"Aku minta maaf, oke sebagai konsekuensi rumah bakalan papa kasih buat mama," Raga memohon padaku. Namun aku tidak peduli. Hatiku terlanjur sakit. Dan, apa katanya? Kenapa dia harus mengubah semua aset atas namaku kalau hubungan mereka hanya sebatas chating? Apa mungkin ada yang disembunyikan Raga dariku? Seperti hubungan mereka yang sudah jauh.
"Katakan padaku, apa Papa pernah ngasih uang sama dia?" Aku berusaha mati-matian untuk tidak memaki. Sumpah! Baru kali ini aku semarah ini dan nyaris kehilangan kontrol. Kata-kata makian sudah bergumul di dalam kepalaku, dan siap meledak.
Kulihat Raga mengambil nafas dan menghembuskannya kasar. Wajahnya tegang dan jika boleh kutebak dia seperti ketakutan. Reaksinya mirip orang sembelit yang tengah dikejat kuntilanak. Entahlah... sepertinya kepalaku sudah mulai tidak waras setiap kali berpikir tentang Raga.
"I-iya. Satu kali," katanya masih memasang wajah tegang. Kutatap matanya dan aku menemukan ada kebohongan di sana. Tatapannya berbeda, dari tatapan saat pertama kali kita menikah. Ada yang beda.
"B-berapa? Berapa kau memberi uang untuknya?" aku masih berusaha menahan emosiku, tapi sepertinya sia-sia. Amarah sudah menguasai diriku. "Katakan!"
Air mataku mengalir tanpa bisa kucegah. Sementara, sesuatu di dalam kepalaku, entah apa namanya, mulai membisikkan sesuatu padaku.
"Kau memang pantas dihianati."
"Kau itu jelek."
"Masih ingat bagaimana orang-orang memanggilmu hitam? Sepertinya itu bukan hanya candaan. Kau memang hitam dan jelek. Tidak akan ada orang yang mau bersamamu."
Aku merasakan kepalaku berputar bersamaan dengan suara-suara tawa dari alam lain yang terdengar seperti sedang mengejekku. Menggiring pikiriranku pada masa kecilku yang kelam. B-bayangan itu... terasa nyata.
"Hanya dua ratus ribu rupiah. Itu juga dari uang bonus. Papa rasa uang bonus dari diknas tidak halal makannya papa kasih buat bantu dia bayar kuliah."
Kalimat Raga membangunkanku dari alam bawah sadarku. Tapi hal itu tentu bukan sebuah kebaikan. Karena setelah itu, bisikan itu semakin mengomporiku untuk mengenang bullying yang kuterima saat kecil dulu. Dan, apa katanya tadi? Uang bonus dari dinas itu haram? Dasar sinting! Sepertinya selain ganjen, otak Raga juga sudah koslet. Harus diruqyah.
"Kau dutakdirkan untuk disakiti."
"Kenapa kau melakukan itu? Kenapa?" Aku berteriak. Dan secara ajaib bisikan itu langsung hilang. Namun, tentu itu tidak berlangsung lama. Saat emosiku memuncak, bisikan itu kembali hadir untuk menuntunku melakukan sesuatu pada Raga.
"Raga bukan suami yang baik. Lalukan sesuatu dan buat dia menyesal telah menyakitimu!"
"Itu tuh wajib. Itu zakat penghasilan papa," Raga menatapku berang. Dia menaikkan suaranya satu oktaf. "Mama itu harusnya bersyukur, Papa udah kasih semuanya buat Mama. Papa nyicilin rumah. Sementara dia, hanya dikasih sedikit." Raga tetap kekeh mengatakan aksi selingkuhnya sebagai sodakoh. Lalu, tanpa perasaan mengatakan aku tidak pandai bersyukur.
"Apa? Siapa yang tidak bersyukur? Aku ini bersyukur banget, Pa. Tapi bukan itu masalahnya. Kamu membelikan aku rumah itu karena kewajiban kamu sebagai suami. Sudah hakku mendapat nafkah dari kamu. Tapi, tidak untuk gadis itu. Siapanya kamu dia? Istri bukan, keluarga juga bukan." Aku berusaha menjelaskan posisiku dan posisi gadis sialan itu. Tapi, seperti pepatah 'cinta itu buta' Raga sama sekali tidak peduli. Bahkan tetap tega mengataiku istri yang tidak bersyukur saat aku menyinggung ponselku yang rusak. Butuh diperbaiki. Katanya, dia akan membelikan aku baterai ponsel baru seharga lima puluh ribu rupiah.
"Nggak usah ganti dengan beli yang baru, ingat selama menikah Mama sudah sering ganti hape. Nggak usah iri sama uang yang Papa berikan ke dia."
Tuhan... Apa aku seburuk itu hingga Raga tanpa beban mengatakan aku tidak bersyukur atas semua pemberiannya? Seolah kedudukan gadis sialan itu lebih baik dan dianggap bukan dosa meski sudah mengambil hakku.
Bukan. Bukan masalah nominal uang yang kupermasalahkan. Tapi kebohongan dibalik itu. Ketidakjujuran serta penghianatan Raga.
"Sejak kapan kalian berhubungan? Dan apa kamu yakin hanya memberikan dia uang sekali?"
"Ya... sudah lama. Tapi itu tidak penting. Yang penting Papa sudah minta maaf dan Papa janji tidak akan mengulanginya lagi," Raga berusaha meyakinkanku. Tapi aku tidak mau menghiraukannya. Karena aku melihat masih ada kebohongan di matanya. Raga tidak berani menatapku, kuanggap sebagai bukti untuk memperkuat feelingku.
Aku berteriak, mengumpat dan menangis secara bersamaan. Bayangan isi chatting mereka, wajah gadis di profil serta kalimat Raga yang mengatakan aku tidak bersyukur seperti bom waktu. Hampir meledak dan mungkin bisa menghancurkan kami.
Kupukul d**a Raga dengan tenaga yang tersisa. "Kau jahat, Pa! Bagaimana bisa kau mengatakan dia lebih baik ketimbang aku? Dan jika kau tidak lupa, aku di rumah tidak tinggal diam. Aku membantumu mencari uang, tapi tanpa rasa bersalah kamu memberikan uangmu pada perempuan lain."
"Katakan padaku, Papa tidak mungkin memberi dia uang kalau Papa tidak tertarik padanya."
"Ya... Papa memang tertarik." Raga menghela nafas, lalu menunduk.
"Apa yang membuat Papa tertarik padanya?"
"Dia cantik. Dan sebenarnya semenjak melihat dia di sekolah dulu, Papa memang langsung menyukainya."
Kepalaku pening. Pengakuan Raga barusan benar-benar membuatku hancur. Sebagai istri, aku merasa harga diriku sudah tidak ada lagi. Dibandingkan dan dianggap lebih buruk ketimbang gadis ingusan yang tidak memiliki tatakrama. Gadis yang tega menghancurkan hati sesama wanita.
"Dia memang lebih cantik darimu."
"Kau kalah dari segi apa pun."
"Lihat! Kulitmu kusam dan banyak noda, tubuhmu pendek dan sangat jauh dari kata proporsional. Kau... memang pantas dihina."
Bisikan itu datang. Semakin nyata. Dan, beberapa detik kemudian aku menyadari diriku sudah memukul dan mencakar Raga. Kalimat kasar yang tidak pernah terucap, ke luar tanpa sensor. Tidak peduli jika aksiku membuat anak-anak terbangun dan membuat mereka ikut histeris melihat tingkah gilaku. Mengamuk seperti orang kesetanan.
Kuambil pisau dari dapur, lalu kuletakan tepat di atas urat nadiku. "Papa tahu, aku benci dibanding-bandingkan. Papa juga tahu kan aku paling tidak suka dibohongi? Belum cukupkah pengorbanan yang aku berikan? Kenapa? Kenapa?"
Kulihat Raga mulai panik. "Iya, Papa minta maaf. Papa kerayu. Papa lupa. Tapi tolong jangan bunuh diri, itu dosa!" Raga menaikkan suaranya jadi satu oktaf. Diraihnya tanganku yang tengah memegang pisau. Berusaha mencegahku bunuh diri. Tapi, tentu saja itu tidak mudah. Amarahku memberiku kekuatan untuk melawan Raga. Kami saling menekan. Aku kekeh ingin memotong urat nadiku, sementara Raga ingin menahannya.
Kalap, Raga langsung membenturkan kepalanya ke kepalaku. Sangat keras. Sebanyak dua kali, hingga membuat benjolan sebesar buah salak di keningku. []
***