Brak!
Athaya menjengit kaget, spontan menatap ke Miguel yang membanting pintu. Pria itu tampak tidak dalam keadaan yang bagus dengan wajah tegang dan sorot mata tajamnya.
Miguel membanting lagi pintu sampai tertutup, mendekat ke Athaya membuatnya ketakutan merayap mundur. Namun, gerakan Miguel lebih cepat menangkap kaki Athaya dan menariknya sampai Athaya tepat berada di bawahnya sedang Miguel menguncinya di atas.
“Lo ketemu sama temen gue?” tanyanya datar. “Jawab!”
Ragu-ragu Athaya mengangguk.
“Kenapa bisa, hah? Udah gue bilang gak ada yang boleh tau kalau lo gagu!”
Athaya menumpukkan telapak tangannya di depan d**a sambil menunduk. [Maaf.] Dia ingin menjelaskan, tapi ponselnya terlalu jauh. Jadi Athaya menjelaskannya sejelas mungkin pakai bahasa isyarat.
Miguel mengacak rambutnya, lalu menendang meja kecil di samping meja. Athaya memejamkan mata erat-erat, takut Miguel kelepasan dan menyakitinya. “Ngomong apaan sih! Kurang ajar emang lo jadi istri!”
Brak! Pria itu keluar lagi, masih dengan bantingan pintu. Meninggalkan Athaya yang terdesak ingin menangis, tapi menahannya sekuat mungkin.
Wajah Miguel masih memerah sampai telinga—bukti kalau dia benar-benar marah. Dia memburu pintu mobil, berniat tidak akan pulang ke rumah malam ini. Berada di satu atap dengan wanita itu hanya akan memancing emosinya kembali naik dan itu tidak bagus.
Malam hari yang sudah larut, Miguel mengendarai mobilnya di atas batas rata-rata. Masa bodo kalau nanti akan kecelakaan, kepalanya panas terasa mau pecah setiap mengingat semua kekesalannya pada Athaya. Wanita bodoh! Awas saja kalau gara-gara dia Miguel jadi dicap macam-macam.
Tujuannya ke rumah yang selalu menjadi tempat keinginannya. Di mana lagi kalau bukan Viona.
Malas membunyikan klakson, Miguel membuka pagar sendiri. Di rumah ini memang tak ada siapa-siapa selain Viona, hanya pembantu yang bekerja setiap siang dan satpam rumah sebelah yang diminta menjaga rumahnya juga.
Miguel disuguhi pemandangan Viona yang duduk di depan televisi memakai piyama. Wanita itu langsung menaruh bukunya dan menyambut Miguel dengan pelukan. “Sayang? Tumben malem-malem gak bilang dulu,” kata Viona menyudahi pelukannya.
“Kangen,” aku Miguel.
“Kemarin baru aja ketemu.”
“Biasanya ‘kan tiap hari.”
“Lagian kamu sih, mau aja dimanfaatin keluarga kamu,” sungut Viona.
“Demi kita juga, Sayang.”
Miguel merendahkan tubuhnya lalu mengangkat tubuh Viona, berjalan ke sofa dan mendudukkan mereka di sana. Dengan Viona duduk di pangkuan Miguel, pria itu memeluknya dari belakang.
Hidung Viona kembang kempis melirik Miguel. “Kamu abis mabuk?” tanyanya mencium bau di kemeja pria itu. Tidak terlalu menyengat, tapi mulut Miguel menguarkan bau alkohol.
“Belum sempet, langsung pulang buat marahin dia.”
“Istri kamu?” Miguel mengangguk di balik punggung Viona. “Kenapa lagi dia?”
“Udahlah, jangan bahas dia dulu. Aku ke sini karena lagi kesel sama dia,” gumam Miguel.
Viona berdecak, menarik pipi Miguel agar menatapnya. “Jadi kalau gak kesel kamu gak akan ke sini?”
“Enggak, maksudnya aku jadi ada alasan buat pergi dari rumah,” kata Miguel. “Bodo amat sih kalau dia beneran ngelarang, toh dia tau aku masih berhubungan sama kamu.”
“Kamu jahat sih, tapi ya itu risiko dia. Kalau aku jadi dia, aku tau diri dan bakal ngajuin cerai.”
“Aku juga gak bisa cerai dari dia. Alokasi dananya belum cukup.” Miguel mengecup bahu Viona, lalu menumpukan dagunya di sana. Tempat yang membuatnya nyaman dan senang. Semua yang ada pada Viona memabukkannya.
Miguel menarik Viona untuk menghadapnya. “Sabar ya, bentar lagi aku pasti nikahin kamu.”
Viona mengangguk. Ya mau gimana lagi, dia sudah menunggu selama ini. Walau statusnya bak simpanan Miguel, yang penting dia janji menikahinya.
Miguel mengusap pipi Viona, menatapnya tepat di mata—intens. Tanpa dikomando matanya memejam dan menarik Viona untuk mendekat, mencecap bibir yang sudah lama tidak dirasakannya. Viona bergerak amatir, Miguel yang selalu mendominasi permainan. Yang jelas mereka sama-sama menikmati kecupan ringan itu sebelum berubah liar.
Mereka mulai melibatkan lidah masing-masing.
Semakin terbawa suasana, Miguel menggendong Viona di gendongannya, melingkari pinggangnya bak koala. Sebelah tangan Miguel menopang Viona, yang satunya memastikan kalau permainan mereka masih berlanjut. Pria itu melangkah pasti ke kamar Viona.
Sampai di kamar, Miguel menjatuhkan tubuh mereka dengan posisi dia menindih Viona. Permainan mereka semakin liar, tapi Viona memukul d**a Miguel untuk berhenti sebab kehabisan napas.
“Stoph ... dulu ....”
Miguel menyudahi ciumannya, tapi tidak menjauh begitu saja. Kecupannya merambat ke rahang dan leher Viona. Napasnya panas dirasakannya wanita itu membuatnya meremang.
“Migi, kitahh ....”
“Aku masih tau batas, Sayang. Aku gak akan ngerusak kamu.” Sebagai akhir, Miguel mengecup dalam leher Viona, menimbulkan kiss mark. Puas dengan malam ini, dia membenarkan posisi Viona dan berbaring di sampingnya, lalu menarik selimut sambil memeluk wanita yang dicintainya.
“Tidur. Besok aku gak akan kerja, kita puas-puasin seharian,” gumam Miguel mengecup dahi Viona. Memejamkan matanya untuk tidur.
Padahal dia tidak tahu kalau di rumahnya, Athaya kesulitan tidur. Sedangkan suaminya asyik tidur di ranjang wanita lain.
***
Hari ini Athaya menyetel alarm lebih pagi dari sebelumnya. Dia bertekad akan mempersibuk diri untuk menghindar dari memikirkan terus-terusan hal kemarin. Juga agar sampai ke panti bisa lebih pagi nanti, semoga bisnya datang lebih cepat.
Dia mencepol rambutnya tinggi-tinggi, turun ke bawah di saat lampu-lampu rumah masih mati. Terang saja, ini baru jam lima pagi. Di dapur sudah ada Bi Arni sedang menanak nasi.
“Non? Kenapa bangunnya pagi banget?” tanya Bi Arni heran.
Aduh, Athaya lupa membawa ponselnya. Dengan gerakan seadanya, dia mengatakan kalau dia ingin bantu masak. Athaya menunjuk wajan dan membuat gerakan seolah-olah sedang memasak.
“Non mau bantuin masak?” tebak Bi Arni. Athaya mengangguk antusias, lalu memohon dibolehkan. “Aduh, gimana ya, Non? Bibi takut dimarahin Nyonya.”
Athaya menggeleng, lalu berdiri menghadap kompor dengan senyum lebar.
Bi Arni terkekeh. “Ya udah. Non Athaya bantuin potong-potong sawi aja. Biar Bibi yang masaknya.”
Tak pernah dibiarkan memasak di dapur membuat Athaya kebingungan. Dia sering melihat Bi Tini memasak, tapi selalu kelupaan untuk mempraktikkannya. Jadinya dia memotong sawi putih itu memanjang sejalan dengan tulang daunnya.
“Aduhh, bukan begitu, Non. Potongnya begini.”
Sesi belajar memasak yang tidak direncanakan itu berlangsung seru. Meski Athaya terus membuat kesalahan kecil, Bi Arni langsung memperbaikinya dan menunjukkannya cara yang benar. Ahh, Athaya mengangguk-angguk, seketika jadi tertarik belajar masak.
Makanan siap lebih siang dari biasanya, tapi belum ada yang bangun sama sekali. Kalau Athaya membawa ponselnya, ingin dia ungkapkan betapa senang belajar memasak hari ini. Bi Arni juga baik, dia kira akan judes seperti mertuanya.
“Lho, kamu bangun pagi amat,” kata Dewi. Wanita yang baru bangun tidur itu heran dengan Athaya yang berada di dapur bersama pembantunya, tapi tak begitu peduli—langsung duduk di kursinya meski rambutnya berantakan bak rambut singa.
Tak lama kemudian, Winata bergabung. Dia hanya melirik Athaya tak acuh, lalu duduk di kepala meja makan. Tatapannya menyisir sekitar. “Miguel mana, Ma?” tanyanya.
Iya, tidak biasanya sang putra tunggal kesiangan. “Athaya, di mana Miguel?” Dewi lempar bertanya ke Athaya.
Athaya yang sempat mengambil ponselnya mengetik dan diarahkan pada Dewi dan Winata : Dia gak ada di kamar sejak semalam.
“Ke mana dia?” dengus Winata.
“Coba telepon, Pa.”
Winata men-dial nomor Miguel. Tak menunggu waktu lama tersambung. Dia langsung bertanya, “Miguel, di mana kamu?”
“...”
Wajahnya tampak mengeras mendengar jawaban dari seberang. “Semalaman? Jangan bilang kamu—”
“...”
“Tidak ada libur, Papa ingin kamu mas ... Halo? Ck, ditutup.”
“Dia di mana, Pa?”
“Cewek itu.”
Dewi mencubit Winata, ekor matanya menunjuk Athaya dan memberi kode. Ucapan suaminya itu terlalu jelas. Winata tak peduli dengan keadaan menantunya itu, “Udahlah, Papa makan di kantor aja.” Dia berdiri mengambil tasnya, langsung pergi ke luar.
“Pa ...” Panggilan Dewi tak digubris. Dia menyentak alat makannya kesal, lalu melirik Athaya sinis. “Kamu makan aja sana.”
Tinggallah Athaya sendirian. Bi Arni sudah tak jelas di mana keberadaannya, padahal Athaya ingin mengajaknya makan bersama. Hari ini tak mungkin membawa bekal karena akan meminta sumbangan. Jadilah meski sendiri, dia memaksakan makan.
***
“Hai.”
Athaya menoleh, sekejap senyumnya langsung timbul di balik maskernya. Ahsan berdiri di sampingnya, menunggu bus yang sama dengannya. Pakaiannya jauh lebih santai, kaos polo dan celana jeans hitam. Tasnya tidak sebesar kemarin-kemarin.
[Kamu kemarin ke mana?] tanya Athaya pakai bahasa isyarat.
Ahsan menggaruk kepala belakangnya. “Gue kemarin ada kerjaan sih di tempat lain, jadi gak naik bus sini. Nebeng gitu dari mobil kerjaan ‘kan lumayan,” katanya. “Eh, hari ini gue libur. Boleh ya ikut lo ke panti? Sekalian foto-foto gitu, siapa tau nanti gue butuh.”
Wanita itu mengangguk. [Boleh.]
“Di sana ada berapa anak?” tanya Ahsan saat mereka sudah di bus. Untungnya mereka dapat tempat duduk walau penumpang terbilang penuh.
[13.]
Ahsan mengangguk-angguk. “Banyak juga ya, kasian mereka.”
Secara tiba-tiba tubuhnya terdorong ke depan, refleks meletakkan tangannya ke jok di depan Athaya agar wanita itu tidak terhantuk ke jok. Ternyata sang sopir bus ngerem mendadak sehingga semua penumpang bus oleng ke depan.
“Huu! Woy kalau ngerem pelan-pelan dong!” gerutu penumpang di belakang yang didominasi pria paruh baya.
Athaya terdiam, melirik Ahsan yang refleks melindunginya ketimbang dia sendiri. Speechless. Baru kali ini ada pria selain Papanya yang memperlakukannya seperti ini. Ahsan balas melirik saat merasa Athaya menaruh perhatian padanya. [Makasih.]
“Yoi. Udah kodratnya cowok itu ngelindungin cewek,” sahutnya enteng.
Ingin rasanya Athaya tertawa. Semua cowok? Lalu apa kabar dengan Miguel?
Baru bertemu saja dia sudah menabraknya, tidak memperlakukannya layaknya korban dan seorang wanita. Sekarang sama saja, malah bertambah buruk. Kapan Miguel pernah menghargainya sebagai istri? Seingatnya tak pernah.
Melamun membuat perjalanan terasa jauh lebih cepat. Tahu-tahu Ahsan sudah menariknya untuk turun. Athaya berjalan ke panti mendahului Ahsan, pasalnya pria itu sesekali menjepret sekitar dengan kameranya.
Di halaman panti yang cukup luas, rumah tampung itu sudah diramaikan dengan anak-anak panti dan tetangga yang ingin membantu. Kebanyakan ibu-ibu membawa dus masing-masing dengan merek tulisan berbeda-beda dengan inti yang sama: meminta sumbangan.
“Eh, ini siapa, Ay?” tanya ibu panti. Athaya menyalaminya, Ahsan mengikuti.
“Saya temennya Athaya, Bu. Temen busnya sih,” katanya. “Ini rame-rame ada acara apa, Bu?”
Athaya masuk ke dalam panti hendak mengambil dus untuknya dan Ahsan—kalau dia mau. Athaya sengaja sih tidak memberitahunya sejak dari perjalanan, biar ibu panti saja yang menjelaskan.
“Oh, ini kita mau minta sumbangan di jalan raya buat benerin atap yang bocor.”
“Wah, saya ikut boleh, Bu?”
“Boleh banget kalau gak mengganggu, tapi ya bakal panas-panasan pastinya.”
“Gak papa, Bu. Saya strong, udah biasa.” Ahsan menepuk-nepuk dadanya, menyombongkan diri.
Athaya kembali membawa dua dus, yang satunya diberikan pada Ahsan. [Kamu bawa ini.]
“Kita minta sumbangannya di mana?”
[Di depan.]
Di antara anak-anak, hanya Karin yang tidak ikut. Bagaimana pun ini jalan raya, Athaya sendiri takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, khususnya pada Karin yang tidak bisa mendengar. Untungnya dia masih tidur, semoga nanti tidak akan bangun sampai acaranya selesai.
Rombongan itu berjalan ramai-ramai ke jalan raya, letaknya tepat di lampu merah. Di jam-jam macet begini pas untuk meminta sumbangan, akan ada banyak kendaraan berhenti karena banyaknya yang akan berangkat bekerja.
Di ruas jalan sini jalannya tidak terlalu besar, tidak ada polisi atau CCTV. Jadi mereka bisa bebas meminta sumbangan tanpa takut kena omel.
Athaya menghampiri mobil ketiganya, mengetuk kaca dan mengangkat tulisan. Jendela mobil itu terbuka, tanpa diduga membuat Athaya menegang.
“Yang, kamu ada uang kecil?” tanya wanita itu pada si pengemudi.
Tebak siapa? Ya, Miguel. Ke mana dia semalam? Di mana tidurnya? Tapi melihatnya sekarang baik-baik saja membuat Athaya lega.
Dan wanita itu kemungkinan besar adalah tunangannya, Viona. Ohh, jadi ini yang namanya Viona? Yang waktu itu datang ke pernikahannya?
Cantik. Pantas saja Miguel tak mau melepasnya.
Miguel melirik Athaya tajam. Jelas walau tertutup masker dia bisa mengenalinya. “Buat apa?”
“Buat kasih lah. Kasian tuh buat panti katanya. Eh, kalau kita bisa bantu gak papalah. Sedikit doang kok,” kata Viona. Malas-malasan Miguel membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar uang. “Ini, Mbak.” Viona memasukkan uang 20 ribu ke dus Athaya.
Athaya masih terdiam di sana, menatap Miguel dan Viona bergantian. Ternyata selain cantik, tampaknya Viona juga baik hati. Semakin kalah Athaya di depan Miguel, tak ada satu pun kelebihannya yang bisa membuat suaminya mempertahankan rumah tangga mereka.
“Athaya, ayo udah mau ijo lampunya.” Tangan seseorang menarik Athaya menepi ke trotoar, sekejap jalanan yang padat itu kembali beroperasi. Tatapan Athaya terus mengikuti mobil hitam Miguel yang sudah hilang berbelok ke kiri jalan.
Ahsan mengikuti arah pandangannya bingung. “Kenapa? Kamu kenal sama dia?”
Athaya menggeleng, larut dalam pikirannya sendiri.
***