“Ibuu sarapan dulu.” “Sebenatar ya sayang. Ibu lagi nyariin Kak Bian.” “Tapi, Ibu duduk. Jangan mondar-mandir.” Agni tersenyum lembut ketika mendengar nada khawatir dari Kadaffi. Bocah itu baru berusia lima tahun tapi rasa pedulinya sangat membuat Agni kagum. “Iya, sayang. Makasih ya udah ingatin Ibu. Daffi udah makan?” tanyanya. “Udah dong!” serunya bersemangat. “Bagus. Ibu telpon Kak Bian dulu ya.” Wanita itu kembali menekan tombil telepon pada kontak nomor Abian. Namun yang terdengar adalah suara operator yang memintanya untuk menelpon lagi nanti. Hal itu semakin membuat Agni risau menunggu kepulangan anaknya. Tidak masalah jika Abian pamit untuk pergi namun kali ini bocah itu sama sekali tak mengabarinya. Apa bocah itu masih marah padanya perihal masalah malam tadi? Agni memang

