Sejujurnya Miguel tak mau menganggap ancaman Hasna serius, tapi Dewi dan Winata terus menekannya agar segera pindah. Gawat kalau Hasna beneran mengadu, perusahaan milik Gabrian belum memberikan dana sepenuhnya.
Dua hari kemudian, Miguel sudah mendapatkan sebuah rumah minimalis dua lantai dengan harga murah. Bukan soal harga, menurutnya Athaya tidak pantas menerima rumah mahal dan luas. Hanya sebagai penutup mulut Hasna agar tidak mengadu.
Poin plusnya adalah letak rumah itu tak jauh dari rumah Viona. Miguel bisa curi-curi waktu mengunjunginya.
Athaya terpaku melihat rumah itu. Cat putih dan hitam di beberapa bagian, garasi, dan ada taman kecil di depan teras. Dari depan, kelihatan dua ruangan sebagai ‘muka’ mungkin ruang tamu dan kamar.
“Foto sana rumahnya. Kirimin ke kakak lo yang bawel itu,” sindir Miguel. Dia membawa kopernya keduanya dan meletakkan di samping Athaya. “Di dalem udah ada barang-barang. Lo tinggal isi baju aja.”
Miguel berbalik, tidak membantu Athaya memasukkan koper mereka ke dalam. Dia membuka pintu mobil sebelum mendengar suara dari ponsel Athaya. [Kamu gak masuk?] Rupanya Athaya memakai fitur semacam speaker dari Google yang bisa mengatakan apa yang dia ketik.
Pria itu merotasikan matanya malas. “Gue sibuk,” katanya masuk ke dalam mobil, tapi sebelum menutup pintu dia keluar lagi. “Oh, sekilas info, rumah tunangan gue di deket sini. Jadi ya jangan ngarep banyak gue di sini.”
Setelahnya Miguel benar-benar pergi, meninggalkan Athaya di depan gerbang dengan kedua koper teronggok. Ahh, tampaknya Athaya harus membereskan semuanya sendirian.
Wanita itu menyeret masing-masing koper di tangannya dan masuk ke dalam. Jarak dari gerbang sampai teras tidak terlalu jauh. Begitu masuk, Athaya spontan menutup hidungnya.
Semua barangnya masih ditutup kain putih, dia yakin debu itu yang menyengat hidungnya. Entah sudah berapa lama tidak dibersihkan. Memang sih semua perlengkapan tampak masih bagus, tapi ya kalau sudah berusia lama enggak akan sebagus yang baru.
Athaya mulai dari kamar. Agak horor sih di rumah sendiri, mana rumah baru. Tapi bagusnya ini masih siang dan tetangga di sebelah rada berisik. Membuka semua kain, membersihkan dengan kemoceng, sampai menepuk-nepuk kasur bantal dilakukannya sendirian.
Ternyata rumah itu memiliki halaman belakang mini tepat di belakang kamarnya di lantai satu ini. Bagus juga kalau dia bosan ada tempat yang bisa dikunjungi.
Dia hanya sanggup membersihkan kamarnya, ruang teve, dapur, dan ruang tamu. Selebihnya akan dia bersihkan kalau Miguel sudah pulang.
Hmm, Athaya sudah seperti istri sungguhan ya. Sayang, justru hak seorang istrilah yang tidak dia miliki. Seperti kata Miguel, dia hanya istri pajangan. Iya, pajangan ‘kan sama-sama enggak bisa bicara.
***
Miguel menjatuhkan tubuhnya ke sofa, lalu memijat dahinya yang terasa pusing. Hari ini dia memiliki banyak pertemuan untuk menyokong kembali dana perusahaan. Bagaimana pun, mengandalkan perusahaan Gabrian saja tidak akan cukup untuk mendanai proyek jangka panjang perusahaan.
Pintu ruangannya dibuka tanpa permisi membuat Miguel yang sedang beristirahat bersiap untuk marah, tapi urung karena itu Winata. “Miguel, kamu bersiap. Gabrian akan menggelar rapat mengenai dana itu,” katanya panik.
“Mendadak, Pa?” tanya Miguel kesal.
“Lelaki itu memang licik. Dia ingin mengetes saat kita tak siap,” gerutu Winata ingin sekali menyumpahi besannya. “Ingat-ingat presentasi tentang semua penjualan, bicarakan yang bagus-bagus saja.”
“Lho?”
“Dia ingin kamu sebagai pembicara.”
“Apa? Baca grafik aja aku gak lancar.” Miguel memprotes. Yang benar saja, dia tak pernah presentasi dalam waktu yang lama. Tiba-tiba disuruh presentasi tanpa persiapan? Beberapa tahun kerjanya hanya duduk dan menanda tangani dokumen, mana bisa jadi pembicara apalagi di depan mertuanya. Gugupnya dapat dipastikan berkali-kali lipat.
“Sebisa kamu ajalah. Ingat, nasib perusahaan ada di tangan kamu. Jadi jangan mengacau atau kita bangkrut.”
Sekretaris Winata memberi tahu mereka bahwa Gabrian sedang di perjalanan dan mereka diminta bersiap di ruang rapat. Semuanya serba mendadak, bahkan resume soal apa yang akan dipresentasikan saja mereka belum buat. Maka semua pegawai yang terlibat dibebaskan dari tugas hari ini dan segera menyiapkan rapat penting.
Winata tak kalah paniknya dengan Miguel yang tiba-tiba harus presentasi tanpa persiapan. Bagaimana jika dananya tidak cukup walau Gabrian tetap bekerja sama?
Ayah dan anak itu gugup di ruang rapatnya sendiri, terutama Miguel yang duduk di meja pembicara. Secepat kilat dia berusaha mengingat dan menghafal cara membaca grafik rumit sampai apa-apa saja yang akan dia sampaikan.
Suara ketukan pantofel berderap dari luar ruangan, lalu pintu ruangan dibuka oleh pegawai Gabrian. Pria itu masuk diikuti oleh pekerja-pekerjanya yang mengisi meja rapat. Gabrian duduk di kursi paling belakang, menghadap langsung ke layar proyektor.
“Baik, kita mulai rapatnya. Tolong bagikan resume dari presentasi yang akan ditampilkan,” pinta Gabrian cepat dan datar. Orang yang bertugas membuat resume membagikan pada semua yang hadir baik itu dari perusahaan Winata atau Gabrian.
Miguel menelan ludahnya susah payah, lalu berdiri. Tangannya gemetar gugup memegang semacam alat untuk mengatur layar proyektor. “Baik, kita mulai rapat hari ini.”
* Skip *
Ya, walau Miguel tahu kalau presentasinya banyak kekurangan dan poin minus, dia lega semuanya sudah selesai. Bukannya tak tahu juga sejak tadi Winata memelototinya dari bangku sebelah. Juga pekerja-pekerjanya yang diam-diam mencibir, Miguel tak peduli. Dia hanya fokus pada pria yang berada tepat di depannya.
Gabrian tampak berbincang secara pribadi dengan seseorang di sampingnya, mungkin sekretarisnya. Sambil menunjuk-nunjuk resume, diskusi dua orang itu membuat gusar pihak Winata. Pasalnya kalau tidak goal, habis sudah.
“Oke.” Gabrian berdeham, duduk tegak. “Saya akan jujur. Jika meninjau dari prospek kerja dan keuntungan yang akan diperoleh, proyek yang diajukan ini tidak akan bertahan lama. Produk yang ditawarkan oke, tapi terlalu banyak pesaing dan tidak memiliki ciri khas.
“Namun, karena kita sudah memiliki kesepakatan sebelumnya, saya akan ikut dalam proyek ini. Riwayat penjualan produk lain juga cukup bagus dan membuka peluang untuk produk baru masuk. Baiklah, bagian humanoria dan perencanaan proyek perusahaan saya yang akan turun langsung ke lapangan.”
Senyum lebar terbit di wajah pekerja dari Winata, tak terkecuali pria itu dan Miguel. “Baik, Pak. Terima kasih banyak,” kata Miguel.
Gabrian membereskan berkas yang dibawa setelah menandatangani kontrak kerja sama, sepertinya dia dan karyawannya sedang sibuk. Masa bodo, Miguel memblokir aksesnya keluar—bermaksud untuk bicara sebentar. Gabrian melirik sekretarisnya lalu mengode kalau mereka keluar lebih dulu.
Hanya ada mereka di ruang rapat.
“Oh ya, Hasna sudah memberi tahu kalau kami sudah pindah?” tanya Miguel.
“Belum. Ke mana kalian pindah?”
Sialan! Entah Athaya yang belum memberi tahu atau Hasna murni hanya menggertaknya, tapi dua kakak beradik itu membuatnya kesal. Bapaknya juga. “Ke perum Kencana Dua. Saya kira Hasna sudah memberi tahu.”
“Nanti lain kali saya mampir.” Gabrian melirik arlojinya, lalu berkata, “Saya tidak bisa lama-lama. Ada rapat di tempat lain.” Terkesan tidak sopan memang, tapi Gabrian itu tipe orang yang malas berbasa-basi dan membuang-buang waktu.
Winata menghampiri Miguel. “Kurang ajar orang itu. Mentang-mentang sedang berada di atas kita jadi sombong. Migi, kamu gak perlu baik-baik sama istri kamu itu.”
“Gak perlu dibilangin juga udah tau, Pa.” Sorot matanya tajam saat mengatakan itu, bak ada kesungguhan yang menyertainya.
***
Di masa-masa gabut lelah membereskan rumah, ponsel Athaya berdering menampilkan telepon video masuk dari Hasna.
[“Athayaaaa! Gimana, udah pindah rumah?”] Suara cemprengnya khas terdengar begitu Athaya mengangkat panggilan.
Athaya mengangguk, lalu menunjukkan keadaan rumah barunya pada Hasna. Masih terlihat agak kusam sih, tapi poin pentingnya kakaknya tahu dan Miguel tak akan marah-marah lagi.
[“Eh, share lock dong, Ay. Gabut nih di rumah.”]
Athaya menutup panggilannya, mengirimkan titik alamatnya di Maps pada Hasna. Dia mengedarkan pandangan, cukup rapi lah untuk menerima tamu. Lagian ini hanya Hasna, tidak perlu rapi-rapi amat.
Ting! Tong!
Lho? Siapa itu? Masa iya Hasna sudah sampai?
Tidak mungkin. Tadi kakaknya masih ada di rumah dan Athaya yakin jaraknya memerlukan beberapa menit untuk sampai ke sini. Tapi masa juga ada orang jahat ke rumahnya di siang bolong?
Ragu-ragu Athaya ke depan, mengintip lewat jendela sebelum membuka pintu. Tiga orang pria bertamu ke rumahnya? Siapa? Tampangnya sih tidak seperti orang jahat.
Baru saja Athaya membuka pintu, dia dikejutkan dengan ....
***