Chapter 8

1044 Kata
Aku tidak tahu harus berbuat apa? Memarahi Raga di depan kakak dan adiknya tentu bukan perkara baik. Aku bisa dicap sebagai istri tidak tahu tatakrama dan tidak tahu malu secara bersamaan. Tapi, membiarkannya begitu saja juga bukan perkara mudah untukku. Aku cemburu. Aku marah. Dan tidak suka melihatnya berkata manis pada perempuan lain disaat dirinya selalu bersikap datar padaku dengan alasan tidak bisa romantis. "Kenapa kamu melakukan ini padaku? Apa kekuranganku?" aku tidak tahan untuk mencecar Raga dengan pertanyaan. Tidak peduli di sana ada keluarganya. Biar tahu rasa. Mereka harus tahu kelakuan Raga. "Bukannya seminggu yang lalu kamu bilang nggak ada hubungan apa-apa dengan gadis itu? Tapi kenapa gadis itu masih menghubungimu untuk meminta uang? Dan... kamu juga mengganti nama kontaknya. Apa maksud semuanya? Katakan?" Aku menjerit, merasakan ada cerulit mengoyak dadaku dan berusaha mengambil jantungku. Lalu, tanpa bisa dicegah, meski jantungku masih utuh. Namun luka tetaplah luka. "Ada apa? Ngomong sama teteh kalau Raga macam-macam," kakak iparku datang melerai kami. Dia bertindak seolah pahlawan, namun tidak berani mencecar Raga atau memarahinya. Alasannya, Raga keras kepala dan tidak pernah mau menerima nasihat orang lain. "Teteh hanya bisa bilang 'sabar, ya, Neng.' Cobaan rumah tangga memang selalu ada." Brengsek!  Aku berusaha mati-matian untuk menahan emosiku. Kenapa memangnya kalau keras kepala? Harusnya sebagai kakak dia harus menegur adiknya yang salah. Sudah menjadi kewajibannya mengingatkan Raga saat berbuat salah. Kenapa takut? Kenapa kesannya mereka tidak mau ikut campur? Aku tidak mau bicara. Tetap diam, meski sekarang aku sudah berada di rumah Kak Sella. Sebaliknya, candaan dan pancaran kebahagiaan keluargaku malah membuat lukaku semakin menganga. Kenapa mereka bisa sebahagia itu? Apa aku terlalu banyak dosa hingga Tuhan mencabut kebahagiaanku? Aku menangis saat salah satu keponakanku mengeluarkan candaan. Sebuah candaan yang biasanya akan membuat suasana semakin ramai, mengingat aku adalah tipe perempuan bawel dan iseng. Candaan seperti cemilan bagi kami saat berkumpul seperti ini. Tapi... entah kenapa sekarang semuanya terasa hambar? Aku tidak bisa tertawa dan sebaliknya malah menangis. Seperti anak kecil yang kehilangan mainan. "Hey, kenapa nangis, De?" Kak Meli, kakak keduaku, datang menghampiriku. Dari sekian banyak kakak yang kumiliki memang dia lah yang paling dekat denganku. Dia seperti ibu keduaku yang selalu mendukung dan ada disetiap kesulitanku untuk membantu. Seperti saat Kakak jatuh sakit dan harus bolak-balik Rumah Sakit untuk rawat jalan dan rawat inap, Kak Meli merelakan tabungannya untuk membayar biaya perawatannya. Tidak tahu harus berkata apa? Yang jelas dia sangat baik dan aku sangat menyayanginya. Aku tidak langsung menjawab, namun tanpa bisa dicegah air mataku meleleh tanpa malu. "R-raga... dia punya perempuan lain," kataku dengan suara nyaris berbisik. Seketika, kakakku yang lain yang berada di sana ikut nimbrung. Ikut mendengarkan ceritaku sembari mencuri pandang ke luar, tempat Raga duduk bercengkerama dengan para suami. "Apa? Raga selingkuh?" "Sama siapa?" "Emang ada yang mau sama abegeh tua model Raga?" Kak Syifa ikut-ikutan berkomentar dengan celetukan khasnya. Nyinyires ala emak-emak netizen.  Tangisku berhenti seketika. Kuhapus sisa air mata di pipi, lalu kupandang mereka satu-per satu. Edan! Satu kata untuk kekepoan kakak-kakakku yang mengintrogasiku dibarengi dengan tingkah konyol khas mereka. Bukan. Aku tahu mereka tidak sedang mengolok-olokku, melainkan sedang berusaha menghibur dengan tingkah absurd mereka. "Cewek yang pernah Ade kasih tahu ke teteh waktu itu?" Kak Meli yang sebelumnya pernah mendengar curhatanku langsung bereaksi, dan aku langsung mengangguk. "Tapi bukannya waktu itu Ateu bilang mereka sudah nggak kontekan lagi?" perempuan tiga puluh tahunan itu memandangku lekat. Sementara, yang lain tetap diam, menunggu jawabanku. "Sepertinya bukan berhenti berhubungan. Tapi Raga mengganti nama kontak gadis itu jadi 'nona'. Raga bahkan membuat grup yang isinya mereka berdua dengan nama properti tanah. Di sana... mereka membicarakan sesuatu tentang uang. Tapi pesan sebelumnya sudah dihapus," timpalku dengan suara hampir menyerupai bisikan. Bagaimana pun aku tidak ingin membuat keluargaku murka pada Raga. Aku belum tahu sejauh mana hubungan mereka. "Hah? Seriusan Raga sampai melakukan hal itu? Kok aku nggak ngaca ya...?" Lagi-lagi, Kak Syifa, kakak keempatku, menimpali dengan murka. Mata sipitnya sempat menoleh ke arah Raga, lalu mencebik. "Udah tua juga. Masa nggak bersyukur banget punya istri muda macam kamu." Obrolan kami berlanjut hingga tiga puluh menit. Mereka memberiku nasihat sekaligus komentar supaya aku mengubah kebiasaanku. Jangan terlalu percaya sama Raga. Simpan uang hasil jualanku. Dan, dandanlah supaya penampilanku lebih menarik. Dari semua nasihat yang masuk, tentu tidak semuanya benar dan tidak semuanya salah. Ada beberapa yang benar, begitu pula sebaliknya. Seperti aku yang terlalu cuek dan memercayakan semuanya pada Raga. Tentang gajinya, yang tidak pernah kucek dan selalu manut ketika Raga mengatakan semuanya habis untuk memenuhi kebutuhan kami. Tapi... nyatanya tidak. Juga tentang penampilanku yang kubiarkan apa adanya. Tidak memakai make up dan memakai baju seadanya yang hampir semuanya sudah belel.  *** Waktu terus berlalu. Satu hari semenjak tertangkap tangan sering berkirim pesan dengan gadis bernama ikan fatin, Raga belum menunjukkan sikap padaku. Belum meminta maaf apalagi berusaha menjelaskan hubungan mereka padaku. Hal itu tentu saja membuatku marah dan semakin murka. Kutulis semua kekecewaanku di status f*******: yang kemudian menuai banyak komentar. Ratusan. Mulai dari ucapan turut prihatin hingga pertanyaan wartawan dari para friend list yang kepo akan kesedihanku. [Yang sabar, Teteh] [Sabar... Allah beserta orang-orang yang sabar.] [Beneran?] [Ya Allah... kok bisa Raga berkhianat.] Aku tidak melanjutkan membaca komentar di sana. Sebaliknya, aku justru berusaha membuka akun f*******: Raga yang ternyata sudah berganti kata sandi. Aku berusaha memasukan tanggal kelahiran anak-anak yang kuyakini digunakan Raga, namun dari semua yang kucoba hasilnya gagal. "Ya Tuhan... ada rahasia apa di sana sampai-sampai Raga mengganti kata sandinya?" beberapa pikiran negatif mulai berdatangan ke dalam pikiranku. Tentang kemungkinan Raga benar-benar berselingkuh dengan gadis itu. Dan, kemungkinan lain yang awalnya kuanggap mustahil namun diduga sudah menjadi kebiasaan Raga tanpa sepengetahuanku.  Tidak mau mati penasaran, aku diam-diam meminjam ponsel Raga. Begitu dicek, aku langsung terkejut. Dari kurun waktu selama kami menikah, ternyata Raga sering sekali menyapa gadis cantik di friend lisnya. Yang sebagian merupakan alumnus dari sekolahnya. Ada nama yang kukenal dan sedikit familiar, ada juga nama yang asing. Mungkin karena saya sudah lama tidak mengikuti kegiatan Raga di sekolah.  "Tuhan... kenapa harus serumit ini?" Aku memijit keningku yang pening. Memikirkan Raga dan menghadapi kenakalan anak-anak secara bersamaan membuat kepalaku nyaris pecah. Tidak hanya itu, nafsu makanku ikut hilang. Namun, anehnya aku tidak merasakan lapar sama sekali meski seharian ini aku belum memakan nasi. Hanya mencomot secuil roti milik Kris yang kutaksir hanya memiliki berat sepuluh gram saja. Tapi, itu lebih baik ketimbang kemarin yang baru makan nasi saat malam tiba.  "Tuhan... kenapa harus sesakit ini rasanya sikhianati?" [] ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN