09. Makan Pangsit

1446 Kata
  Semua teman-teman berlari menuju kami berempat, mereka memasang wajah khawatir seraya menata nafas yang tersengal-engal. Salah satunya yang lebih khawatir adalah Mas Daniel. Ia menyuruhku berputar berusaha untuk mengecek apa di tubuhku ini terluka. "Kau tidak apa-apa, Atma?" tanya Mas Daniel khawatir. Aku membalas anggukkan. "Tidak apa-apa. Yang kenapa-kenapa itu April?" sambil menunjuk ke April, di belakangku. Mas Daniel mengikuti arah tunjuk-ku menghela nafas berat dan lega, aku baik-baik saja. Zulfa dan Yuli mendekat ke April, bertanya dimana lukanya. "Aku akan menyembuhkannya menggunakan rambutku," kata Zulfa mulai bernyanyi lagu, rambut keritingnya yang panjang hanya sebahu perlahan memanjang. Helaian rambut yang sudah menyentuh tanah mulai berdiri seperti ular menari-nari lalu menuju ke leher April. Gadis itu memejamkan mata berusaha untuk tidak mengerang kesakitan. Zulfa angkat bicara,"lukanya parah tapi tenang saja, aku bisa menyembuhkannya dengan mudah," katanya kembali bernyanyi. Yuli ikut bernyanyi. "Sa-sakit!" ucap April menahan sakitnya, aku yang melihat itu juga merasa sakit. Tangan April mengepal berusaha menahan, Haku menggenggam tangan April dan ikut bernyanyi menambah energi kekuatan penyembuh dari rambut Zulfa. Ternyata rambut Zulfa tidak hanya untuk menyinari ruangan gelap melainkan menyembuhkan luka dengan energi lagu. Semakin banyak orang bernyanyi, energi di rambut Zulfa akan bertambah. Aku seperti melihat Rapunzel di dunia nyata. Nyanyian pun berhenti dan rambut Zulfa terpotong dengan sendirinya membuatku terkejut bukan main. Rambutnya kembali seperti sedia kala yaitu panjang sebahu. Mulutku menganga tidak percaya. Mas Daniel melirikku berkata,"tutup mulutmu itu! Entar ada lalat masuk," katanya membuat mulutku tertutup rapat. Dimas terkekeh mendengar kalau Mas Daniel juga bisa bercanda,"ternyata Daniel bisa bercanda dan sempat tersenyum. Aku pikir, Daniel 12:12 dengan dua makhluk di belakang," katanya menunjuk ke arah Alvin dan Dewa. April meraba leher yang terluka sudah tidak sakit lagi,"apa lehernya merah atau sudah kembali?" "Sudah kembali seperti semula. Sini hasduknya aku kembalikan ke Dewa." kata Haku mengambil hasduk di tangan April lalu memberikannya ke Dewa. Jesse mengerit bingung karena ia pertama kali melihat dari lantai tiga ada api bergejolak. Ia pikir ada listrik yang konslet,"tadi ada kobaran api apa? Apa itu kekuatanku Haku?" kata Jesse pada Haku. Pemuda itu mengangguk,"maaf, aku harus meniru kekuatanmu. Tadi ada bayangan jahat yang berusaha untuk melukai April dan makhluk itu golongan iblis. Kekuatannya sangat besar." jelas Haku membuat semuanya tersentak kaget. "Di semua sisi tidak ada tanda-tanda yang aneh. Mungkin mereka tahu kalau kita sering beroperasi setiap hari kamis." kata Fian Xian Lu. "Semuanya pulang saja. Kalau mau keluar hati-hati. Mungkin saja ada makhluk sejenis berada di sekeliling. Makhluk yang ada di lantai tiga tadi adalah makhluk buatan manusia." kata Haku membuat Mas Daniel tidak percaya. "Mana bisa, manusia membuat seperti itu!" "Bisa saja. Jangankan makhluk begituan, mereka juga bisa membuat manusia lebih kuat dari manusia biasa," jelas Haku. Aku melirik ke arah Mas Daniel,"percayalah, Mas. Yang di katakan oleh Haku memang benar tapi kita belum mengetahui siapa pelakunya?"pintaku ke Mas Daniel agar percaya dengan Haku. Aku yakin, kalau Haku tidak bercanda dengan perkataannya barusan. Sudah dua hari aku sekolah di sini rasanya seperti sudah lama. Begitu cepatnya aku mengenal habitat baru hanya dua hari sudah seperti 2 tahun. Karena mereka semua seperti keluarga, sama-sama menambah ilmu, memecahkan misteri sekolah aneh ini dan mencari teman bukan lawan. Walau sekolah ini bisa dikatakan menyeramkan sebab masalah kelam itu. Jika ada mereka semua, sekolah ini mungkin bahkan hidup. Tidak membutuhkan ratusan murid untuk menghidupkan sekolah hanya 16 murid saja sekolah ini sudah seperti rumah sendiri. Semua teman-teman mulai pulang sendiri-sendiri kebanyakan dari mereka kepo dengan bayangan jahat yang di kata 'makhluk buatan'. Aku sendiri sempat tidak percaya dan membuatku penasaran. "Kalian berempat mau jalan-jalan sungguhan?" tanya Mas Daniel pada kami berempat. Kami semua mengangguk. "Hati-hati kalian berempat,"kata Mas Daniel lalu pergi. "Yo!" kata Yuli bersemangat. -Sekolah Aneh-    Cuaca cerah ini membuat rasa haus menyerang jadi kami memutuskan buat mampir di warung pinggir jalan untuk makan dan minum es segar. Kami mampir di warung 'pangsit'. Sebab mereka bertiga kangen sama rasa pangsit yang lezat begitu pun aku, karena jarang sekali makan di luar biasanya Mas Daisuke dan Mas Fajar yang selalu membawa makanan luar ke rumah. Pesanan kami sudah datang dan mulai tidak sabar untuk memulai menyantap. Kami membaca doa sebelum makan lalu,"selamat makan semua!" seru April mulai memakan pangsitnya. Aku merasa senang bisa makan bersama dengan ketiga teman baru yang hanya dua hari sudah akrab seperti sahabat lama yang hilang, hehee. Suara kendaraan saling bersautan kesana kemari tidak sedikit suara klakson atau truck. Asap-asap dari kendaraan mengepul di udara. Ku seruput es teh sampai habis, cuaca hari ini sangat cerah dan panas. "Ah," ucapku setelah selesai menghabiskan satu gelas es teh, kini perutku sudah kenyang dan tidak bisa menerima makanan lagi. Makananku tadi tinggal dikit tapi aku sudah tidak kuat untuk memakannya jadi April sebagai penampungan makanan. April sama sekali tidak menolak, aku sempat melongo kalau April memakan makanan 'cepat habis'. "Pakai jurus apa? Kau bisa makan begitu cepat?" tanyaku sedikit kagum. "Kalau kau bertanya begitu. Aku jawab, makanan itu langsung aku telan tidak menunggu di kunyah lembut. Kau tadi lihat kan, aku hampir tersedak kuah pangsitnya." kata April dibalas tawa kecil dari Zulfa. "Hahaha, April mah. Makan tidak perlu mengunyah sebanyak 33 kali. Pas masuk ke dalam mulut kunyah bentar langsung di telan," kata Zulfa. Aku terkekeh kecil. "Aku tidak bisa makan cepat kayak gitu. Apa mungkin takut kalau kejadian waktu kecil terulang kembali." kataku membuka topik baru. "Memangnya kenapa Atma? Waktu kecil?" tanya Zulfa melipat kedua tangan di atas meja, menatapku serius. "Aku tersedak duri ikan kira-kira panjangnya jari kelingkingku." kataku mengangkat jari kelingking kecilku. Mereka bertiga memasang wajah ekspresi berbeda dan yang pasti itu mengerikan,"kalau duri itu masih di tenggorokanku nggak keluar mungkin aku tidak ada di sini," kataku. "Wushh, jangan ngomong gitu! "kata April. "Gimana cara mengeluarkannya? Apa kau di bawah ke rumah sakit?" tanya Zulfa. Aku menggeleng,"nggak sempat walau rumah sakitnya dekat. Kalau di hitung nggak bakal sempat jadi di rogoh deh pakai tangan dan dapat satu duri. Karena durinya nggak mau masuk ke dalam bahkan air pun tidak membantu," kataku terang-terangan,"mamaku sampai pingsan melihatku saat kritis gitu." "Siapa yang ngambil duri itu?" tanya Yuli. "Nenekku waktu nenek berada di rumahku. Semua orang waktu itu panik. Semua saudaraku panik gitu, takut." kataku lagi. "Makanya kakakmu peduli padamu kayak tadi Daniel. Ia sangat khawatir kalau kau kenapa-napa." simpul Zulfa. "Aku aja tidak begitu." kata Zulfa. "Aku malah tidak memiliki saudara kalau aku sendirian di rumah. Aku selalu berbicara dengan gambar 2D. Yang sudah mencapai hampir seperti asli hanya satu," kata April mengacungkan satu jarinya ke atas. "Siapa?" "Aomine Daiki!" katanya senang. "Saudaramu ada berapa Atma?" tanya Zulfa kepo. "Lima termasuk aku. Aku anak terakhir perempuan, semuanya laki-laki. Kalau waktu kecil itu, lucu gitu kecil-kecil haha." kataku tertawa. "Umurnya berapa?" "Kami semua hanya terpaut dua tahun, dua tahun."kataku. "Masya allah. Kok kuat banget mamamu, Atma." kata April kaget. "Bagaimana lagi? Kata mama pengen anak perempuan tapi tidak bisa. Harusnya sampai anak ketiga pas di check USG katanya cewek pas lahir cowok. Maka dari itu masku yang wajahnya gimana ya antara cantik dan ganteng gitu. Kalau anak ketiga benar-benar cewek. Aku dan Mas Daniel pasti akan lahir di rahim orang lain dan aku tidak bakal kenal sama Mas Taiga." kataku panjang lebar. "Aku jadi pengen lihat fotomu sama keempat kakakmu!" kata Zulfa mata terbinar-binar. Aku mengeluarkan ponselku dan menggeser galeri. Ku tunjukkan foto satu keluarga, semua kagum melihatnya. "Loh, ini mirip kayak orang Jepang?" tanya April menunjuk ke foto Mas Daisuke. "Ooh, memang dia kayak orang Jepang. Soalnya lahirnya di Jepang, namanya juga Jepang, Daisuke Yuma Satria. Kalau orang di sana manggil Dai atau Yuma. Kalau di Indonesia di panggil Sasuke." ucapku polos. "Loh, Sasuke!" kata April kaget. "Mana Naruto-nya? Nggak ada?" kata Yuli tertawa kecil. "Bercanda, di panggil Yuma kok atau Dai sama seperti panggilan dia di Jepang." kataku. "Kalau gitu. Aku akan ngelahirin anakku di Jepang siapa tahu mirip kayak Aomine Daiki." kata April membuat semua tertawa. Zulfa menunjuk pemuda berambut pirang,"ini katamu yang cantik dan ganteng itu?" aku mengangguk. "Kalau masmu itu lahir di negara mana?" tanya April. "Di Indonesia. Semuanya lahir di Indonesia kecuali masku yang nomor dua lahirnya di Jepang." kataku di balas angguk mereka bertiga. "Katamu mirip mana nggak mirip gitu?" aku menggeser layar ke kiri dimana aku dan Mas Taiga foto bersama. Mereka terkejut,"eh iya, mirip. Pas senyum, pipinya sama-sama cubby hahaha." "Iya, mirip bat. Kayak anak kembar, kayak perempuan." kata Yuli. "Semua orang berkata begitu. Kalau aku sama Mas Taiga jalan berdua kayak anak kembar. Dan pas tahu kalau kami berdua saudara kandung. Mereka kayak kecewa gitu." kataku. Setelah kami berempat mengobrol panjang. Kami berjalan menuju taman terdekat, biasa mencari angin dan di sana akan banyak permainan anak kecil serta banyak orang berjualan makanan dong. -Sekolah Aneh- Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN