Chapter 17

1452 Kata
Kesal, aku kesal sekesal-kesalnya. Setelah sekian waktu, Raga berkali-kali mengatakan kalau dia itu sudah melupakan perempuan ikan, kemarin, tak sengaja saat di dapur, dia salah menyebut nama. Dia memanggil perempuan ikan itu! Dia memang langsung meminta maaf, tapi kemarahanku kembali meledak. Raga masih saja dengan sengaja atau tidak, menyulut api dengan mudahnya. Jujur, aku lelah dengan semua pertengkaran. Semuanya terasa terus berputar-putar di situ-situ saja. Usaha demi usaha penyelesaian selalu berakhir dengan buntu. Tidak ada seorang pun yang bisa memberiku petunjuk tentang apa yang harus kulakukan. Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana caranya bertahan? Sampai sejauh apa? Jika bukan karena mahluk-mahluk kecil yang hadir di dalam hidupku, maka dapat kupastikan aku tak akan mampu menanggung rasa sakit ini lagi. Sebenarnya, mungkin pikiran buruk yang selalu menghantuiku. Entah pada kenyataannya terjadi atau tidak, tapi satu yang pasti, kepalaku tak pernah bisa menghilangkan pikiran-pikiran itu. Beribu pertanyaan selalu saja berlalu lalang. Apakah Raga benar-benar hanya memberi uang pada perempuan ikan itu satu kali? Apa sebelumnya mereka sering bertemu? Apa saja yang sudah mereka lakukan? Pembicaraan seperti apa? Terbayang suara manja perempuan itu. Terbayang bagaimana Raga memperlakukan perempuan itu. Itu menyakitkan! Atas nama anak-anaklah, kuputuskan untuk kembali ke rumah. Ya, karena mereka yang selalu membuatku berpikir ulang. Aku bimbang dan kebimbanganku bercampur baur dengan ketakutan. Ketakutan akan masa depan mereka nantinya. Bagaimana kehidupan dan kelangsungan pertumbuhan mereka nanti? Jika mereka memliki orang tua yang bercerai? Aku takut. Aku bingung. Aku bertekad memulai semuanya dari awal, meski sebenarnya hati ini masih sangat sakit setiap kali bayangan itu kembali menari memenuhi kepala. Setiap pertengkaran tak akan bisa terhindarkan. Sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Apakah aku akan berhasil? "Bismillah...," Kupanjatkan lapaz bismillah berulang kali saat itu. Masih kuingat betul sore itu, Raga datang menjemput. Tentu saja, tidak sesuai harapanku yang awalnya menginginkan adanya musyawarah antar dua keluarga kami. Katanya, semua kakak iparku berbeda persepsi. Ya, mereka menganggap aku istri nusuz seperti halnya lelaki di hadapanku yang terang-terangan mengatakan itu kemarin. Mereka selalu terlihat dan terdengar seolah tahu segalanya. Mereka yang selalu merasa perkataan mereka itu benar adanya. Bukan, bukan aku merasa sudah berada di atas mereka. Bukan karena itu. Hanya saja, seharusnya mereka lebih berhati-hati dalam berkata. Ditambah cuap-cuap dan bisik-bisik tetangga yang kadang berbanding terbalik dengan kenyataan. Ada yang memang membelaku, memberiku dukungan, tapi ada juga yang malah mencerca. "Kasian, Kim. Semoga cepet selesai masalahnya." "Ah, kok bisa ya, Raga itu kan keliatannya baik. Masa dia seperti itu. Gak nyangka." Jujur saja, aku sebagai istrinya saja tak menyangka Raga berbuat demikian. Kemudian, beberapa ada lagi yang bicaranya ngawur. "Kim sih yang salah. Mana ada suami yang betah kalau istrinya awut-awutan. Mana ada yang mau kalo kerjanya ya, cuma diem doang." "Lagian, kalo suami selingkuh, bukan sepenuhnya suami yang salah. Ya, bisa jadi istrinya yang gagal mengurus." Itu yang kudengar dari obrolan seseorang. Entah benar atau tidak, tapi rasanya sakit. Mungkin saja tetanggaku itu bohong, tetanggaku cuma membesar-besarkan masalah atau mungkin punya niatan mengadu domba. Akan tetapi, tetap saja rasanya sakit. Semua rasa sakit itu kadang kuadukan kepada Tuhan. Aku memang manusia yang penuh dosa, tapi aku juga merasa takut, takut kalau-kalau tidak bisa menyanggupi dan menyerah menghadapi ujian ini. "Tuhan, apakah ini akan berhasil? Apakah aku bisa melupakan semuanya dan menjalani kehidupanku secara normal lagi?"  Malam demi malam berlalu, hubunganku dengan Raga masih dingin. Malam ini, kubiarkan dia mengurusi adonan cilok yang merupakan bisnis sampingan kami. Bisnis yang menghasilkan uang lumayan dan menjadi alasan dia memberikan sebagian gaji pada gadis sialan itu, dengan dalih sudah memenuhi kebutuhanku. Padahal, uang yang dia berikan padaku adalah hasil jerih payah jualan. Hasil keringatku juga. Sungguh, pada titik itu aku merasa heran. Aku jadi penasaran sebenarnya pada saat dia memberikan si perempuan ikan sejumlah uang, apa dia ingat padaku? Apa dia ingat siapa yang juga punya andil di dalam kelangsungan ekonomi keluarga ini? Ah, menyebalkan. Saat ini, aku lebih banyak membiarkan Raga sendiri. Meskipun nyatanya aku dan dia sudah kembali satu atap, tapi lebih baik begini. Entah kenapa, aku masih merasa sedikit demi sedikit, merasa punya harapan. Bahwa mungkin, jauh di dalam hatinya Raga sudah menyadari kesalahannya. Bahwa kesalahan itu hanya dilakukannya sekali saja seumur hidupnya. Aku berusaha untuk tidak terlalu keras terhadap Raga atau terhadap diriku sendiri. Sementara Raga masih berkutat dengan adonan, aku lebih memilih tetap di dalam kamar bersama si kecil. "Hi, Kim!" Aku melihat ada salah satu notifikasi masuk dari pesan w******p. Dari teman asing yang kukenal lewat media sosial. Seorang personil grup rocker dari negeri Brazil. Awalnya kupikir dia orang iseng yang mungkin cuma ingin kenal selintas saja. Akan tetapi, ternyata dia tidak demikian. Meskipun begitu, dia bukan orang spesial bagiku. Kami hanya bercengkrama untuk melatih bahasa inggrisku yang sudah alot setelah delapan tahun lulus dari Boarding School. Kami mengobrol ringan sambil bercanda, sedikit membebaskanku dari kungkungan stres yang tiga minggu belakangan membuat diriku hampir menyerah. Ingin mengakhiri hidup karena tekanan dan depresi yang kuidap setelah mengetahui perselingkuhan suamiku dan berniat melakukan poligami. Sungguh menyesakkan. Sebenarnya, ada beberapa teman chatting yang menyemangatiku. Termasuk teman dari grup Kastil Mimpi yang sudah dua tahun menjadi tempat belajar aku menulis. Dari grup itu, banyak yang memberi support dan simpati. Salah satunya Umi. Beliau begitu sabar mendengarkan curhatanku, sebelum akhirnya memberi beberapa wejangan agar aku kuat menjalani cobaan ini. Hanya saja, sebagai mahluk Tuhan yang imannya masih setengah kuat dan setengah lemah, keinginan untuk mengakhiri hidup masih suka terlintas tatkala aku sendirian. Maka dari itu, beberapa hari ini, aku aktif di salah satu media sosial yang mempertemukanku dengan beberapa bule. Salah satunya, Shawn. Seorang mahasiswa yang selalu memberiku nasihat untuk berpikir positif. Yah, meski kami belum bertemu secara fisik, aku yakin kalau dia orang yang baik. Terbukti dari sikap dia selama interaksi denganku yang tidak pernah melontarkan kata-kata vulgar atau mengirimkan gambar-gambar aneh seperti kebanyakan bule usil yang hanya ingin main-main. Ya, sudah jadi hukum alam sepertinya. Jika manusia tengah berputus asa, sedih, dan sebagainya, maka ia akan mencari cara untuk bisa mengalihkan pikiran. Aku juga begitu. Meskipun sepertinya cukup lambat bagiku untuk bisa menerima semuanya. *** "Bibi, kamu tahu apa alasan suamimu selingkuh meski kamu tengah hamil? Katanya, kamu ini terlalu cuek. Kamu tidak memasak dan membersihkan rumah. Kamu juga tidak bersolek, sehingga dia memilih mencari pelampiasan di luar." Aku kembali mengingat ucapan kakakku tadi siang. Jika itu benar, suamiku benar-benar keterlaluan. Bukan. Aku tahu itu benar terjadi. Hanya saja, saat itu kandunganku lemah. Aku mengalami flek sehingga mengharuskanku istirahat total. Dia juga mengatakan kalau dirinya siap menggantikan tugasku mengurus rumah.  Apa dia cuma membual? Kenapa tidak jujur saja? Kenapa dia tidak protes dan mengatakan kebenarannya? Aku juga mungkin akan menuruti keinginan suamiku. Sebisa mungkin, selama ini aku juga selalu berusaha untuk patuh. Ah, i know now. Jangan pernah memercayai ucapan laki-laki yang mengatakan mencintai diriku apa adanya. Semua adalah bulshit. Hanya topeng. Karena pada kenyataannya dia berpaling saat diriku mengiyakan ucapannya. Lalu, menyalahkanku atas tindakan terkutuknya. Semua berawal karena aku tidak mengabdi dan melakukan tugas sebagai istri yang baik sehingga dia memilih mencari kesenangan di luar. Padahal, sebelum hamil, dia telah menyanggupi keinginanku kalau aku hamil, aku ingin istirahat. Dia harus melakukan sebagian tugasku di rumah. Dan dia juga menyanggupinya. Katanya, demi bisa mendapatkan bayi perempuan, dia rela melakukan semua itu. Namun, di luar dugaan dia malah berpaling pada perempuan lain. *** Aku mengambil sendok lalu menyendok kuah sayur bening bayam. Mencecap dan merasakan hasil masakanku sebelum dihidangkan. Suatu kebiasaan yang wajib kulakukan, mengingat keahlian masakku yang tidak pernah konsisten. Kadang enak, kadang juga tidak. Tergantung suasana hati.  "Mama masak apa? Aa udah lapar," tanya anak keduaku antusias. Dia mengusap perut ratanya sambil mengatakan lapar berulang kali. Pemandangan yang sangat kurindukan selama dua minggu tinggal terpisah.  "Kakak juga lapar, disuapin ya, Ma?" kali ini anak pertamaku ikut menghampiri kami. Berlari dari ruang televisi sambil menenteng snack keju pemberian tantenya yang tinggal setengah. Mulutnya masih penuh dengan makanan. Ah, dia lucu sekali. Aku tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Mereka sungguh menggemaskan ketika berceloteh seperti sekarang. Rasanya aku tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan momen ini. Tapi... memikirkan kembali kelakuan ayah mereka membuat hatiku kembali nyeri. Lebih dari itu, keputusanku untuk pulang dan tinggal bersamanya justru membuat diriku bimbang. Aku menyayangi keluargaku tapi tidak dengan perasaanku yang berlabuh entah ke mana?  Apakah aku siap untuk memaafkan dia? Apakah aku bisa hidup bahagia seperti sebelumnya? Apakah aku bisa ikhlas dengan takdir ini, sementara di saat bersamaan kekecewaan dan rasa sakit ini sudah membawa seluruh hatiku menuju ambang kehancuran. "Mah, masak apa?" tanya seseorang yang keluar dari balik pintu. Aku tidak menjawab. "Jangan bilang ikan lagi, ya." Aku diam saja. "Memangnya kenapa?" "Kebanyakan makan ikan juga gak sehat. Apalagi kalo yang masaknya sambil marah-marah, hehe." Masih saja melucu di saat seperti ini. Anak-anak hanya tersenyum. Mereka, ah seandainya aku punya hati yang lapang dan polos seperti mereka, mungkin aku juga akan bersikap sama. Aku akan tersenyum dan mencubit Raga. Kami akan saling meledek kemudian tertawa. Meja makan akan riuh dengan canda. Namun, apakah itu mungkin kembali terjadi? Aku masih tidak tahu. Ada yang diam-diam mendesak di ujung mata. Butiran bening yang hendak jatuh. Namun, sebisa mungkin aku menahannya.[] ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN