Aku duduk termenung sendirian di dalam kamar. Sengaja mengunci diri setelah menyerahkan bayi kecilku untuk diasuh oleh Raga di halaman. Berjemur sembari menemani kedua kakak lelakinya bermain bola.
Kudengar tawa mereka bersamaan dengan derap langkah kaki dan suara bola bergelinding di atas aspal. Semuanya bersatu membentuk sebuah harmoni yang ketika sampai di telingaku, itu terdengar seperti nyanyian malaikat kematian. Terdengar menyakitkan karena pada detik selanjutnya aku seperti digiring pada lembah berisi kenangan buruk sejak aku kecil hingga sekarang yang merupakan titik terendahku.
Sebelum bayangan itu menguasaiku, aku buru-buru beranjak. Menyudahi sesi mengintip ke luar halaman dari balik jendela, lalu berusaha menyibukkan diri dengan membaca. Kebetulan, sebelum badai datang, aku sempat membeli lima buku dari salah satu teman di f*******:. Buku lama namun masih bersegel dengan harga diskon hampir lima puluh persen. Sesuatu yang amat kusukai ketimbang berburu diskon baju di mall yang harganya selalu di atas harga normal buku.
Kubuka laci meja kerjaku, meraih buku secara acak, kemudian membuka segel dan membaca buku itu dengan perasaan tidak nyaman. Iya, semenjak kejadian kemarin, sepertinya efek sakit hati telah memberi efek buruk padaku. Aku tidak bisa menikmati isi buku seperti biasanya. Sebaliknya, semua buku yang k****a terasa hambar dan tidak ada satu pun yang masuk ke kepalaku.
Ada banyak hal yang mengganggu pikiranku tiga hari belakangan ini, selain penghianatan Raga tentunya. Seperti aku yang mulai kehilangan kendali dalam mengontrol emosi sehingga mengalami perubahan sikap yang selalu berubah-ubah dalam waktu singkat. Sering mengumpat dan menggunakan kalimat kasar. Mengabaikan tugasku sebagai ibu yang baik, karena aku terlalu sibuk memikirkan luka sendiri. Serta kehilangan rasa empati karena tanpa kusadari pikiranku sudah dipenuhi hal negatif. Setiap kali ada orang lain meminta tolong, dalam pikiranku, selalu datang rasa curiga. Orang ini akan seperti ini lah, seperti itulah, dan berakhir dengan membiarkan orang itu pergi.
Sungguh... itu semua membuatku semakin tertekan dan merasa kalau aku benar-benar manusia buruk yang sangat pantas mendapat penghianatan dari Raga. Sudah bentuk tubuh banyak yang banyak berubah semenjak melahirkan anak ketiga, dari segi akhlak juga ternyata tidak ada bagus-bagusnya. Seperti yang 'mereka' bisikan padaku.
"Kau ditakdirkan untuk disakiti dan menjadi orang tidak berguna."
Kututup telingaku rapat-rapat. Berusaha menghalau bisikan itu, yang selalu muncul saat kondisi batinku mulai melemah. Saat aku merasa hina dan kehilangan kepercayaan diri seperti sekarang.
Kulafalkan doa serta sholawat sebisa mungkin. "Aku kuat! Aku sehat! Aku bukan orang gila!" Pikiranku yang mulai kacau mulai memikirkan kondisiku yang mungkin sudah mendekati kata gila.
"Cukup!"
Aku buru-buru bangkit. Memutuskan untul ke luar dan bergabung bersama anak-anak. Menyendiri memang bukan pilihan terbaik untuk kondisiku sekarang. Otak dan pikiranku bisa semakin kacau dan mungkin statusku sebagai manusia waras akan benar-benar ganti menjadi tidak waras.
Sesampainya di luar, aku langsung meraih bayi kecilku dari Raga. "Mau mimi?"
"Iya deh kayaknya, Ma. Dia ngantuk tuh," timpal Raga dengan nada seperti biasa, seolah diantara kami tidak pernah terjadi perkelahian. Tidak mau menghiraukan itu, aku buru-buru kembali ke kamar. Menyusuinya hingga terlelap.
***
Lama berpikir, kuputuskan untuk berbicara empat mata dengan Raga. Dan, malam adalah waktu yang tepat. Mengingat anak-anak sudah tidur. Aku akan mengajak Raga mengobrol sambil membuat adonan cilok goang. Obrolan ringan yang kuharapkan bisa menjadi pencerahan. Apakah aku bisa memaafkan Raga atau justru sebaliknya. Tapi, kalau boleh jujur, aku ingin kami baik-baik saja. Aku berharap hubungan Raga dengan gadis itu tidak sejauh seperti yang kubayangkan. Maka, kali ini aku bertekad, akan berusaha membuat Raga jujur supaya praduga itu hilang. Kebetulan, tadi siang aku sempat mengobrol dengan Kak Meli dan mendapat beberapa nasihat dadinya.
"Papa beneran mau kita bersama lagi?" aku yang sudah mendapat wejangan dari Kak Meli, berusaha membuang ego dengan berdamai. Lebih tepatnya, berusaha memberi Raga kesempatan untuk membuktikan ucapannya.
Raga mengangguk. "Tentu saja. Kalau tidak, ngapain Papa masih di sini?" dia menjawab dengan lugas, namun raut wajahnya tidak mampu menyembunyikan rasa lelahnya. Tentu saja, semenjak kejadian itu, aku tidak lagi berjualan. Maksudku tetap berjualan, tapi semua proses kuserahkan semuanya pada Raga. Mulai dari membuat adonan sampai proses memasak. Memedulikan bagaimana hasilnya nanti, mau enak atau tidak?
Sebagai pedagang tentu aku sangat menghawatirkan respon pembeli. Ada ketakutan akan mengalami penurunan omset karena rasa masakan Raga tidak sama dengan hasil masakanku. Memikirkan itu, jiwa bisnisku seketika menjerit. Tidak rela jika konsumen kecewa dan sesuatu yang buruk terjadi pada masa depan bisnisku. Aku tidak bisa kehilangan para pelangganku yang sudah pastor akan berimbas pada penghasilanku.
Aku sebenarnya tidak tega melihat Raga kelelahan. Aku ingin membantunya. Tapi urung, karena aku sudah bertekad tidak akan membantu Raga mencari nafkah lagi. Mau memberinya pelajaran, supaya tahu dan sadar kalau dia belum mampu berpoligami.
"Kalau gitu Papa nggak keberatan dong kalau kita pergi ke notaris? Sebelumnya Papa pernah bilang mau ngasih semua aset atas namaku. Maaf, bukannya aku matre, tapi untuk jaga-jaga saja. Dari dulu, saat susah Papa memang setia, tapi begitu dapat rezeki lebih Papa langsung kepincut gadis lain kan? Aku ingin mengamankan aset kita atas nama anak-anak," kataku. Aku membuang muka dan pura-pura sibuk menonton televisi saat Raga menampilkan reaksi terkejut.
"Boleh aja. Tapi kan Papa lagi nggak megang duit, Ma." Raga memberika ekspresi lelah. Namun tidak kuhiraukan karena semakin aku memandangnya, aku akan semakin tidak tega untuk memberinya pelajaran. Sekarang, aku hanya akan fokus untuk membuatnya jujur. Berusaha mengatur emosi dan bersikap sekalem mungkin.
"Tenang aja lah, Pah. Kita kan datang buat konsultasi dulu. Kalau cocok biasanya baru ngobrolin tarif. Lagi pula, sebentar lagi Papa mau dapat uang kan?" Aku mulai menyinggung uang sisa pembayaran penjualan warisan dari mendiang orang tua Raga. Uang yang kuanggap panas karena menjadi penyebab Raga lupa diri.
"Iya, tapi kan itu uang mau langsung dipake buat bayar sisa pembayar rumah baru kita. Malah masih kurang sekitar puluhan juta. Papa juga bingung mau lunasin dari mana? Kemungkinan kita over booking rumah ini deh. Nggak apa-apa kan?" Raga mulai lunak. Mulai meminta pendapatku. Dan, kurasa ini ini waktuku untuk mewawancarai dia.
"Aku sih penginnya nggak dijual, Pah. Tadinya rumah ini mau tak jadikan kontrakan, lumayan hitung-hitung nabung. Kalau nabung di bank kan suka diambilin terus." Aku mulai menyinggung bank dan kulihat Raga mulai tegang. Tapi, jangan anggap aku remeh. Kali ini aku tidak akan bertindak kasar atau barbar.
"Tapi... lihat nanti aja deh. Pak Haji kan udah deal kita boleh nyicil perbulan. Kita juga sudah sepakat mau tetap mempertahankan rumah ini. Bismillah aja deh, semoga Allah memberi kemudahan," kataku. Raga ikut menganggukkan kepala. Wajahnya sudah mulai terlihat santai.
Kutarik nafasku. Lalu, "Oh iya, kalau Papa janji mau balikan, aku penginnya Papa jujur. Aku nggak mau pas kita udah rukun lagi, tiba-tiba aku menemukan kebohongan lagi. Lebih baik sakitnya sekali ini saja, tapi nanti kita rukun selamanya." Aku berusaha mati-matian mengatur nada suaraku sedatar mungkin. "Papa mau kan jujur sama aku? Demi masa depan kita."
Raga tidak langsung menjawab. Kulihat lelaki setengah baya itu mulai menghela nafas lelah. Matanya melihat ke arahku sekilas, lalu dengan suara beratnya dia mulai membuka suara. "Sebenarnya Papa hanya coba-coba saja, coba-coba siapa tahu dia mau dijadikan istri kedua Papa."
"Maksudnya?"
"Papa tertarik sama dia dan...," Raga tidak melanjutkan ucapannya. Matanya melirik ke arahku, seolah ingin memastikan aku baik-baik saja menerima kejujurannya. Dan, seolah tidak ingin kehilangan moment penting ini, meski sakit hati, aku tetap berusaha santai. Lebih tepatnya berusaha mati-matian untuk mengontrol emosiku yang sebenarnya mulai menguap dan siap meledak.
"Papa pernah ngasih uang juga sebelumnya. Satu kali. Nggak pernah ngasih lagi kok. Kemarin yang terakhir kan keburu ketahuan sama Mama."
"Maksudnya kalau nggak ketahuan Papa bakalan ngasih uang lagi? Kok...."
"Ya, enggak. Papa justru bersyukur banget ketahuan sama Mama. Papa sebenarnya bingung pas dia minta uang. Nggak bisa nolak. Dan kalau ketahuan seperti sekarang Papa mau-nggak mau pasti nggak bakalan ngasih lagi kan?"
Aku memijit keningku yang mulai pening. Raga benar-benar tidak peka. Bagaimana dia masih bersikap biasa-biasa saja saat membicarakan gadis itu. Okay, itu memang keinginanku yang meminta Raga jujur. Tapi, kenapa dari sekian ekspresi, wajahnya tidak sedikit pun menampilkan gurat penyesalan?
"Sejak kapan kalian dekat?"
"Kalau nggak salah enam bulanan. Sejak dia lulus pokoknya."
Aku mulai menghitung tahun ajaran sekolah. Dari hasil pengamatanku, berdasarkan tahun ajaran Kakak, itu lebih dari satu semester. Berarti... mereka berhubungan sejak aku hamil? Bagaimana bisa?
Aku tak kuasa menahan tangis. Kenapa Raga setega itu sama aku? Bukankah saat itu dia tahu, aku sedang mengandung bayi perempuan yang sebelum hamil Raga sangat antusias sekali memintaku hamil karena menginginkan bayi perempuan.
"Jadi kalian sudah mulai dekat sejak aku hamil?" nada suaraku nyaris berbisik. Kepalaku sudah dipenuhi amarah dan hampir meledak. Kalau saja aku tidak mengingat perkataan Kak Meli, mungkin sekarang aku sudah mencakat Raga.
Tahan... tarik nafas.
"Kayaknya sih gitu," Raga nyengir. "Tapi kan cuma sms-an saja, Ma. Nggak lebih kok. Papa masih tahu batasan." Sekali lagi, Raga dan teorinya, sukses membuat kepalaku pening. Kenapa isi kepalanya semakin ngawur saja? Tahu batasan katanya?
Aku masih berusaha bersikap santai. Setidaknya sampai aku tahu alasan Raga bersikap bak suami siaga di depanku. "Saat itu, jika aku tidak salah, Papa tidak pernah menunjukkan gelagat sedang tertarik dan dekat dengan gadis lain. Papa masih membantuku mencuci dan menyuapi anak-anak saat aku sibuk masak atau menyusui adek. Kenapa? Apa posisiku bagi Papa saat itu?"
"Mama adalah tanggung jawab Papa. Papa istri Papa jadi harus Papa bantu sebisa mungkin. Sementara, dia adalah harapan Papa. Papa berusaha memberikan apa yang dia inginkan dengan harapan mau menerima pinangan Papa."[]
***