Deretan meja dan kursi sudah tersedia, Haru meletakkan masing-masing make up di atas meja. Ada make up umum yang sering di pakai sebab Haru tahu, kalau rata-rata anak laki-laki kurang tahu fungsi make up perempuan jadi Haru meletakkan bedak, lipstik, pensil alis dan blason.
"Sekarang ketua lombanya Haru bukan Judy lagi?" komentar Dimas melirik Judy lalu Haru.
"Terus siapa peserta 1,2,3 dan 4, Ru?" tanya April.
Pemuda tersebut merogoh saku celananya mengeluarkan secarik kertas yang ku pastikan daftar nama murid. Ternyata Haru sudah menyiapkan semua kemarin malam setelah kejadian dimana aku membalas dendam merias wajah Dimas. Sungguh, kemarin dan hari ini adalah hari yang membuatku senang.
Bagaimana tidak senang? Kemarin aku membalas dendam ku pada Dimas lalu esoknya balas dendam ke Mas Taiga.
Haru mulai membacakan kertas tersebut sebagai peserta pertama dan siapa yang merias adalah Jesse dan Dimas. Sontak saja mereka berdua kaget serta memprotes.
"Kok lu bikin gue sama dia nempel terus sih? Har. Awas aja lo!" kata Dimas nggak terima.
"Mending aku ambek Yugo saja daripada karo awakmu!" kata Jesse kesal. Aku hanya menggeleng melihat keduanya selalu saja bertengkar, sampai aku heran, kenapa mereka tidak bisa akrab? Akrabnya setengah-setengah.
"Tidak perlu bertengkar buruan ke sana!" kata Haku menyuruh mereka berdua duduk di kursi yang sudah di sediakan.
"Jesse yang merias Dimas," kata Haru. Mata Dimas melotot seolah ingin membunuh Haru, pemuda berkacamata itu hanya tersenyum lalu membisikkan sesuatu di telinga Dimas.
Aku jadi penasaran apa yang di bisikkan oleh Haru. Yuli, lagi-lagi bicara seolah memberitahuku apa yang di bisikkan oleh Haru lebih tepatnya inti bisikkan.
"Nanti gantian!" celetuk Yuli.
Para laki-laki tertawa dan seolah hari ini hari yang memalukan. Para gadis sebagai penonton lomba terlebih dahulu. Kami berempat ingin tahu siapa yang paling jago merias wajah dengan mata tertutup, hahaha. Pasti ini adalah sebuah tantangan besar buat kaum Adam. Apalagi mereka semua rata-rata tidak pernah memakai make up.
Deretan nama peserta make up;
-Jesse(merias) + Dimas (pelanggan)
-Daniel + Niall
-Dewa + Yugo
-Rudy +Judy
"Adik kakak nih yah, semangat!" ucap Yuli sedikit menggoda.
Zulfa menebak kalau Judy sebagai perias maka Judy akan menang. Aku yang mendengar itu menoleh ke Zulfa sebab gadis itu yakin sekali kalau Judy sebagai perias akan menang.
"Kenapa kau berpikir begitu?" tanyaku menoleh ke Zulfa. Gadis itu menatap ku sejenak lalu melihat lomba yang sebentar lagi akan di mulai. Zulfa menghela nafas sejenak, "karena Judy sering bermimpi dan sering lucied dream. Jadi dia sangat peka dengan benda sekitarnya kalau matanya tertutup secara tidak langsung gambaran imajinasinya akan muncul!" jelas Zulfa mengacungkan jari telunjuk ke atas.
"Nah, yang di katakan oleh Zulfa benar!" sahut April di sebelahku. Pandang mataku melihat mereka berdelapan berhadapan dengan lawannya. Mata mereka sudah di tutup kain.
Haru memberikan aba-aba mulai dengan segera mereka berdelapan mengambil peralatan make up di atas meja. Yang menonton tertawa ngakak dan pelanggan juga protes. Ada lipstiknya sampai ke pipi-pipi. Aku tertawa melihat tingkah laku mereka serta bedak yang terlalu tebal mirip seperti anak kecil umur 5-8 tahun.
"Oi yang bener anju! Kalau mau make up orang!" protes Dimas ke Jesse.
Gigi Jesse menggertak kesal mendengar omelan,"bacot! Nggak tahu apa? Mata ku gelap tertutup kain!" omel balik Jesse menyuruh Dimas biar nggak noleh ke kanan-kiri.
"Diam, Dimas! Awakmu ojok gerak lah! Mau ganteng atau mau dadi topeng monyet!" kesal Jesse.
"Lu yang bener ogeb! Muka gue bisa nggak ganteng lagi!"
Aku hanya bisa menggeleng melihat dan mendengar celoteh mereka berdua. Benar, kata April--mereka tidak bisa akur. Akurnya kalau tertentu saja. Yuli melihat Yugo ketawa ngakak, wajah Niall seperti joker.
Wah parah Mas Daniel bikin muka anak orang nggak baik-baik saja, batinku.
"Yang aku pegang ini apa?" tanya Rudy ke Judy.
Dahi Judy mengerut samar, menaikkan sebelah mata,"coba sebutkan ciri-cirinya?" tanyanya balik sepertinya ia menyuruh kakaknya, Rudy menebak benda apa yang di genggamannya itu.
"Hmm," gumam Rudy membuat kami yang menonton penasaran.
"Niall kelihatan baby face kalau di rias kayak gitu," celetuk Haku berdiri di belakang kami berempat. Mata ungunya menatap ke depan, mengamati.
"Aura Niall yang tampan sekarang menyeramkan." kata Yuli. Niall yang mendengar itu angkat bicara, tidak percaya dengan Yuli.
"Nggak percaya! Masa aku yang muka baby face di kata-in serem." kata Niall datar.
Perlombaan penata rias dadakan terus berlangsung dan mereka yang sudah di rias abal-abal tertawa renyah sampai sakit perut. Dimas, Niall, Yugo dan Judy segera melihat penampilan kaca yang di berikan oleh Alvin, sontak saja, mereka kaget setengah mati kemudian tertawa renyah.
"Aku kayak joker. Benar kata, Yuli. Wah, aku jadi cosplay dadakan!" seru Niall yang awalnya nggak percaya sekarang percaya. Bahkan ia berterima kasih ke Mas Daniel karena make up nya bagus.
Lah.
Kalau Dimas mirip coretan anak kecil di wajah sumpah, riasan yang ada di wajah Dimas hancur. "Wah parah, lu Jess. Bikin wajah gue rusak!" kata Dimas menunjuk pemuda bersurai merah itu.
"Habis gelap sih? Kan nggak kelihatan apa-apa. Pokoknya udah di rias kan, beres!"j awab Jesse enteng.
"Yugo, kayak tante-tante wkwkwk!" kata April.
"Eh iya deng, kayak tante-tante!" sahutku tertawa lepas. Air mata keluar dari mataku lalu segera ku seka. Dari tadi tertawa terus bikin sakit perutku.
Haru mengumumkan kalau pemenangnya adalah Rudy dan Yugo karena make up mereka tidak semrawut kayak yang lainnya. Sekarang giliran kami berempat yang akan di dandani oleh para laki-laki. Haru membaca daftarnya yaitu;
Fian Xian Lu (Perias) + Zulfa
Alvin+ Atma
Haru + Yuli
Haku + April.
"Ciyee, pak ketua sama bu ketua!" ucap Dimas tersenyum ke April. Gadis itu sudah mode membunuh ke Dimas tetapi pemuda tersebut sama sekali tidak merespon ucapan April.
Perlombaan pun di mulai. Semua peserta rias sudah mulai menyentuh alat make up. Alvin memegang pipiku kemudian bibir berasa sudah ke 'target' ia memulai memberikan lipstik ke bibirku secara perlahan. Aku sama sekali tidak bisa melihat April, Yuli dan Zulfa.
"Pak ketua! Semangat. Ah Bu ketua terlihat so sweet kalau gini!" ucap Jesse menggoda Haku dan April. Aku menoleh ke belakang melihat Haku yang mencoba mengasih bedak di pipi April.
Aku juga melihat sekilas wajah April memerah dan indera pendengaran ku mendengar jelas kalimat yang keluar dari mulut Haku, "Watashi no me wa nuno de ōwa rete iru hitsuyō ga arimasuga, watashi wa anata ga utsukushiku mieru yō ni tsutomemasu. (aku akan berusaha membuat mu terlihat cantik meski pandanganku harus di tutup oleh kain.)"
Yugo tertawa renyah mendengar itu. Aku yang mendengar ucapan Haku tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Pasti itu kata-kata manis.
Jesse mendekat ke Yugo membisik,"apa yang di katakan oleh pak ketua?"
"Kore wa machigainaku romanchikkuna kotoba desu. (Yang pasti kata romantis.)" kata Yugo membuat Jesse tambah pusing tujuh keliling.
"I don't understand, what you talk?" kata Jesse. Yugo terkekeh kecil,"yang pasti kata romantis,"setelah pemuda itu berkata Jesse mengangguk-angguk.
Haku terlihat sangat hati-hati meng-make up April. Gadis itu menatap Haku serius membiarkan pemuda itu yang kini mewarnai bibirnya. Dagunya di pegang lembut oleh Haku.
'Watashi no kokoro wa hageshiku dokidoki shite imashita. Watashi no kao mo hi no yō ni atsuidesu!(jantungku berdenyut-denyut tidak karuan. wajahku juga panas seperti api!)'--batin April.
Setelah waktu habis kami berempat segera melihat pantulan bayangan kami di cermin, melihat hasil yang sangat fantastik.
Para cowok lainnya pun tidak percaya kalau peserta kedua lebih jago daripada peserta ketiga. Haru pun sulit memutuskan pemenang peserta kedua karena semuanya bagus, tidak ada lecet sedikit pun.
"Adikku berbeda kalau ber-make up," kata Mas Daniel.
"Baru tahu, kalau adiknya cantik!" kataku pura-pura ngambek. Tidak lupa aku melirik ke Mas Daniel kemudian melirik ke Haku dan April.
Haru menyuruh kami semua berkumpul dan berfoto bersama sebelum make upnya di hapus dengan pembersih make up. Haku melirik ke April dan berkata,"Anata wa tanjun'na miwaku-tekidesu. (kau adalah sederhana yang memesona.)"April menunduk malu berusaha menyembunyikan rasa senang sekaligus pipi merahnya.
Aku yang curi-curi pandang ikutan tersenyum dan berpikir, apa Haku benar-benar cinta sama April? Atau hanya sebatas hubungan ketua dan wakil ketua kelas.
-Sekolah Aneh-
Bersambung...