Chapter IV. 01 : Klimaks

2950 Kata

Pagi menjelang, rasa lelah seakan tak pernah lagi menghinggapi diriku. Padahal, aku tak tertidur sedetikpun semalam. Guratan cahaya pagi yang menyusup melalui celah dinding kayu membentuk lengkungan pedang yang menyayat lantai. Embun mulai terasa dingin ketika aku memulai pekerjaanku membersihkan kebun. Sudah dua hari setelah kejadian itu, aku tak bisa menutup mataku. Tak ada lelah sedikitpun yang menyela nafasku. Apa yang terjadi padaku? Kataku dalam hati. Pagi ini setelah semua tugas kami berdua selesei. Aku dan Saras akan membicarakan sesuatu dengan nona Alicia. Seperti rencanaku sebelumnya bahwa aku harus menemui Santi dan Sinta, cucu kembar mendiang eyang Sarmiah. Seperti kata ingatanku, Sinta pasti bisa mewarisi kemampuan neneknya yang aneh itu. “Apa benar mereka bisa melakukan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN