Bab 4

987 Kata
"IKUT SAYA SEKARANG", tegas Adrian. Mendengar perintah Adrian Sera pun segera berdiri mengikuti langkah Adrian dengan perasaan yang tidak bisa di artikan lagi. Jantung Sera seakan ingin keluar. "Duh baru juga hari pertama udah dapat amukan dari atasan",batin Sera. Sera yang mengikuti Adrian dari belakang terus merutuki dirinya. "Masuk",perintah Adrian. "Iya Pak" Sera mengangguk. "Sera apa kamu memperhatikan aturan perusahaan yang tadi saya sampaikan,belum juga sehari kamu sudah melanggarnya dengan hanya bersantai dan memainkan ponsel mu", tegas Adrian. "Maaf pak saya tidak bermaksud untuk seperi itu,,saya hanya ingin menghubungi sahabat saya Arayana,,saya khawatir Pak", jelas Sera. "Kamu khawatir soal Arayan?memangnya dia kenapa?dia kan sekarang ada di ruang CEO karena sia di tugaskan di sana,,apa yang kamu kahawatirkan?",tanya Adrian lagi. "Ehmm..maaf Pak,,saya tidak akan mengulang kejadian seperti tadi lagi", ucap Sera dengan menundukkan kepalanya. Entah mengapa Adrian tiba-tiba merasakan hal aneh di dirinya melihat Sera menunjukkan wajah penyesalannya,,di mata adrian Sera terlihat imut. "Astaga apa yang kupikirkan",batin Adrian. "Baik,kembali ke ruangan mu,,belajar yang baik". Lanjut adrian lagi. "Baik Pak terimakasih",ucap Sera kemudian berlalu keluar dari ruangan Adrian. "Kenapa ruangan ini tiba-tiba panas sih",lirih Adrian. DI RUANGAN ARKANA Arayana yang merasa bosan karena sedari tadi tidak mengerjakan apapun dan hanya duduk diam benar-benar merasa bosan bahkan Pria yang berada di meja kerjanya itu tidak lagi berbicara apa pun tanpa sadar Arayana pun tertidur. "Ck dasar kerjanya hanya bisa tidur,,bahkan dia tertidur pun masih membuat gue penasaran", Arkana hanya menghela nafas melihat Arayana tertidur. Tok Tok Tok "Masuk",,ucap Arkana dengan suara yang pelan karena tidak ingin mengganggu Arayana yang tertidur,,entah mengapa Arkana tidak rela membangunkan Arayana. Tok Tok Tok "Ckck di bilang masuk,apa dia tidak dengar", Arkana pun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu untuk membuka pintu ruangannya. "Siapa sih", gerutu Arkana. Adrian yang diluar ingin mengetuk pintu lagi begitu terkejut melihat pintu terbuka dan melihat Arkana di balik pintu itu.dia heran mengapa Arkana melakukan itu yang biasanya hanya berteriak dari dalam. "Ck,,kamu tuli yah dari tadi saya sudah bilang masuk",kesal Arkana. "Ahh maaf Tuan tapi saya tidak mendengar suara anda", ucap Adrian yang masih heran dengan tingkah Arkana. Arkana yang tadi membuka pintu kemudian berbalik dan berjalan kembali menuju meja kerjanya diikuti dengan Adrian di belakangnya. Belum berhenti penasaran dengan tingkah Bosnya Adrian kembali di kejutkan dengan melihat Arayana yang tertidur di sofa. Dia jadi berpikir apakah karena Arayana yang tertidur Bos nya ini menjadi seperti itu. Tidak,,ini bukan Arkana yang dia kenal. "Ada kepentingan apa Lo?" Adrian menatap Arkana seolah banyak yang ingin dia tanyakan dan Arkana harus menjawabnya. Arakana yang merasa di tatap menjadi kesal. "Ngapain Lo natap gue seperti itu",kesal Arkana. "Lo bukan Arkan yang gue kenal".ucap Adrian "Apaan sih Lo,, Lo pikir gue punya kembaran gitu?, kesal Arkana "Anak magang itu tertidur dan lo bahkan nggak marah dan juga nggak membangunkan dia,,malahan Lo belain jalan buka pintu supaya nggak berisik dan dia nggak ke usik", ucap Adrian yang begitu heran dengan tingkah Arkana. "Perasaan lo aja,,lo aja yang tuli nggak dengar gue nyahut dari dalam sini",sangkal Arkana. "Lo.." Belum selesai Adrian melanjutkan bicaranya Arayana yang dari tadi tidur sudah terbangun karena sayup-sayup mendengar suara orang bercakap. Arayana yang sadar tertidur pada saat jam kerja buru-buru terbangun melihat Adrian dan Arkana menatap ke arahnya. "Ma..af Tuan saya ketiduran", ucap Arayana sambil menunduk kan kepalanya. Adrian yang sedari tadi penasaran dengan sikap Arkana hanya diam dan menunggu respon dari Bosnya itu. "Tidak apa-apa lain kali jangan kau ulang kalau tidak aku akan memberikan mu nilai jelek agar kau lulus dengan nilai yang menyedihkan",jelas Arkana datar. Adrian yang mendengar ucapan Arkana semakin yakin bahwa yang di depannya bukan Arkana yang dia kenal. Dia semakin yakin kalau Arkana menyembunyikan sesuatu. "Baik Tuan,,emm lalu bagaimana dengan meja kerja ku kapan anda membawanya ke sini?", tanya Arayana. "Meja kerja?", gumam Adrian heran,, Pria itu berpikir mengapa harus ada meja kerja dan mengapa sekretaris harus berada dalam satu ruangan denga CEO,,bukannya ruangan sekretaris ada diluar. "Kalau masalah itu nanti Adrian yang akan menanganinya", jelas Arkana dengan menatap Adrian,, Adrian yang di tatap oleh Arkana pun langsung mengerti dan mengiyakan perkataan Arkana. "Lalu apakah ada pekerjaan yang harus saya lakukan", tanya Arayana lagi. "Tidak...." "Ya ada ikut saya", ucap Adrian yang memotong ucapan Arakana,, Adrian merasa tidak beres dengan tingkah Arkana,,bukan apanya Arayana datang ke perusahaan ini untuk belajar. Akan sangat merugikan buat Arayana apabila dia hanya duduk tanpa mengerjakan sesuatu hitung-hitungan buat pengalamannya juga dan menambah ilmunya. Bukankah mereka kesini karena memang tujuannya belajar. "Baik Asisten Adrian",patuh Arayana. Arakana yang belum menyelesaikan ucapannya hanya diam. Dia tidak ingin Adrian curiga dengan tingkah nya kepada Arayana. "Permisi Tuan", ucap Arayana. Adrian dan Arayana pun berjalan menuju pintu keluar. Sesampainya di luar Arayana menghela nafas merasa lolos dari Pria aneh itu. Adrian yang mendengar helaan nafas Arayana hanya tersenyum. "Apa Tuan Arkana menyulitkan mu?", tanya Adrian kepada Arayana karena tadi dia mendengar Arayana menghela nafas. "Ah tidak Asisten Adrian hanya saja aku bosan karena seharian tidak ada yang bisa aku kerjakan",jawab Arayana. "Ehmm Asisten Adrian apa boleh saya bertanya?", ucap Adrian. "Bertanyalah kalau memang itu penting menurutmu",jawab Adrian. "Apa ruangan sekretaris itu sudah tidak terpakai?",tanya Arayana. Mendengar pertanyaan Arayana Adrian pun mengerti kemana arah pembicaraan mereka. "Itu untuk sekretaris yang bukan magang,,kamu selama magang disini kan mau belajar bukankah lebih baik kalau kamu satu ruangan deng Tuan Arakana agar dia bisa mengawasimu dan kamu juga bisa belajar dengan cepat",jawab Adrian dengan asal karena dia juga sendiri sampai sekarang apa alasan Arkana menepatkan Arayana di ruangannya. "Jadi ruangan itu sudah di tempati sekretaris aslinya?", tanya Arayana lagi. Adrian yang mendengar kembali pertanyaan Arayana pusing juga ingin menjawab apa. "Tidak ada,,tidak ada sekretaris asli,,sudahlah daripada kamu bertanya terus mending kamu kerjakan ini,,pisah laporan bulan lalu dan bulan ini lalu lihat dengan teliti apakah ada kesalahan dilaporan tersebut" ucap Adrian. "Baik", jawab Aryana. Adrian hanya menghela nafas dia begitu di buat pusing dengan tingkan Bosnya itu setelah ini dia harus meminta penjelasan kepada Arkana pikirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN