Hari berganti dan semuanya mulai kembali normal. Meskipun hatiku masih sakit, tapi aku mencoba bangkit. Demi anak-anak, aku akan kembali membangun rumah tangga yang sempat retak.
"Ini ujian, Kim. Kamu harus bisa melewatinya."
"Kim, kamu beruntung. Suamimu belum sampai gimana-gimana. Di luar sana udah banyak yang parah selingkuhnya. Ada yang udah bikin hamil, ada yang udah nikah diem-diem, ngeri."
Aku mendapat banyak kalimat-kalimat dari tetanggaku yang lain. Ya, mereka memandang apa yang kualami masihlah dalam tahap yang belum kronis. Padahal, aku hampir saja gila karenanya.
Mereka terbelah jadi beberapa kubu. Tetangga-tetangga yang selalu bicara asal dan kadang menyakitkan, tetangga yang selalu mendukung, tapi di belakang menusuk, juga tetangga yang betul-betul tulus. Tetangga yang terakhir ini lebih sering diam dan ya, tidak berusaha ikut campur.
Aku sendiri bukan tipe orang yang bisa curhat ke sembarang orang. Hanya saja, mungkin karena aku sempat membuat status yang cukup menghebohkan saat itu, mereka jadi berasumsi yang macam-macam. Ah, lebih baik kubiarkan saja omongan mereka. Akan kuanggap bisik-bisik julid mereka itu layaknya kentut.
Pagi ini aku sedang beres-beres. Anak-anak menonton tv. Dedek bayi masih pulas. Sedangkan Raga sepertinya sedang bersiap berangkat kerja. Aku sudah tidak mempersiapkan pakaiannya sejak beberap waktu lalu. Oh iya, aku dan Raga juga tidak sekamar. Aku tahu, ini dosa. Akan tetapi, Raga sepertinya mengerti. Ia tidak memaksaku untuk menerimanya tidur di kamar yang sama.
Lagipula, aku masih belum bisa dan rasanya masih belum mau jika harus melakukan hubungan atau bahkan melihatnya tidur di sebelahku.
Raga memang ingin memperbaiki hubungan ini. Aku berpikir, dia mungkin berusaha membuat semuanya kembali normal dengan perlahan-lahan. Ya, setidaknya dia masih memiliki sisi semacam itu.
Aku mulai berpikir jernih. Aku tidak berharap banyak pada keadaan. Aku juga tidak hendak memaksakan diriku sendiri untuk bisa menerima semuanya kembali secepatnya. Aku sudah putuskan untuk mengikuti arus takdir. Tidak ingin terlalu keras pada diri sendiri.
"Ma, Papa berangkat dulu."
Aku mengangguk. Raga beranjak dan berjalan hendak ke luar. Akan tetapi, langkahnya berhenti. Ia kembali ke dalam.
"Lupa, belum sarapan, hehe."
Aku hampir tertawa. Dia memandangku.
"Kamu senyum? Gitu, dong."
"Apa? Udah makan aja, sana. Udah telat, kan?"
Raga duduk. Aku berpaling dari tatapannya. Aku membenci keadaan ini. Keadaan yang mengingatkanku bahwa hal-hal manis pernah terjadi dan pernah begitu menyenangkan, sekaligus mengingatkanku tentang pertanyaan-pertanyaan dan pesan w******p Raga dengan si perempuan ikan itu.
Apa Raga juga selalu bercanda dengan perempuan itu? Apa Raga juga memberikan perhatian-perhatian yang manis pada perempuan itu? Ah, tentu saja. Tentu saja demikian.
Daripada terus menerus memikirkan hal-hal yang itu-itu saja, aku lebih memilih bergabung dengan anak-anak. Sekolah sedang libur, guru-guru tengah melaksanakan rapat. Jadi, mereka punya lebih banyak waktu.
Begitu juga aku. Aku jadi memiliki banyak waktu untuk dihabiskan dengan anak-anakku tersayang.
"Nonton apa, sayang?" tanyaku.
"Kartun, Ma!" sahut anak pertamaku. Aku langsung tersenyum mendengarnya. Dia begitu bersemangat. Sementara adiknya terlihat begitu serius melihat layar televisi. Ia bahkan mungkin tidak menyadari aku bergabung.
Raga sepertinya sudah berangkat. Aku kembali beranjak. Ada beberapa pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Tiba-tiba saja ....
Suara bayi terdengar. Aku langsung ke kamar. Mungkin, putri mungilku ingin minum s**u.
***
Kutatap bayi mungil yang menggemaskan ini. Ah, dia masih suci, bersih, polos dan tidak tahu apa-apa. Bayangan tentang bagaimana bila bayi mungilku harus hidup tanpa seorang ayah kembali menari-nari.
Tidak, aku sudah memutuskan untuk berdamai dengan keadaan. Meskipun memaafkan Raga pasti akan memakan waktu lama, tapi aku sudah mantap dengan pilihanku.
Beberapa lama, bayiku kembali tertidur. Mudah sekali mahluk kecil ini terlelap di dalam dekapanku. Aku menciumnya berkali-kali sebelum kembali menidurkannya di kasur. Masih ada beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dengan segera.
Namun sebelum itu, aku melihat notifikasi di ponsel. Takut ada sesuatu yang penting. Mungkin, ada info atau sesuatu yang menarik tentang kepenulisan. Aku sudah cukup lama belum kembali menuangkan pikiranku ke dalam tulisan.
Aku terkejut. Rupanya ada beberapa pesan dari seorang bule. Bukan yang kemarin itu, bukan yang rocker. Ini beda lagi. Laki-laki ini asalnya dari Kuba. Ya, dia mengaku demikian. Aku belum kenal lebih jauh. Karena aku masih ragu-ragu.
Dia memberi pesan-pesan yang intinya memerhatikan kesehatanku. Ah, mungkin dia akan jadi teman yang manis. Ya, bisa saja.
Aku membalas pesannya dan berterima kasih atas perhatiannya. Tak berselang lama, ia kembali mengirim pesan. Ia mulai bertanya-tanya tentang identitas dan keseharianku.
Entah kenapa, aku mulai berkenalan dengannya lebih jauh. Dia baik juga. Ia mengirimkan sejumlah foto demi meyakinkanku kalau dia bukan fake. Aku mulai percaya.
Orang asing ini mengaku berasal dari Kuba. Wajahnya juga tampan. Hidungnya mancung dan memiliki cambang. Ah, seandainya aku gadis remaja, pasti sudah tergila-gila. Hanya saja, aku sadar aku ini kan sudah tak lagi muda.
Jadilah percakapan demi percakapan mengalir begitu saja. Tak terasa, bahkan waktu sudah berlalu beberapa jam. Ketika menyadarinya, aku langsung berpamitan dan beranjak.
Anak-anak rupanya ketiduran setelah asyik menonton televisi. Aku berjalan menuju dapur dan merapikan letak barang-barang. Kemudian mengambil kantung kresek besar berisi sampah.
Aku menyeret kantung kresek yang cukup berat. Kemudian dengan susah payah, menjejalkannya ke tempat sampah besar di halaman rumah.
Semua tampak biasa saja, sampai aku menemukan sesuatu yang cukup ganjil. Ada sebuah amplop coklat besar yang sepertinya sengaja disobek jadi beberapa bagian.
Aku penasaran dan mulai mengumpulkan serpihan kertas. Aku mulai menyatukannya.
Ada fotokopi KTP Raga dan ....
Perempuan ikan! Sial*n!
Apa yang mereka rencanakan? Apa-apaan ini? Aku geram. Aku tak kuasa menahan tangis lagi.
Jadi, pertanyaan itu sekarang mulai terjawab. Tentang sejauh apa mereka sudah berbuat. Mereka hendak menikah? Diam-diam? Gila! Raga sudah gila!!!
Mana mungkin dia setega ini padaku. Atas dasar apa dia merencanakan pernikahan diam-diam?
Dengan cepat aku mencari ponsel. Aku akan meminta banyak penjelasan.
Akan tetapi, setelah benda mungil itu tepat berada di genggaman, aku berubah pikiran.
Apa sebaiknya aku tidak meminta penjelasan? Bukannya semua ini sudah jela? Berkas-berkas yang kutemukan sudah cukup memberikan banyak penjelasan.
Benar, pernikahanku tidak bisa diselamatkan. Jika cinta dan kasih sayang sudah tak ada lagi di hati Raga kepadaku, maka selesai sudah.
Aku malah kembali melihat pesan dari si bule.
[ I want to know you. Everything all about you.]
Aku mulai menuliskan apa yang kurasakan padanya. Tentang Raga, tentang keresahan dan rasa sakit yang selama ini mendera. Juga tentang apa yang kutemukan barusan.
Si bule merespon dengan sangat baik. Ia bahkan menelepon dan memberiku banyak perhatian.
[ I think, i like you. Please ....]
Aku tersenyum. Mungkin, ini terlalu cepat. Aku meminta lebih banyak waktu padanya.
Dan juga, aku pikir, aku harus melakukan sesuatu. Aku harus balas dendam. Raga harus menyesal karena telah menyia-nyiakan aku.
***
Aku tidak memasak apa-apa hari ini. Aku memesan makanan via online untuk anak-anak. Baju-baju Raga tidak kucuci.
Aku lebih memilih untuk menonton tutorial cara merawat diri di YouTube. Jika iya aku tidak bisa merawat diri, jika si perempuan ikan itu yang mungkin masih muda, cantik, dan manja, aku juga bisa. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin jika setiap manusia berusaha dengan keras.
Aku bisa.
Aku pasti bisa.
Mulailah aku bergabung dengan grup WA yang isinya adalah Emak-emak yang pernah dikhianati. Lucu, memang. Kupikir aku tidak akan pernah masuk ke dalam perkumpulan yang lebih sering dikatakan banyak orang terlalu receh. Akan tetapi, aku merasa nyaman dengan mereka.
Hanya saja, seringkali teman-teman dunia maya terasa lebih tulus dan jujur dibandingkan orang-orang yang ada di dunia nyata.
Mungkin kalian juga pernah berpikir demikian, iya, kan?
[Balas dendam adalah jalan ninja kita.]
[Semangat, Mak. Buat dia menyesal.]
Aku semakin terpacu. Aku membeli banyak barang-barang yang sedari dulu kutahan untuk dibeli. Aku masih punya sisa uang. Dan lagi, ada beberapa kerabat yang peduli dan menyisihkan uang mereka untukku.
Semua ini harus kunikmati. Memangnya, Raga pikir aku ini perempuan seperti apa? Dulu juga, dulu sekali, saat aku masih perawan, bukan hanya Raga yang suka padaku. Jadi, kenapa dia bersikap seolah-olah aku ini tidak bisa diandalkan?
Lihat saja nanti.
Aku akan membuktikan padanya.
***
Sore menjelang dan aku sibuk mematut diri di depan cermin. Memoles sana-sini lewat tutorial. Awalnya memang terlihat sulit, tapi lama-lama lumayan bisa juga.
Setelah selesai, aku memakai gamis terbaru. Gamis yang sedang trendi saat ini. Ah, Raga mana tahu hal semacam ini. Membelikanku baju lebaran setahun sekali saja, ia kadang perhitungan. Ya, aku tahu dia selalu berdalih bahwa yang paling utama itu ya, untuk anak-anak.
Akan tetapi, aku memikirkan tentang si perempuan ikan itu. Jika saja dia meminta sesuatu, hah, pastinya selalu akan terpenuhi keinginannya itu.
Beberapa saat, terdengar seseorang membuka pintu rumah. Itu pasti Raga. Aku segera beringsut sambil tak lupa membawa ponsel.
Aku dan dia saling berhadapan. Raga terperangah.
"Kenapa?" tanyaku.
"Emm ... mau ke mana?"
"Mau ke rumah temen, Pa."
Raga masih menghalangi jalanku.
"Buat apa? Ngapain dandan begitu?"
"Loh, kenapa? Emangnya gak boleh?"
"Bukan gak boleh, tapi gak biasanya begitu."
"Iya, biasanya aku kan gak dandan, berantakan, gak bisa ngurus diri. Iya, kan? Loh bukannya kamu suka sama yang cantik dan muda? Aku loh, dandan gini biar cantik. Biar keliatan muda. Kok gak dihargai?"
Raga menarik napas panjang dan melangkah ke meja.
"Aku mau makan dulu, silakan kalo mau pergi."
"Oke. Oh iya, tapi aku belum masak apa-apa. Anak-anak makan ayam goreng yang kupesen lewat online tadi."
"Ha?"
"Iya, Pa. Aku kan tadi sibuk merawat diri."
"Tapi, jangan sampai lupa kewajiban, dong!"
Nada suara Raga meninggi. Aku mendekat ke arahnya.
"Jangan teriak-teriak. Nanti tetangga heboh lagi. Apalagi sekarang, aku tahu kamu merencanakan pernikahan diam-diam."
Raga membeku. Aku meninggalkannya segera. Malas untuk mendengar penjelasannya yang kuyakini pasti tidak akan jauh dari kata "khilaf" atau "tergoda rayuan gadis itu". Alasan khas laki-laki yang ketika sampai ditelingaku tak ada bedanya dari sebuah kotoran lalat yang harus segera kubersihkan menggunakan cairan disinfecta. Takut menular, dan memang bisa menular jika imanku tidak kuat. Itu sangat mungkin terjadi.
***