Menguak Rahasia Ranjang Tetangga

1489 Kata
"Aku juga punya perasaan. Tapi perasaan bukan izin untuk menghancurkan sebuah ikatan suci." *** Senja merayap pelan di langit barat, memerah sebelum menggelap. Di sebuah kafe sederhana di pinggir jalan raya, Dani duduk gelisah. Tangan kanannya memegang ponsel, tangan kirinya mengetuk-ngetuk gelas kosong di hadapannya. Pandangannya sesekali menatap pintu, seolah waktu berjalan lambat. Risa datang setengah jam kemudian. Ia mengenakan blouse biru muda dengan celana panjang hitam, riasan tipis namun cukup menonjolkan pesonanya. Rambut hitamnya dibiarkan terurai. Tatapannya lurus, bibirnya tersenyum, tapi ada garis lelah yang tak bisa ditutupi oleh make-up. "Maaf lama. Tadi ada rapat dadakan," ucap Risa, duduk di hadapan Dani. "Enggak masalah. Aku malah takut Bu Ris enggak datang," jawab Dani, berusaha tenang, walau dadanya terasa penuh oleh harap yang menyesak. Risa memesan minuman. Diam sempat menyergap, tapi Dani terlalu terbiasa dengan situasi canggung. Risa yang akhirnya bicara duluan. “Dani... aku mau minta maaf soal tadi malam.” Suaranya pelan, nyaris berbisik. “Aku sudah berpikir panjang. Kita nggak bisa lagi seperti ini.” Dani menarik napas panjang. “Maksud Ibu?” Risa menatap ke luar jendela, menghindari tatapan Dani. “Aku ini sudah bersuami, Dan. Yang kita lakukan itu salah. Bahkan kalaupun cuma... sebatas itu, tetap saja pengkhianatan.” Dani hanya senyum. “Kita nggak melangkah terlalu jauh, Bu Ris. Aku... aku nggak minta lebih. Aku cukup....” “Itu masalahnya,” jawab Risa cepat. “Kamu bilang cukup, tapi nanti kamu akan minta lagi. Dan aku takut suatu hari tak bisa menolak.” Dani menunduk, menggenggam tangannya di atas meja. “Aku enggak pernah maksa, Bu Ris. Tapi perasaan ini nyata. Aku enggak main-main.” Risa menatap Dani, dan untuk sesaat mata mereka bertaut. Ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tak terucap. Kemudian ia bicara, pelan sekali. "Aku juga punya perasaan. Tapi perasaan bukan izin untuk menghancurkan sebuah ikatan suci." Dani menahan napas. Kata-kata itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. “Jadi...?” tanyanya, meskipun ia tahu jawabannya. Risa mengangguk. “Iya. Aku harus jujur sama diriku sendiri. Aku mencintai suamiku, meskipun hubungan kami... mungkin sedang tidak baik. Tapi aku tetap harus setia.” Dani terdiam. Jantungnya berdebar kencang, seperti ingin berontak. Ia ingin marah, ingin memohon, ingin menyalahkan keadaan. Tapi yang bisa ia lakukan hanyalah menatap wajah perempuan itu—perempuan yang sudah membuatnya merasa hidup, meski hanya sebentar. “Semalam...” ucap Dani pelan. “Semalam Bu Ris juga menikmatinya.” Risa menggeleng pelan. “Jangan paksa aku mengingatnya.” “Kenapa Bu Ris tadi malam membiarkan aku mendekat?” Risa menatap Dani, matanya mulai memerah. “Karena aku lemah. Aku kesepian. Dan karena kamu tahu caranya membuatku merasa... dibutuhkan.” “Lalu kenapa sekarang Bu Ris berubah?” “Karena aku sadar, rasa butuh itu bukan alasan untuk mengkhianati janji. Aku menikah bukan hanya untuk bahagia, tapi untuk bertanggung jawab.” Dani memejamkan mata sejenak. Hatinya seperti dicabik. Ia tahu Risa benar, tapi kenyataan tak pernah semudah itu untuk diterima. “Aku janji nggak akan minta apa-apa lagi,” bisiknya. “Kalau suatu hari Bu Ris... merasa butuh seseorang, aku akan ada. Tapi aku nggak akan minta lebih dari sekadar... tanganmu.” Risa tersenyum getir. “Itu justru yang kutakutkan. Kamu terlalu bisa membuatku lupa diri.” Ia meneguk minumannya, lalu berdiri. “Aku harus pulang.” Dani ikut berdiri. “Aku antar.” “Enggak usah,” potong Risa. “Kita cukup sampai sini.” Ia melangkah pergi, meninggalkan Dani yang berdiri mematung. Dari jendela kafe, Dani melihat Risa berjalan menuju parkiran, tubuhnya tegak, langkahnya pasti. Tapi Dani tahu, di balik itu, hati perempuan itu sama remuknya. Malam turun perlahan. Dani duduk kembali. Minuman di hadapannya sudah dingin. Suasana di kafe makin lengang, dan Dani merasa seperti orang terakhir di bumi yang masih menggenggam kenangan yang tak bisa ia lepaskan. Di dalam benaknya, suara Risa terus bergema. “Aku juga punya perasaan...” Dan itulah yang paling menyakitkan. Cinta yang nyata, tapi tak boleh dimiliki. ** Di kamar yang ditempatinya, di rumah Johan, kakaknya. Dani tak dapat menyembunyikan kegundahannya. Di balik jendela kamarnya yang sempit, Dani berdiri sambil membayangkan Risa. Sudah beberapa jam ia tak bisa tidur. Sejak pertemuan sore tadi, pikirannya terus digelayuti rasa bersalah dan kehilangan. Bukan karena Risa menolak dan memilih meninggalkannya, tapi karena untuk pertama kalinya, Dani merasa jatuh cinta. Ia keluar kamar, berjalan pelan ke arah loteng. Tangga kayu tua berderit setiap kali ia pijak. Angin malam menyusup dari celah atap, membawa hawa dingin yang menyengat kulit. Loteng rumah kakaknya pun hampir sama dengan loteng rumah Risa. Biasa dipakai untuk menjemur pakaian. Seperempatnya dicor, sisanya hanya rangka baja ringan dan atap asbes. Dari situ, ia bisa melihat loteng rumah Risa yang hanya dipisahkan satu tembok pembatas rendah. Ia duduk di dekat toren air, menatap ke bawah. Rumah Risa sunyi, tapi lampu kamar mandi menyala. Dani menarik napas dalam-dalam. Ia merasa bersalah, tapi hasrat dalam dirinya lebih kuat dari logika. Tanpa pikir panjang, ia naik ke tembok, lalu melompat ke loteng sebelah dengan gerakan hati-hati. Kali ini tidak menimbulkan suara berisik. Jantungnya berdebar kencang, seperti waktu malam itu—malam yang tak pernah ia bayangkan akan terjadi. Saat itu, suara ketukan pintu dan panggilan lirih suami Risa memaksanya kabur lewat loteng, nyaris jatuh saat mendarat. Kini, malam ini, ia kembali ke tempat yang sama, tapi bukan untuk menjamah, melainkan untuk memahami. Ia membuka sedikit penutup plafon. Ruang sempit di antara plafon dan atap itu nyaris tak bisa dimasuki orang dewasa.. Ia merayap perlahan, berusaha tak menimbulkan suara. Ia tahu itu salah. Tapi batinnya mendesak. Ia ingin tahu… seperti apa sebenarnya hubungan Risa dan suaminya? Apa yang membuat Risa terlihat begitu kesepian? Dari celah ventilasi plafon kamar Risa, ia mengintip. Perempuan itu masuk, masih mengenakan pakaian blouse, tapi ke bawahnya ia hanya mengenakan celaba pendek. Risa membuka kancing blousenya, mengganti baju dengan piyama. Dani menunduk sejenak, menahan napas. Ia memalingkan pandangan secepat mungkin. Bukan itu yang ia cari malam ini. Beberapa menit kemudian, Risa naik ke loteng—hanya beberapa meter dari tempat Dani bersembunyi. Ia mengambil handuk dari jemuran, lalu turun lagi. Dani menahan diri untuk tidak bergerak sedikit pun. Suara air mengalir dari kamar mandi. Risa sedang mandi. Dani tak melihat, hanya mendengar, dan entah kenapa, itu justru membuat hatinya lebih kacau. Ia tak menikmati suara itu seperti biasanya. Yang muncul justru rasa bersalah dan pilu. Setelah sekitar dua puluh menit, Risa keluar dari kamar mandi. Ia melangkah ke kamarnya, mengenakan pakaian tidur yang sederhana, lalu ke dapur. Ia mulai menyiapkan makanan ringan, menggoreng tempe dan merebus air. Dani bisa melihatnya dari celah sempit antara ruang tengah dan dapur. Tak lama kemudian, terdengar suara motor memasuki halaman rumah. Lampu sorot menyapu dinding luar rumah. Dani menegang. Ia mengenali suara itu—motor bebek tua milik Amrin. Risa buru-buru keluar rumah. “Mas... akhirnya pulang juga,” terdengar suara lembutnya. “Macet, Ris,” balas suara berat Amrin. Dani memicingkan mata. Sosok pria paruh baya dengan perawakan tinggi dan rambut mulai memutih, membawa tas kerja. Mereka masuk ke rumah. Risa menyuguhkan secangkir kopi, lalu duduk di ruang tengah. Dani mengintip dengan seksama. Obrolan mereka ringan, tentang cuaca, banjir yang sempat masuk dua hari lalu, dan kondisi jalanan. Amrin tampak lelah, tapi sesekali tersenyum. Dani mengamati, mencoba mencari celah untuk membenci pria itu, tapi tak menemukan apa-apa. Amrin terlalu... biasa. Terlalu tenang. Terlalu baik. Setelah makan malam sederhana yang dimasak Risa, mereka membersihkan meja bersama. Risa kemudian pamit masuk kamar duluan. Dani menahan napas, lalu beringsut ke ruang para-para di atas kamar Risa. Ia tahu itu konyol. Tapi ia merasa ada sesuatu yang ingin ia lihat—mungkin sebuah alasan untuk memahami mengapa perempuan seperti Risa bisa begitu kosong di tengah rumah yang terlihat normal. Amrin masuk ke kamar sekitar sepuluh menit kemudian. Ia hanya mengenakan celana pendek dan kaus tipis. Ia duduk di pinggir ranjang, membuka jam tangan, lalu naik ke ranjang. Risa sudah berbaring membelakangi. “Ris,” ucap Amrin, suaranya pelan, “boleh aku... mencoba lagi malam ini?” Risa tak menjawab, hanya mengangguk pelan. Amrin mendekat, menyentuh bahunya. Lalu pelan-pelan, menyentuh pinggangnya. Dani menahan napas. Tapi kemudian sesuatu yang tak terduga terjadi. Gerakan Amrin berhenti. Ia menghela napas berat. Lalu terdengar suara yang pelan namun jelas: “Maaf, Ris. Aku… aku belum bisa…” Risa berbalik, memeluk suaminya. “Nggak apa-apa, Mas. Aku ngerti.” Mereka berpelukan dalam diam. Tidak ada pelampiasan. Tidak ada hasrat yang tumpah. Hanya keheningan dua orang yang saling berusaha. Dani mundur perlahan dari celah itu. Tangannya gemetar, matanya panas. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa bersalah bukan karena tertangkap, tapi karena tahu. Tahu bahwa cinta itu rumit. Tahu sedikit tentang Risa. Ia bukan sekadar wanita yang kesepian—dia adalah seorang istri yang sedang mencoba bertahan, bersama seorang suami yang sedang kalah oleh waktu dan tubuhnya sendiri. Dani kembali ke loteng rumah kakaknya. Ia duduk lama di dekat toren air. Malam semakin larut. Tapi hatinya belum ingin tidur. Ia merasa... hampa. Tapi juga tercerahkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN