Raga tidak tahu perjuanganku melawan semua rasa sakit yang sudah ia timbulkan. Ah, tidak. Dia pasti tahu. Dia juga paham betul. Dia masih manusia, kan? Jadi, dia seharusnya masih punya sedikit sisi baik.
Namun, sayang sekali. Sisi baik yang tersisa itu sudah musnah. Aku kembali mengingat malam itu.
Malam di mana aku dan Raga kembali berseteru. Aku kalut.
Awalnya, malam itu semuanya masih tak terlalu meledak. Obrolan biasa yang sebenarnya tak ingin kutanggapi.
"Pa, kamu ini punya duit berapa? Merasa sudah bisa biayai aku dan si ikan itu. Memangnya kamu ini bos atau apa?"
"Mulai lagi. Udah lah. Aku cuma khilaf. Setiap manusia itu pasti punya salah. Kamu juga manusia, kan? Harusnya kamu juga paham, dong. Tuhan aja mau memaafkan hamba-hamba-Nya. Masa kamu enggak."
"Jangan bawa-bawa Tuhan, Pa! Kamu ngobrol begitu seolah-olah kesalahan kamu itu hanya sepele dan tidak membuatku sakit hati."
Beberapa saat hanya hening. Aku tengah mengontrol emosiku. Raga juga sepertinya begitu. Ia berusaha tetap tenang.
Malam itu, anak-anak sudah tidur. Jadi aku dan Raga lebih leluasa untuk berbicara tentang hal-hal buruk yang terjadi kemarin-kemarin. Ini semua gara-gara ikan fatin itu. Aku sebal!
"Papa tahu, kamu sakit, Ma. Tapi ini semua sudah terjadi. Waktu gak bisa diulang lagi. Mama harus terima. Jangan terus berlarut-larut."
"Terima? Papa bilang terima? Gampang sekali nyuruh begitu. Papa sih gak merasakan. Ketika aku tahu kalau Papa pernah ngasih uang ke ikan itu, aku ngerasa semua perjuangan dan pengorbananku selama ini gak ada artinya!"
"Kamu salah. Papa gak pernah punya niat membuat Mama merasa begitu."
"Memangnya apa sih yang bisa dibanggakan dari perempuan ikan itu? Manjanya? Sikapnya yang menye-menye gak jelas?!"
Raga sedikit menahan tawa. "Loh, itu kan sudah kodrat perempuan bersikap begitu. Manja dan ingin dilindungi. Itu bukan salah dia. Ini salah papa yang memang sudah tergoda."
"Masih belain aja! Belain terus!"
"Loh, bukan belain. Itu kenyataannya. Lagian, kalo misalkan mama mau bersikap sama kayak dia, gak masalah. Mau bersikap manja atau menye-menye juga gak masalah."
"Maksudnya? Aku gak mau disamain!"
"Bukan begitu. Kamu juga bisa bersikap kayak dia kalo kamu mau. Mungkin, aku juga bisa lebih loyal nantinya."
Mendengar kalimat itu, rasanya kemarahanku sudah hampir di ubun-ubun. Masih berusaha kutahan. Aku ingat anak-anak mungkin tengah tertidur nyenyak.
"Kamu emang harusnya berbenah diri. Kamu tahu aku kayak begini, harusnya kamu bisa berubah. Laki-laki akan betah di rumah kalau istrinya juga ngebetahin. Laki-laki akan tetap setia kalau istrinya pantas disetiakan."
"Diam!"
Aku menutup telingaku dengan kedua tangan. Rasanya tidak sanggup aku mendengar semua ocehan busuknya. Terutama kalimatnya yang mengatakan seolah gadis itu adalah malaikat sementara aku adalah setan yang penuh dengan keburukan.
"Aaaaaaa!"
Aku menjerit. Semua kalimat-kalimat masa lalu, bullyan dan hinaan yang pernah tersemat padaku kembali terngiang. Ditambah bayang-bayang ikan fatin si penggoda itu. Kurang ajar!
"Tenang, Ma. Kamu ini kebiasaan! Nanti tetangga dengar! Anak-anak juga!"
"Terserah! Aku gak peduli! Aku mau matiiii!"
Aku membantingkan gelas ke hadapan Raga. Aku memukulnya dengan keras. Dia berusaha menghindar. Namun, aku terus saja memukul. Setelah puas, aku ke dapur. Aku mencari pisau. Aku mau mati saja! Kalau aku mati, mereka pasti akan merasa bersalah seumur hidup! Mereka pasti akan menangis darah sepanjang hidup mereka. Lebih dari itu, mereka pasti akan dijauhi dan dibuang oleh masyarakat.
"Aku mau mati, Pa! Kamu seneng, kan? Kamu bisa kawin sama perempuan busuk itu!"
Raga mencengkram tanganku. Ia berusaha keras membuatku tenang, tapi aku tidak peduli.
"Diam kamu!"
Anak-anak terbangun. Mereka terkejut. Raga terus menyuruhku diam. Raga terus mencegahku bergerak. Aku berhasil lari dan ingin ke luar dari rumah. Akan tetapi, Raga terus mengikutiku dan memelukku erat. Lebih tepatnya sangat erat sampai aku sulit bernapas.
"Diam!"
Anak-anak panik. Mereka menangis. Aku semakin ingin lepas.
"Enggak, lepasin! Aku mau mati! Biarin kalian masuk neraka! Kalian bakal kena azab! Perempuan busuk dia itu! Dasar perempuan ikan! Bau amis!"
"Cukup! Diam!"
Raga akhirnya mampu mengenyahkan pisau yang hampir saja menyayat urat nadiku.
Aku kembali menyerangnya. Kembali mengumpat. Semua kata-kata kasar kulontarkan. Sungguh, baru pertama kalinya dalam hidup aku mengumpat sedemikian kasar. Akan tetapi, Raga pantas mendapatkannya. Perempuan itu juga. Perempuan hina!
Semakin aku kalut, aku terus memukul tanpa henti. Mengumpat tanpa henti.
Plaaakk!
Tamparan pertama. Aku diam membeku.
Plaaakk!
Tamparan kedua. Sungguh, tak ada rasa sakit. Aku mulai terisak.
Bukk!
Ia menampar wajah dan kepalalu dengan keras. Aku diam, tak sanggup berkata lagi. Apakah ini akhirnya? Apakah aku akan berakhir seperti ini? "Kamu pikir aku akan diam saja melihatmu begini? Kamu pikir aku nggak bisa kasar? Rasakan itu! Sadar, kamu terlalu dikuasai rasa cemburu!"
Tidak!
Suara anak-anak begitu membuatku semakin terluka. Mereka tidak seharusnya terbangun. Aku tidak mau mereka sakit melihat ini. Tapi aku juga sakit!
Aku tidak sanggup lagi!
Aku dan Raga hanya terdiam. Ia berusaha menenangkan anak-anak.
Anak ketigaku juga sepertinya ikut bangun dan terdengar suara rengekannya. Raga bergegas ke kamar dan menggendong anakku itu.
Aku melihatnya. Aku merasakan semuanya berputar-putar. Pusing, hampa, penat. Raga harus mendapatkan balasan!
Aku langsung memanfaatkan kesempatan. Aku lari dari rumah. Aku hendak melapor ke polisi. Biar Raga di penjara! Biar dia membusuk selamanya di sana! Dia pantas untuk itu!
Aku berlari sambil terisak. Kemudian entah kerasukan apa, aku dengan cepat memanjat pagar perumahan kemudian berlari ke sebuah klinik dua puluh empat jam. Meminta bantuan satpam untuk kemudian pergi ke Polsek setempat. Aku langsung masuk dan polisi yang sedang bertugas, dengan ramah mempersilakan duduk.
Aku menelepon Kak Meli dan mulai bercerita garis besar kejadian yang baru kualami.
"Duh, bentar, Kim. Kakak akan hubungi yang lain dulu. Kamu diam ya, di sana. Baik-baik di sana."
Aku cukup lega. Aku menarik napas panjang dan seorang polisi memberiku segelas air putih.
"Ada apa, Neng? Tadi Bapak denger kamu dipukuli atau bagaimana?"
Aku menggeleng. Belum sanggup bicara. Dan Pak Polisi itu sepertinya paham. Ia tak mendesak dan tidak bertanya lagi.
Kak Meli datang. Namun, ia tak sendiri. Ada kakaknya Raga juga. Kemudian menyusul, Raga juga datang.
Pak Polisi mempersilakan kami semua mengobrol dengan baik-baik.
"Sudah, Kim. Kita selesaikan dengan musyawarah dulu. Supaya jelas. Kamu sedang emosi, kan?"
Aku tak menjawab.
Kak Meli memelukku. Ia menepuk bahuku dan berusaha menenangkan. Sementara Raga tak jua mengucapkan barang sepatah kata pun.
Setelah itu, pembicaraan dilanjutkan oleh kakaknya Raga. Sepertinya mengatakan kepada polisi bahwa ini hanya masalah keluarga yang bisa segera diselesaikan.
"Gimana, Neng? Mau diselesaikan di rumah aja?" tanya Pak Polisi.
Aku melihat ke arah Kak Meli. Kak Meli mengangguk.
Aku pun mengiyakan pertanyaan Pak Polisi.
"Pertengkaran itu, bumbu dalam rumah tangga, ya, Neng. Hehe."
Pak Polisi berkata seperti itu sebelum kami semua keluar dari ruangan Polsek.
"Kim, kamu tinggal dulu sama Teteh, ya."
Aku tidak menjawab.
"Raga, biar Kim teteh dulu yang jagain. Kamu urus anak-anak, ya. Gak apa-apa?"
"Gak apa-apa, Teh. Mungkin Kim juga butuh waktu."
Aku menggenggam tangan Kak Meli. Tak ingin melepaskannya barang sedetik pun. Terlalu takut untuk melihat wajah busuk yang membuatku hancur dalam sekejap.
***
Aku tak akan pernah bisa melupakan malam itu. Karena malam itu seolah jadi mimpi buruk yang membayangiku di malam-malam berikutnya.
Ikan busuk itu. Perempuan hina itu, entah kenapa aku ingin sekali menghancurkannya. Dunia pasti akan tentram kalau semua perempuan sepertinya ditiadakan.
Setah malam itu, aku tinggal di rumah kakakku untuk menenangkan diri. Sebenarnya, semua usaha itu kadang terasa tak ada gunanya. Toh, meskipun aku mencoba tenang, semua yang terjadi tak bisa dihapuskan.
Luka di wajah dan kepalaku mungkin akan segera hilang. Akan tetapi luka di hati dan jiwaku tidak akan pernah bisa. Semuanya sudah menempel lekat.
Terdengar suara seseorang membuka pintu. Itu pasti Raga. Aku segera beranjak ke kamar, ingin memeriksa bayiku. Entah sudah berapa lama, tak pernah ada lagi keinginan bagiku untuk menyambut kepulangannya.
Dulu, kepulangannya ke rumah pernah menjadi sesuatu yang selalu kunantikan. Dulu, sosok itu pernah menjadi seseorang yang kujadikan teman berkeluh kesah. Namun sekarang, jangankan sebagai seorang teman yang bisa diajak berdiskusi, sebagai seorang manusia yang bernapas pun sudah sangat salah bagiku.
Hati Raga sudah bukan lagi milikku. Jika pun masih, mungkin tak sampai setengahnya.
"Ma?"
Suaranya kembali menyapa telingaku. Ada apa lagi, sih?
"Apa?" tanyaku ketus.
"Mama masak apa?" tanyanya lagi.
Cih!
"Lihat aja di meja!"
"Sampai kapan, sih?"
Aku kembali menidurkan bayiku. Kemudian keluar kamar dan menatap cuek pada Raga yang sedang di depan meja makan. Ia membuka tudung saji dan segera menoleh ke arahku.
"Ikan? Lagi?"
Aku tersenyum kecut. "Ya, kenapa? Gak suka? Atau suka banget?"
"Ma, papa bosen. Diperlakukan seperti ini. Diperlakukan seperti bukan seorang suami yang tidak pantas dihormati. Papa ini masih suamimu."
Aku terdiam. Perkataan Raga ada benarnya. Akan tetapi ....
"Suami yang pantas dihormati?"
Raga menghentikan aktivitas makannya. "Iya."
"Suami yang pantas dihormati itu yang seperti apa? Suami yang bagaimana?"
Sekarang, aku merasa akan kembali memenangkan perdebatan ini. Raga terjebak oleh perkataannya sendiri. Manusia sok suci itu, berlagak seolah kesalahannya dengan mudah bisa dimaafkan.
"Udahlah, Papa mau makan."
"Pah, jawab. Suami seperti apa yang harus dihormati? Suami yang sering chatting sama perempuan lain? Suami yang ngasih uang ke perempuan lain dengan dalih memberi bantuan, padahal keluarga kita saja masih sering punya kebutuhan yang mendesak."
"Oke, sekarang Papa yang tanya. Kenapa seorang suami bisa melakukan kesalahan semacam itu? Apa karena istrinya yang kurang bisa membuat suaminya betah?"
Lagi, dia melayangkan kalimat menyakitkan. Aku sangat geram.
"Selalu saja. Aku kira kamu sudah sadar, Pa. Nyatanya maafmu cuma di mulut saja. Seharusnya kamu tidak mengatakan kalimat-kalimat buruk itu. Bukannya dari awal kita sudah sepakat untuk saling menerima apa adanya? Sekarang? Lihatlah sekarang. Kamu bukan cuma udah nyakitin aku. Tapi nyakitin keluargaku, menodai janji suci sembilan tahun lalu, dan membuat dirimu malu."
"Maksud kamu?"
"Kamu pikir, tetangga kita gak tau? Mereka pasti bicarain kita di belakang."
"Halah, udah biasa."
"Ya, tapi tentu saja, mereka akan tahu sekarang. Seperti apa orang yang bernama Raga itu. Suami seperti apa dia."
Raga berhenti menyendok makanan.
"Cukup!"
Aku langsung masuk kembali ke kamar. Menutup pintu dengan punggung dan tertahan di sana. Menangis sejadi-jadinya.[]
***