Ayana uring uringan. Sudah seminggu sejak kepulangan Azam. Dan dia belum melihat Mas Azamnya sama sekali. Baru dua kali. Saat di bandara, dan saat mengantar Rahma ke kampus. Selain itu, nihil. “Mas Azam masih nginjek bumi kan? Belum terbang ke Neptunus. Kok engga ada batang hidungnya.” Ayana berguling di sofa. Ia sejak tadi melihat ke arah luar. Siapa tau Mas Azam lewat, barang kali. Kan ini saatnya Jum’atan. “Papa mau Jum’atan. Ayana jaga rumah ya …” Raffa berpamitan pada puterinya itu. Hari ini Arthel libur, dan ia sedang santai di rumah. “Iya Pa, hati hati. Jangan lupa, niat sholat jangan niat sahur …” pesan Ayana yang menyentuh hati barusan, benar benar tak berguna. “Abi!! Tunggulah anak sholehmu i

