=Lampu kamar Risa telah padam. Tapi bagi Dani, cahaya dari perempuan itu justru lebih menyala—di dalam hatinya =
***
Sejak malam itu, sejak ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa rapuhnya hubungan Risa dengan suaminya, pikirannya tak bisa tenang. Ada simpati, ada rasa bersalah, dan ada satu hal yang tak bisa ia sangkal—keinginan yang semakin dalam.
Dani sadar betul bahwa perasaan itu salah. Tapi siapa yang bisa mengatur hati? Ia telah mencoba menghindari Risa. Namun, setiap kali bayangan wajah perempuan itu muncul dalam ingatannya, semuanya runtuh.
Terlebih ketika ia mengingat pelukan bisu antara Risa dan suaminya. Sunyi mereka lebih nyaring daripada teriakan mana pun.
Malam harinya, setelah memastikan kakaknya sudah tertidur, Dani kembali naik ke loteng. Ia tahu, seharusnya ia berhenti.
Tapi ada sesuatu yang belum tuntas. Ia tidak akan menyentuh. Tidak akan mengganggu. Ia hanya ingin melihat. Memahami.
Dengan gerakan terlatih, ia kembali menyusup ke loteng rumah Risa. Hati-hati, merayap di ruang para-para—celah sempit antara plafon dan atap—menghindari setiap rangka besi dan kabel listrik.
Ia mencari celah pandang ke dalam rumah, dan kali ini, Dani menemukan lubang kecil ventilasi di atas kamar mandi.
Cahaya terang dari kamar mandi membuat pandangan jelas. Risa masuk dengan handuk melingkar di tubuhnya, meletakkan pakaian ganti di gantungan.
Dani terbelalak. Dani menyaksikan perempuan itu mandi sambil menyanyikan lagu lama dengan lirih. Lagu yang ia tahu, karena ibunya dulu sering mendengarkan melalui radio.
Hati Dani berkecamuk. Di satu sisi ia ingin melompat turun dan meminta maaf untuk semua yang telah ia lakukan.
Di sisi lain, ia merasa tak punya hak. Ia bukan siapa-siapa. Hanya seorang pemuda pengangguran yang menumpang hidup pada kakaknya.
Ketika suara air berhenti, Dani mundur beberapa langkah, menahan napas. Risa keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih membalut tubuhnya. Ia masuk ke kamar dan menutup pintu. Beberapa menit kemudian, Dani merayap ke celah lain di atas kamar Risa.
Di sana, Risa duduk di sofa, menyisir rambut basahnya. Wajahnya letih, namun cantik dalam kesederhanaan. Ia tampak memeriksa ponselnya, lalu tersenyum kecil. Jari-jarinya mengetik sesuatu. Dani tahu ia sedang mengirim pesan, tapi tak tahu untuk siapa.
Tak lama kemudian, terdengar suara sepeda motor tua terdengar memasuki halaman rumah. Risa meletakkan sisir, lalu berdiri. Ia membuka pintu dan berlari kecil meninggalkan kamar.
“Mas,” suara Risa terdengar ringan.
Dani merayap ke celah yang mengarah ke ruang tengah.
Amrin, Pria itu tersenyum sambil mengangkat plastik belanjaan. “Tadi sekalian mampir ke pasar. Kamu suka jeruk, kan?”
Risa mengangguk. “Terima kasih, Mas.” Suaranya terdengar tulus.
Dani kembali mengendap-endap mencari sudut pandang yang lebih jelas. Di dapur, Amrin membantu Risa menata buah-buahan di kulkas.
Tak ada percakapan panjang. Hanya sesekali gumaman ringan tentang pekerjaan, dan rencana Amrin untuk melakukan perjalanan dinas ke luar kota pada minggu depan.
Setelah makan malam, Risa mencuci piring. Amrin duduk di sofa ruang tengah, menonton berita. Dani mengamati semuanya dalam diam. Di benaknya, ia merasa seperti menyaksikan pertunjukan sandiwara tanpa naskah.
Keduanya terlihat saling menghormati, saling menjaga, tapi seolah ada tembok tak kasat mata yang memisahkan mereka.
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Risa pamit ke kamar lebih dulu. Amrin menyusul sekitar dua puluh menit kemudian.
Dani kembali ke celah di atas kamar Risa. Ia berusaha untuk dapat melihat lebih dalam. Dan suara-suara itu cukup menceritakan segalanya.
“Mas, capek ya hari ini?” tanya Risa pelan.
“Iya, tapi senang bisa melihat wajahmu begitu cerah, ” jawab Amrin.
Kemudian, hening panjang.
“Kalau kamu... butuh waktu sendiri, aku ngerti,” lanjut Amrin. “Aku nggak mau kamu tertekan karena... aku.”
Risa menjawab dengan pelan, “Aku juga nggak ingin kamu merasa gagal. Kita jalani saja, Mas. Kita perbaiki pelan-pelan.”
Dani terdiam. Suara itu bukan suara perempuan yang selingkuh. Bukan suara perempuan yang mencari pelarian. Itu suara seseorang yang sedang berjuang mempertahankan apa yang telah lama goyah.
Dani merayap meninggalkan para-para rumah Risa, kemudian melompat lagi ke loteng rumah kakaknya.
Kembali duduk menyandar ke toren air.
Dani membuka ponsel, mengetik pesan kepada Risa. Jemarinya sempat ragu, tapi akhirnya ia kirim juga:
[Maaf kalau aku membuat semuanya jadi rumit. Aku cuma pingin kamu bahagia, dengan atau tanpa aku]
Pesan itu terkirim. Tapi tidak dibalas.
Dani tersenyum getir. Mungkin memang begitu seharusnya. Ia hanya menjadi bayangan yang sesekali melintas dalam hidup Risa. Tidak lebih.
Namun, tepat saat ia akan mematikan layar, ponselnya bergetar. Pesan masuk.
[Terima kasih. Tapi tolong jangan kirim pesan lagi. Aku sedang mencoba memperbaiki semuanya.]
Dani menatap layar lama sekali. Ia merasa dadanya sesak, seperti ada batu besar menindih. Tapi ia mengangguk pelan, seolah sedang berbicara kepada angin.
“Baik, Risa. Aku akan pergi. Tapi... aku nggak akan lupa,” bisiknya sendiri, sambil menatap ke arah loteng rumah Risa. Rumah yang menjadi saksi sebuah rasa yang seharusnya tidak tumbuh, tapi terlanjur menenggelamkannya dalam asmara terlarang, yang juga sekaligus menyemai luka.
Dani memandangi bintang yang kini muncul malu-malu. Kemudian ia berdiri, dan melangkah ke ujung loteng. Dani melihat jendela kamar rumah Risa gelap. Sepertinya Risa sudah tidur.
Lampu kamar Risa telah padam. Tapi bagi Dani, cahaya dari perempuan itu justru lebih menyala dengan terang—di dalam hatinya.
Dan untuk pertama kalinya, Dani berpikir untuk bergerak, melakukan sesuatu, mencari tahu, menelusuri celah kecil yang mungkin bisa ia masuki lebih mendalam, bukan melalui lubang plafon atap rumah Risa.
Badai kerinduan makin mengamuk dalam jiwanya. Ia ingin merasakan lagi sentuhan itu, dan ingin lebih itu, menuntaskannya dengan sempurna.
Jadi, ini bukan demi Risa. Tapi demi dirinya sendiri.
**
Matahari menggantung tinggi ketika Dani tiba di depan kantor tempat Risa bekerja. Ia duduk di atas sepeda motor milik kakaknya, yang diparkir di bawah pohon ketapang yang meranggas, agak jauh dari kantor tempat Risa bekerja,
Sudah hampir dua jam ia menunggu. Jam istirahat kantor baru saja lewat, dan sebagian besar pegawai mulai kembali dari warung makan atau masjid. Dani memeluk helmnya di d**a, mengamati satu per satu orang yang keluar-masuk gedung bertingkat tiga itu.
Ia tetap penasaran, ingin melihat satu sosok yang membuat malam-malamnya gelisah dan siangnya resah. Risa.
Bukan hanya karena keinginan yang belum padam, tapi lebih dari itu: Dani ingin tahu siapa sebenarnya Risa ketika ia tidak berada di rumah. Ia penasaran, apakah Risa juga menyimpan sisi lain yang selama ini tak pernah ia lihat?
Tepat pukul empat sore, Risa keluar dari pintu depan kantor. Mengenakan kemeja putih dan rok hitam, rambutnya disanggul rapi, tas selempang tergantung di bahu kiri. Raut wajahnya lelah tapi tetap tenang.
Risa menaiki sepeda motornya, lalu melaju ke arah jalan utama.
Dani menyalakan mesin motornya, pelan-pelan mengikuti dari kejauhan. Ia menjaga jarak, cukup agar tidak ketahuan, tapi tetap dekat untuk mengawasi.
Setelah beberapa kilometer, Risa membelok ke sebuah jalan kecil, kemudian masuk area parkir sebuah rumah makan.
Tempat itu tidak terlalu ramai, tapi cukup nyaman. Ada taman kecil di depan yang ditanami pohon tabebuya, dan beberapa meja di teras yang dinaungi kanopi beratap transparan.