Warning! Cuma dua scene, dikit banget gais. Maapkeun otakku sedang buntu tapi tetap harus up, jadilah yang ada aja gimana jadinya di-update hehe. Maafkeun daku.
***
Seharian ini sebenarnya Miguel susah payah menahan kemarahannya pada Athaya, tak mau kelepasan melepaskannya pada Viona. Dia sudah berjanji seharian akan menemani wanita itu. lagian Miguel juga tak yakin kapan dia bisa nekat mengambil bolos begini.
Maka saat hari menjelang malam, dia tak bisa lagi menahannya.
Viona memelas pada Miguel yang bersiap pulang dengan membawa serta bajunya yang kemarin. “Sayang, kamu gak mau nginep lagi?” tanyanya merengek.
“Aku ada urusan lain, Yang. Papaku bisa ngamuk kalau aku bolos mulu.”
“Tapi aku masih kangen.”
Miguel mengelus puncak kepala Viona, lalu mengecupnya. “Lain kali aku mampir lagi ya. Sekarang aku harus pulang dulu.”
“Ya udah, tapi nanti malem vc ya?”
“As you wish, babe.”
Mau tak mau Viona mengangguk, percaya saja kalau Miguel benar sibuk dan tidak sedang bisa diganggu.
Saat masuk ke dalam mobil, sorot mata Miguel yang tadinya lembut berubah datar dan tajam di bawah alisnya yang tebal. Keinginannya sampai rumah lebih cepat membuat kakinya refleks semakin menekan pedal gas, semakin mempercepat lajunya yang sudah cepat.
Kenapa dia marah?
Sebab Athaya tidak bilang dia akan terlibat kegiatan di luar begitu. Memang dia pakai masker, tapi siapa yang bisa menjamin kalau tidak akan ada yang menjaminnya sebagai istri dari Miguel Chandra Winata?
Sampai di rumah, tanpa basa-basi lagi dia langsung naik ke lantai dua. Entah disengaja atau tidak, Athaya selalu membuatnya marah dan membanting pintu setiap pulang kerja.
Rupanya Athaya baru saja keluar dari kamar, mungkin hendak ke lantai satu. Miguel mendorongnya masuk kembali dan menutup pintu. “Ngapain lo tadi siang sok-sok caper, hah? Ikut-ikut sumbangan gak jelas.”
Athaya menggeleng, bukan maksudnya untuk caper.
“Lo mau gue gak bolehin lagi ke panti, hah? Besok, gue gak mau tau lo gak boleh ke mana-mana.”
[Tapi aku--] Athaya kehilangan improvisasinya dalam berbahasa isyarat. Miguel yang sudah terlanjur dikuasai amarah menyela.
“Stop, anj*ng! Lo tau gue gak ngerti tapi terus lo ulang-ulang maksudnya apa!” Dia mencengkeram pipi Athaya lalu menekannya ke dinding. “Gue memang b******k, tapi gue tahan buat gak main tangan sama lo. Dua prinsip gue, gak akan ngelecehin atau main tangan sama cewek siapa pun itu. Jadi jangan buat gue langgar prinsip itu,” desisnya.
Athaya tersihir dengan bola mata Miguel yang menatapnya tajam. Bukannya takut, manik hitam itu tampak jernih. Baru kali ini Athaya melihatnya begitu dekat.
Miguel mendorong Athaya menjauh sementara dia duduk di sofa dekat pintu.“Sana lo tidur. Gue bakal tidur di sini.”
Wanita itu menatapnya bak mempertanyakan maksudnya. “Apa? Gak usah sok kuat lo. Jangan lo pikir gue gak tau lo sering bangun malem tiap gue tidur sama lo.”
***
Hasna memarkirkan mobilnya lewat jalan yang agak besar menuju panti. Lho, ke mana anak-anak itu? Biasanya selalu ada satu atau dua anak yang bandel tidak ikut kegiatan di dalam.
Karena tak ada siapa pun di luar, Hasna memutuskan untuk keluar mobil dan masuk ke dalam. Teringat dulu saat pertama kali ke sini dan melihat Athaya duduk dengan temannya di kursi depan. Saat itu Athaya mungkin berumur 5 atau 6 tahun.
Hasna melongok ke dalam, seorang anak melihatnya dan melapor ke ibu panti.
“Ibu, Ay mana ya?” tanya Hasna pada ibu panti.
Ibu panti tampak bingung, dia kira Athaya memberi tahu kakaknya yang memang sering mampir itu. “Loh, Athaya gak datang hari ini.”
“Gak datang? Dia gak bilang kemarin atau chat Ibu?”
“Gak ada. Ibu telepon juga gak dijawab.”
“Oh, makasih, Bu,” kata Hasna lalu pamit. Ke mana Athaya? Tidak biasanya dia absen datang ke panti. Walau bukan pekerjaan, dia setiap hari ke sana apa pun keadaannya. Hasna mencoba menghubungi adiknya sebelum berangkat kerja.
Akan tetapi, yang terdengar hanya suara operator mengatakan kalau ponsel Athaya tidak aktif. Berkali-kali mencoba panggilannya tetap tidak terhubung. “Athaya, kamu di mana sih?”
Tetap tidak diangkat, Hasna mencari cara lain. Dia menghubungi nomor lain. “Ma, Mama inget lokasi rumah Athaya?”
“...”
“Enggak, Hasna pengen mampir aja. Kirimin ya.”
Tak lama setelahnya, Angela mengirimkan alamat seperti yang diberi tahu Dewi waktu itu. Segera Hasna memasuki mobilnya dan menuju ke rumah mertua adiknya.
Jarak dari panti ke rumahnya lumayan jauh. Hasna membayangkan kalau Athaya tiap hari tidak diantar Miguel, pasti akan kesulitan berkomunikasi dengan orang lain di angkutan umum.
Hasna memarkirkan mobilnya di luar pagar rumah bercat putih itu, langsung masuk ke dalam karena tidak ada satpamnya.
Ting tong!
Seorang wanita paruh baya membuka pintu dari dalam. Kalau dari pakaiannya daster dan Hasna tidak melihatnya di pernikahan, mungkin itu ART. “Cari siapa ya, Mbak?” tanyanya.
“Athayanya ada, Bi?”
“Anu, Non Athaya ada di dal—”
Bruk!
“Aduh! Apa itu yang jatuh?!”
Hasna melongok ke dalam, matanya sontak membulat.
Athaya tampak kesakitan memijat kakinya, posisinya jatuhnya di bawah tangga jadi Hasna asumsikan dia terjatuh dari tangga. Dewi yang dekat dengannya tidak langsung menolong, malah berkata, “Makanya hati-hati dong. Jalan aja pake jatuh, ceroboh banget.”
“Bu, kenapa Athayanya gak ditolong?” Hasna masuk ke dalam tanpa menunggu dipersilakan, membantu Athaya berdiri dan membiarkan adiknya menopang padanya. Dia tak segan memancarkan tatapan tajam pada Dewi.
Dewi sontak berdiri terkejut. “Hasna?” gumamnya.
“Ada apa ini?”
Miguel datang dari atas, mendelik pada Hasna yang ternyata ada di sana. Haduhh, setiap ada itu cewek selalu saja ada keributan.
Hasna maju sebagai penghalang Athaya dan Miguel, juga menatapnya tak kalah tajam sambil menyindir, “Heh, ada apa? Lo gak liat kaki Athaya bengkak baru aja jatuh dari tangga? Telat banget lo datengnya tau gak.” Bohong, Hasna hanya mengarang. Dia tidak sempat lihat seberapa parah kaki Athaya, tapi tetap saja akan menyalahkan kedua orang itu.
“Hasna, ada apa kamu ke sini?” tanya Dewi pura-pura lembut dan ramah.
“Kenapa? Biar aku gak tau perlakuan Tante ke Athaya kayak begini?”
“Apanya yang gimana? Dia cuma jatuh, wajar.”
“Cuma Tante bilang?” tanya Hasna tak percaya. “Aku curiga, jangan-jangan tiap hari kalian gak acuh gini ke Athaya. Apa cuma demi dapet kerja sama dari Papa? Gitu?”
“Kamu bicara apa sih? Kita gak kayak gitu kok, ya ‘kan Athaya?” Dewi memelototi Athaya, jurus andalannya untuk menyuruh sang menantu mengiyakan semua perkataannya.
Namun, Hasna yang sadar gelagat itu semakin menarik Athaya ke belakang punggungnya. “Gak perlu tanya-tanya Athaya. Aku gak mau tau, kalau Athaya gak cepet-cepet pindah rumah, kalian aku aduin ke Papa biar kerja samanya batal.”
“Gak bisa gitu dong!” pekik Miguel. Tanpa perasaan, dia menarik Athaya yang terseok-seok agar berdiri di sampingnya. “Lo gak perlu sok ikut campur ya. Dia emang adik lo, tapi lo gak ada hak apa pun untuk ikut campur.”
Hasna kesal bukan main. Kalau tak ingat dosa dan kemanusiaan, detik itu juga Miguel dihajar Hasna habis-habisan. Siapa sih kakak yang enggak kesal melihat adiknya diperlakukan begitu?
“Kenapa enggak? Gue kenal adek gue. Saat dia diem dan susah jawab, itu artinya dia lagi bohong. Artinya dia gak nyaman di sini,” kata Hasna. “Keputusannya ada di lo. Lo pindah atau gue aduin ke Papa.”
Sebelum pergi, Hasna menyelipkan sebuah kertas pada Athaya di sela-sela pelukannya sehingga kedua orang itu tak tahu. Setelahnya dia pergi.
Miguel menyentak lengan Athaya kasar. “Puas lo?” sinisnya.
Dewi geleng-geleng, lanjut duduk di sofa dan membuka kembali majalahnya. “Hahh, cewek gagu cuma bisanya bikin masalah.”
Athaya diam-diam membuka kertas dari Hasna.
‘Lain kali, kamu bilang kalau kamu gak nyaman. Kedip mata dua kali kalau kamu bohong.’
***
Duhh, Hasna harusnya kamu ngancemnya yang ekstrem dong. Kayak kalau enggak bakal dicerai, ‘kan bertambah mas duda selain Song Jong Ki wkwk.
Mau curhat dong wkwk. Sebenernya aku tuh rada capek nulis gini, ada kepikiran nanti mau vakum dulu kalau mulai kuliah. Suka insekyur gitu, di grup lihat love cerita orang pada banyak. Perasaan aku juga udah promosi, tetap aja jarang yang ngelirik. Okey, memang sih aku gak ada ++ karena banyak pembaca mau yang kayak gitu.
Tapi balik lagi. Di cerita ini dan ceritaku yang lain, ada dari kalian yang rajin komen. Cuma satu dua, tapi percayalah itu membuatku gak berhenti nulis karena ada kalian yang nungguin. Liat ‘kan love cerita ini cuma 20-an? Kalau liat ke cuan dan love mah gak tau deh bisa lanjut atau enggak ini cerita.