Papa.

1453 Kata

Langit sore berpendar lembayung, menorehkan semburat hangat di kaca jendela kamar Diandra. Di luar, gemericik air mancur kecil di taman belakang villa terdengar samar, diiringi desauan angin yang membelai dedaunan dengan lembut. Namun, ketenangan itu tak mampu membendung pusaran pikiran di benaknya. Sebastian dan yang lainnya masih belum memberi kabar, sementara perusahaan yang di tinggalkan hanya dalam hitungan hari telah jatuh ke tangan asing. Segalanya terasa begitu cepat, terlalu mendadak, dan di luar kendali. Tiba-tiba— Tok! Tok! Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Diandra mengangkat wajah, menatap ke arah pembantu yang berdiri ragu di ambang pintu kamar. “Non… di depan…” Diandra mengernyit, bingung melihat ekspresi gelisah di wajah wanita itu. “Di depan ada apa, Bik? Apaka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN