“Kak Raka kok belum pulang ya?” Agni menengokan kepalanya ke arah pintu rumah yang masih nampak ingin belum terbuka. Dari pintu itu ia menunggu sosok yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya. Kepalanya kembali ia torehkan ke arah suami dan anak-anaknya yang lain nampak tenang-tenang saja. Namun bukan tenang yang membuatnya damai akan tetapi diam yang membuatnya risau. “Mas Abi udah nelpon Araka?” “Kak Bian tolong kabarin Kak Raka, kok sekarang belum balik?” Agni mengalihkan pandangannya ke arah Abian yang sedari tadi hanya diam membisu. Pernyataanya yang ia berikan pada suaminya diabaikan lelaki itu yang kini sedang sibuk bermain dengan Kadaffi. Mereka semua—-kecuali Araka tengah berkumpul di ruang keluarga setelah menyelesaikan makan malam. Tentunya tanpa Araka yang entah dimana

