Bab 6 : Pergilah!

1381 Kata
Di rumah utama keluarga Fadekya. Terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk di rondok kecil yang ada di halaman belakanganya. Sedang menikmatai teh sore bersama istrinya. “Pa, menurutmu apa kita harus tetap melanjutkan pernikahan ini?” tanya Rania. Pria yang berstatus suaminya itu, langsung meletakan tehnya dan menatap ke arahnya. “Maksudmu bagaimana, istriku?” Rania menghela pelan. Wanita berusia 45 tahun itu terlihat sangat anggun dengan dress biru muda yang melekat di tubuhnya. “Ya, maksduku. Apa ini tidak terburu-buru? Kita bahkan belum bertanya pada Samir apa dia akan menyukai pilihan kita.” “Rania. Aku rasa kita sudah pernah membahas ini sayang? Selama ini Samir sudah hidup bebas dengan pilihannya sendiri. Sampai akhirnya dia terlalu ceroboh dan mengalami kecelaakan yang membuat kondisinya sampai seperti ini.” ujar sang suami. “Aku rasa putri keluarga Hilmawan adalah salah satu kandidat yang tepat untuk kita jadikan menantu. Selain putrinya yang cantik dan mandiri, aku yakin itu akan menutupi kekurangan pada putra kita yang lumpuh...” “Mass...kenapa kamu berkata begitu!” tegur Rania. “Aku tidak suka mas berkata begitu tentang Samir. Aku yakin dia pasti bisa sembuh mas! Samir hanya perlu perawatan dan terapi, pasti dia bisa berjalan lagi.” Wanita itu sangat tidak terima dengan ucapan sang suami. Ntah mengapa Suami dan anak pertamanya itu sangat sulit untuk akur. Selalu saja bertengkar dan saling bersaing padahal mereka adalah ayah dan anak. Sulaiman mengedikan bahu tak acuh. “Kalau dia bisa sembuh tentu sekarang dia sudah sembuh Rania. Ini sudah berjalan 3 tahun dan kau terus mengajaknya untuk terapi, tapi hasilanya nihil kan?” sindir Sulaiman. “Itu karena kamu terlalu memanjakan putramu yang keras kepala itu! Dia terlalu keras kepala sampai memilih membuat perusahaannya sendiri dari pada melanjutkan perusahaan yang sudah ku bangun!” “Ya tapi kan, Samir berhasil Mas! Dia berhasil membuat perusahaannya sendiri, dan sudah memiliki nama di dunia bisnis.” Rania kekuh membela putranya. Memang kedua pasangan suami istri itu memiliki sudut pandang berbeda kepada putra mereka. “Tapi dia bersembunyi sekarang. Kenapa? Karena dia sekarang tak lebih dari pria lumpuh! Kau tahu setiap aku menghadiri pertemuan bisnis, para rekan bisnis selalu bertanya tentang dia! Apa yang harus ku jelaskan! Apa aku harus bilang kalau dia lumpuh? Atau sudah meninggal?” “MAASSS! JAGA BICARAMU! DIA ITU PUTRAMU?!” sentak Rania. Wanita itu sudah tak tahan lagi dengan ucapan pedas dari mulut suaminya. Sulaiman menatap istrinya dengan tatapan datar. “Dia terlalu keras kepala untuk menjadi putraku. Mungkin Anand putraku yang terbaik karena dia selalu menuruti kemauanku.”  Pria itu bangkit dari duduknya meninggalkan sang istri yang hampir menangis mendengar ucapannya. Rania terduduk lemas menatap sendu pungung suaminya yang sudah menghilang dari padangannya. “Astagfirullah, kenapa kamu berubah sejauh ini Mas.” Liihnya. Wanita itu merasa sangat kehilangan sosok Sulaiman yang lembut dan penyayang yang dulu di kenalnya. Namun kini pria itu sangat egois, arogan dan sangat suka bertutur kata yang kasar dan meremehkan. Rania meraba lehernya. Sebuah kalung tergantung indah di sana, wanita itu melepaskan kaitan kalung itu dan menatap kalung yang sudah ada di telapak tangannya. Sebuah kalung dengan bentuk love. Dia membuka kalung itu. Dan sebuah foto dengan bentuk yang sama seperti tempatnya ynag berbentuk love. Di sana ada sepasang foto keluarga yang sangat bahagia. Ada Sang suami, dirinya dan juga Samir putranya. Air mata Rania menetes menatap foto itu. “Tidak bisakah kita seperti dulu? Menjadi keluarga yang bahagia tanpa ada saling membenci di antara kalian?” gumamnya pilu. Sejak peristiwa di masa lalu yang menciptakan kekecewaan dan kehancuran dalam keluarga kecil mereka. Samir yang sangat kecewa dengan keputusan sang ayah memilih meninggalkan keluarganya. Meninggalkan sang ibu yang saat itu memilih tetap bertahan di antara cinta dan rasa sakit yang sudah di pastikan akan dia alami.  Rania merasa menjadi sosok ibu dan istri yang gagal dalam menjaga keluarga untuk tetap utuh. Namun, wanita itu tidak bisa melakukan apapun untuk memperbaiki semuanya saat ini. Bahkan dia tidak bisa menetang keinginan sang suami yang kali ini dengan seenaknya mengatur pernikahan untuk putranya. “Nyonya... permisi...” Rania tersentak kaget, dan dengan cepat mengusap air matanya. Wanita itu menatap ke samping pada seorang wanita yang memakai pakaian pelayan. “Iya?” “Saya di minta Tuan besar untuk menyampaikan kabar ini pada Nyonya.” Tutur pelayan itu. Rania mengerutkan dahinya bingung. “Kabar apa itu, Bi?” “Itu-itu...” “Ada apa? Katakan dengan jelas, jangan takut begitu!” tukas Rania. “Tuan Muda Samir menerima pernikahan ini. Baru saja kabar di sampaikan oleh pihak keluarga Hilmawan yang menelepon Tuan besar tadi. Bahkan mereka mengatakan Tuan muda tidak datang untuk melamar, namun hanya mengirimkan hadiah hantaran. Beliau juga memutuskan untuk datang langsung untuk akad  dan resepsi pernikahan.” “APA?!” tanya Rania tak percaya. “Sungguh benarkah kabar ini, Bi?” wanita itu meremas dadanya. Hatinya tercubit mendengar kabar itu. “Benar Nyonya...” pelayan itu menatap raut wajah sedih Nyonyanya dan kemudian menunduk kembali. “Kalau begitu saya izin pamit, Nyonya.” Rania hanya mengangguk pelan. Pelayan itu pergi dari sana. “Ya Tuhan, semoga Nyonya dan Tuan muda Samir di berikan lebih banyak kekuatan lagi... Aamiin...” batinya. Dia adalah Inah salah satu pelayan tertua yang sudah mengurus rumah utama keluarga Fadekya. Bisa di bilang juga dia adalah kepala pelayan rumah itu. Bi Ina sudah melihat banyak kejadian di rumah itu. Dari kebahagiaan, dan kesedihan yang semua penghuni rumah itu alami dia juga ikut merasakan sedihnya. Terutama kepada Nyonya Rania yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri. Dia merasa sangat sedih dengan semua penderitaan yang Rania alami. Semua perubahan yang terjadi pada Sulaiman merubah juga keluarga bahagia itu menjadi keluarga yang terpecah dan hancur. Bi Inah hanya bisa berdoa agar semuanya bisa kembali baik. Walaupun semua ini sudah berlalu bertahun-tahun. Dia hanya bisa terus berharap agar suatu saat sebuah kebahagiaan kembali meliputi keluarga Nyonya Rania-nya. *** Rania tak tinggal diam. Usai mendengar kabar itu, wanita itu langsung memutuskan untuk pergi ke Rumah Samir untuk menanyakan tentang kebenarannya. Selama perjalanan dia terus berdoa semoga hal itu tidaklah benar. “Nak, mama mohon semoga kabar itu tidak benar. Semoga kamu tidak menerima pernikahan ini. Mama tidak mau kamu membuat keputusan yang salah dan berakhir seperti mama.” Gumamnya lirih. Wanita itu beberapa kali mengusap air matanya yang menetes. Dia berusaha untuk fokus mengemudi agar bisa segera sampai ke rumah putranya. Mobil pajero berwarna silver milih Rania akhirnya sampai di pintu gerbang utama Rumah Samir. Wanita itu membunyika klason, membuat satpam rumah keluar untuk melihatnya. Setelah mengenai mobil itu dengan cepat sang satpam membuka pagar dengan pinggiran emas yang tinggi menjulang. Satpam penjaga membungkuk hormat saat mobilnya melintas. Rania dengan cepat turun dari mobil setelah memarkirkannya di halaman rumah. “Samir... Samirr?!” teriaknya membuat semua orang yang ada di dalam rumah mewah nan megah itu datang menghampirinya dengan panik. “A-ada apa Nyonya?” tanya Bi Mariam yang juga panik karena mendengar teriakan ibu dari majikannya itu. “Di mana Samir, Bi?” “A-ada di kamarnya Nyonya.” Tunjuk Bibi Mariam ke arah lift. Yang tepatnya mengarahkan kepada kamar utama Samir yang berada di lantai 3. Rania berjalan cepat. Menekan tombol lift itu untuk segera menemui sang putra. Hatinya bertambah cemas seiring lift berjalan. Tingg... “Bismillah...” ucap Rania saat keluar dari lift. Dia berjalan dan tak jauh dari sana sebuah pintu dengan ukuiran kayu menghiasinya. Rania menekan tombol bel kamar itu. Dan kemudian sebuah suara terdengar dari sambungan interkom yang ada di pintu. “Siapa?” tanya suara itu dengan dingin. “Samir, tolong buka pintunya. Ini mama, nak.” “Mama?” tanyanya memastikan. “Iya mama. “ Tak ada sahutan setelahnya membuat Rania semakin cemas. Kemudian terdengar Samir berkata. “Pergilah, mah. Samir tidak ingin bertemu atau menjelaskan apapun.’ Rania mencelos mendengarnya. “Nak, jangan begini. Kita perlu bicara! Apa beanr kamu menerima penikahan ini?” “Apa yang mama dengar  maka itulah kenyataannya. Pergilah, Samir ingin istirahat.” “Nak, jangan membuat kesalahan yang sama seperti yang mama lakukan dulu. Kamu tidak akan bahagia jika menerima pernikahan ini...” Di dalam kamar Samir tersenyum miris mendengarnya. Pria itu memegang  erat sebuah alat yang menghubungkannya dengan interkom di luar. “Jika mama tidak bisa membantu, lebih baik mama tidak ikut campur masalah ini. Pergilah...” #Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN