Chapter 13

1482 Kata
Aku tidak terlahir dari keluarga kaya. Keluargaku juga tidak seharmonis keluarga cemara yang menjadi tontonan mendidik semasa kecil. Ayah meninggal saat aku berusia dua belas tahun, dan kehidupanku pun dituntun untuk mandiri sejak dini. Belajar masak, mencuci, menyetrika dan mengerjakan tugas sekolah seorang diri. Karena Ibu, tidak memiliki waktu hanya untuk sekadar menemaniku belajar. Ibu harus berjuang mencari nafkah sebagai buruh tani, demi menghidupi anak-anaknya. Ada saatnya aku iri pada kehidupan teman-temanku. Memiliki orang tua lengkap, serta memiliki fasilitas lengkap tanpa harus kehilangan moment kebersamaan bersama Ibu. Namun, aku juga menyadari kalau nasib manusia selalu berbeda. Dan, tugasku sebagai manusia adalah harus mensyukuri semua nikmat yang Tuhan berikan dan berkewajiban untuk berikhtiar saat menginginkan sesuatu. Selain terdapat dalam Al-Quran, kalimat itu juga merupakan wejangan yang sering diucapkan mendiang ayah dan Ibu. "Hiduplah sederhana, sesuai kemampuan dan jangan pernah iri pada nasib orang lain." Kata-kata itu selalu kuingat hingga sekarang, dan mungkin hingga nanti sampai ajal menjemput. Jadi, sebisa mungkin, dalam hidupku aku selalu berusaha menahan diri untuk meminta belas kasih dari orang lain. Lebih baik meminjam, ketimbang meminta-meminta dengan tambahan bumbu menceritakan kisah hidup yang dramatis. Aku hidup dan tumbuh seperti anak lainnya. Bermain dan belajar di dua instansi sekaligus. Sekolah dasar dan sekolah agama yang merangkap dengan kegiatan mengaji di Masjid. Semuanya berjalan lancar, sampai akhirnya seseorang yang sangat kuhormati mulai mengkritik warna kulitku. Kemudian membandingkannya dengan kulit kakak perempuanku, Kak Syifa, yang sayangnya dimatanya nilaiku selalu minus. I am bad girl. "Kim, kamu kok kulitnya gelap? Beda banget sama Syifa. Putih dan bersih," katanya dengan nada bercanda. Sekali, aku masih tertawa. Dua kali, aku mulai terganggu. Tiga kali, empat kali dan seterusnya hatiku mulai sakit dan perlahan kepercayaan diriku pun mulai hilang. Aku yang awalnya percaya Tuhan menciptakan semua makhluknya secara sempurna mulai meragukannya. Lebih buruknya, aku menganggap warna kulitku sebagai kutukan dan terobsesi ingin memiliki kulit putih. Tidak hanya itu. Beliau, guruku di Madrasah, juga selalu membandingkan kami, aku dan Kak Syifa, dari segi nilai akademis. Beliau selalu memuji nilai Kak Syifa dan mengatakan kalau dia akan tumbuh menjadi wanita paling cantik. Cantik secara fisik dan sholehah dari segi akhlak. Sebaliknya, saat menyangkut diriku, beliau akan mengatakan semua kebalikan dari Kak Syifa. Katanya, aku itu centil dan akan tumbuh menjadi gadis nakal. Padahal, saat itu aku hanya gadis berusia dua belas tahun yang bergaul sesuai insting anak-anak. Aku berani tampil dan selalu lantang saat mengemukakan pendapat dituding sebagai cikal bakal aku akan tumbuh menjadi gadis nakal. Sungguh, sejak saat itu, aku merasa hidupku tidak akan berjalan baik. Karena setiap kali aku melakukan sesuatu, sebaik apa pun, nilaiku akan tetap sama. Buruk. Dan, selalu mendapat kritikan pedas yang membuat mentalku semakin down. Seperti halnya saat aku melakukan puasa senin kamis, beliau dengan tega mengatakan kalau niatku berpuasa adalah karena laki-laki. Aku remaja yang mulai mengenal sosok lawan jenis kembali dituduh sebagai hal negatif. Tentu saja. Aku pernah mengadukan semuanya pada Ibu. Aku mengatakannya sambil cemberut dan merajuk tidak akan mengaji lagi kalau sikap beliau masih sama. Namun, diluar dugaan, Ibu mengatakan kalau itu hanya bercanda. "Mungkin beliau suka melihatmu merajuk. Saat marah, sikapmu itu bikin gemas." Oke, aku mulai mengerti bagaimana nasibku kelak. Aku tidak akan memiliki seseorang yang akan mendukungku. All blame me and no body believe i am hurt. Aku pernah menangis, pernah mempertanyakan pada Tuhan, apakah aku diciptakan untuk disakiti dan dipandang rendah karena bentuk fisik aku yang berbeda dari Kak Syifa? Kenapa hanya karena tubuhku lebih pendek sepuluh centimeter dan memiliki kulit sawo matang aku dikatakan tidak cantik? Bukankah itu sama saja mereka mengatakan kalau Tuhan telah gagal dalam menciptakanku? Sementara dalam firman-Nya, Tuhan mengatakan kalau semua ciptaannya diciptakan dengan sempurna. Lalu, siapa yang gila di sini? Beliau yang tahu firman Tuhan tapi mengabaikannya, atau aku yang awam harus menyerah pada ucapannya yang salah? Iya, salah, karena aku sekarang sudah sadar. I am special and will always special. Aku berusaha bangkit. Dan, jika di Madrasah adalah tempat Kak Syifa bersinar, maka aku putuskan untuk bersinar di Sekolah. Aku belajar sangat keras, di sekolah dan di Rumah. Aku menghabiskan waktuku untuk membaca buku dan baru ke luar rumah saat mengaji dan saat teman satu kelasku yang kami beri nama 'grup rujak' yang beranggotakan kurang lebih delapan orang, memgadakan acara ngiwet bersama orang tua salah satu anggota kami. Iya, itulah kehidupanku pada masa itu. Aku merasakan kehidupan yang sesungguhnya bersama teman-temanku, tanpa takut akan dibanding-bandingkan atau dicap sebagai calon anak nakal. Karena di sana, aku berada jauh dari keberadaan Kak Syifa dan aku bebas menjadi diriku sendiri. Seorang gadis remaja yang energik bernama Kim. *** Kata orang, kita bebas mengeluarkan pendapat. Tapi, sebagai manusia yang memiliki akal, bukankah sudah kewajiban kita untuk mencerna kalimat yang kita ucapkan? Supaya kita tidak menyakiti orang lain. Karena, kita tidak pernah tahu, saat ucapan kita menyakiti orang lain akan menciptakan manusia baru seperti apa? Contohnya aku. Karena bully juga body shaming yang kudapatkan saat kecil, aku berubah menjadi gadis introvert. Memang tidak sepenuhnya karena aku masih bisa bergaul dengan beberapa teman sekelasku yang kuyakini memiliki visi misi sepertiku. Tapi... siapa yang tahu isi hatiku? Diam-diam, aku membentengi diri dengan membangun dua karakter diri. Ceria di depan umum, namun murung saat sendirian. Dan... satu-satunya pelampiasan saat itu adalah buku. Dengan belajar, aku bisa membuktikan sekaligus membungkam ucapan yang merendahkanku. Aku, yang katanya calon anak nakal ini lulus dengan nilai tertinggi ketiga. Itu hanya awal perjuangan. Kukira, masa kelam itu tidak akan terulang lagi setelah bertemu Raga. Dia pernah berjanji akan menyayangiku, setia dan akan melakukan apa pun asalkan aku bahagia. Tapi, semua itu kebohongan. Raga yang katanya tidak terbebani oleh sifat malasku yang kadang jarang membersihkan rumah, karena terlalu lelah menjaga anak-anak dan sibuk berjualan, nyatanya hanya omong kosong. Dia diam-diam menginginkan sosok istri yang sempurna. Bisa menghasilkan uang, bersih, cantik dan muda. Dan... ngomong-ngomong masalah muda, kukira aku sudah terlalu muda untuknya yang sudah berumur hampir kepala lima. Tapi... nyatanya itu hanya perasaanku saja. Dia menginginkan gadis yang lebih muda. "Jangan terlalu larut dalam masalah. Segera bangkit. Buktikan semua yang dituduhkan Raga itu tidak benar." Kakak-kakakku memberi nasihat. Iya, aku tahu maksud mereka baik. Aku juga ingin melakukannya karena sudah jengah dengan kelakuanku sendiri. Selalu merasa rendah diri dan tidak percaya lagi akan sebuah komitmen. Tapi... semuanya butuh proses. Terutama untuk mengembalikan kepercayaan diriku yang saat ini benar-benar berada di tirik terendah. Pernah memiliki riwayat bully yang mengarah pada bosy shaming, kemudian harus mendengar Raga mengatakan alasan dia melakukan pendekatan pada gadis mahasiswa itu karena cantik. Lagi dan lagi, semua orang memandangku karena kecantikan fisik yang sialannya tidak kumiliki. Aku tidak terlahir memiliki tubuh tinggi bak model, ditambah lagi aku sudah pernah melahirkan sebanyak tiga kali. Maka, sangat muatahil bagiku bisa menandingi kecantikan gadis pujaan Raga yang masih berusia sembilan belas tahun. Kecuali, aku melalukan perawatan seperti yang dilakukan artis. Tidak mudah bagiku melupakan semuanya, setelah semua yang kulalui. Luka yang ditorehkan Raga semakin memperdalam luka lamaku. Dan, untuk menyembuhkannya butuh waktu dan tentu saja bimbingan dari ahlinya. Psikiater. Aku sudah bertanya mengenai psikater pada salah satu teman f*******: yang mengalami gangguan sepertiku. Insomnia dan memiliki riwayat pernah ingin bunuh diri sepertiku. Tidak hanya itu, aku juga mulai berdiskusi mengenai penyakit kami. Hasilnya aku memang harus mencari psikiater. Karena kondisi kejiwaanku yang mulai tidak stabil. Kupandangi langit sore, di sana aku melihat cahaya jingga yang sangat indah. Mengingatkanku pada suasana pantai di depan rumah mendiang Ibu. Suasana yang sangat kurindukan, karena merupakan salah satu kenangan terindah semasa kecil. Di sana, aku mengalami semua yang orang lain rasakan. Cinta pertama, kehangatan keluarga dan kesedihan. Aku masih duduk diberanda depan. Bersantai di sore hari sambil melihat anak-anak bermain. Hal yang menjadi rutinitas baru, karena sebelumnya setiap sore aku akan sibuk di dapur untuk membuat adonan. Baru sekarang, setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk beristirahat. Menikmati hidup tanpa harus menanggung beban yang berat. Biarlah, sekarang semuanya kuserahkan pada Raga. Supaya dia tahu, sebesar apa pengaruhku pada kehidupan kami selama ini. Dia harus tahu dan sadar telah menyia-nyiakan aku demi gadis ingusan yang hanya memanfaatkan uangnya. Harusnya aku behagia melihat Raga capek dan kelelahan seperti itu. Tapi, entah kenapa hatiku justru malah berkata lain. Bukan kasihan atau ingin membantunya. Tapi aku merasakan ada gumpalan awan hitam di hatiku melihat pemandangan itu. Gumpalan awan hitam yang berasal dari emosi dan kebencian. Andai saja perempuan itu tidak hadir dan andai Raga bisa setia, kehidupan kami pasti tidak akan kacau seperti sekarang. Kami pasti masih bekerja sama membangun keluarga kecil kami seperti sebelumnya. Bukan saling melempar tuduhan dan saling membenci seperti sekarang. Hidupku hancur. Tidak, bukan hanya aku, anak-anak juga pasti merasakan yang sama denganku. Mereka tidak lagi merasakan kasih sayang utuh dari kami. Karena kami terlalu sibuk saling menyalahkan satu sama lain. Raga kekeh menganggap kegilaannya sebagai ibadah sodakoh dan merasa mampu berpoligami ditengah ekonomi kami yang pas-pasan. Sementara aku, sibuk memikirkan rasa sakit yang semakin hari semakin bertambah seiring kalimat kejujuran yang Raga ucapkan. Seperti pengakuannya kemarin, dia ternyata pernah mengirim uang lima ratus ribu rupiah pada gadis itu. Dan aku yakin, itu bukan kejujuran sepenuhnya. Raga pasti menyimpan rahasia dariku. [] ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN