08. Serangan Bayangan Jahat

1359 Kata
  Kami berempat berjalan menuju lantai tiga selama perjalanan masih terbiasa. Aku berjalan beriringan di samping April sedangkan kedua pemuda berada di depanku. Ketika memasuki ruangan lab laboratorium yang kebersihannya selalu di jaga dan barang-barang pelajaran kimia masih terjaga rapih. Haku melihat sekeliling was-was kalau begini aku sudah waspada begitupun April dan pemuda bernama Dewa. Aku sendiri, takut dengan pemuda bernama Dewa ini. Ia sedari tadi diam tidak berkutik. "Ada bayangan jahat menuju ke sini. Kita harus was-was, jika bayangan itu menyerang kita serang kalau tidak, kita tidak perlu menyerang," kata Haku dingin di balas angguk mantab. Mataku melirik kesana kemari mencari bayangan jahat yang dimaksud oleh Haku. Kami berempat sudah di posisi masing-masing memasang kuda-kuda bertarung. Hatiku penasaran banget, bayangan jahat yang di maksud oleh Haku itu bagaimana? Sreet! Seketika pandangan kami teralih ke benda yang melesat cepat menuju ke lemari alat kimia. April mengeluarkan lipatan kertas pesawat dan melemparkannya ke lemari itu. "Kau mengajaknya bermain?" tanyaku pada April. Gadis itu menggeleng,"aku memastikan kalau bayangan jahat itu hanya lewat atau cari gara-gara," katanya.   Asap hitam keluar dari lemari kaca itu begitu pekat, mengepul di udara membentuk bayangan menyeramkan dengan mata lebar merah serta mulut yang menganga mengeluarkan darah. Mataku terbelalak lebar. Bayangan jahat itu menyebar luaskan aura horor di seluruh ruangan lab. Habis sudah riwayatku kalau gini aku hanya bisa diam dan baca doa, bukan berantem. "Ternyata dia bangsa iblis!" kata Haku dingin. Bayangan hitam jelek tersebut mengeluarkan suara mengerikan yang membuat bulu kuduk siapa saja akan berdiri. Aura hitam ini menyelimuti tubuh kami. Aku sama sekali tidak bisa bergerak seolah dililit oleh bayangan makhluk hitam itu.   April memberontak tapi tidak bisa begitupun Haku dan Dewa. Bayangan hitam itu mengangkat kami berempat, kedua kaki kami sudah tidak menginjak lantai. Bayangan hitam yang membungkus kami perlahan memenuhi tubuh. Tanpa aba-aba bayangan itu melempar kami sehingga menubruk dinding. Punggungku rasanya remuk lalu ambruk. April berusaha berdiri tetapi tidak bisa. Energi bayangan jahat golongan iblis memang cukup kuat, tidak heran mereka memiliki sifat sombong dan memandang lainnya hanyalah sampah. Bayangan itu mengarah ke April dengan gerakkan bayang kilat dan mencengkram leher April. "Arg!" erang April memegang tangan bayangan itu kuat sepertinya energi bayangan benar-benar kuat. Aku melihat April memerlukan bantuan tapi aku hanyalah manusia biasa tidak memiliki kekuatan seperti murid 1-E lainnya. Tubuhku seolah enggan untuk bangkit, hantaman kuat dari iblis itu. April menatap bayangan itu tajam. Tangannya mencengkram kuat lengan bayangan itu dan berusaha untuk melepaskan cekikan leher. Gadis itu hampir kehabisan nafas tetapi ia tahan. "Le-lepasan a-agh!" kata April yang sudah mulai tercekat, nafasnya hampir mau habis. Matanya mulai ingin terpejam. "Serangan kristal es!" seru Haku mengarah ke bayangan hitam itu. Kristal-kristal itu berhasil menancap ke punggung bayangan jahat membuat tangan yang mencekik leher April mulai merenggang. Gadis itu mengambil nafas sebanyak-sebanyaknya sambil terbatuk-batuk lalu pingsan. Aku yang melihat itu terkejut bukan main. Sekuat tenaga yang ku punya, aku berusaha untuk menghampiri April. Nampaknya bayangan hitam jahat itu mengamuk karena serangan milik Haku. Pemuda itu mendinginkan seluruh ruangan menjadi es. Bayangan tersebut langsung menyerang Haku dengan kuku tajam bak iblis.   Haku menghindari serangan begitu cepat dan menyerang menggunakan kekuatan esnya. "Pukulan Es!" seru Haku, bogeman tangannya di selimuti oleh es lalu menonjok wajah bayangan itu. Saat bogeman es mengenai wajah iblis, tiba-tiba bayangan itu memudar membuat netra ungu Haku, mendelik. Bayangan itu berpindah cepat yang awal di depan Haku kini di belakang nya lalu mendorong kuat tubuh Haku. "Haku!" teriakku lantang. "Angel Wing!" seru April. Kertas yang ada di saku seragam keluar membentuk sayap malaikat berukuran besar menuju ke Haku. Aku yang melihat itu sangat terkejut. Mata Haku yang terpejam berusaha terbuka memastikan kalau ia tidak menatap apapun. Ia melihat lantai berwarna putih di sana, terkejut. Terkejut kalau ia tidak mencium lantai akibat dorongan dari bayangan iblis itu. Haku menoleh ke belakang melihat sayap kertas berada di punggungnya. Bayangan jahat itu kembali menyerang dengan sigap Haku menghindar dengan hati-hati sebab di dalam ruangan. Ia tidak bisa terbang bebas layaknya burung. Aku membantu April duduk, leher April menjadi merah, pasti mahluk itu mencekik leher memakai energi besar buat mengambil nyawa seseorang. Aku merasa kesal kalau begini ku lirik bayangan hitam itu tajam ingin melihat bayangan jahat golongan iblis itu musnah dari dunia ini. Haku menyerang musuh memakai kekuatan esnya dan sayap kertas itu akan memudar. Sebelum sayap tersebut hilang dari penglihatannya. Haku sudah mendarat dengan mulus, kedua tangannya menyentuh lantai, matanya terpejam. Ruangan yang penuh es sekarang perlahan meleleh dan tergantikan rasa api membara. Tubuhku seolah terpanggang dalam ruangan ini. Aku melihat Haku, aura tubuh pemuda itu ada sedikit aura api. Mataku memicing sebelah mata berusaha untuk melihat secara jelas. "Terbakar lah bersama api, iblis!" ucapnya geram bersamaan api yang di tubuhnya berkobar hebat. Mata ungunya berubah menjadi api menyala. Aku melihat itu berusaha menelan saliva susah payah. Haku kalau mode singa merah ternyata lebih menyeramkan dari beruang putih. "Semburan api naga!" seru Haku menyemburkan nafas api besar menuju ke bayangan jahat, terdengar suara teriakan kesakitan dari bayangan jahat yang memohon dalam api. Lalu datang lima kartu berada di atas kepala bayangan jahat. Haku menatap datar bayangan jahat itu mengerang kesakitan. Kelima kartu menyerap energi makhluk tersebut kemudian makhluk jahat yang datang membuat masalah menghilang untuk selamanya bersamaan kelima kartu yang menyerap energi. Aura api Haku sudah menghilang, iris ungu telah kembali seperti sedia kala. Ia menoleh dan menghampiri kami berdua. Telapak tangan Haku mengeluarkan asap putih ada sedikit kristal es kecil. Tangan itu memegang leher April bekas cekikan makhluk bayangan jahat. April meringis kesakitan ketika tangan Haku memegang leher April. Raut wajahku berubah khawatir dan berusaha untuk menahan rasa sakit bekas cekik kan itu. Darah mulai keluar dari leher April, pasti itu membuat April kesakitan. Bayangan jahat tidak hanya mencekik leher tetapi melukai leher korbannya. Air mata April terus menerus keluar, wajahnya berubah menjadi merah padam menahan rasa perih luar biasa. Dewa meletakkan kotak P3K di dekat kami. Aku membuka kotak itu mengobati luka April. "Auh, pelan-pelan, Ma!" ucap April membuatku berhenti mengobati lukanya sejenak. Sebab aku sendiri tidak pandai mengobati luka seseorang. Aku kasih perban di lukanya karena April tidak mau aku kasih heandplas. Dewa menyodorkan hasduk untuk menutupi leher yang masih memerah. "Terima kasih," kata April. "Selesai ini kita akan kemana lagi? Haku?" tanyaku melihat pemuda bersurai abu-abu itu. Ia diam sejenak lalu menghela nafas berat. Melihat sekeliling laboratorium dan berusaha mengingat sesuatu yang pernah terjadi di lab ini. Aku bisa tahu soal itu karena gerakkan mata yang ke kanan-kiri berusaha untuk mengulang suatu kejadian waktu lalu, sekarang dan ke depan. "Sampai sini saja. Aku harap yang lain tidak apa-apa." kata Haku dibalas gelengan April. "Jangan! Kita lanjut aja. Kau kan mau melihat ruangan misterius itu muncul." kata April suara lemah. Haku menoleh menatap mata April.   Mata cokelat dan ungu dingin saling bertemu,"aku tidak bisa melanjutkan misi kalau salah satu anggota ku terluka. Aku akan mencari tahu di hari ke depan," katanya menatap April lekat lalu mengalihkan pandang lagi ke sekeliling lab laboratorium. "Makhluk itu seperti makhluk yang pernah muncul saat sekolah sebelum terjadi insiden brutal itu." kata Haku serius. Aku terkejut mendengarnya berarti bisa jadi garis besarnya adalah makhluk itu yang membuat murid di sini mati secara misterius. "Berarti ada kaitannya dengan kematian murid di sini yang misterius?"celetukku. Haku menatapku sejenak lalu mengalihkan pandang ke arah lain, bangkit berdiri menghela nafas. "Bisa jadi. Tetapi itu tidak mungkin kalau makhluk itu pelakunya ia pasti akan meninggalkan jejak luka atau bekas di bagian tubuh korbannya." katanya. "Siswa di sini mati secara misterius tanpa luka atau penyakit lain," kata April membuat ku menoleh, menebak,"berarti jin jahat kiriman dari mbah dukun!" simpulku langsung. Bisa bukan dengan cara itu. Para jin kiriman untuk mengambil nyawa seseorang sebagai tumbal. Orang zaman sekarang masih ada yang percaya dengan begituan dengan gedok apapun demi mencapai tujuan secara instan. "Bisa dikatakan begitu tapi aku ingin jawaban masuk akal. Pasti ada orang yang sengaja membuat skenario seperti ini. Dan kita sebagai tikus besarnya." kata Haku.   Aku diam setelah mendengar itu dari mulut Haku. Skenario seseorang? Kenapa ini terlihat seperti isi dalam mimpiku. Mari lihat apa yang akan terjadi berikutnya. "Bayangan itu buatan," kata Dewa tiba-tiba membuat kami bertiga menatap Dewa dengan ekspresi berbeda. -Sekolah Aneh- Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN