Jantung ini masih berdebar-debar tidak karuan atas kejadian tadi atas kecerobohan ku. Kenapa aku ceroboh? Kenapa aku tidak menyadari kalau ikat tali sepatuku terlepas dan terinjak kaki satunya sehingga membuat tubuh ini jatuh serta tidak sengaja bibir ku dan bibirnya tersentuh bahkan hidung pun sama.
Sekarang seorang gadis berambut panjang keriting gantung itu duduk di taman dengan masih memakai seragam sekolah. Ia bilang ke ayahnya kalau ada urusan mendadak, pulang terlambat. Padahal bukan itu masalahnya.
Mata cokelatnya sesekali terpejam dan terbuka, menatap langit yang sudah mulai berwarna jingga. Kejadian di kelas tadi terus terputar di pikirannya seperti kaset yang selalu di replay. Apa itu benar atau tidak?. Entah April harus senang atau tidak, tadi benar-benar kecelakaan kecil, tidak sengaja.
Atma dan Yuli pun shock melihatnya. April bimbang ingin minta maaf sekali lagi ke Haku tetapi sudah tidak ada keberanian lagi mendekatinya. Secara pemuda berambut abu-abu sekaligus pemuda yang di kagumi nya, kalau Haku tidak menghampiri atau membuka suara duluan. April tidak akan membuka suara, buka suara pun masih berpikir dan masih terlalu formal bahkan canggung.
Setiap dekat dengan Haku, jantungnya selalu tidak bisa diam. Haku juga pernah berkata ke April saat berdiskusi berdua, Ketua dan Wakil Ketua. April masih gugup dengan Haku.
"Kau tidak perlu gugup, biasa saja, bicara padaku. Anggap saja, aku ini teman mu, sahabat atau saudaramu sendiri." katanya waktu itu.
Seiring perjalanan waktu, Haku dan April sudah akrab satu sama lain serta profesional menjadi ketua dan wakil ketua. Bisa memimpin serta bertindak adil pada teman-temannya.
Angin semilir menerpa wajah cantiknya, bayangan itu masih saja bermunculan. Ia mengusap bibirnya,"padahal aku ingin menjaga ciuman pertama buat masa depan. Entah kenapa malah jadi begini." sesal April pada dirinya sendiri di bangku taman.
Taman hari ini sepi pengunjung, tidak seperti biasanya yang selalu ramai. Mungkin, hujan sering turun di sore hari jadi orang-orang memilih untuk diam di rumah menghabiskan waktu bersama keluarga.
"Ciuman pertamaku hilang! Terus terus aku juga gugup lagi sama Haku seperti dulu," ucapnya memegang kepala frustasi lalu berteriak kencang seperti orang gila. April bodoh amat soal ia di pandang orang stress atau apa yang penting hatinya merasa senang.
Persetan dengan pandangan orang lain, aneh--tidak peduli.
April beranjak dari kursi menggendong tasnya kembali. Sebelum berjalan ia menghela nafas dalam-dalam berusaha untuk melupakan peristiwa tadi di kelas. Kalau bayangan itu kembali, ia akan bercerita pada teman-temannya seperti perkataanku.
Langkah jenjangnya berjalan santai menuju halte yang tidak jauh dari taman. Sampai di halte ada beberapa murid dari sekolah lain yang memandang April takut dan mengejek. April yang menyadari itu pura-pura tidak peduli padahal dalam hatinya sudah kesal seperti ingin mengeluarkan tanduk setan.
'Biasa aja liatnya, ingin rasanya mencolok mata mereka bertiga satu-satu', gerutu April dalam hatinya.
Ekor matanya melirik mengarah ketiga gadis tersebut. Mereka berbisik-bisik yang bodohnya April bisa mendengar percakapan mereka bertiga.
"Eh bukannya dia dari sekolah yang di bicarakan akan di tutup bulan desember?" gadis dua.
"Iya, katanya sekolah itu udah nggak ada muridnya loh dan mereka juga punya kutukan yang di luar nalar manusia." kata gadis satu.
"Benarkah! Jadi dia juga punya kutukan pula, hii ngeri!" ucap gadis tiga jijik.
April yang merasa kesal pun berharap bus cepat datang agar bisa pulang cepat sekaligus tidak mendengar ucapan mereka yang membuat telinga April sakit. Bus sudah datang dan segera April masuk dan ketiga gadis itu nyatanya ikutan masuk. April awalnya bodoh amat sama mereka bertiga lama kelamaan percakapan mereka membuatnya tidak senang.
Di tambah cibiran SMA Krias 04. April yang sudah tidak bisa menahan memutuskan untuk angkat bicara tanpa menoleh ke belakang, ia sudah jengah mendengar omongan mereka.
"Siapa kata sekolahku itu penuh teman kutukan yang tidak bisa di dekati. Siapa bilang kalau yang sekolah di sana besoknya bakal mati misterius atau hilang. Siapa bilang kalau sekolah itu tidak bisa bersaing dengan sekolah lain. Siapa kata?" kata April pada mereka bertiga.
"Siapa kata? Ya, kata semua orang yang anaknya menjadi korban di sana. Dan itu benar adanya terus murid di sana juga punya kutukan. Mereka enggan bersosial pada orang lain. Mereka bahaya, mereka kejam, mereka tidak punya hati!" kata gadis satu itu membuat hati April rasanya tertusuk oleh ribuan anak panah.
Gadis yang mencibir tersebut tersenyum miring, kemenangan. April menundukkan kepala, tersenyum miring. Ekspresinya lagi-lagi tidak bisa di deskripsikan,"benarkah? Aku harap kalian semua yang memandang SMA Krias 04 sebelah mata akan menyesal saat melihat promosi sekolah kami." kata April bangkit berdiri menuju supir.
Bus berhenti lalu turunlah gadis berambut panjang keriting gantung itu. Selama perjalanan menuju rumah hatinya terus menggerutu kesal harus mendengar cibiran yang memandang sekolah SMA Krias 04 sebelah mata. Berarti isu itu sudah menyebar luas kesana kemari, untung saja ia tidak mendengar menjelekkan murid yang memiliki kekuatan es, api, pembaca pikiran dan hati, teleport, bayangan dan lainnya.
April terus berjalan lalu tiba-tiba tangan kiri nya di tarik seseorang di g**g kecil. Ingin berteriak tetapi tangan lain membekap mulut gadis itu.
"Sstt,ini aku Haku!" ucap pemuda bersurai abu-abu panjang menatap kalem April dengan mata ungu yang membuat siapa saja bakal terkesima.
Setelah April diam, Haku menurunkan tangan yang tadi membekap mulut April.
"Kenapa kau ada disini?" tanya April pelan, pipinya perlahan memerah bak tomat. Haku melihat sekitar lalu menarik tangan April melewati g**g kecil ini.
April nurut aja sama Haku dan melihat pergelangan tangannya di genggam oleh tangan dingin Haku. Mereka berdua sampai di tempat sepi dan buntu membuat April was-was sekaligus heran dengan Haku.
Pemuda itu menatap April lamat-lamat,"jangan berpikir macam-macam! Aku sengaja membawamu ke tempat sepi untuk membicarakan soal padamu, penting!" ucap nya ke April.
Gadis itu tersenyum pahit, ia sudah berpikir negatif sejak tadi. Haku membuka suara,"besok, sepulang sekolah ikut aku mencari lambang elang itu dengan cara wawancara, orang tua siswa-siswi korban atas insiden dua tahun silam." April mengangguk.
"Ini masuk misi utama magangku. Mungkin ini juga ada sangkut pautnya misteri di sekolah," ucapnya ke April.
"Atau lebih buruk lagi," ucapnya mendekat kan wajahnya ke April, tajam. April sudah berada di tembok nggak bisa mundur lagi, wajah Haku makin dekat bahkan nafasnya pun bisa April rasakan, hangat.
April menatap manik mata Haku yang tajam sekaligus kalem,"Organisasi gelap, Black Hawk." ucapnya membuat saliva April hampir tertahan mendengar nama organisasi itu, pupil matanya melebar tidak percaya.
Jika mengarah ke organisasi itu maka misi Haku jauh lebih bahaya dari ia bayangkan. April tahu, organisasi gelap tersebut walau tidak sepenuhnya tahu. Dari beberapa artikel bahkan pembicaraan orang-orang organisasi tersebut 'paling di takuti' serta mereka seolah hilang di telan bumi dan bangkit lagi. Bahkan polisi tertentu sedang mencari organisasi itu.
"Kalau begitu, aku akan membantumu. Tetapi jika ada masalah jauh lebih berat, teman-teman ikut membantu." kata April menatap lekat Haku. Jantungnya masih berdebar-debar tidak karuan jika posisinya terlalu dekat.
Haku melangkah mundur, memberikan jarak. Dalam hati April sangat lega dan bisa bernafas sepuasnya.
"Iya, tentu saja," kata Haku singkat.
April menatap Haku lagi berusaha untuk mengungkap kata maaf atas kejadian tadi di sekolah. Apa ia sudah melupakan kejadian tadi? Atau Haku hanya berpura-pura?
"Haku, aku minta maaf!" ucapnya tiba-tiba dan berusaha untuk melanjutkan kalimat,"aku minta maaf. Gara-gara kecerobohan ku, kau ikutan jatuh dan..." lanjutnya tiba-tiba terhenti.
Dahi Haku berkerut samar,"ah tidak apa-apa. Lain kali hati-hati, aku juga minta maaf asal menarik mu tadi tanpa memanggil." katanya seraya meminta maaf.
Seulas senyum terlukis di wajah April, "aku juga minta maaf sekali lagi padamu... Karena itu.. Itu tidak sengaja. Jadi aku minta maaf sekali lagi, Haku!" ucapnya meminta maaf sekali lagi ke Haku tentang kecelakaan kecil tadi.
Pemuda itu mengerutkan dahi lalu berbalik badan membelakangi April. Seulas senyum tipis terpampang jelas di wajahnya,"tidak perlu minta maaf. Itu tidak sengaja bukan?"menoleh ke belakang sedikit,"anggap saja, itu ciuman pertama tidak sengaja. Aku tidak marah, dan jangan lupa besok! Aku pergi dulu!" ucapnya membuat April diam mematung menatap punggung Haku yang sudah menjauh meninggalkannya.
Perkataan Haku perlahan tergiang-giang di pendengarannya. Entah itu mimpi atau tidak, yang jelas pemuda tersebut mengatakan kalau ia menerima 'itu' dengan senang hati.
Perasaan apa ini? Tubuh April terasa panas dingin, tidak menentu. Ini persis dengan kekuatan es milik Haku dan api milik Jesse. Kedua partner dengan kekuatan saling mendukung.
'Mereka berdua pantas jadi partner'--batin April.
-Sekolah Aneh-
Bersambung...