Chapter 14

1504 Kata
Badai belum berlalu. Meski waktu sudah dua minggu berlalu.  Aku tertegung, lalu merasakan nyeri yang teramat dalam setelah membaca pesan singkat dari lelaki yang sudah sembilan tahun menikahiku. Dia mengatakan kalimat yang lagi-lagi menyiratkan kalau aku adalah seorang pendosa. [Kapan mau musyawarah? Kakak-kakamu sudah pada setuju buat jemput aku kan?] [Nggak ada yang mau. Lagian secara hukum islam, Mama itu sudah berdosa meninggalkan rumah lebih dari tiga hari.] [Kalau begitu nggak usah dijemput sekalian.] [Terserah, Mama. Kalau mau hidup dan menumpuk dosa.] Itu adalah isi percakapan kami dalam aplikasi w******p. Semalam aku memulai mengirim pesan pada Raga setelah mendapat wejangan dari Kakak-Kakaku tentang kondisi anak-anak sekarang. Ada baiknya aku memberi Raga kesempatan kedua. Jika hati masih sakit dan sulit memaafkan, setidaknya lakukanlah demi anak-anak. Mereka masih kecil-kecil, teruma bayi kami. Masih butuh kasih sayang Papanya. Begitulah kalimat yang dikatakan Kak Meli lewat telepon dan langsung mendapat tanggapan positif dari Kak Sella. Baiklah. Meski sulit, akhirnya aku membulatkan hati untuk berusaha memaafkan dan memberi Raga kesempatan memperbaiki pernikahan kami. Tapi, begitu membaca balasan pesan dari Raga. Semuanya usahaku jadi sia-sia. Aku kembali ke titik awal. Aku kembali kecewa dan merasa menjadi manusia paling hina di muka bumi ini.  Aku tahu, aku bukanlah orang baik. Aku seorang pendosa. Tapi tidak selalu selalu seperti itu juga. Ada kalanya aku beribadah kepada Allah, Tuhanku, dan meski aku tidak tahu apakah ibadah itu diterima atau tidak? Yang jelas aku masih mengingat Sang Pencipta. Tidak selalu berbuat dosa seperti yang dituduhkan Raga padaku. Dan, lagi pula bukankah urusan surga dan neraka itu mutlak menjadi rahasia Tuhan? Tidak satu manusia pun yang bisa menebak akan berakhir di mana kita kelak. Surga atau neraka? Biarlah itu menjadi urusan Tuhan. Sebagai makhluk, kita hanya perlu berdoa dan berikhtiar. Tidak usah menghakimi, karena sesuatu yang hina belum tentu hina, begitu pula sebaliknya. Yang sekarang tampak indah, belum tentu indah di mata Tuhan.  Aku mulai menimbang-nimbang apa yang membuat keluarga Raga enggan memenuhi permintaanku dengan memutar kembali memori kebersamaan kami sebelum kejadian badai. Dari sekian kenangan yang telah lewat, aku tidak menemukan satu pun pertengkaran diantara kami. Sebaliknya, sejauh ini kami selalu kompak dan tidak segan untuk berbagi satu sama lain. Serta saling mendukung usaha masing-masing. Tapi...? Tak mau menerka-nerka dan takut salah menebak, kuputuskan untuk bertanya pada Kak Sella. Meminta pendapatnya sembari menunjukkan isi pesan kami. Kakak pertamaku yang rumahnya kujadikan tempat mengungsi sekarang.  "Kenapa sih suami kamu itu suka banget memponis orang lain berdosa? Nuduh kamu sebagai pendosa. Bukankah dia juga tahu, penyebab kamu ke luar dari rumah juga karena dia. Dia selingkuh terus mukul kamu sampai babak belur kaya gitu. Apa pun alasannya, suami yang sudah berani melakukan kekerasan tidak pantas disebut suami."  Kulihat Kak Sella mulai emosi. Gurat di wajahnya terlihat memancarkan aura kebencian setiap kali nama Raga terucap dari bibir tipisnya. Tentu saja, sebagai kakak, dia sangat tidak terima melihat adiknya diperlakukan buruk. Terlebih lagi, dia adalah kakak pertama yang mengemban tugas sebagai orang tua kedua setelah orang tua kami wafat.  Aku tidak langsung berkomentar, memilih pergi ke dapur dulu untuk membuatkan bubur bayi. Barusan, saat asyik mengobrol, sepertinya suaraku terlalu kencang sehingga mengganggu tidurnya.  Dan, seperti biasa, setiap kali bangun tidur, aku akan langsung memberinya sarapan.  Sekembalinya dari dapur kulihat bayi gembulku tengah mengacak-acak mainan milik kakak sepupunya. Hampir kecolongan, karena tangan mungilnya sudah mengarahkan mobil-mobilan kecil ke mulutnya. "Dede, jangan dimakan! Itu bukan makanan, Nak." Aku langsung merebut mainan itu dari tangannya lalu menyimpannya ke tempat yanh tidak bisa dijangkau olehnya.  "Anak-anak mah memang gitu. Kitanya aja yang nggak boleh meleng," Kak Sella memberitahuku. Kemudian menyuruh anak laki-lakinya untuk segera membereskan mainannya. Meski awalnya rada ngambek, setelah dijelaskan akhirnya ia mau menuruti. Lalu, keluar untuk menemui teman-temannya.  "Itu si Raga kenapa bisa ngomong kayak gitu sama kamu? Kayak yang dirinya suci aja." pembicaraan kami kembali dilanjutkan. Sambil menyuapi, aku langsung menimpali. "Dia memang selalu seperti itu, Teh." "Apa?" Kak Mila yang sedang melipat pakaian langsung menoleh. "Jadi selama ini dia selalu berkata seperti itu sama kamu? Kok kamu betah?" Aku tidak langsung menjawab. Ada kegelisahan dihatiku, apakah aku harus mengatakan keburukan Raga pada keluargaku? Mereka harus tahu, tapi Raga juga tidak sepenuhnya buruk. Ada beberapa sifat dia yang baik. Tapi, semua itu memang langsung sirna, setelah Raga melakukan kesalahan fatal seperti sekarang. Terlebih ketika aku mendengar alasan Raga melakukannya hanya karena kewajiban. Berbeda sekali dengan niatnya menyenangkan gadis pujaannya yang menurut Raga sebagai harapan.  "Kamu tahu, Dek. Nasib kamu itu benar-benar buruk. Sudah nikah sama aki-aki, bukannya sisenengin malah diselingkuhin. Udah ah, kamu nggak usah balas pesan dia lagi. Biarin dia sibuk ngurus anak-anak. Kamu di sini fokus sama bayi kamu aja. Makan yang banyak biar sehat. Pusing tahu Teteh lihat tubuh kamu makin kurus." Dia mulai mengomel. Menceramahiku untuk tetap tegar dan melupakan kesesihanku. Seolah semuanya bisa dilakukan dengan mudah. Padahal, aku yakin, dia tahu kalau prosesnya tidak mudah. Dia pernah mengalami hal yang sama sepertiku. Dibohongi mantan suami pertamanya.  "Kalau kamu sakit, siapa yang mau ngurus kamu dan anak-anak. Teteh nggak bisa bantu karena kondisi Teteh lagi hamil. Ditambah lagi Teteh punya tiga anak yang masih butuh diperhatikan terutama Gangan. Dia masih berusia dua tahun," katanya lagi yang tentu saja langsung kusetujui. Kondisi Kak Sella memang sangat tidak memungkinkan untuk mengasuh bayiku. Perut buncitnya sudah sangat melelahkan untuknya. Bisa memasak dan menyapu saja sudah sangat luar biasa. Aku tidak mungkin membebani hidupnya lagi.  "Iya, tahu kok, Teh. Aku juga biasa makan tiap hari. Tapi namanya juga orang setres makan sepiring langsung dibuang ke kloset. Nggak bakalan jadi daging," kilahku yang mulai menyadari dibalik ocehan Kak Sella adalah karena berat tubuhku yang semakin turun. Saat melepas hijab, tulang selangkaku akan terlihat sangat jelas. Dan jika boleh kutebak, jika tidak meleset berat badanku pasti berada di angka empat puluhan. Sebuah rekor baru, mengingat dulu, sebelum menikah berat badanku sempat berada di angka lima puluh. Lalu, apa sekarang aku merasa sedih karena berat badan turun. Jawabannya tentu saja tidak. Aku justru bersyukur bisa memiliki bentuk tubuh seperti saat masih gadis. Seperti yang dikatakan oleh teman-temanku saat memuji foto-foto yang kuunggah di status w******p dan i********:.  "Ya, itu dia maksud teteh. Kamu jangan setres mikirin Raga mulu. Bangkit. Kayak teteh dulu nangis aja seminggu, tapi habis itu hati plong dan lanjut deh bangkit. Nggak kayak kamu, nangis dan marah mulu. Segitu cintanya kamu sama dia?" Oke, satu hal yang harus saya ingat. Kak Sella itu hidupnya keras, sudah pasti ucapannya pun pedas. Jadi harap makluk kalau dia memang selalu mengutamakan rasio ketimbang perasaan. Sudah wataknya. Eh, tapi ngomong-ngomong tentang pertanyaan terakhir Kak Sella, tiba-tiba aku jadi kepikiran mengenai perasaanku pada Raga. Apakah aku mencintai Raga segitu dalamnya hingga aku bisa sedepresi ini mengetahui Raga selingkuh? Atau... jangan-jangan itu hanya perasaan kecewa atau semacamnya karena harus kehilangan orang yang kita percaya. Iya, asal tahu saja, sebelum kami menikah. Kami hanya berkenalan selama dua bulan. Kuputuskan menerima pinangan Raga karena kupikir dia orang yang tepat, bisa mengayomi dan membimbingku dengan baik. Aku percaya dengan umurnya yang sudah matang dia bisa membimbingku tanpa harus melabeli ini salah itu durhaka. Maksudku, dia bisa memahamiku dan menasehatiku dengan lembut. Tapi... seperti kata pepatah, 'penilaian manusia itu tidak akan pernah selalu benar dan cenderung banyak salahnya', begitu juga dengan penilaianku terhadap Raga. Lelaki yang kunikahi pada tahun dua ribu sebelas itu sering kali mengatakan kalimat pedas ketika aku melanggar perintahnya. Seperti ketika aku ingin berkunjung ke rumah ibu atau kakakku. Dia akan mengantarkan kami, aku dan anak-anak, lalu akan mengajak kami pulang lebih awal bahkan sebelum acara selesai. Dan, jika ditanya jawabannya pasti selalu itu. Pengin solat berjamaan di masjid. Bagus. Memang. Tapi kan masjid itu banyak. Di dekat rumah kakakku bahkan ada masjid khusus komplek. Tapi, entah kenapa Raga seperti alergi jika harus ikut berjamaanh di sana. Entah, apa ini karena aku yang tidak memahami pasanganku sendiri, atau karena Raga merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah keluargaku. Tapi, satu hal yang harus digaris bawahi. Keluargaku bukan tipe yang suka ikut campur masalah adik-adiknya. Sekarang saja, kalau Raga tidak sampai menamparku demi membela gadis pujaannya, keluargaku tidak akan pernah merecoki kami. Sepeninggal Kakakku yang kini tengah pergi membeli sayuran, aku kembali merenung. Apakah Raga akan berubah jika aku memberinya kesempatan? Tapi... mengingat bagaimana perlakuannya selama ini yang sering mengatakan banyak keburukan padaku, aku jadi sangsi Raga bisa berubah. Tidak, lebih tepatnya aku takut hatiku tidak bisa memaafkan dab berdamai dengan takdir Tuhan. Aku takut mengikuti langkah Raga yang mencari kesenangan di luar. Aku takut anak-anak akan menjadk korban karena keegoisan kami para orang tuanya yang lebih mementingkan kebahagaiaan kami. Aku... tidak bisa membayangkan reaksi mereka saat aku melakukan apa yang kutakutkan sekarang. Tidak! Aku tidak sanggup membayangkannya. Itu sangat menyeramkan, lebih seram ketimbang menonton film horor Suzana.  Oke! Baiklah! Cukup! Waktu dua minggu rasanya bukanlah waktu sebentar untuk memikirkan masak-masak masa depan pernikahanku. Bukan hanya karena penghianatan, semua ucapan dia yang selalu mengatakan aku rendah, sudah cukup untuk menjadikanku yakin kalau jodoh kami sampai di sini.  Aku tidak mau hidup bersama orang yang tidak menghargaiku. Lebih baik sendiri, ketimbang hidup bersama orang yang tidak menghargai. Karena lambat laun, hatiku pasti akan sakit, membatin dan mungkin depresi adalah satu-satunya ending yang bakal menemani sisa hidupku. Kini, saatnya aku meraih kebahagiaanku. Berpisah dan menjalani hidup tanpa Raga. Juga bayang-bahang penghianatan.[] ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN