogah mah. Aku lanang kudu wani ambek hantu-hantu. Aku nggak ngara ngoyo nang celono gara-gara wedi karo demit! (Aku laki harus berani sama hantu-hantu. Aku nggak bakal kencing di celana hanya karena takut sama setan!)." kata Jesse berdiri di pinggir Haku tersenyum miring. Brak! Suara pintu tertutup keras membuat kami kaget, sontak menoleh ke arah pintu bebarengan. Mata kami membulat melihat pintu tiba-tiba tertutup tanpa ada orang yang menyentuh pintu itu. Haku hanya memasang wajah datar, berusaha menyembunyikan rasa keterkejutan nya. Zulfa berjalan menuju pintu dan memutar kenop pintu berulang kali serta menarik berusaha untuk membuka tetapi tidak bisa. "Tidak bisa di buka!" kata Zulfa terus mencoba membuka. Nihil, tidak bisa. Aku mencoba untuk membuka pintu masih tetap tidak bisa. Aku melihat langit-langit kelas, kelas ini semakin lama semakin menyeramkan saja. Yuli memegang kepala dengan kedua tangannya. April bertanya pada Yuli. "Ada apa? Yul?" "Di sini ada banyak makhluk halus dan yang paling kuat berada di pojok kanan!" kata Yuli menunjuk bangku sebelah kanan yang di belakangnya Haku. "Mereka bilang mengutuk siapa saja yang berani masuk ke sini atau berani masuk di sini," kata Yuli mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirannya. Yuli mencoba menahan rasa pusing di kepalanya. Aku jadi teringat film-film fantasi dan buku-buku fantasi. Resiko yang memiliki kekuatan membaca pikiran atau hati seseorang akan merasa pusing--jika orang itu terus memikirkan apa yang di pikiran orang lain. Kalau si pemilik kekuatan bodoh amat, mungkin tidak akan pusing kepalanya. "Jangan banyak di pikirkan, Yul. Entar kamu tambah pusing," kataku padanya dan masih ada pertanyaan satu yang tidak aku mengerti,"Yul, apakah kau bisa membaca hati dan pikiran makhluk tak kasat mata?" tanyaku lagi. Membuat pasang mata mengarah padaku. Jesse angkat bicara,"benar juga. Yul, awakmu kan nggak punya kelebihan indera keenam dan kekuatan pembaca batin hanya berfungsi pada makhluk hidup bukan makhluk tak kasat mata." mata pemuda melebar lalu memegang dagu, menunduk berpikir keras. "Kecuali kau memiliki kelebihan seperti Alvin dan membaca batin-pikiran. Mungkin bisa, di maksud akal." lanjut Jesse melihat kami bergantian. Setelah Jesse mengatakan kejadian masuk akal itu. Yuli sudah tidak memegangi kepalanya dan menoleh ke kanan-kiri berusaha mencari seseorang lagi. "Apa ada orang selain kita?" tanyaku lagi. "Bisa jadi iya," kata Yuli mencari seluruh kelas tetapi tidak ada. Kilatan petir muncul dari awan hitam, mataku langsung terpejam di susul oleh pekik kan suara gledek. Duar! Rambut Zulfa mulai bersinar memberi sedikit penerangan. Rambut Zulfa akan bersinar kalau berada di ruangan gelap, jika tidak bersinar harus di dorong oleh sebuah lagu yang pernah murid 1-E nyanyikan. Rambut Zulfa juga bisa menyembuhkan luka dan memanjang. Herannya, setelah menyembuhkan luka seseorang rambut itu akan kembali terpotong sebahu. Aku yang melihat rambut banyak, terpotong. Rasanya sayang sekali. "Kita harus cepat-cepat mencari orang itu. Mungkin, ia telah menghilangkan kelas 3 -B dan menakut-nakuti semua orang."kata Haku serius. "Jika terungkap kita akan tenang," kata Jesse. "Tapi kita berenam terjebak di sini, tidak bisa keluar lagi!" kata April mulai panik. Suara rintikan terdengar lalu deras membasahi bumi sesekali suara gledek. Aku selalu memejamkan mata ketika suara gledek terdengar. Hawa dingin karena hujan terasa sampai tulang-tulang. Kami berenam duduk-duduk di bangku, terdiam. Jesse menyalahkan api dari tangannya untuk menghangatkan tubuh. Aku takjub saat Jesse mengeluarkan kekuatan apinya tepat di depan mataku. "Wah, hebat sekali. Bisa mengeluarkan api dari tangan!" pujiku. Jesse tersenyum manis memperlihatkan lesung pipi dan ada sedikit bolong(pacek)di sana,"biasa, aku ini memang memiliki kekuatan api." katanya,aku mengangguk mengerti. Aku menoleh ke Haku,"kalau kau, Haku. Kekuatanmu apa?" tanyaku melihat pemuda bersurai putih. Haku ingin angkat bicara, tiba-tiba Zulfa berteriak dan menuding di dinding bercat biru kusam. Kami menoleh ke arah tunjuk Zulfa. Di sana ada tulisan berwarna merah darah. Lawan aku atau kalian akan mati! *Sekolah Aneh* Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN