Clara menatap bingung sahabatnya, gadis itu sudah pulang sejak 1 jam yang lalu untuk mengambil jatah makan siangnya di apartement. Dan saat pulang tentu saja Clara sangat senang karena Hana benar-benar menepati janjinya untuk membuatkannya banyak makanan.
“Kenapa Han? Kok diam aja. Kamu pasti capek karena masakinn aku ya? Maaf dong Hana, inikan juga sebanding dengan kerjaan kamu yang numpuk di kantor aku yang bantu beresin.” Kata Clara.
Hana tersenyum menatapnya. “Enggak, Ra. Sama sekali bukan masalah itu. Aku hanya memikirkan seuatu. Dan sepertinya itu bukan hal yang bagus.” Ujarnya.
Clara meletakan sendoknya. Gadis itu menghentikan makananya ketika melihat ekspresi Hana yang terlihat serius. Clara tahu jika Hana bersikap begitu berarti sahabatnya itu sedang memiliki masalah.
“Ada masalah apa?” tanya Clara.
Hana tidak menjawab. Namun gadis itu menyerahkan ponselnya kepada Clara. Kerutan tampak di kening sahabat Hana itu. “Baca saja. Seseorang dari masa lalu sedang mengusikku.”
Ekspresi Clara yang tadi penasaran kini berganti menjadi marah. Bahkan terdengar desisan tajam dari sahabatnya itu. “Apa jawabanmu? Jangan sampai kamu menerimanya, Han!” tegas Clara.
“Aku nggak tahu, Ra.”
“Apanya yang sulit! Mereka sudah membuangmu sebelumnya dan lebih memilih si jalang Calista itu. Sekarang mereka mengundangmu ke pernikahannya. Cih, menjijikan sekali!” decak Clara.
Hana menghela nafas. “Aku bingung, Ra. Sekarang harus bagaimana, aku juga nggak tahu. Kalau aku menolak datang, aku takut ayah akan mencariku dan mengusik semua hal yang sudah kita bangun bsrsama. Aku yakin dia akan mengusik ketenangan kita.”lirihnya
“Hana, dengerin aku! Selama ini kita sudah hidup dengan baik. Kamu juga berhasil sampai sekarang karena jauh dari embel-embel putri Hilmawan. Mereka nggak akan semudah itu menghancurkan yang udah kita bangun, Han!” tegas Clara.
“Tap---“
“Udah, ya! Kita bahas ini nanti.” Sela Clara, gadis itu bangkit dari duduknya. “Aku udah selesai, aku balik ke kantor sekarang.”
“Ra, makananmu belum habis!” tegur Hana. Dia jadi merasa bersalah. Clara pasti merasa kesal dan tak nyaman karena pembicaraan mereka tadi.
“Aku udah kenyang, Han. Aku mau ke kantor masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kamu di rumah saja istrahat.”
Clara ingin melangkah pergi. Namun dengan cepat Hana mengerjanya, menghentikan langkah Clara. “Ra. Maaf, jangan begini. Habiskan dulu makananmu. Maaf jika membuatmu nggak nyaman.” Cicitnya.
Clara menghadap ke arah Hana. Gadis itu menarik napas dan menghembuskannya perlahan. “Han, aku nggak marah sama kamu. Aku cuman kesel sama mereka yang seenaknya nyuruh-nyuruh kamu begitu. Kamu juga tahu kalau aku nggak suka banget sama keluarga kamu terutama Calista.” Ujarnya.
Hana mengangguk. Dia mengerti dengan ucapan Clara. Karena di masa lalu mereka berdua punya pengalaman buruk yang di sebabkan oleh tingkah Calista. Hana menyesali hal itu karena sudah membuat Clara, sahabatnya terlibat.
“Maaf..” cicit Hana. “Aku bukan bermaksud untuk membuka luka lama.”
Clara tersenyum. “Hana. Dulu kita memutuskan untuk keluar dari neraka yang orang kita buat untuk kita. Kamu dan aku sama-sama terjebak dalam keluarga yang toxic tapi kita nekad keluar untuk menyelamatkan diri kita. Sekarang kamu dan aku sudah sama-sama tumbuh dewasa. Dan kita tahu apa yang baik dan buruk.”
Clara menepuk pelan pundak Hana. “Untuk masalah yang satu ini aku nggak akan ikut campur. Apapun keputusanmu kamu pasti tahu semua dampaknya. Tapi aku cuman mau kasih saran sama kamu. Jangan mengambil keputusan terburu-buru.”
“Iya aku paham. Aku nggak akan membalas pesanya.” Balas Hana.
“Yaudah aku ke kantor dulu. Kamu nggak usah ke kantor! Aku tahu kondisi hati kamu lagi kacau. Nanti kalau kerja malah jadinya kerjaan juga itu kacau... hahaha...” canda Clara.
Pukkk...
Hana menepuk pipi Clara pelan. “Somplak! Udah sana balik ke kantor.”
“Iye-iye, main tepok-tepok aja sih. Udah ah, aku pergi dulu. Mungkin pulang sebelum magrib nanti. Assalamualaikum...”
“Iya, Waalaikumsaam.”
Hanaa kembali ke kamarnya setelah kepergian Clara. Gadis itu memilih rebahan di kasur sambil membaca Novel untuk reverensi buku terbaru yang sedang dia tulis. Selain membuka kantor penerbitan tentu saja Hana sendiri adalah seorang penulis.
Dia menyukai semua genre namun bukan berarti dia bisa menulis semua genre. Hana sendiri penyuka cerita romance, hal itulah yang membuatnya memiliki banyak karya dengan tema itu.
“Ahhh... rebahan sambil baca buku memang sebuah kenikmatan dunia.” Gumamnya. Hana terlalu fokus membaca sampai matanya tiba-tiba terasa memberat. Perlahan matanya terpecam dan dia pun terlelap dengan buku yang menutup kepalanya.
***
Di sisi lain, sebuah rumah yang besar dan megah tampak di buat heran dengan Tuan mereka yang sudah pulang.
Jefri mendorong kursi roda Samir. Tadinya niat mereka adalah menemui keluarga calon pengantin untuk melamar dan memberikan seserahan. Namun di pertengahan jalan, tepatnya setelah pulang dari Danau Samir mengatakan bahwa dia ingin pulang.
Bibi Mariam memberikan kode mata kepada Jefri saat mereka melewati dapur. “Kenapa kok pulang cepat?” tanya Bi Mariam dengan kode matanya.
Jefri menggedikan bahunya dengan kepala menggeleng. Lalu mengangguk pelan kemudian “Nggak apa-apa. Nanti ku jelakan!” Bi Mariam hanya mengangguk. Mereka berdua sudah biasa melakukan pembicaraan melalui kontak mata maupun batin.
Jefri membantu Samir menaiki lift dan mengantarkan Tuan mudanya ke kamar. Setelah masuk, Jefri mengeluarkan unek-unek dan juga berbagai pertanyaan yang sudah dia tahan sedari tadi.
“Tuan, anda yakin ingin pulang? Keluarga Hilmawan pasti sudah menunggu anda di sana.” Cetus Jefri.
Samir memutar kursi rodanya sendiri, menuju ke arah balkon masih diam tak menanggapi ucapan Jefri. “Ye, Tuan. Saya masih di sini loh, dan hidup loh ini.” protesnya.
Yakinlah. Hanya Jefri yang bisa berbicara seperti itu kepada Samir. “Nanti kalau Tuan besar tahu anda tidak melamarnya bagaimana? Bisa marah lagi, kan!”
“Aku tahu.” Balas Samir singkat.
Jefri berdecak. “Ya kalau tahu, ayo kita balik ke sana sekarang! “
“Tidak perlu. Aku punya cara lain.”
“Cara lain? Maksud Tuan bagaimana?”
Samir meyibak kain gorden itu hingga terbuka lebih lebar. Kamar terlihat sangat terang karena cahaya yang masuk ke dalamnya. “Mereka bukan menungguku. Kirimkan saja hantaran mahar itu kepada keluar Hilmawan. Dan sampaikan pesan kepada mereka. Bahwa aku hanya akan datang, besok pada hari pernikahan!”
Ucapan Samir membuat Jefri terkejut. “Apa maksud anda Tuan? Kenapa anda berpikir begitu? Apa rencana yang anda sedang lakukan?”
Sudut bibir Samir tetarik miring. “Cukup lakukan saja. Aku yakin pernikahan itu tidak akan terjadi. Tapi aku perlu membuat sesuatu untuk mewarnai hari itu.”
Jefri hanya mengangguk paham. Dia yakin Tuannya itu pasti sedang merencanakan sesuatu. “Baiklah Tuan, saya akan melaksanakan perintah sesuai keingnan anda. Kalau begitu saya pamit. “
“Ya, pergilah.”
Setelah berpamitan Jefri keluar dari sana membiarkan Samir yang masih duduk di kursi rodanya dengan pandangan menatap kosong ke depan.
Pria itu meremas pinggiran kursi rodanya dengan erat. Rahangnya terkatup rapat dengan giginya yang bergemelutuk. “Aku tidak bisa menolak pernikahan ini kan? Maka kalau begitu akan aku buat mereka yang menolakku...” desisnya.
#Bersambung...