Chapter 15

1511 Kata
"Kamu itu harus jadi perempuan pintar. Jangan kalah. Kalau sekarang kamu sakit hati sudah dihianati sampai depresi. Oke, Teteh ngerti. Raga memang sudah sangat keterlaluan." Kak Mila meneleponku. Di seberang sana, aku juga mendengar kakak iparku ikut berkomentar. "Gini lho, Dek. Teteh itu nggak mau ikut campur. Cuma pengin ngasih pendapat aja. Kalau semisal sekarang Adek rugi, usahakan keputusan akhir jangan membuat kamu lebih rugi." Aku termenung. Memikirkan maksud dari perkataan Kak Meli. Untung dan rugi? "Ngerti nggak?" Kak Meli yang mengerti arti dari aksi diamku langsung menjelaskan. "Teteh mah nggak masalah adek mau cerai atau lanjut, dengan catatan keputusan itu murni dari hati adek. Bukan karena emosi atau karena pendapat orang lain. Ingat, yang menjalani dan mengalami kan adek. Tapi...," kalimat itu terjeda karena Kak Meli harus melayani pembeli di warungnya. Aku kembali merenungkan semua kata-kata Kak Meli. Kebimbangan hatiku belum bisa kukendalikan. Lanjut atau berhenti, seringkali aku ingin sekali berhenti. Ketika ingat perempuan ikan itu. Ketika ingat bagaimana Raga mengatakan semua kalimat-kalimat sok sucinya. Aku sangat ingin berhenti. Namun, ketika ingat tentang masa depan. Ingat tentang anak-anak. Tentang bagaimana mereka nanti hidup tanpa seorang ayah, juga bagaimana aku bisa terus bertahan tanpa sosok seorang suami, aku gamang. Aku tidak pernah menyangka hal semacam ini terjadi padaku. Apakah Tuhan merencanakan semua ini dengan tepat? Seberapa kuat aku bertahan? "Halo, Kim. Udah, teteh mah cuma mau pesen, kamu kuat, kuat, kuat. Inget anak-anak. Inget." Kak Mila kembali meneleponku. Hanya kalimat itu saja dan sepertinya dia langsung menutup telepon. Benar, aku harus kuat demi anak-anak. Dan lebih dari itu, demi diriku sendiri. *** Aku memutuskan untuk kembali. Bukan kembali dalam artian berdamai dengan Raga untuk memperbaiki semuanya. Memperbaiki hubungan kami ibarat menyatukan piring pecah. Sekalipun lem paling mahal yang mampu menyatukannya, piring itu tidak akan kembali seperti sedia kala. Retaknya akan terlihat dan tentu saja menjadi tak berguna. Sia-sia. Aku kembali dengan upaya dan rencana masa depan yang lebih baik. Masa depan indah bersama anak-anak, tanpa seorang Raga. Ketika pertama kali datang, Raga tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan. Ia terlihat seperti tahu bahwa aku memang akan kembali. Hih, tak sudi. Aku merangkul anak-anak yang sepertinya sangat kangen. Melepas kerinduan yang begitu membuncah. Apa jadinya aku tanpa mereka? Mungkin, aku sudah jadi abu jauh-jauh hari Besoknya, memulai hari seperti biasa. Begitu juga dengan Raga. Ia beraktivitas senormal mungkin. Seakan-akan kejadian beberapa waktu lalu dan semua kebusukannya sudah hilang diterbangkan angin. Sungguh, aku muak dengan tingkahnya. Hanya saja, aku tidak boleh gegabah. Jangan sampai aku tidak bisa mengontrol emosiku dan anak-anak kembali menyaksikan pertengkaran yang tidak seharusnya. "Papa berangkat dulu." Kalimat yang cukup membuatku merasa jijik. Bukannya sudah lama dia tidak mengatakan kalimat semacam itu? Kenapa tiba-tiba? "Maaf, aku ingin membicarakan hal penting." Aku menyela langkahnya. "Nanti saja, kalau sudah pulang." "Ini penting. Kita pernah ngomingin kan soal aset semuanya atas nama anak-anak?" "Oh, iya itu. Nanti kita bicarakan kalo sudah tenang." Tenang? Haha. Dia ini melawak atau apa? Memangnya ini sedang pemilihan presiden? Ada masa tenang segala. "Aku akan ke bank buat urus semuanya." "Hari ini?" Aku mengangguk. "Iya. Kapan lagi memangnya?" "Kamu mau sendirian atau kita bareng-bareng?" "Emangnya kamu mau korbanin kerjaan kamu?" Raga menggeleng. "Kamu bisa sendirian urus ini-itu?" "Bisa." Raga mengembuskan napas dengan kasar. Apa dia kesal? "Kenapa? Bukannya kamu yang bilang semua aset mau diserahin ke aku dan anak-anak? Kamu nyesel dengan apa yang udah kamu bilang?" "Enggak. Bukan gitu. Aku cuma ngerasa kamu mikirin itu terus. Apa gak bisa kita omongin hal lain?" "Maksud kamu?" "Apa kita gak bisa mulai lagi dari awal?" Ah, pertanyaan itu. Aku masih tak mau melihat wajah Raga. Sudah dapat ditebak wajahnya pasti akan menampilkan raut yang sok menyedihkan. Dasar tidak tahu malu! "Aku akan urus secepatnya. Aku pegang omongan kamu sejak awal. Tentang semua aset. Jadi, jangan jadi orang yang seenaknya bicara." Raga sepertinya segera tersadar kalau dia sudah sangat terlambat untuk berangkat kerja. Sosoknya langsung menghilang di balik pintu. Baru setelah itu, aku menatap punggungnya yang sudah menjauh. Apa artinya pernikahan ini? Apakah pernah pernikahan ini dibangun berlandaskan cinta yang sesungguhnya? Apakah cinta yang tulus itu? Apa aku pernah benar-benar mendapatkannya? Atau justru semua ini, selama ini .... Kebahagiaan yang pernah begitu melekat dulu hanyalah tipuan. Dulu, aku pernah begitu terbang melambung dengan angan yang tinggi. Bahwa Raga akan jadi seseorang yang menemaniku sampai tua nanti. Layaknya drama picisan yang sering disuguhkan novel atau film-film romantis. Aku pikir, setiap perempuan pasti pernah menginginkan sebuah hubungan yang langgeng sampai akhir hayat. Setiap perempuan di dunia ini pastilah tak menginginkan sebuah pengkhianatan. Jika ada yang bisa memaafkan, maka tak bisa menjamin keadaan akan sama seperti semula. Aku merasa hancur setiap saat. Bahkan melihat wajah Raga, mendengar napasnya, aku merasa kesal. Apa saja yang ia katakan, apa saja yang ia lakukan, terlihat salah. Karena, ya, memang salah. Aku menatap jam dinding. Berkutat dengan berbagai pekerjaan, beres-beres, mengurus anak-anak, dan lain-lain membuatku lupa waktu. Sudah saatnya aku bersiap. Aku akan pergi ke bank untuk mencoba memulai mengurus semuanya. Ya, satu persatu harus segera diselesaikan dengan tepat. Aku merasa lebih baik sekarang. Pikiranku mulai jernih. Memikirkan masa depan, bayangan buruk selalu menghantui. Akan tetapi, motivasi dari kakak-kakakku membuatku lebih tegar lagi. Bayangan buruk disertai bayangan baik. Aku tidak boleh hanya memikirkan dari satu sisi saja. Setelah menitipkan anak-anak pada kakakku, aku langsung berangkat. Di perjalanan, aku lebih banyak memerhatikan sekitar. Aku berusaha untuk tidak terlalu larut dan berusaha untuk mengenyahkan bisikan-bisikan buruk yang selalu datang tanpa diundang. "Apa usahamu akan sia-sia, Kim?" "Suamimu pasti tidak akan melepaskanmu dengan mudah." Aku menggeleng sekuat tenaga demi menghiraukan bisikan-bisikan itu. Aku terus berjalan. Harus terus berjalan. *** Sesampainya di bank, aku disambut hangat oleh pegawai di sana. Aku menjelaskan tentang keinginanku dengan rinci. "Ibu harus ke kantor notaris untuk mengurus hal-hal ini." "Oh, baik. Bisa saya minta alamatnya?" Pegawai itu segera mengatakan alamat salah satu kantor notaris. Aku tahu sekitaran tempat itu. Jadi, tak perlu waktu lama aku berada di bank. Toh, semua ini memang harus diselesaikan dengan cepat, bukan? Kantor notaris tidak terlalu jauh letaknya. Aku bisa dengan mudah juga menemukan alamat tersebut. Pegawainya ramah. Ia menjelaskan semua dengan teliti setelah aku menyampaikan semua keinginanku. Di luar perkiraan, ternyata aku belum bisa mengamankan semua aset tersebut. "Ibu masih dalam masa angsuran." "Terus? Gak bisa?" tanyaku cemas. "Bukan gak bisa, Bu. Tapi belum bisa sekarang. Karena ibu masih dalam masa angsuran, jadi belum bisa dibuatkan akta hibah." Aku mengangguk. "Jadi, harus lunas dulu, ya?" Si pegawai mengangguk. "Baik, terima kasih." Aku pulang dengan kekecewaan yang cukup besar. Bagaimana tidak? Aku benar-benar mengharapkan semua ini dapat diselesaikan dengan cepat dan mudah. Sebelum menejmput anak-anak dan kembali ke rumah, aku mampir dulu ke sebuah swalayan untuk membeli bahan makanan. Aku ingat beberapa waktu lalu, anak keduaku ingin sekali makan ikan goreng. Aku yang masih kesal dengan perempuan ikan busuk itu, masih tak berselera dengan jenis makanan yang kaya akan gizi tersebut. Aku membayangkan bau amis ikan seperti perempuan itu. Bau amis dari ikan yang sudah membusuk. Busuk seperti kelakuannya. Apa bagusnya dia? Apa kecantikan wajahnya mampu membuat Raga bertekuk lutut? Apa ada hal lain? Aku ngeri membayangkan pertemuan mereka. Apa saja yang mungkin pernah mereka bicarakan, apakah mereka pernah berpikir untuk membangun masa depan bersama? Ah, tidak. Perempuan itu bahkan tidak serius dengan Raga. Perempuan busuk itu hanya memanfaatkan Raga. Raga yang bodoh dan sudah dibutakan oleh cinta. Mungkin, karena perempuan itu manja dan pandai merajuk. Perempuan muda yang agak centil dan penuh dengan tipu muslihat. Dan lucunya, Raga pernah memintaku meniru caranya bicara? Setan apa yang merasukinya. Aku bukan perempuan ikan itu. Aku tidak sama dengannya. Dia buruk dan tidak patut. Aku tidak ingin menyombongkan diri, tapi aku tidak akan pernah berkelakuan busuk sampai merebut suami orang. Lama, aku memandangi ikan-ikan segar. Aku akan membunuh semua ikan ini dan melahapnya. *** Anak-anak berkumpul. Raga juga ada di meja makan. Aku menyiapkan makanan. Menghidangkan ikan goreng di meja. "Loh, kok ikannya aneh, Ma," ucap Kris. Aku melirik ikan goreng yang memang bentuknya sudah hancur. "Iya, tadi ikannya sengaja mama bikin begitu." "Kenapa?" tanyanya lagi. "Ikannya nakal. Loncat-loncat dan jatuh ke lantai. Ngotorin dapur dan bikin baju mama bau amis. Ikannya harus dapet pelajaran," ucapku sambil tersenyum. Raga hampir tersedak mendengarnya. Kris tertawa tertahan. Anak yang polos. Anak-anakku yang polos. Akan kupastikan mereka tidak akan merasakan sakit hati yang aku rasakan. "Udah, ayo makan dulu." Kalimat Raga segera membuat semuanya jadi sibuk dengan makanan masing-masing. Lihat saja, aku akan terus menyiksa Raga dengan segala sesuatu yang bisa aku lakukan. Dia harus merasa bersalah dan terus merasa demikian. "Gimana tadi?" tanyanya setelah anak-anak ke ruang TV. "Gak bisa. Mesti tamat angsuran dulu." "Oh." Dari sudut mataku, dapat kulihat jelas bibir Raga yang sedikit terangkat. Seakan ia senang, tapi berusaha sekuat tenaga menyembunyikan senyum. Aku tahu. Dia tidak mungkin sepenuhnya rela semua harta diberikan kepadaku dan anak-anak. Seorang yang pernah berbohong sekali, meskipun mengakui, tapi tak lantas menjadikannya bersih. Tetap saja, aku bisa melihat kebohongan di matanya. "Aku mau kita selesein dengan cepet," ucapku seraya hendak beranjak pergi menuju anak-anak. Aku juga harus melihat bayiku. Takut dia sudah bangun. "Apa ... kamu sudah lupa? Kamu beneran lupa dan gak bisa maafin aku? Aku cuma salah sekali. Kamu gak bisa? Aku sayang sama kamu dan anak-anak ... anak-anak kita ...." Aku mengepalkan kedua tangan. Tidak tahan dengan semua omong kosongnya! Cinta?  Demi anak-anak? Dasar tidak tahu malu. Kenapa harus mengatakan demi anak-anak sekarang? Harusnya kalau dia paham-paham bagaimana kondisi anak-anak bakalan hancur kalau orang tuanya bertengkar seperti ini, harusnya dia sudah tahu sejak awal dan berusaha memfilter pandangannya. Jangan jelalatan dan tebar pesona!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN