Part 11

1390 Kata
Tapi bohong haiyuk, pal pale pal pale pal pale ahahaha. Canda oy, jangan marah ya. Seneng dulu seneng, ‘kan gak jadi bolong ini daily nya.   ***   Hari ini ada yang berbeda.   Athaya terus melirik ke seberang jalan, berharap orang yang ditemuinya kemarin-kemarin akan berjalan di sana hendak ke halte bus yang sama. Tanpanya, Athaya keberatan duduk tersisihkan di pinggir tempat duduk. Athaya merasa sendiri di tengah orang-orang yang berisik itu.   Sampai bus biasanya tiba, Ahsan tak juga terlihat.   Athaya duduk di kursi belakang dekat jendela, masih menunggu kalau-kalau pria itu terlambat. Tapi sampai roda bus bergerak, dia benar-benar tak ada. Athaya mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan pesan.   You : Kamu kemana   “Maaf, Mbak. Ini jam berapa ya?” Athaya menoleh. Seseorang yang duduk di sebelahnya bertanya membuat Athaya bergeser merempet ke jendela. Dia memperlihatkan lock screen-nya yang menampilkan jam.   Pria itu mengangguk-angguk. “Ohh. Boleh kenalan gak, Mbak?”   Athaya menggeleng-geleng. Selain tak mau orang-orang tahu dia bisu, pria itu juga kelihatan bukan pria baik-baik. Cara berpakaiannya saja tampak bak preman.   “Halahh, sok cantik lu. Diajak kenalan aja gak mau. Huu!” ejek pria itu berdiri, berpindah ke kursi panjang di belakang.   Karena ketakutan, Athaya berjalan ke depan bus lalu menepuk-nepuk bahu sopir sambil menunjuk trotoar. Sopir yang mengerti menepikan busnya, melirik ke spion menunggu sementara Athaya turun. Jangan sampai ada polisi yang melihat atau pendapatannya akan berkurang.   Selepas turun, bus itu langsung melaju lagi. Tinggallah Athaya baru sadar kalau daerah ini masih jauh dari panti, sekitar setengah jalan lagi. Mau tak mau dia mulai jalan kaki karena uangnya dari Gabrian dulu semakin menipis.   Sebuah mobil berwarna merah melaju pelan, tak lama berhenti di dekat Athaya. Dia tak menghentikan langkahnya, lanjut berjalan dan tak mengacuhkan siapa pun orang itu.   Tangan Athaya dicekal, refleks dia menghempaskannya. “Tunggu. Lo istrinya Miguel, ‘kan?” Pria itu memblokade jalan Athaya dengan berdiri tepat di depannya, tapi Athaya mengambil jalan samping dan lanjut melangkah.   Orang itu—Alvin—salah satu teman Miguel yang juga hadir di pernikahannya. Dia tetap mengikuti Athaya sekali pun jelas Athaya merasa tak nyaman. Dia bahkan melupakan mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, bisa kapan saja ditegur polisi lalu lintas.   “Lo mau ke mana? Ayo gue anter,” ajak Alvin. Athaya menggeleng keras kepala. “Kenapa sih? Gue temen Migi, lo gak inget?”   Alvin kembali mencekal lengan Athaya, kali ini agak sedikit lebih kuat sehingga Athaya kesulitan melepaskan diri. Sebelah tangan Alvin yang bebas mengotak-atik ponselnya, lalu mendekatkan ke telinga.   “Ini istri lo sama gue. Kenapa sih kek takut banget? Lo ceritain apa gue ke dia?”   Athaya spontan berhenti memberontak, tak menyangka kalau pria itu akan menelepon Miguel. Alvin agak lengah, Athaya berhasil melepaskan diri dan berlari lurus ke arah panti.   Alvin geleng-geleng. Cewek itu kayak mau diculik om-om p*****l aja takutnya.   [“Ngomong apaan sih lo? Gue belom nikah ya pe’a.”]   Dia berdecak. “Gue salah nomer.”   ***   Di panti, seperti biasanya siang hari anak-anak akan tidur siang, sementara yang sulit diatur bermain di luar. Setelah makan siang, ibu panti memang mengharuskan mereka bergerak dulu sebelum tidur. Athaya menjauh dari ranjang Karin saat ibu panti mengajaknya keluar.   “Nak Athaya, besok kita mau minta sumbangan di jalan raya untuk renovasi atap kamar banyak yang bocor. Kamu mau ikut?”   Tanpa pikir panjang Athaya mengangguk. Pasti akan menyenangkan kegiatan di luar panti walau harus panas-panasan.   “Tapi apa suami kamu ngizinin?” tanya ibu panti tidak enak.   [Dia pasti boleh.]   “Ya udah, kita besok mulai pagi-pagi ya biar nanti beresnya gak terlalu panas.”   [Anak-anak ikut?]   “Ya, kalau mereka mau ikut ya boleh. Tapi Ibu takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kalau semuanya ikut. Soalnya kita ‘kan cuma berdua orang dewasanya.”   [Tetangga lain?]   “Ibu gak berani ngajak mereka, takut merepotkan. Kalau mereka mau ikut kita syukur banget.”   [Nanti Athaya coba ajak mereka.]   Ibu panti mengangguk-angguk, senang luar biasa kalau Athaya mau membantunya mengajak tetangga di sekitar. Sebenarnya lebih ke malu dan takut merepotkan, penduduk di sini sudah banyak membantu panti baik dari segi dana maupun bantuan tenaga.   Pulang dari panti, Athaya menyapa para tetangga sambil membawa papan bertuliskan : ‘Panti mau galang dana. Mau partisipasi?’ Dia mulai dari sebuah rumah yang di depannya duduk beberapa ibu-ibu sedang merumpi.   “Wah, itu beneran? Nanti Ibu ikut deh,” kata seorang ibu membaca papan yang ditunjuk Athaya. Penduduk di sana tau dan kenal Athaya bisu, tapi tak satu pun mengejeknya karena kekurangan, justru merangkulnya.   “Iya, saya sadar diri gak bisa bantu banyak buat panti, mau ikut juga deh,” kata ibu yang lain.   [Makasih.]   “Ibu-ibu, besok yang mau ikut kita ngumpul pagi-pagi ya di panti.”   “Siap!”   ***   Suntuk sebab banyaknya pekerjaan, Miguel memutuskan untuk menerima ajakan teman-temannya untuk minum-minum di klub. Sudah lama sejak terakhir kali dia mabuk, rasanya minuman pahit itu sedang dibutuhkannya.   Sebenarnya dia ingin bertemu Viona, tapi ... entahlah, dia sedang lelah bertemu wanita mana pun. Lebih baik berpesta di klub sampai pagi.   Lampu kelap-kelip dan suara memekakkan langsung menyambut Miguel. Kapan ya terakhir kali Miguel ke sana? Rasanya menyenangkan bisa menghirup bau alkohol lagi.   Miguel langsung menuju lantai dua di mana tempat teman-temannya janjian. Di lantai bawah terlalu banyak orang, Miguel itu tipe orang yang hanya melakukan kemauan utamanya walau yang lain menggiurkan. Jadi jika dia ingin mabuk, joget atau memakai wanita klub kecil kemungkinannya terjadi.   “Wihh! Ini nih yang baru aja nikah, wajib banget traktir,” kata Vano saat p****t Miguel baru saja duduk di sofa. Wanita-wanita yang tadinya berkumpul bersama Ferran dan Vano sontak mendesah kecewa ketika dua cowok itu mengusirnya.   “Bacot lu!” decak Miguel.   “Napa, Bro? Masa penganten baru udah stres aja,” goda Ferran membuat Miguel semakin kesal.   “Lama-lama gue lempar ya pake botol.” Miguel mengancam sambil mengangkat botol minum di meja, mungkin bekas Ferran dan Vano.   “Kalem lahh, sensi amat lu kayak cewek PMS.”   “Si Alvin mana?”   “Tau. Katanya masih di kantor.”   Tiba-tiba Ferran mendekati Miguel. “Eh, gimana itu-itunya? Punya lu nyangkut kagak?” bisiknya keras.   Miguel mendelik. “Paan sih, kagak lah.”   “Tuh ‘kan apa gue bilang. Punya lo doang, Van, yang nyangkut.”   “Ukuran gue aja lebih besar, lu pada harusnya ngiri.”   “Nganan aja gua, males ngiri mulu,” gerutu Ferran. Dia melihat ke arah tangga, tepat ke seseorang yang baru saja terlihat di baliknya. “Eh, noh si Alvin.”   “Woy kulkas berjalan! Sini!” Vano melambaikan tangan—berseru agar Alvin tahu keberadaan mereka. Padahal ya setiap ke sana mereka selalu kumpul di tempat yang sama, sofa itu.   “Lu pada mau minum apa? Migi yang traktir!”   “Apaan sih. Gak ada teraktir-teraktiran.”   Vano mencebikkan bibirnya. “Ilihh pelit banget lu.”   Miguel menuangkan botol minum yang masih penuh ke gelas kecil di depannya. Masa bodo punya siapa, yang penting isinya. Sudah bukan rahasia kalau meneguk minuman keras efeknya bak terbakar dan pahit di tenggorokan. Namun, masih saja banyak orang rela menguras kantong dalam-dalam untuk minuman yang menyiksanya sendiri.   Setelah beberapa tegukan, Miguel melirik ke kiri—sadar ada yang memperhatikannya. Alis kirinya terangkat heran tahu ternyata Alvin yang meliriknya sejak tadi. “Kenapa lu liatin gua? Ada masalah?” tanya Miguel gak kalem.   “Tadi siang gue ketemu istri lo. Dia kenapa sih? Kayak takut gitu jawab gua,” kata Alvin. Spontan Miguel terdiam, antara sebal karena Alvin mencoba mencampuri urusannya atau karena Athaya yang nyaris membocorkan faktanya. Sialan!   Ferran ikut menganggguk. “Bener. Gue gak pernah denger dia ngomong. Dia itu pendiem apa gimana?”   “Bukan urusan lo pada,” tukas Miguel meneguk kembali satu gelas kecil.   “Posesif lu, kayak dulu ke si Viona aja,” cibir Vano. “Eh iya, terakhir gue masih liat lo sama si Viona, napa sekarang sama yang lain?”   Tanpa aba-aba Miguel berdiri, menatap marah satu per satu dari teman-temannya. Seharusnya mereka tahu kalau Miguel paling tidak suka diikutcampuri. “Gua bilang bukan urusan lu pada,” desisnya lalu menyambar jas, melangkah pergi dengan kaki jenjangnya.   Alvin menatapnya datar, tapi terselip rasa penasaran dan yakin kalau ada sesuatu yang disembunyikan. Hmm, kayaknya seru untuk dicari tahu.   ***   A.n : Hayoh, kalau gak komen besok gak mau update. Harus komen titik.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN