26. Menghias Kelas

1252 Kata
Selesai lomba merias wajah kami semua kembali ke kelas sebelum menghapus riasan abal-abal. Kami kelas 1-E memilih foto bersama dengan kelas penuh warna kreatif. Pemuda cogan SMA Krias 04, ada yang terlihat cantik dan topeng monyet. Dewa, terlihat tambah galak kalau di make up, aku tambah takut melihatnya serius. Ia sekretaris kelas yang pendiam, pendiam aja aku takut apalagi kalau bermake up, buh tambah parah. Jesse bibirnya merah merona bak tante-tante girang, rambutnya yang udah warna merah di tambah bibir merah pula. Ia juga meminta hal konyol,"rek! Kalian mau nggak aku cium satu-satu, di pipi. Buat cup bibir. Bibirku merah banget!" ucap Jesse muka polos. Rasanya pengen aku buang ke jurang dah, batinku. "Lu kira stempel bibir ha! Dih tubuh gue langsung merinding!" kata Dimas nggak biasa seraya meluk diri sendiri karena merinding. Fian Xian Lu mendekatkan pipi nya ke Jesse,"nih cium pipi gue! Biar bibir lu nggak monyong-monyong, mumpung gue buka jasa cium pipi!" katanya. Aku segera menutup mata dengan kedua tangan ku demi mata suci, sumpah mereka ada-ada saja kelakuannya. Sesekali mengintip dari celah-celah jari. Niall melongo melihat mereka berdua, Dimas masih merinding. Haru yang melihat itu cengengesan. April mengusap lipstik di bibirnya dengan pembersih make up. Jesse yang tinggal beberapa cm mencium pipi Fian Xian Lu, Dewa tiba-tiba angkat bicara membuat waktu terasa berhenti. "Ini lipstik mate, mana bisa nge-cup di pipi, stempel bibir." celetuknya membuat semua orang menoleh ke sekretaris yang diam-diam suka bener. "Kau sungguh?" tanya Fian Xian Lu mendelik tidak percaya waktu menoleh ke kanan, dimana Jesse masih mematung di situ dengan bibir monyong. Fian Xian Lu menampar pipi Jesse. Plak! Pemandangan yang di luar dugaan, saudara-saudari. "Woi! Kenapa lu nampar gue?!" ucap Jesse ngegas. Fian Xian Lu menatap telapak tangan setelah menampar Jesse,"di pipi lo ada nyamuk jadi gue tampar! Gue nggak salah kan, Jes!" katanya sok polos gitu. "Salah! Lu nampar nggak izin gue!" kata Jesse membuat Dimas tersenyum nakal. "Oh kalau mau nampar atau mukul, Jesse. Harus izin dulu baru bisa mukul dan nampar sepuasnya hahaha!" kata Dimas tertawa jahat.   Akibatnya mereka bertiga main kejar-kejaran tidak peduli dengan riasan wajah yang masih menempel di muka mereka. Aku dan April melihat hasil jepretan tadi di kamera sekolah. Pak Sam tadi juga ikut lalu pergi, ada tamu yang datang. "Fotonya lucu-lucu terus siapa yang bakal ngedit?" tanyaku ke Haru. "Biar aku saja yang ngedit. Aku sudah lama nggak ngedit lagi," celetuk pemuda berkacamata dengan rambut rapih, Rudy. "Baiklah, nanti aku kirim foto dan videonya." "Sebagai penutupannya kita minta guru dan kepsek," kata Haru di balas anggukkan kami.    Sekarang waktunya melakukan syuting menghias kelas. Bangku-bangku di pindahkan ke tembok agar bisa memasang hiasan yang di langit-langit kelas. Atap kelas sudah tidak kumuh lagi seperti awal aku dan Mas Daniel masuk ke dalam kelas ini. Kemarin Dewa mengecat semua yang ada di dalam kelas ini bahkan atapnya pun di cat. Kursi di angkat keatas meja, April naik di atas meja kemudian di kursi seraya memegang gantungan burung. "Pril! Hati-hati!" ucapku padanya. "Tenang aja, aku hati-hati kok!" jawabnya memasang burung kertas di langit-langit. "Atma! Bantu aku!" ucap Zulfa memberikanku pita panjang di bantu sama yang lainya.   Kami semua saling gotong royong dan ada saja yang membuat suasana menjadi hidup. Semakin lama kelas ini menjadi hidup, tidak ada yang seram. Demi promosi sekolah dan menyelamatkan sekolah harus penuh dengan semangat. Jika misteri sekolah ini masih ada setidaknya ada murid baru yang ingin sekolah di sini, seratus murid pun tidak apa-apa.   Guru yang mengajar di sekolah aneh ini hanya ada 5 guru, bayangkan. Dan aku juga masih heran dengan kelas satunya yang kata di sini itu masih ada kelas memiliki murid. Tetapi sampai sekarang aku belum menemukannya. Aku naik ke kursi panjang, jinjit. Melihat ke kanan-kiri hiasannya sudah lurus. Yuli menyuruh yang lain menahan sebentar. Duh, jinjit terus menerus membuat kakiku rada sakit terutama di jempol kaki. Oh, cepat aku sudah tidak tahan nih, capek--batinku.   Judy naik ke kursi panjang tepat aku berdiri lalu menyuruhku untuk turun,"biar aku saja yang megang, kau turun aja." ucapnya. "Terima kasih," ucapku lalu turun melihat hiasan panjang tersebut. Ketika Yuli di tempat April, kursi yang mereka pijak--sudah goyang. Aku menyuruh mereka untuk mengganti kursi panjang tersebut tetapi April menolak. "Alah goyang dikit, nggak apa-apa. Bentar lagi selesai kok," kata April. Aku melihat kaki kursinya pengen patah terus kalau mereka berdua jatuh,gimana?, batinku melihat kedua nya. Yuli selesai memasang perekat di hiasan-hiasan tersebut. April membersihkan kedua tangan dari debu ketika Yuli gerak, kursi itu juga goyang. Aku mengulurkan tangan,"hati-hati!" ucapku dan Yuli lompat dari atas kursi.   April masih di sana membenarkan hiasan sedikit lalu di panggil oleh Haku, ia menoleh,"Pril, besok ikut aku dan Jesse pulang sekolah!" katanya dibalas angguk April mantap. "Memangnya besok ada apa?" tanya balik April. "Ada yang penting masalah waktu itu, ingat kan?" kata Haku. April diam sejenak berusaha mengingat lalu mengangguk,"baiklah." ucapnya.   April ingin turun dari kursi panjang goyang itu tanpa disadari tali sepatunya lepas dan terinjak kaki satunya. Sontak saja, April terjatuh,"Aa!" membuatku dan Yuli melotot tidak percaya. Gedebug! Dret (meja bergeser) Murid lain yang sibuk sendiri sesuai tugas masing-masing berhenti dan menoleh ke belakang melihat apa yang sebenarnya terjadi. Dimas menganga tidak percaya, Jesse melongo, dan kebanyakan lainnya lihat terus balik dengan senyum-senyum. Zulfa menutup mulut, shock.   Aku mengucek sebelah mata yang tiba-tiba saja gatal lalu berpaling. Rasanya gimana gitu? kembali melihat mereka berdua yang saling tatap menatap dengan jarak dekat. Lihatlah, wajah April merah padam atas peristiwa cepat tadi. Sedangkan Haku mencoba terlihat cool seolah tidak terjadi apa-apa. "Maafkan aku!" ucap April segera berganti posisi yang sebelumnya menindih tubuh Haku. Ketika April ingin turun dari kursi ia tidak tahu kalau salah satu ikat tali sepatunya terlepas dan terinjak. Waktu jatuh, kedua tangannya sudah terulur ke depan dan menjerit. Haku yang tidak jauh dari April berusaha menangkap dengan cara memeluknya. Tetapi Haku tidak bisa menahan gaya dorongan yang terlalu besar jadi ia ikutan terjatuh, meja di belakangnya jadi bergeser. April waktu menjerit, bibirnya tidak sengaja menatap bibir Haku serta hidungnya juga nggak sengaja ikutan nabrak. Apa yang ku lihat tadi? Apa itu bisa dinamakan?-- batinku melirik ke Yuli. Gadis di sampingku sama sekali tidak merespon ucapan batinku. Mungkin dia masih shock. April menundukkan kepala, tidak bisa di deskripsikan. Haku juga diam tidak berani menoleh ke April. Fian Xian Lu datang bersama Yugo. "Ada apa ini? Ada apa?" tanya Fian Xian Lu melihat Haku dan April diam. Lalu melihat aku dan Yuli yang masih shock. Gimana nggak shock? Aku dan Yuli yang melihatnya secara langsung. Entah itu benar atau tidak, Haku, April dan tuhan yang tahu lebih detail. Karena aku dan Yuli hanya melihat sekilas seperti angin menerbangkan sesuatu cepat. Wus! "Hmm, anu itu..." ucapku bingung jelasinnya darimana. "Tidak ada apa-apa?" kata Yuli cepat. "Dih, apanya yang tidak apa-apa. Ini mah kenapa-kenapa?" kata Dimas kena jitakan dari Jesse. "Diam lu!" kata Jesse dibalas lirikkan sinis dari Dimas. Yugo menggeleng melihat mereka berdua yang dikit-dikit bertengkar dikit-dikit berteman. Fian Xian Lu menatap kami berdua hanya memastikan dan di balas anggukkan yakin.     Waktu begitu cepat berlalu. Setelah menghias kelas kami semua segera mengambil tas masing-masing, sebelum aku dan Mas Daniel pulang, aku bertanya ke April membisik. "Apa kau tidak apa-apa? Kalau mau cerita, cerita lah padaku atau Zulfa dan Yuli. Agar pikiranmu tidak terbayang-bayang." kataku padanya. "Ti-tidak. Aku tidak apa-apa,Atma!" balasnya tersenyum padaku meski aku tahu kalau itu senyuman palsu. "Baiklah, aku akan pulang duluan! Dah!" ucapku melambaikan tangan ke April menyusul langkah Mas Daniel yang sudah jalan duluan. *Sekolah Aneh* Bersambung.. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN