Bab 3 : Tawaran untuk kembali.

1008 Kata
Jefri menyusul Tuan Mudanya dan bernafas lega ketika wanita itu berhasil menyelamatkan Samir. “Astaga Tuan! Syukurlah anda selamat! “kata Jefri dengan nafas tersengal. Dia sudah berdiri di samping Samir dan melirik Hana. “Terima kasih Nona sudah menyelamatkan Tuan saya .” Hana tersenyum lembut. “Iya tidak masalah. Syukurlah kalau Tuan anda tidak terluka.” Samir memandang tangan gadis itu yang masih memegang kedua sisi pinggiran kursi rodanya. Kepalanya mendongak menatap wajah gadis itu. Dia tidak mengatakan apapun. Tapi mata pria itu seolah merekam wajah gadis di depannya dengan tajam. Senyum yang dia tunjukkan membuat Samir tertegun. Dia memandanginya tanpa henti, dan ketika wanita itu menunduk mata mereka saling bertemu. Dan saat itu pula angin kembali menerpa dan bunga Flamboyan kembali berguguran seolah menyambut pertemuan dua insan yang tak saling mengenal itu. “Anda tidak apa-apa kan? “Hana bertanya kembali. Samir mengangguk kaku padanya. “Baiklah. Kenapa kalian bisa berada di tempat ini? “tanya Hana kemudian. Samir hanya diam tak menjawab. Jefripun mengambil inisiatif untuk menjawab. “Ya. Tuan saya menyukai tempat ini,” “Benarkah? “Mata Hana berbinar gembira. “Wah, Saya tidak menyangka ada yang tahu tempat ini selain saya. Saya juga menyukai tempat ini. “ “Benarkah nona? “ “Ya. Saya menyukai tempat ini sejak saya remaja. Saya juga sering kemari. Baiklah,saya sudah harus pergi sekarang. Berhati-hatilah untuk pulang nanti, ya. Jalannya sangat licin. Saya saja tidak bisa menghitung berapa kali terpeleset di sini.” “Anda sangat benar nona! Saya juga!”timpal Jefri antusias. Dia merasa senang bertemu dengan Hana. “Baiklah saya pamit dulu.”dia melirik kembali pada Samir dan baru menyadari jika pria itu menatapnya sejak tadi. Dan Hana baru menyadari satu hal dan membuat bibirnya membentuk senyum tertahan. “Saya permisi, Tuan. “Hana membungkuk sopan kepada Samir juga Jefri dan melangkah pergi dari sana. Dia melangkah dengan senyum mengembang. “Buset. Ganteng banget ya Allah! “batinnya berteriak girang. Sepanjang jalan Hana terus tersenyum sampai dirinya meninggalkan danau itu. “Nona itu baik sekali ya Tuan. Dia juga sangat cantik! Ahh, kalau dia menjadi istri. Pasti sudah menjadi istri idaman ya, Tuan. “celoteh Jefri sambil mendorong kursi roda Samir ke pinggir danau. “Tuan? Kenapa anda diam saja Tuan? “panggil Jefri ketika Samir hanya diam saja. Ya walau memang selalu begitu. Tapi dia merasa aneh dengan diamnya Samir kali ini. Samir tiba-tiba berkata, “Tadi gadis itu mengatakan dia sering kemari kan? “ “Ya? Saya dengar begitu juga Tuan. Kenapa? “tanya Jefri heran. Samir tak langsung menjawab. Dia menatap sekeliling danau itu juga pohon flamboyan di atasnya. Dia berkata, dengan senyum miring di bibirnya. “Atur untukku Jef. Beli seluruh lahan danau ini. Semuanya tanpa terkecuali! Tidak ada yang boleh kemari selain aku!” “Whattt?! “pekik Jefri. *** Hana langsung pulang ke apartementnya dengan menggunakan taksi yang kebetulan lewat saat dia keluar dari danau itu. Setelah sampai, dia langsung menaiki lift untuk langsung ke lantai 4 apartement mewah itu. Semua yang dimilikinya saat ini adalah hasil usahanya juga Clara sahabatanya. Mereka tinggal dan berjuang bersama setelah mereka lulus Sma. Hanya Claralah yang mengenal siapa dirinya yang sebenarnya. Dan ada satu orang lagi, yaitu pemilik apartment mewah itu yang juga sudah berteman baik dengan Hana. Pemilik apartement yang bersedia merahasiakan identitas aslinya sebagai putri dari keluarga Hilmawan. Hana benar-benar ingin hidup bebas dari beban nama keluarga itu yang bahkan tidak pernah benar-benar menganggap dirinya. Hana mengetikan pasword pada pintu apartnya. Semuanya tampak sunyi dan gelap, karena tidak ada siapapun kecuali dirinya saat ini. “Apa aku ke kantor aja ya? Tapi nggak mood banget ke kantor. Enaknya rebahan aja kali ya! Atau aku masak aja lah, biar si Clara nggak ngomel kalau pulang nanti!” sambil mendengus Hana menaiki tangga, memasuki kamar. Kemudian dia membuka hijab dan menganti pakaiannya. Jam masih menunjukan pukul 13.00. “Sekalian sholat dulu kali ya.” Hana pun beralih ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan menjalankan ibadahnya. Selesai sholat Hana tak lupa mengabari Clara jika dia sudah pulang. Dia pun mengetikan pesan kepada sahabat bawelnya itu. -aku udah sampai dirumah ya, beb ;) males ke kantor, gantinya aku yang masak makan malam hari ini. Jangan ngambek, nanti cepet tua. Wkwkkw, ilu - Hana Hana terkekeh membaca tulisanya kembali. 1 menit kemudian balasan dari Clara pun membuatnya tertawa kencang. -Hana bangke! Tukang kibul, masakin aku ayam rendang, opor ayam, sop ayam, sate ayam, nasi goreng ayam, titik gak pakek koma!!!!!- Clara. ­ -Buseeett, ngeri banget tuh. Laper apa doyan neng- Hana -aku nguli hari ini gara-gara siapa?! Pokoknya aku minta porsi kuli hari ini, titik!-Clara. -Okeyy fixxx...-Hana Hana tak bisa menahan senyum ketika Clara membalas dengan emoticon love padanya. Dia benar-benar merasa beruntung ada Clara di sisinya. Yang menemaninya selama ini dan mau berjuang bersama dirinya. “Sayang banget sih aku sama dia! Ahhh, indahnya punya sahabat baik!”gumam Hana. Dia pun turun ke bawah untuk mulai memasak. Karena tuntutan menu dari Clara tak akan selesai jika tidak dikerjakan dengan menu sebanyak itu. Dia memeriksa kulkas dan bernafas lega ketika semua bahan yang dibutuhkannya masih ada. “Untung baru belanja bulanan. Clara-Clara, emang dia tuh kalau makan udah kayak ngasih makan 5 orang. Cape dehh!” Meski tinggal berdua, Hana satu-satunya yang selalu bertanggung jawab untuk urusan dapur. Jika Hana tidak masak, atau berbelanja maka sudah pasti asap tidak mengepul di dapur mereka melainkan hanya akan Ada bunyi bell Dari abang gofod saja. Dia mulai mengeluarkan bahan-bahan dan memotong-motongnya. "Kalau semua ayam, akan membosankan. Lagian, Clara aneh-aneh aja. Semuanya minta ayam, udah kayak serial kartun yang botak kembar Itu aja." Hana mendengus kesal. Akhirnya gadis Itu memutuskan untuk menambahkan Ikan di dalam variasi masakannya. Namun saat itu ponsel yang diletakan di sampingnya kembali bergetar. Keningnya berkerut ketika melihat nomor asing itu. Dia mencoba membuka dan membacanya. Lidahnya terasa kelu, tubuhnya terpaku, dan matanyapun menatap sendu membaca pesan itu. -Hana. Ini papa! Kakakmu hari ini menikah. Untuk kali ini pulanglah Hana. Papa dan mama juga Calista menunggumu. Jangan terus bersembunyi dari kami, karena itu hal yang tidak berguna. Jika kamu tidak datang, papa akan mengirim seseorang untuk menjemputmu!- *** #Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN