Di rumah keluarga Hilmawan.
Seorang gadis dengan tubuhnya yang tinggi semampai, serta lekukan tubuh yang terlihat sangat langsing itu tentu menjadi dambaan bagi para wanita yang ingin memiliki bentuk tubuh seperti model terkenal itu.
Siapa lagi kalau bukan. Calista Abigail Hilmawan, putra pertama dan yang paling disayangi oleh ayah dan ibunya.
“Calista!”seseorang membuka pintu kamarnya dan memanggilnya dengan nada lembut.
Gadis cantik itu tampak menghentikan kegiatannya yang sedang berpose-pose di depan cermin dengan gaun indah yang dikenakannya.”Yes Ma. Ada apa?” katanya melirik sekila pantulan sang mama dari cermin dan kembali melanjutkan kegiataanya.
“Wahh, putri Mama cantik sekali! Memang tidak salah keluarga Fadekya melamar kamu untuk putra mereka!” puji Renata, sang ibu.
Calista tersenyum miring, sembari mengibaskan rambut indahnya dengan sangat percaya diri. “Tentu saja. Aku ini kandidat terbaik yang pantas menjadi menantu keluarga Fadekya. Ahhh.. rasanya tidak sabar bertemu dengan calon suamiku hari ini.” ujarnya dengan senyum lebar.
“Mama yakin pasti Tuan Muda tidak akan bisa berpaling dari putri Mama yang cantik ini. Semoga saja mereka segera datang ya!” kata Renata dengan mata berbinar-binar.
Tentu saja! Siapa yang tidak senang akan memiliki menantu dari keluarga terkaya dengan berbagai perusahaan mereka yang sukses di dunia bisnis nasional dan internasional. Membayangkan akan memiliki rumah yang lebih mewah dari rumah mereka. Pasti akan sangat menyenangkan.
Tokk...
Tokkk...
Lamunan keduanya terhenti ketika Bi Lastri, pembantu mereka mengetuk pintu kamar. Dengan sedikit kesal Renata menyuruhnya masuk. “Ada apa? Menganggu saja!”” cetus Renata.
Bi Lastri menunduk takut, wanita berusia 50an tahun itu berkata. “Ma-maaf Nyonya, Tuan menyuruh Nyonya dan Nona turun ke bawah. Sepertinya tamu sudah datang...”
Sontak saja raut wajah kesal kedua ibu dan anak itu, kini tergantikan dengan binar bahagia dan jangan lupakan pekikan mereka. “ASTAGA! MEREKA SUDAH DATANG!” teriak Renata heboh.
“Cepat... cepat, ayo sayang kita turun!” ajak Renata pada putrinya yang dengan terburu memoles liptin di bibirnya.
“Iya, ma. Ayo....”
Mereka berdua keluar dari kamar. Renata merangkul lengan sang putri lalu keduanya berjalan anggun menuruni tangga. Pikirnya, mereka harus telihat begitu di hadapan besan dan calon menantu ataupun calon suami mereka.
Namun saat sampai di lantai bahwa keduanya di buat heran karena tidak ada satupun tamu di sana. Emir, sang suami yang sejak tadi berdiri di depan pintu melihat anak dan istri, langsung menghampirinya.
“Ma...” panggilnya.
Renata menatap suaminya bingung. “Loh, Pa. Kenapa sunyi? Katanya mereka sudah datang kan?”
“Iya, Papa pikir begitu...” belum lagi pria itu melanjutkan ucapannya beberapa orang masuk ke dalam rumahnya dengan berbagai macam barang bawaan. “Permisi Tuan ini di letakan di mana?” tanya salah satu dari mereka yang memakai setelan jas formal.
“Ahhh... taruh di meja saja.” Kata Emir dengan raut kebingungan.
Ketiganya langsung datang menghampiri mereka yang sedang menaruh barang-barang itu. “Apa ini? Dannn...” kepala Renata menatap ke arah pintu, mencari-cari sosok yang mereka nanti. “Di mana Tuan kalian? Apa keluarga Fadekya akan menyusul?”
“Tolong ambilkan yang lain...” tutur seseorang tadi kepada rekannya. Pria itu tidak lain adalah Jefri yang sedang menjalankan tugas dari Samir, Tuan mudanya.
“Kau tidak bisa menjawab kami? Kemana keluarga besanku?” tanya Renata tak sabaran. Jefri menggerutu dalam hati. “Cihh, tidak sabaran sekali.”
“Maaf sebelumnya. Tuan muda saya menolak untuk mengadakan acara lamaran ini...”
“APA?!” pekik ketiganya. “Jangan bercada!” sanggah Emir tak terima.
“Tolong jangan memotong ucapan saya Tuan , dan Nyonya. Tuan muda saya memberikan pesan kepada saya untuk di sampaikan kepada kalian, terutama kepada mempelai Nona Calista...” kata Jefri memandang ke arah gadis yang berdiiri di samping wanita paruh baya. Yang sudah bisa dipastikan jika itulah calon istri Tuannya.
Karena Jefri sudah pernah melihat wajah gadis itu di dalam foto. “Cantik sih! Tapi, kok kayak sesuatu gitu ya. ahh... entahlah, rasanya aku ingin segera pulang saja1”
“Apa? Dia ingin mengatakan apa! Jelaskan padaku, dan semua barang-barang ini apa maksudnya?” tanya Calista tak sabaran.
“Tuan Muda mengatakan semua ini adalah hantaran untuk acara lamaran yang tidak bisa dia hadiri. Sekaligus hadiah pernikahan yang Tuan muda saya berikan. Beliau memutuskan tidak datang di acara lamaran karena hanya akan datang saat akad pernikahan esok harinya. Saya harap tidak ada yang keberatan dengan keputsan Tuan muda saya...” Jefri menjelaskan.
Ketiga orang di depannya tampak bingung harus merespon bagaimana dan hanya saling pandang saja. “Kalau begitu saya permisi. Besok Tuan Muda akan mengirimkan penata rias untuk acara akad dan resepsi. Dan akan ada mobil yang menjemput anda ke gedung pernikahan.”
“Apakah pernikahan ini akan diumumkan di khalayak ramai?” tanya Renata.
Jefri tersenyum tipis. “Tentu saja. Anda pikir Tuan muda tidak akan memperkenalkan istrinya kepada publik?”
Calista terlihat sangat senang sekali. Gadis itu bahkan terlihat malu-malu, namun sayangnya tingkahnya itu malah terkesan di buat-buat dan menggelikan di mata Jefri. “Ciih... dia tidak terlalu pandai berakting sepertinya!” hardik Jefri dalam hatinya.
“Ah... baik-baiklah, kami akan menerima semua keputusan Tuan Muda itu.” kata Emir.
Jefri pamit undur diri dari sana. Pria itu keluar bersama para rekannya dan bernafas dengan sangat lega. “Buset dah. Enggap banget tuh rumah ya? Pada besar banget, ya walau nggak sebesar rumah istana Tuan Muda sih!” cetusnya.
“Iya, Tuan Jefri anda benar!” timpal ke 5 rekannya yang berjalan di sampingnya.
“Sudah lebih baik kita ke gedung pernikahan dan mengurus semuanya. Lakukan sesuai keinginan Tuan Muda Samir, oke?”
“Baik!” sahut mereka serentak.
Jefri menaiki mobilnya dan keluar dari lingkungan rumah itu di ikuti 3 mobil lainnya yang menyusul di belakangnya. Jefri merogoh jasnya dan mengetik pesan kepada Samir.
[Tugas pertama sudah selesai Tuan!] lapornya. Beberapa detik menunggu tak ada balasan, dia pun kembali menyimpan poselnya.
Walau dia tahu Samir tidak membalasnya tapi dia yakin bahwa Samir sudah membaca pesan darinya itu. Yap... tugasnya hanya melapor saja , kan?
Renata dan Calista tampak sangat senang dengan semua hadiah hantaran yang di antarkan oleh Samir. Walaupun mereka tidak tahu pasti dengan rupa wajah menantu asli mereka namun sepertinya mereka sangat senang menatap berbagai macam barang dari merek terkenal itu.
“Ahhh... luar biasa sekali memang Tuan Muda itu. Dia memberikan hadiah sebanyak ini hanya untuk lamaran. Aku tidak bisa membayangkan akan hidup semewah apa aku setelah menikah dengannya, Ma!” celoteh Calista memakai tas bermerk GUCCI yang sangat mahal itu.
Renata mengangguk antusias. “Iya sayang. Kita sagat beruntung! Kau juga dengar tadi orang yang mengantarakn ini bilang penikahanmu akan di umumkan di publik! Itu artinya semua orang akan tahu kalau kita akan menjadi bagian dari keluarga Fadekya!”
Calista tersenyum miring. Dalam hati dia tertawa sangat puas. “Lihat Hana! Setelah mengusirmu dari rumah ini, aku bahkan sebentar lagi akan menjadi Nyonya rumah lain di keluarga Fadekya. Sedangkan bagaimana dirimu? Hahahah... mungkin kau hidup menggelandang.”
#Bersambung...