“Agni, ada yang saya ingin sampaikan sama kamu.” “Apa, Ma—awh.” “Tiduran saja, Agni. Kamu masih belum pulih,” ujar khawatir Asma ketika melihat sang menantu memaksakan untuk duduk. Ia tahu pasti Agni merasa tak sopan karena ia harus berbaring di kasur. Namun, Asma sama sekali tidak peduli. Dirinya hanya ingin menyampaikan sesuatu yang penting pada wanita itu. “Mama minta maaf atas sikap buruk Mama pada kamu.” Wanita itu meletak telapak tangannya di tangan Agni yang diinfus, mengusapnya lembut. Matanya memandang harap ke arah menantunya. “Kamu pasti bertanya-tanyakan tentang sikap Mama belakangan ini kepadamu?” Agni mengangguk polos, jujur wanita itu juga masih penasaran. Wanita itu paruh baya itu menyunggingkan senyum kecilnya saat melihat wajah keibuan milik Agni, bagaimana ia bisa me

