Part 9

2774 Kata
“Woy, bangun lo! Jadi cewek bangunnya siang banget. Tuh, jadinya Mama yang bantu masak-masak,” gerutu Miguel kesal karena istrinya masih tidur di jam sesiang ini. Mau tak mau Athaya terbangun, menutup matanya dari sinar matahari yang terasa panas.   Sudah jam berapa ini? Sesiang itukah?   Semalam, Athaya terbangun berkali-kali sebab belum merasa nyaman dengan lingkungan ini. Dia juga meratapi nasib pernikahannya yang begini menyedihkan, tapi di depan orang-orang dia adalah wanita beruntung. Setiap mengingatnya, air mata menyembul tanpa permisi hingga lama kelamaan menjadi isakan, cukup lama hingga Athaya sulit tidur lagi.   Padahal yang diharapkan semua orang adalah rumah tangga impian dan sekali seumur hidup. Apa Athaya masih bisa mendapatkannya sekarang.   Athaya menunduk, merasakan Miguel masih menatapnya tajam. [Maaf.]   “Aduhh! Dibilangin gua kagak ngerti masih aja lo ngelunjak.” Miguel hendak berlalu ke kamar mandi dengan handuk di bahunya, tapi Athaya lekas menahan pria itu. “Apaan?” tanyanya malas setelah menghempaskan tangan Athaya.   Wanita itu meraih ponsel dan membuka aplikasi catatan. Notes : Aku mau ke panti.   “Bodo amat, yang jelas gua gak akan mau nganterin lo.”   Notes : Tapi aku gak tau ini dimana   “Terus jadi urusan gua gitu? Lo bisa liat Maps, tanya-tanya orang. Eh iya, lu ‘kan gagu.”   Tanpa menunggu lagi, Miguel masuk ke kamar mandi dan menyalakan kerannya, memulai mandinya. Athaya mendesah pelan, semakin hari rumah tangganya semakin tidak tahu arah.   Dia memutuskan untuk membereskan kamar sebelum turun ke bawah. Merapikan seprei, menata ulang bantal, dan membentangkan selimut di kasur. Lalu membereskan pakaian Miguel yang berserakan di lantai dan di walk in closet, menaruhnya di keranjang baju untuk nanti dicuci Bi Arni.   Oh ya, mereka belum pisah kamar seperti yang dibilang Miguel. Dewi melarang karena situasinya belum aman, Miguel harus menunggu sebentar lagi untuk menyuruh Athaya pisah kamar. Paling tidak setelah mereka pindah ke rumah sendiri.   Athaya memberanikan diri turun ke bawah, masih ada Dewi di meja makan, tapi dia tidak sedang sarapan. “Makan dulu. Jangan sampai keluarga kamu curiga kalau kamu kurusan,” katanya melirik singkat Athaya. “Oh ya, jangan lupa beresnya bantuin cuci piring.” Dia pergi ke ruang keluarga dan melihat-lihat katalog belanja.   Athaya duduk di meja makan, membuka tudung saji yang berisi lauk pauk. Syukurlah Dewi memberikannya jatah makan yang manusiawi, tak seperti penyiksaan di teve di mana orang itu tak diberi makan sama sekali. Cuma ya memang porsi yang didapatkan Athaya lebih sedikit dari biasanya.   Huhh, jalan nasib memang tak pernah bisa ditebak dan sesuai keinginan. Hanya bisa sabar dan berusaha mengubahnya jadi lebih baik.   Inginnya dia mengajak Bi Arni makan bersama, makan sendirian terasa sangat sepi. Namun, asisten rumah tangga itu tidak terlihat di mana-mana. Jadinya Athaya menghabiskan sarapannya secepat mungkin karena sudah sesiang ini, anak-anak panti pasti akan menanyakannya.   Selesai makan, Athaya membawa serta piring kotor lauk pauk untuk sekalian mencucinya. Mungkin Bi Arni sudah mencuci sisanya sehingga tak ada cucian lagi di wastafel selain yang dia bawa.   Jejak kaki menapaki tangga terdengar samar-samar membuat Athaya menoleh. Miguel sudah siap pergi. “Ma, pergi dulu ya,” pamitnya pada Dewi.   “Hem. Hati-hati, jangan banyak keluyuran kalau udah pulang.”   Athaya bergegas menghampiri Miguel, merentangkan tangannya untuk jangan dulu pergi. Miguel menatapnya sebal. “Ngapain sih lo? Awas, gue buru-buru.”   Tanpa diduga, Athaya mengambil tangan kanan Miguel dan mencium punggung tangannya singkat. Yang dicium terdiam, menepis rasa anehnya dia malah semakin kesal dan mendorong kepala Athaya yang masih menempel di tangannya.   “Aduh! Ini tangan lo masih licin pake megang gua segala ah!” omelnya memelototi Athaya. Langsung mengambil tisu di meja dekat Dewi dan mengusap tangannya yang licin karena sabun cuci piring dari tangan Athaya. Pria itu menabrak bahu Athaya saat berlalu pergi keluar rumah.   Athaya menatap punggung suaminya sendu.   “Kamu gak usah ngambil hati Migi, dia gak akan takluk. Di luar sana, ada banyak cewek sempurna. Kamu gak ada apa-apanya kalau bukan karena keluarga kamu,” ejek Dewi sengaja tak menatap Athaya, malah fokus pada katalognya. Dia tersenyum puas saat menantunya kembali ke dapur, mungkin mencuci piring lagi.   ‘Aku jangan nangis.’   Mati-matian Athaya menahan air matanya yang sudah berkumpul, mengusapnya kasar dengan punggung tangannya dan menggigit bibirnya. Sebagai seorang yang kekurangan fisik, Athaya sudah sering mendapat perlakuan begini di luar rumah. Akan tetapi, berada di rumah membuatnya kembali kuat menjalani hidup yang luar biasa sulit ini.   Sekarang semuanya terasa berkali-kali lipat lebih sulit.   ‘Jangan nangis lagi.’ Athaya mendongak ketika piringnya sudah selesai dicuci, lalu membilas wajahnya untuk menyegarkan diri. Dia bertekad tak akan menangis lagi, melakukannya hanya akan membuktikan kalau dia lemah. Orang-orang itu akan senang.   ***   Beberapa menit kemudian, Athaya kembali turun ke bawah setelah siap dengan pakaiannya. Rok plisket dengan blouse, serta sepatu Convers kesayangannya dan goodie bag.   “Mau ke mana kamu?” tanya Dewi tajam, menghadap Athaya yang tampaknya mau pergi.   Athaya menuliskan di notes : Ke panti ma. Udah bilang miguel.   “Ke panti? Ngapain sih? Buang-buang waktu aja,” cibir Dewi, lalu kembali mendudukkan dirinya di kursi. “Terserahlah, pake masker sana. Jangan sampe ada orang yang liat kamu apalagi tau kalau kamu bisu.”   Wanita itu tampak berbeda dengan masker putih yang menutupi wajah cantiknya, lumayan membuatnya percaya diri. Tetapi, kebingungan langsung menderanya saat sampai di jalan raya, tak ada angkutan umum yang biasa dia lihat kalau ke panti. Semuanya tampak asing dan menakutkan.   Athaya takut kesasar atau salah naik angkutan umum. Dia membuka aplikasi Google Maps seperti yang dibilang Miguel, mencari nama panti asuhan untuk menemukan rute ke sana. Sayangnya, panti asuhan itu tidak terdaftar di Maps. Mungkin karena pengurusnya tidak terlalu mengerti tentang pendataan makanya tidak terdaftar.   Alhasil dia hanya menunggu di pinggir jalan—di halte bus. Cukup banyak orang yang menunggu bus di sana sehingga Athaya memilih untuk menunggu di sisi paling kanan yang tidak tertutup atap halte.   Seorang wanita tak sengaja menabrak bahu Athaya sehingga masker sekali pakainya terlepas, spontan Athaya menutup wajahnya dengan tangan sambil mencari masker baru di tasnya.   “Lo ... yang waktu itu ketabrak, ‘kan?”   Athaya tersentak, memaling horor ke pria yang bertanya padanya. Matanya membesar, khawatir kalau dia ketahuan istrinya Miguel. Tetapi, dia merasa pernah melihatnya.   Ahh, dia ada di sana waktu dulu Athaya ditabrak Miguel.   Orang-orang yang berkerumun di halte bus sontak memenuhi bus berwarna hijau yang baru saja sampai, hampir dari mereka semua masuk—terkecuali Athaya dan pria itu. Jadilah hanya tinggal mereka berdua, Athaya juga tak yakin bus tadi sesuai dengan tujuannya.   “Lo kenapa kayak bingung gitu? Nyasar?” tanyanya lagi.   Athaya mengangguk kecil, lalu mengetik. Notes : Aku mau ke panti   “Kalau mau pake isyarat juga gak papa, gua bisa bahasa isyarat kok.” Pria itu mengulurkan tangannya. “Oh ya kenalin, nama gue Ahsan. Lo bisa denger, ‘kan?”   Athaya mengangguk, lalu mengeja namanya menggunakan bahasa isyarat. [Ataya.]   “Athaya?” gumam Ahsan dengan kening berkerut. Terdengar bingung dan ... entahlah, terkejut? Athaya tak pandai menganalisis mimik wajah seseorang untuk membaca perasaannya.   [Kenapa?]   “Eh, enggak. Dulu gue juga kenal orang namanya Athaya.” Mereka terdiam saat bus lain datang. Ahsan tanpa bertanya menarik Athaya untuk masuk. Penumpang bus tidak terlalu banyak sehingga ada banyak kursi kosong, Ahsan menariknya untuk duduk di kursi ketiga dari belakang dengan Athaya di samping jendela.   “Lo mau gue anter? Di mana panti asuhannya?”   Notes : Waktu itu ketabrak.   Ahsan mengangguk-angguk. “Ohh, ayo gue anter. Kebetulan gue juga mau lewat sana,” ajaknya.   Athaya memperhatikan Ahsan, sepertinya hendak bekerja dengan kemeja rapi, celana hitam lengkap dengan sabuknya, juga tas gendong berukuran cukup besar. Semoga dia bukan penipu, tapi ya tidak untungnya juga menipu Athaya. Dia tak akan mendapatkan apa pun.   Namun entah kenapa, Athaya nyaman bersamanya. Apalagi pria itu bisa bahasa isyarat, Athaya tak perlu sering-sering mengetik di ponsel.   “Lo gak bisa ngomong sejak lahir?” tanya Ahsan. Athaya menjawabnya dengan anggukan. “Pasti berat buat lo. Lo harus lebih kuat, lebih sabar dari orang lain.”   [Makasih.]   “Boleh minta nomor lo? Mungkin lo butuh bantuan gue suatu saat nanti.”   Dia beneran bukan penipu, ‘kan?   Ahsan terkekeh. “Kenapa sih? Gitu amat mikirnya. Gue beneran cuma pengen kenalan kok,” ujarnya meyakinkan membuat Athaya menyentuh pipinya yang terasa panas. Memangnya sekentara itu dia curiga pada Ahsan? Ah, pesimis sekali.   Akhirnya Athaya memberikan nomornya pada Ahsan. Toh kalau macam-macam ‘kan ada Miguel yang menyadap ponselnya.   “Ayo turun di sini.” Ahsan menggendong tasnya dan menarik Athaya untuk berdiri di dekat pintu keluar, lalu turun saat bus sudah benar-benar berhenti. Jarak halte itu dari bus dekat dengan kejadian Athaya tertabrak, bagusnya tidak perlu menyeberang lagi untuk ke panti.   “Lain kali kalau gak ketemu gue, lo liatin aja warna busnya atau dengerin keneknya. Biasanya bus itu lewat tiap hari sih. Mau gue anter sampe ke panti?”   Athaya menggeleng. [Gak usah.] Dia langsung pergi, takutnya tak bisa menolak kalau Ahsan keukeuh ingin ikut. Athaya hanya tak ingin dia telat bekerja kalau mengantarnya.   Dari jalan raya, dia harus berjalan sekitar setengah kilo meter di trotoar yang jalan rayanya lebih kecil. Berbelok ke gang besar yang masuk ke pemukiman, lalu berjalan lagi seratus meter barulah sampai. Dari luar terlihat anak-anak panti sedang bermain di luar sekalian berjemur.   Ibu panti menyambutnya. “Ay, tumben sampenya siang,” katanya heran. “Suami kamu nganterin ke sini?” Athaya menggeleng, mencium punggung tangan bu panti sambil menurunkan tasnya untuk dia genggam.    “Kenapa? Sibuk?” Athaya terdiam, enggan menjawab. “Ya udah masuk gih. Tuh Karin udah nungguin kamu.” Athaya mengangguk, melewati anak-anak yang sibuk berlarian di luar bangunan.   Di antara puluhan anak panti, ada satu orang yang sering menarik diri dari keramaian. Namanya Karin, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tetapi tak mau berteman dengan satu pun anak di panti ini. Dia merasa dirinya berbeda sehingga tak mau dicemooh orang-orang.   Ya, Karin sama seperti Athaya—disabilitas. Bedanya Karin memiliki disabilitas ganda, tepatnya tunarungu. Jika Athaya masih bisa mendengar, maka Karin tidak. Otomatis dia tak bisa berbicara. Pernah ada yang menyumbang alat bantu dengar, tapi Karin tak mau menggunakannya karena mengeluh alat itu sering menghantarkan suara nyaring bak eror.   Setelah menaruh tas di kursi, Athaya menghampiri Karin di kamarnya. Seperti biasa, gadis kecil itu duduk melamun di kasur susunnya menunggu Athaya datang.   Saat Athaya duduk di sampingnya, barulah dia menoleh. [Hai.]   Karin cemberut. [Kakak dateng lama banget.]   [Maaf. Yuk ke luar.]   Dahulu, ada 3 anak disabilitas. Athaya, Karin, dan seseorang yang sudah keluar sejak Athaya kecil. Mereka kelompok pertemanan yang berkomunikasi lewat bahasa tubuh, tapi karena teman ibu panti mengajari mereka semua bahasa isyarat makanya tak sedikit mereka yang mengerti.   Sesuai jadwal, biasanya setelah berjemur ibu panti akan membacakan dongeng. Terkadang seseorang anak akan bercerita kalau ingin, tapi seringnya ibu panti. Guru sukarela yang mengajar juga sudah tak ada, sehingga selain ibu panti dan penduduk di sekitar Athayalah yang mengajar.   Sebab ada Athaya, ibu panti bercerita tanpa memperagakan bahasa isyaratnya. Athaya yang memberi tahu Karin isinya, padahal tanpa diberi tahu pun cerita itu memang sudah diulang-ulang.   “Ibu peri mengubah Cinderella menjadi gadis cantik untuk pergi ke pesta.”   Athaya memperagakan sesuai dengan cerita ibu panti.   “Tetapi, waktunya hanya sampai jam 12 malam atau Cinderella akan berubah lagi jadi sedia kala. Lalu—”   “Kak Athaya! Ada yang nyari!”   Acara mendongeng terjeda oleh seorang anak panti yang memekik pada Athaya sehingga semua atensi mengarah padanya.   “Ina, gak ikut dongeng lagi,” omel ibu panti pada anak itu. “Athaya, temuin dulu orang di luar.”   Athaya mengangguk, pergi keluar dengan kening mengerut. Siapa yang mungkin mengunjunginya? Hasna?   Seseorang yang menunggunya di kursi taman itu melambaikan tangan heboh. “Ay adikku!”   Benar, dia memang Hasna. Memangnya siapa yang mungkin datang kemari selain dia? Seharusnya Athaya tidak mengharapkan siapa pun.   Dia duduk di samping Hasna, tampak mobilnya terparkir di luar pagar. “Hepi banget kayaknya. Lancar ya semalem?” goda Hasna. Athaya yang paham maksudnya menekuk wajah, kesal diganggu kakaknya mulu.   Athaya menuliskan : Kamu gak sibuk?   “Aku ‘kan udah bilang mau ke sini. Kalau nanti lunch takutnya gak sempet banget,” kata Hasna. “Tadi gimana? Si cowok batu itu nganterin, ‘kan?”   Pertanyaan Hasna tak langsung dia jawab. Apa harus dia berbohong lagi kalau Miguel tak mau mengantarnya? [Dia sibuk.] sampai Athaya kemudian.   Hasna menggeleng-geleng tak percaya. Keterlaluan Miguel! Gimana kalau Athaya kesasar dan tak tahu jalan pulang? Dia ‘kan tidak pernah pergi jauh dari rumah. “Bener-bener ya tuh orang satu, pengen hantem bonyokin aja g*la,” desisnya. Kalau Miguel ada di sana, kepalanya akan jadi sasaran Hasna.   “Oh ya, Mama nitip nih spaghetti carbonara, kesukaan kamu.” Wanita yang lebih tua itu menyodorkan kotak makan warna putih pada Athaya.   [Makasih.]   “Sama-sama.” Hasna tersenyum, merasa bangga paham artinya. Padahal tanpa menebak dia juga tahu kalau Athaya pasti sedang berterima kasih. “Nanti pulang mau aku anter gak?”   Athaya menggeleng. [Gak perlu.]   Wajah Hasna memelas. “Yahh kenapa? Siapa tau aku bisa.”   Yahh, tak ada salahnya juga, ‘kan? Lagian Athaya tidak bersama pria tadi pagi, dia khawatir terlewat turun atau ada sesuatu yang membuanya menyesal. Jadi dia mengangguk membuat Hasna memekik senang.   “Hii! Ya udah Ay ya, aku pergi dulu. Takutnya telat nih, kena macet. Dadah!” Dia mengecup pipi Athaya sebelum berlari kabur, pasalnya Athaya sudah siap mengejarnya.   Athaya melihat Karin yang menatapnya dari depan pintu bangunan, mengajaknya ke sana. Karin menurut, hanya bersama Athaya dia merasa nyaman. [Kenapa ke sini?] tanya Athaya.   Karian malah melongo ke kotak makan Athaya. [Itu apa?]   Athaya membuka kotaknya, membuat wangi khas spaghetti carbonara langsung tercium. Masakan rumahan Angela adalah hal yang paling dirindukannya. [Mau?]   Karin mengangguk, penasaran karena belum pernah memakan bahkan melihatnya.   [Yuk kita makan di dalem.]   ***   Di kantor, Miguel si atasan yang dikenal tak kenal ampun dan kejam pada bawahannya sedang sibuk di balik tumpukan pekerjaan. Ahh, padahal Papanya sendiri pemilik perusahaan, tapi kenapa Miguel tetap menerima pekerjaan sebanyak ini?   Pintu berderit mengalihkan atensi Miguel. Sekretarisnya—Tia—masuk ke ruangan Miguel takut-takut, salah sedikit saja bisa kena pecat. Sambil menunduk, dia melapor, “Pak Miguel, ada yang mencari Bapak.”   Kening Miguel mengerut, tak merasa sedang punya janji dengan siapa pun. “Siapa?”   “Bu Viona,” cicit Tia. Dalam hati setengah mati penasaran, kenapa mantan tunangan bosnya masih ke sana? orang-orang mengira kalau hubungan mereka sudah tuntas, tapi tampaknya belum.   Miguel menggebrak meja. “Mau apa dia ke sini?!” bentaknya. Matanya tak main-main mengatakan kalau dia marah, apalagi dengusan keras membuat lutut Tia gemetaran.   “Anu, katanya harus ketemu.”   Seolah terpaksa, Miguel berkata, “Ya sudah, suruh menunggu di ruang tamu.”   Tia menunduk, lalu berjalan mundur ke luar. Ruang kerja Miguel dibagi menjadi dua bagian, satu bagian depan dan satunya khusus bekerja.   Begitu dia menuju ke ruang tamu, Viona sudah duduk di sofa dengan wajahnya menekuk.   “Sayang, kenapa kamu ke sini?” tanya Miguel lembut, duduk di sampingnya.   “Emangnya kenapa? Biasanya ‘kan kamu gak pernah larang aku ke sini,” decak Viona. Dia mendengar sendiri bentakan Miguel pada sekretarisnya sehingga dia menyimpulkan kalau Miguel sedang kesal, tapi Viona tak mau mundur dan kembali.   Miguel menggenggam tangan kanan Viona membuat wanita itu mendelik. “Bukan gitu, situasinya ‘kan beda Sayang. Orang-orang taunya aku udah nikah, mereka pasti akan berpikiran macam-macam kalau kamu ke sini.”   Viona memelototi Miguel. “Jadi kamu ngusir aku?”   “Enggaklah, aku kangen banget sama kamu. Gak bisa sering-sering ke rumah.” Miguel menubrukkan wajahnya ke bahu Viona, mengecupnya ringan.   “Istri kamu ngelarang kamu ke luar rumah?” tanya Viona tak suka. Kalau iya, maka wanita itu sangat tidak tahu diri. Viona saja tak pernah melarang-larang Miguel walau jaminan pria itu pasti bakal menurutinya.   Miguel berdecak. “Kalau dia ngelarang juga aku bakal langgar, cuma orang tuanya tuh resek. Ngehubungin dia terus ‘kan pastinya nanyain aku, terus bakal tanya-tanya kalau aku gak ada di rumah.”   “Nyebelin banget sih mereka.”   “Makanya, aku ‘kan masih perlu kerja sama ini. Gawat kalau mereka curiga apalagi sampai tau aku masih berhubungan sama kamu.”   Viona menyentuh pipi Miguel, lalu membubuhkan kecupan singkat di bibirnya. “Udahlah, ngapain sih mikirin kejadian nanti. Sekarang aku di sini, katanya kamu kangen.”   “Bener. Sini, aku butuh cas tenaga aku.” Miguel menarik Viona ke pelukannya, menghirup harum tubuhnya dalam-dalam sebelum berpisah nanti.   Dia harap pernikahan ini akan berakhir secepatnya.   ***   Mau Migi jahat sampe part berapa nih? Mau yang cepet-cepet atau pelan-pelan tapi pasti?   Jalan ceritanya antara ketebak gak ketebak sih, menurut kalian bakal gimana ini cerita? Kalau tebakan kalian bener, pura-pura aja gak bener ya haha.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN