Part 10

1578 Kata
“Halo, Athaya. Ketemu lagi kita.”   Athaya tersenyum lebar, tak bisa menyangkal kalau dia merasa senang akan kehadiran Ahsan. Pria itu masih dengan pakaian serupa, kemeja lengkap dengan tas ranselnya. Kali ini ada tas kecil nangkring di bahunya.   Ahsan melambai-lambai, lalu menyeberang jalan untuk ke halte bus—ke arah Athaya.   “Mau ke panti lagi?” tanyanya duduk di samping Athaya. Wanita itu mengangguk, lalu menunduk karena tak terbiasa menatap laki-laki. “Kita bareng lagi dong,” kekeh Ahsan.   Athaya menunjuk Ahsan, lalu jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya ‘berjalan’ di telapak tangan kanan. Terakhir, dia membuka telapak tangannya dan memaju-mundurkan di depan d**a. [Kamu mau ke mana?]   “Gue mau kerja. Err, belum tentu sih, semoga hari ini ada kerjaan.”   Athaya menunjuk Ahsan lagi, menutup-buka kedua telapak tangannya berbentuk kerucut dan mengentak telapak tangan kanannya di udara. [Kamu kerja apa?]   “Fotografer. Ya disambi juga sih sama jualan online.” Ahsan menggaruk kepala belakangnya malu, kesannya malah menyombongkan diri.   Tapi Athaya tidak berpikir demikian, dia membuat gerakan spiral kecil di samping atas kepalanya. [Hebat.]   Ahsan meringis. “Biasa aja. Eh, mau gue fotoin gak?” Pria itu membuka resleting tas kecilnya dan mengeluarkan sesuatu, kamera DSLR yang bodi kameranya panjang di bagian lensa.   Athaya menggeleng, tak mau difoto. Entah kapan terakhir kali dia berpose di depan kamera, tubuhnya akan kaku jika sudah dibidik. Hasil yang tak pernah memuaskan, justru rasanya memalukan di saat wanita lain sibuk memotret diri, Athaya malah benci setiap kali difoto.   “Ayo, bentar aja. Busnya juga masih lama kok,” bujuk Ahsan. Dia maju membelakangi jalan raya dan menghadap Athaya, sudah siap kameranya membidik saat Athaya siap.   Yahh, sepertinya Ahsan memang bukan tipe orang yang mudah ditolak keinginannya. Toh hanya satu foto, kameranya juga punya dia.   Gaya kaku andalannya, tunjuk dua jari dengan sebelah tangan berkacak pinggang. Bak gaya jaman dulu. Athaya juga membuka maskernya singkat, langsung memakainya lagi saat selesai.   “Satu, dua, oke.” Ahsan memandangi hasil fotonya, tak buruk juga. Terlebih dia yang sudah sering praktek ‘kan hanya tinggal mengulang, Athaya juga walau diam tak akan terlihat jelek. “Nanti gue kirimin deh kalau buka laptop ya,” katanya memasukkan kembali kamera setelah dimatikan.   [Makasih.]   “Jangan dulu bilang makasih, ‘kan fotonya belum gue kirim,” keukeuh Ahsan. Athaya ikut tersenyum.   Mereka mundur saat bus yang warnanya sama seperti kemarin menyalakan sein kiri untuk menepi di halte. Ahsan langsung berdecak saat masuk ke bus, nyaris tak ada kursi kosong. Bahkan beberapa orang sudah berdiri menyangga keseimbangannya ke pegangan di atas bus.    Ahsan berdiri di belakang Athaya karena bagian belakang kebanyakan pria paruh baya. Salah-salah nanti malah Athaya dilecehkan. “Boleh lain kali gue mampir ke panti lo?” tanya Ahsan nyaris berbisik.   Athaya mengangguk, tak berani menoleh karena merasakan Ahsan begitu dekat dengannya. “Emangnya lo ngapain sih ke sana tiap hari? Kerja?”   Karena tak memungkinkan melepas tangannya, Athaya membuka mulutnya bak sedang bicara. Tentu saja tak ada suara yang keluar. [Dulu aku dari sana.]   Kening Ahsan mengerut heran. “Jadi lo asalnya dari panti asuhan?” Athaya mengangguk, melemparkan tatapannya ke jendela di dekatnya.   Sementara itu, Ahsan seolah sedang memikirkan sesuatu. Wajahnya bahkan menunjukkan kalau dia sedang berpikir keras sampai-sampai semua otot wajahnya tegang. Dia diam beberapa saat selama Athaya belum menyadari perbedaan pria itu.   Barulah saat Athaya sadar, dia menoleh dan menatap langsung ke mata Ahsan yang tajam. Dia mencoel dadanya. [Kenapa?]   “Enggak, gak papa,” jawab Ahsan datar. Dia melirik ke jendela sebelah kiri lalu berkata, “Lo turun duluan, gue gak turun di sini.”   Oh, ternyata sudah sampai. Athaya melambai pada pria yang masih melanjutkan perjalanannya itu lalu turun bus dibantu kenek. Dia tak berpikir kalau Ahsan terasa beda tadi, kiranya tak ada apa-apa.   Sedangkan dari bus, mata tajam Ahsan mengawasi Athaya yang turun dan masuk ke jalanan trotoar dengan mata menyipit penasaran.   ***   Di pusat kota, Hasna sedang melakukan photoshot untuk majalah sekaligus iklan sebuah kafe yang baru akan buka. Letaknya cukup strategis menghadap tepat ke jalan raya dengan kaca besar sehingga pengguna jalan bisa melihat dan tertarik untuk mampir.   Kali ini Hasna sedang mengambil pemotretan di spot foto yang cool, makanya Hasna menggunakan outfit serba hitam yang elegan. Kafe ini mengusung tema unik yang menyediakan banyak spot berbeda untuk latar foto i********:. Pastinya sasaran mereka anak muda.   Saat Hasna sedang melakukan sesi fotonya, tak sengaja dia melirik ke jendela besar dan membulatkan matanya. Lupa dengan kamera yang masih stand by, Hasna berlari ke pintu luar sambil memekik, “El, bentar break dulu!”   “Woy, Onah!”   Viona menoleh, sekejap merasa bingung dan terkejut. “Hasna?”   Hasna berdiri tepat di depan Viona dengan senyum mengejek. Tak peduli orang-orang meliriknya karena Hasna masih full pakai make up bertema dark. “Udah lama gue gak liat lo. Ke mana aja lo? Udah tau kalau pacar tersayang lo itu nikah sama orang lain?”   “Tau kok. Dia nikah sama adik kamu, ‘kan?” balas Viona kalem.   Sekejap Hasna tak mengerti, kok bisa Viona yang sangat lengket dengan Miguel semudah itu bilang kalau dia tahu mantan tunangannya sudah nikah?   Namun, Hasna pandai menyembunyikannya. Dia kembali menyulut sumbu amarah Viona dengan pertanyaan nyelekitnya selama ini. “Gue penasaran, kenapa pasangan lengket kayak kalian bisa putus? Tapi gue gak heran sih, biasanya yang lengket lebay itu sedikit yang berhasil.”   “Bukan urusan kamu, Hasna. Hubungan aku privasi aku, kamu gak berhak tau.” Viona mulai membalasnya tak suka.   Seringaian Hasna makin lebar. “Atau karena lo udah gak menarik lagi semenjak lo berhenti kerja? Cuma bisa jadi benalu sih makanya ditinggal,” ejeknya. Ya, semua orang di kampus sudah tahu betapa Viona bergantung pada Miguel. Well, kehilangannya pasti membawa perubahan yang besar, ‘kan?   Viona merotasikan bola matanya—jengah. “Terserah kamu deh. Kalau yang kamu takutin aku balikan sama Miguel, itu gak akan kejadian.”   “Bagus deh, jadi lo jangan ganggu dia lagi atau gue tampar lo.”   Tampaknya Viona berniat membalas Hasna sekarang. Dia bosan berperan sebagai figur yang polos dan baik, jadi ayo tunjukkan kalau Viona juga berbisa di waktu tertentu. “Aku gak ngerti, kenapa Miguel mau sama adik kamu yang gagu?” tanyanya terdengar polos.   Hasna melotot marah, bersiap menjambak Viona kalau wanita itu semakin kelewatan. “Jaga mulut lo ya!”   “Kenapa? Sejak tadi kamu ngehina aku, aku diam. Tapi kamu, baru aja aku ngomong udah langsung ngegas.”   “Kalau lo mau hina gue, silakan. Tapi gue gak akan terima kalau lo hina keluarga apalagi adek gue,” desis Hasna.   “Aku juga penasaran, kenapa kalian gak ada kesamaan sama sekali? Kenapa wajah Athaya beda banget sama kamu?” Viona semakin mengeluarkan pertanyaan yang head-shot—jleb langsung membuat Hasna marah.   “Gak semua sodara harus sama wajahnya. Pertanyaan lo itu kayak pertanyaan anak SD tau gak sih?”   Viona mendekat, lalu berbisik licik, “Emangnya ada anak SD yang peduli kesamaan antar dua kakak beradik? Enggak, cuma orang dewasa yang pengen tau buat bahan gosip.”   “Sialan lo ya, lo—”   “Hasna, break-nya selesai!”   Mau tak mau Hasna menurunkan tangannya dan menahan keinginan menghajar rivalnya sejak kuliah itu. Kenapa sih perputaran sosial dunia sangat sempit? Kenapa harus secara tidak langsung Hasna bermasalah dengan Viona? Cih, dia muak melihat wajah sok polos wanita itu.   “Urusan kita belum selesai ya, enak aja lo gak akan lepas gitu aja,” katanya sebelum kembali masuk ke dalam kafe.   ***   Miguel menuruni tangga dengan langkah terburu-buru. Dia mengecek kamarnya, kamar tamu di lantai dua, dan kamar tamu di lantai satu, tapi Athaya tak terlihat di mana pun. Ke mana dia? Kemarin saja sebelum Miguel pulang dia sudah ada, artinya sekarang dia sedang kelayapan ke sana-sini.   “Cewek gagu itu mana, Ma?” tanya Miguel pada Dewi—yang biasa—sedang membuka-buka katalognya.   Dewi mengedikkan bahunya tak acuh. “Belum pulang kali.”   Tersulut emosi, Miguel mencari nomor telepon Athaya dan langsung meneleponnya. Butuh beberapa saat sampai panggilannya diangkat cewek itu. “Di mana lo?!”   Tak terdengar balasan apa-apa, hanya bising suara kendaraan. Miguel menepuk keningnya keras. “Aish g****k! Orang gagu ditelepon, ya dia kagak bisa jawab gila,” umpatnya.   You : Di mana lo!   Woy!   Anjir, berani lo ya gak bilang dulu ke gue.   Cewek gagu : Aku di belakang kamu.   Sontak dia berbalik, melihat Athaya yang langsung menunduk begitu Miguel menghadapnya. Dari nada suara dan wajahnya saja Athaya tahu kalau suaminya sedang marah. Sementara itu, Dewi meliriknya penasaran.   “Dari mana aja lo?!” bentak Miguel.   Athaya memejamkan matanya, lalu gemetaran mengetik : Panti.   “Boong banget. Sebelum-sebelumnya gue pulang lo udah ada.”   “Kenapa sih Migi? Udahlah, yang penting dia gak buka mulut gak masalah,” sela Dewi.   “Bukan gitu, Ma. Enak aja dia keluyuran gak jelas di luar sana. Harusnya dia diem aja di rumah biar gak seneng,” sinis Miguel menatap tajam Athaya yang masih menunduk.   Athaya menggeleng lemas, lalu mengetik : Maaf gak bakal lagi.   Miguel mendengus, menyugar rambutnya ke belakang dan berdecih. “Awas lo ya sekali lagi pulang telat, gak akan gue izinin lo ke panti lagi.”   ***   Tenggelam Mas Migi, terbitlah Mas Ahsan huhu. Berasa jadi cewek apaan nih tiap ada cogan lirik terus oleng terus.   Apakah kalian kalau jadi Athaya bakal bertahan sama Miguel atau cerai terus ngejar Mas Ahsan? Eh kan Mas Ahsan belum ada kode-kode apaaa gitu. Bisa jadi fucek boy kan berabe nih urusannya awok awok.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN