"Kamu jahat! Kenapa kamu tega melakukan ini padaku?" Aku tidak bisa lagi menahan amarahku. Rasa cemburu membuat hatiku hancur, dan tentu saja istri mana yang akan diam saja mengetahui alasan suami tetap berada di sampingnya hanya karena kewajiban. Catat! Kewajiban!
"Kamu tahu, Pah? Dulu, aku sangat bersyukur memiliki suami sepertimu. Kau tipe lelaki yang tidak pernah malu membantuku di dapur. Kamu juga selalu mengajak anak-anak main. Tapi...," sebelum kulanjutkan kalimatku, aku memberanikan diri memandang wajahnya. Wajahnya yang tampak berantakan dengan kumis dan janggut yang dibiarkan panjang tak terurus, serta rambut panjang yang mulai ditumbuhi uban. Siapa sangka, dengan penampilan ala kadarnya seperti itu, dia ternyata sedang melakukan pendekatan dengan gadis berstatus mahasiswa. Sesuatu yang dianggap mustahil karena kuyakin penampilannya sama sekali tidak akan membuat gadis mana pun tertarik. Kecuali satu, Raga memberi sesuatu yang diinginkan gadis itu. Tentu saja, siapa pun pasti akan menyukai uang. Karena untuk sebagian orang, uang adalah segalanya.
"Sekarang, setelah mengetahui alasan Papa melakukannya karena sebatas kewajiban, aku jadi mengerti di mana posisiku. Terima kasih karena sudah menambah luka masa laluku." Aku tidak mampu menahan air mataku. Sakit sekali rasanya. Tanpa sadar, aku mulai berceloteh, mengabsen satu-per satu luka yang kualami semasa kanak-kanak. Kehilangan sosok diusia dua belas tahun, mengalami body shaming dari teman-teman dan guru ngajiku, serta dianaktirikan oleh ibu kandung sendiri.
"B-bukan gitu maksudnya, Ma. Papa kan sudah bilang itu hanya coba-coba...."
"Berhenti mengatakan kata 'coba-coba'! Aku muak mendengarnya!" Aku menatap Raga dengan tatapan kesal. Tidak bisakah dia sedikit peka terhadap perasaanku? Kenapa pula selalu mengatakan kalimat yang sama untuk tindakan selingkuhnya. Coba-coba katanya? Dia pikir pernikahan itu baju? Sebelum dibeli, pembeli boleh mencobanya di kamar pas. Kalau cocok langsung beli, sedang kalau tidak, pembeli bisa menyimpan kembali ke tempat semula.
Raga yang alim, yang katanya pernah mengenyam pendidikan di pesantren selama tiga tahun. Harusnya, untuk seorang yang alim, dia bisa mengetahui hukum pernikahan, termasuk poligami. Rukun dan syaratnya sungguh berat. Bukan hanya sekadar menambah istri lalu fokus pada kegiatan ibadah di atas ranjang.
Pernikahan itu sakral. Bukan permainan dan tidak boleh dijadikan ajang percobaan. Termasuk poligami yang hanya dibolehkan untuk orang-orang tertentu. Hanya bagi laki-laki yang mampu. Bukan lelaki seperti Raga yang tidak memiliki satu pun kriteria. Penghasilan masih pas-pasan dan cenderung kurang. Vitalitas tubuh yang tidak perlu diragukan lagi kelemahannya, mengingat umurnya yang sudah menginjak kepala lima. Jangankan melayani gadis usia belia seperti gadis pujaannya, melayaniku saja sudah sering kelelahan.
"Asal Papa tahu, aku sama sekali tidak percaya dengan ucapan Papa. Aku tidak yakin Papa sudah mengatakan semuanya dengan jujur. Mata Papa tidak bisa bohong. Papa masih menyimpan kebohongan dariku. Dan, seperti janji Papa kemarin bahwa Papa berani menanggung semua karma buruk dari Tuhan, akan aku aminkan. Semoga Papa benar-benar jujur sehingga aku tidak perlu menyaksikan kesedihan dari wajah Papa," kataku sembari berlalu. Tadinya aku berniat meninggalkan Raga dan kembali ke kamar. Namun urung saat Raga mulai mengeluarkan sifat aslinya. Mengeluarkan kalimat kasar yang kini sudah menular padaku.
"Siapa yang bohong? Jangan asal nuduh deh. Mata Papa memang sudah begini dari lahir!" suara Raga naik satu oktaf. Wajah lelahnya berubah jadi sangar. "Lagian kenapa kalau poligami? Agama saja memperbolehkan. Yang penting Papa ngasih nafkah Mama."
Langkahku terhenti, lalu mendelik kaget. "A-apa? Menafkahi?" aku mengulang kalimat Raga sambil menatap lelaki yang berstatus suami dengan tatapan dingin. "Menafkahi yang bagaimana? Kamu membiarkan aku begadang, untuk supaya bisa berjualan. Kamu bahkan tahu, aku membuat adonan dan masak sambil memberi asi bayi kita. Aku kurang tidur. Aku melakukan semua itu demi membantu meringankan beban Papa membayar cicilan rumah kita dan juga membayar biaya sekolah Kakak. Tapi apa? Papa diam-diam berbohong, mengatakan gaji hanya cukup untuk membayar cicilan rumah dan menyelipkan sisanya supaya bisa memanjakan gadis pujaan Papa."
"Papa lebih paham agama, coba Papa pikirkan, apa tindakan Papa itu termasuk dzolim atau tidak?"
Raga menatapku bengis. "Mama kenapa sih selalu ngomongin jualan. Kenapa? Nggak ikhlas bantu Papa? Lagian asal Mama tahu, Papa juga punya hak atas gaji Papa. Terserah Papa mau ngasih siapa saja. Termasuk dia. Dia itu orang tuanya baru saja bercerai dan toko baju ibunya sedang sepi. Apa salahnya Papa ngasih bantuan ke dia?" Raga tidak mau mengalah dan mengakui perbuatannya. Sebaliknya dia mulai mencari pembenaran dari sikapnya. Menamakan aksinya sebagai ibadah sodakoh.
Aku mengelus dadaku, masih berusaha mengatur emosi. Namun sekuat apa pun berusaha, amarah tetap berhasil menguasaiku. Berbarengan dengan bisikan-bisikan menyesatkan yang beberapa hari selalu hadir saat aku down. menjadikanku seperti pengidap mental ilness.
"Dengarlah! Sebegitu tidak berharganya dirimu di mata dia. Sampai-sampai nilaimu berada dibawah gadis itu."
"Raga lebih khawatir pada gadis itu dibanding dirimu. Jadi, kau tahu posisimu sekarang?"
"Kau hanya perempuan yang kebetulan dinikahi Raga sehingga lelaki itu punya kewajiban membantumu. Bukan perempuan yang dicintainya."
Bisikan itu datang lagi, dan aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Apa Papa mencintaiku? Jawab jujur." suaraku setengah berbisik. Dalam kepalaku, bisikan itu terasa semakin nyata.
"Papa sayang sama Mama."
Setelah itu, aku tidak bisa menahannya lagi. Ketenangan dan berusaha kubangun sirna, digantikan oleh emosi dan amarah. Dan... detik selanjutnya, tanganku sudah berada di d**a Raga. Kucakar lelaki itu dengan sangat brutal hingga meninggalkan bekas.
"Kau jahat! Kenapa kau melakukan itu? Kenapa, Pa? Apa salahku?" Aku berteriak. Suaraku naik setengah oktaf. Anak-anak pun teebangun dan berdatangan ke ruang tengah. Dengan wajah bantalnya, mereka menyaksikan diriku bertengkar dengan Raga.
"Mama kenapa? Mama...," Kris ikut menangis menyaksikan kedua tanganku dikunci oleh tangan Raga. "Pah, lepasin Mama!"
"Kamu lihat! Karena keegoisanmu yang selalu mengingat-ingat kesalahnku, kau jadi mengganggu tidur anak-anak. Mikir dong, Ma. Kamu itu harusnya dewasa, jangan egois seperti ini." Raga mulai berulah lagi. Kembali ke sifat asalnya. Mengklaim dirinya paling benar lalu menyalahkanku.
Hatiku sakit, kecewa dan marah. Tega-teganya Raga mengatakan itu padaku. "Kamu bilang apa? Aku egois? Lalu Papa apa?" Aku berusaha melepaskan cengkraman tangan Raga. Berulang kali. Namun, semuanya sia-sia. Tenaga Raga begitu kuat.
"Aku nggak mungkin kayak gini kalau kamu nggak berulah. Kamu tahu masalaluku kan? Aku tidak suka dibohongi apalagi dibanding-banding dengan gadis sialan itu! Dan... apa kamu bilang, aku egois? Lalu apa panggilan untuk gadis sialan yang berani meminta uang pada suami orang perempuan lain? Pelakor atau penipu?" Aku semakin histeris saat Raga memilih bungkam ketimbang menjawab pertanyaanku. Dia seperti enggan berkata buruk tentang gadis itu. Namun dengan gampang memponis istrinya egois, tidak bersyukur dan masih banyak lagi yang dia lontarkan setelah kami menikah. Terutama tiga tahun terakhir. Mulutnya hanya manis di awal pernikahan saja, selanjutnya dia lebih sering melontarkan kalimat pedas. Mudah memponis diriku berdosa setiap kali aku membantah ucapannya. Seperti halnya ketika mudik lebaran, dia hanya memperbolehkan aku menginap di rumah ibu selama satu malam. Lalu, dia akan mengajak pulang apa pun kondisinya. Jika aku membantah, dia akan mengatakan satu kalimat yang selalu menjadi senjatanya. "Kau harus nurut sama aku. Ingat, keridhoanku adalah pintu surga untukmu."
Kututup mataku. Bayangan itu memang luar biasa memberi pengaruh buruk untukku. Semakin membuat emosiku naik dan siap meluluh lantahkan apa pun yang ada di hadapanku.
"Mama pikir, hanya Mama saja yang punya alasan? Papa selingkuh juga karena Mama. Kalau Mama sempurna, Papa juga nggak bakalan nyari kesenangan di luar!"
Duar!!!
Ucapan Raga laksana korek api yang dilemparkan ke arah bensin. Aku yang sudah dikuasai amarah teraulut oleh ucapan Raga yang lagi-lagi menyudutkan aku.
Bukan! Aku tahu aku banyak kekurangan. Tapi, menyalahkan kekurangan sebagai alasan berselingkuh juga bukan jawaban yang tepat.
"Tapi memang benar kan? Dari dulu kau memang banyak kekurangan. Makannya semua orang membencimu."
Bisikan itu lagi. Semakin aku menolak, kepalaku terasa semakin pening, dan seperti akan meledak.
"Kau benar, Pah. Aku memang banyak kekurangan. Aku memang tidak pantas dicintai. Aku terlalu buruk dan tidak ada gunanya hidup di dunia ini. Jadi kenapa aku tidak mati saja?" setelah mengatakan itu, aku langsung berlari menuju dapur. Mengambil pisau dan mengarahkannya ke leher, tepat di permukaan kulit urat nadi.
"Mama, mau ngapain kamu? Jangan konyol deh. Bunuh diri itu dosa! Raga berusaha meraih pisau dari tangannku. Sementara aku semakin mengeratkan genggaman. Lalu, kami pun terlibat pertengkaran hebat. Tanpa kami sadari, anak-anak berada di depan kami. Menyaksikan kami sambil menangis.
"Papa... lepasin Mama! Kasihan Mama!" Kris kembali bersuara. Sementara Kakak, dia kembali ke kamar untuk menenangkan adik bayi.
"Kalian pergi ke kamar. Jagain dedek. Papa harus jagain Mama dulu," kata Raga dan langsung mendapat anggukan dari anak-anak.
"Mama kira Papa nggak bisa kasar? Mama itu harusnya sadar, Papa ngasih uang ke dia itu cuma sedikit. Papa ngasih ke Mama lebih banyak. Papa beliin rumah, Papa kasih Mama makan. Kenapa harus iri sama rezeki dia?"
Aku tidak bisa menahan tangis. "Karena dia tidak ada hak apa pun dari rezeki Papa. Papa ngasih dia uang segitu cuma buat dia jajan. Sementara aku? Aku istrimu, sudah kewajibanmu menafkahi." Aku masih berusaha melepaskan cengkraman Raga. Namun sia-sia. Lebih parahnya, Raga menjedotkan keningnya ke keningku. Dan... ketika aku tetap memberontak sambil mengumpat nama gadis pujaannya. Raga hilang kendali. Dia menampar wajah dan kepalaku sebanyak tiga kali. Tamparan yang sangat kasar namun anehnya tidak sakit sama sekali. Yang kurasakan hanya kekosongan di dalam hatiku.
Raga, lelaki yang kunikahi lebih memilih menampar aku karena tidak terima gadisnya kusumpahi. Satu detik selanjutnya, perasaan yang kubangun selama sembilan tahun pun hilang. Digantikan oleh perasaan kecewa, sakit hati, dan juga luka memar di pipi.
Semuanya sudah berakhir. Raga tidak lagi mencintaiku. Dan, aku juga membencinya. Sangat. Hingga membuat dadaku bergemuruh setiap kali menyebut dan mengingat kenangan kami. []
***