Chapter 10

960 Kata
Aku terpaku menatap pantulan wajahku di cermin. Wajah kusam dengan mata bengkak menjadi pemandangan mengerikan di pagi hari. Ini semua gara-gara aku menangis semalaman. Dan, tentu saja penyebabnya adalah dua makhluk manusia bernama Raga dan gadis ikan. Aku masih mengingat, bahkan sengaja mengabadikan isi pesan Raga pada gadis itu dengan cara meng-screen shoot. Untuk jaga-jaga, siapa tahu kemungkinan terburuk terjadi pada pernikahan kami. Aku butuh itu untuk bukti di perdidangan. Semalam, aku mengambil ponsel Raga. Lalu berusaha mengorek informasi mengenai hubungan mereka. Tapi, nihil. Aku tidak menemukan chat lain karena semua pesan sudah dihapus, termasuk pesan yang pernah tertangkap tangan olehku. Tak mau berdiam diri, kuputuskan untuk mengirim pesan terlebih dahulu pada kontak gadis itu. Lewat akun f*******: Raga yang secara otomatis sudah bisa masuk tanpa harus memasukan kata sandi. [P...] [Bapak, ihhh... minta uang.] Gadis itu langsung menjawab dengan rengekannya. Meminta uang. Dari sana, setelah membaca pesan itu, bisa kusimpulkan kalau hubungan mereka memang bukan hubungan antara guru dan murid. Aku menarik nafas, berusaha mati-matian untuk mengontrol emosiku sembari memikirkan jenis bahasa apa yang harus kugunakan untuk membalas pesan itu. Supaya gadis itu tidak curiga, dan dengan sendirinya mengakui sejauh mana hubungan mereka. [Bapak ihhh...] Gadis itu kembali mengirim pesan sebelum aku sempat membalasnya. Bagaimana ini? Kubalas dengan bahasa Raga yang biasa atau...? [Berapa?] [Dua ratus ribu. Buat ongkos ke Tasik.] Aku tidak langsung menjawab. Pikiranku berkelana, mencoba mengingat-ingat pengakuan Raga kemarin. Gadis pujaannya itu tinggal di Jakarta. [Takut ketahuan istri.] Kubalas pesan itu dengan isi sedikit menyinggung diriku. Siapa tahu Raga tidak pernah mengatakan memiliki istri. Tapi, mustahil juga karena Raga sering mengajak anak-anak ke sekolah. Jadi, sangat mustahil dia tidak tahu kalau Raga tidak beristri. [Ya cari cara apa kek gitu. Cari alasan.] [Tapi kan ATM nya dipegang semua oleh istri. Gimana dong?] [Nggak usah pake ATM. Besok deh langsung kasih sambil ketemuan di pondok ya?] Amarahku mendidih membaca pesan itu. Jadi sejauh itu hubungan mereka. Gadis itu yang dianggap Raga lebih baik dariku ternyata ular berbisa yang merayu Raga untuk berbohong dan menghianatiku. Aku penasaran. Apakah mereka hanya sebatas chatting atau pernah ketemuan. Karena setahuku, tidak ada yang gratis di dunia ini. Dan, bisa kulihat tadi. Hanya demi uang dua ratus ribu rupiah saja gadis itu sudah mengajak ketemuan. Jangan-jangan.... Kubalas kembali pesan itu, tidak peduli dengan kedatangan Raga yang saat saat mengecek facebooknya langsung menghapus semua pesan-pesan itu. Berdalih semuanya sudah berakhir. Raga tidak akan menghubungi gadis itu lagi. Tapi bodohnya tidak pernah menjelaskan apa pun pada gadis sialan itu. Seperti mengatakan hubungan mereka cukup sampai di sini. Tidak mau menyakitiku lebih jauh dan meminta gadis itu tidak menghubunginya lagi. Sebagai istri yang sudah sihianati, tentu aku akan berpikir negatif. Raga bisa saja menghubungi gadis itu lagi. "Kamu pasti memberikan dia uang lebih dari satu kali kan? Jangan bohong! Aku tahu matamu mengatakan itu," Aku kembali mencecar Raga dengan pertanyaan. Pedih dan sakit sekali rasanya harus mendapat penghianatan darinya. Tentu saja. Kami sudah lama menikah dan hidup bersama. Aku sangat memercayai lelaki berstatus suamiku. Menemaninya dari nol, hingga sekarang, bahkan tidak segan menyampingkan waktu istirahatku hanya untuk memasak makanan untuk dijual di kantin. Aku ikhlas karena itu semua kulakukan demi masa depan dan kebahagiaan kami. Baru kemarin rasanya aku membahas tentang poligami bersama kakak iparku. Saat itu, dia berkunjung untuk mengantar makanan. Namun, seperti biasa, saat kami sama-sama tidak sibuk, kami akan berbincang untuk membahas beberapa judul berita yang viral di televisi. Seperti saat itu, kami berbincang membahas kisah 'layangan putus' yang disinyalir merupakan kisah nyata dari seorang dokter hewan yang ditinggal kawin suaminya. Saat itu, dengan hanya membaca kisahnya saja, aku sudah kebakaran jenggot. Tidak mampu membayangkan rasa sakit yang tengah dirasakan pemilik cerita layangan putus. Aku berkomentar pedas dan kuyakin Raga juga mendengarnya. "Aku sih gak apa Raga kawin lagi, asal ke luar dari rumah cuma pake kolor dan tinggal di kontrakan serta makan gaji seratus ribu saja," kelakarku yang langsung mengundang gelak tawa kakak iparku. "Jangan bercanda. Mataku tidak mengatakan apa-apa. Mataku seperti biasanya dan gak ada hubungannya dengan uang yang sudah kuberikan pada dia," Raga tetap bebal, berusaha membela dirinya. Namun, itu sia-sia. Karena pada detik selanjutnya aku berhasil melemparkan sebuah pertanyaan yang membuatnya langsung mati kutu. "Aku ingin kamu berjanji atas nama anak-anak. Katakan kalau kamu tidak sedang berbohong atau karma akan datang melalui anak-anak." Aku yakin aku sudah mulai gila dengan menyeret anak-anak ke dalam masalah kami. Tapi, semua terpaksa kulakukan untuk mengetahui sejauh mana kejujuran Raga. "Jangan bawa anak-anak ke dalam masalah. Biar aku yang menanggung semuanya. Aku siap menanggung karma buruk," Raga menunjuk dirinya sendiri. Ada gurat kesedihan di wajahnya. "Aku hanya sekali memberinya uang. Percayalah...." Kupandang Raga, matanya, dan semua masih terlihat sama. Ada kebohongan. Dan, apa katanya tadi? Bersedia menangggung karma? Kalau tidak ada apa-apa, kenapa harus takut? Kalau dia jujur, bukannya karma buruk itu tidak akan datang? "Papa sama aja. Papa nggak pernah berubah. Berusaha melindungi gadis itu dengan menjadikan dirimu tameng," kataku sambil berlalu. Pergi ke kamar dan menyendiri di sana. Tidak peduli kalau di luar sana, adonan masih terbengkalai. Belum aku apa-apakan. Biarlah malam ini Raga yang menyeleaikannya. Toh, dia sendiri yang bilang kalau alasan dia memberi uang pada gadis itu untuk sedekah. Lalu, kenapa sekarang dia tidak bersedekah tenaga untukku? Di dalam kamar, aku termenung. Memikirkan bagaimana kondisi anak-anak setelah melihatku kacau dan nyaris seperti orang gila. Kupandangi bayi kecilku. Dia begitu cantik dengan kulit putih dan iris mata kuning tembaga. Dia adalah impian Raga. Lelaki empat puluh delapan tahun itu membujukku untuk hamil lagi karena menginginkan bayi perempuan. Rela menggantikan tugasku mencuci dan mengasuh anak-anak saat aku hamil dan mengalami pendarahan ringan. Kukira itu adalah bukti cintanya padaku. Tapi... dibalik itu, tanpa kucurigai, dia ternyata sedang dekat dan menjalin hubungan dengan gadis lain. Aku tidak mau mengatakan jenis hubungan mereka. Pacaran, teman tapi mesra, atau calon pasangan masa depan? Yang kutahu hanyalah mereka saling memberi keuntungan. Raga nyaman dengan kedekatan mereka dan sebagai imbalannya gadis itu meminta uang pada Raga. [] ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN