Bab 7 : Hana Dan Clara!

1298 Kata
Rania memutuskan pergi dari kamar Samir Setelah putranya Itu berulang kali mengusirnya. "Baiklah, mama pergi. Maafkan mama Samir!" Samir memejamkan matanya erat. Pria itu menatap dengan kosong ke arah pintu. Jujur dia sangat merindukan Rania. Tapi lagi-lagi sesuatu dalam Hatinya Menolak untuk melakukan Itu. Semua Luka Dan rasa sakit masih bersemayam di Hatinya. Samir tidak pernah membenci sang ibunda. Dia hanya membenci keputusan Rania yang Saat Itu lebih memilih bertahan dengan sang ayah Dari Pada keluar dari rumah itu. "Jika mama bisa mengambil keputusan yang bodoh, maka Aku juga bisa. Hanya saja Aku tidak sebodoh itu, Ma." desisnya. Tangan Samir meremas erat selimutnya Hingga selimut Itu berubah menjadi kusut. Rania keluar dari Lift. Wanita itu berjalan dengan wajah masam. Bi Mariam menghampirinya. "Nyonya tidak ingin minum sesuatu?" tawarnya. Rania mengangkat wajahnya. Menatap sendu Bi Mariam. Kemudian seulas senyum miris terpancar di Sana. "Tidak usah, Bi. Saya tidak pantas mendapatkan perlakuan sesopan ini dari Bibi." "Nyonya Jangan berkata Seperti Itu..." sangag Bi Mariam ikut merasa sedih. Pasti terjadi sesuatu lagi dengan ibu Dan anak Itu. Pikirnya. Rania hanya tersenyum tipis, Dia kembali melangkah. Namun sayup Bi Mariam mendengar perkataanya. "Terima kasih Sudah menjaganya." "Nyonya.... " Bi Mariam menatap sedih Rania yang sudah pergi dari sana. Memang Ibu kandung dari Tuannya Itu sangat Jarang sekali berkunjung. Dan setiap kunjungannya Pasti akan Berakhir Seperti Itu. Samir tidak pernah Mau Membuka pintu kamarnya untuk Rania. Mungkin satu-satunya masa Saat mereka akan bertemu adalah nanti saat resepsi pernikahannya. Tak lama setelah Rania pulang. Jefri baru saja kembali setelah menyelesaikan tugasnya. Pria itu langsung menuju dapur membuat Bi Mariam lagi-lagi kaget. “Astagfirullah, Jerfi?! Kamu ini ngagetin aja sih hobinya? “ Omelnya. Jefri meliriknya sekilas, tampak tak peduli. Dia melanjutkan keinginannya mengambil botol mineral dari dalam kulkas. “Lah, kok aku? Bibi tuh yang hobinya melamun. Hayoo... Mikirin apaan? Pasti mikirin bahan ghibahkan? “ candanya sambil menaik turunkan alisnya menggoda. “Sembarangan!” Mata Bi Mariam mendelik tak Terima. “Siapa juga yang mikirin bahan ghibah! “ “Lah, Trus? Emang hobi Bibi gitu melamun Di dapur Sambil masak? Ntar bukannya Jadi masakannya malah gosong Bi! “ Bi Mariam mendengus kesal. Namun dia tetap melanjutkan kegiatannya mengoseng masakannya. “Tadi Nyonya datang... “celetuknya tiba-tiba. “Nyonya siapa?” Jefri mengangkat satu alisnya. Pria itu meletakan gelas yang baru Di pakainya tadi ke wastafel. “Nyonya besarlah... Emang Ada Nyonya yang lain? Nanti kalau istrinya Tuan muda Datang baru Ada Nyonya muda.” Jawab Bi Mariam terdengar ketus. “Lah santai kenapa Bi jawabnya. Ketus amat Dah! Ngapain Nyonya Rania kemari?” Tentu saja pria itu penasaran. Pasalnya Dia belum mengabarkan apapun kepada Keluarga utama. Kenapa Rania datang ke rumah Tuannya? “Tahu deh! Tapi pas datang Tadi Nyonya kelihatan panik Dan khawatir banget.” “Ketemu Sama Tuan muda, Nggak? “tanya Jefri. “Kayaknya Enggak deh. Soalnya pas turun mukanya muram, sedih gitu. Mungkin kayak biasa Tuan Muda Nggak Mau bertemu siapapun dari Keluarganya. “ Jefri mengehela pelan. “Ntahlah Bi, Semoga saja Semua ini Lekas membaik.” “Aamiin... “ “Yaudah Bi, Aku istirahat dulu. Lelah juga hayati urus Semua Acara pernikahan Tuan Muda.” “LAH, TUAN MUDA JADI NIKAH?!” Jefri terperanjat kaget mendengar Bi Mariam berteriak Atau lebih tepatnya Wanita itu terkejut. “Ya jadilah, Bi. Ini rumah Bentar lagi kedatangan Nyonya muda.” Bi Mariam terdiam mendengarnya. Jefri pun memutuskan untuk istirahat Di kamarnya. “Semoga aja yang menjadi pendamping Tuan muda Adalah wanita yang baik... Aamiin.”gumam Bi Mariam. *** Malam harinya..... Hana Dan Clara Sedang menikmati waktu malam santai mereka dengan rebahan. Membaca novel, menikmati cemilan ataupun menonton filim. “Gimana rapat tadi, Ra? “ Tanya Hana Pada Clara yang sedang duduk lesehan Di lantai saambil menonton filim. “Gimana apanya? Nggak gimana-gimana kok. Allhamdulillah semua Lancar.” “Allahamdulillah Kalau gitu.” Balas Hana. Gadis Itu kembali melanjutkan Kegiatannya menulis novel karyanya sendiri Di laptop miliknya. Berbeda dengan Clara walau mereka berkecimpung Di dunia penerbitan. Sahabatnya Clara Sama sekali tidak bisa menulis cerita. Namun Clara sangat menyukai membaca Dan sangat ahli dalam menilai pasar Tulisan yang sangat Di sukai dari sisi pembaca. “Ra, coba baca deh ini. Feelnya udah dapat belom sih? Kok aku masih ngerasa Ada yang kurang gitu...” Clara melirik padanya. Gadis Itu naik ke atas ranjang Dan duduk Di samping Hana. “Mana sini coba aku lihat... “ Dia mengambil alih laptop Hana Dan matanya mulai Bergerak – gerak membaca setiap Tulisan Hana. “OHHH... Coba deh ini antagonist di buat celaka gitu. Biar Ada rasa puas dari pembaca untuk bab ini.” Katanya. “Buat celaka Ya? “ tanya Hana tampak Berpikir sejenak. “Iyalah... Ini kan Kamu buat novel bukan buat sinetron azab yang Di mana tokoh baik selalu tersakiti. Harus bisa seimbang dong... Masa yang Jahat Menang mulu... Kalau gitu apa Bedanya sama sinetron azab!” “Iya juga Ya. Okelah, Aku tambahin... Makasih Ya bebebku yang baik hati Dan tidak sombong.” Clara tersenyum bangga. “Iya dong! Clara gitu loh. Udah sana lanjut nulis. Aku mau lanjut nonton drama!” Clara kembali merotos ke lantai. Bergabung dengan aneka cemilan tersayangnya. “k*****t NIH PELAKOR?!” “Astagfirullah, Clara!” tegur Hana, terkejut mendengar u*****n Clara. Gadis Itu hanya menyengir mendapati Tatapan tajam dari Hana. “Peace... Hehehhe, maaf-maaf. Emosi Saya permirsa....muheheheh.” “Kamu ini. Udah malam nontonnya Jangan teriak – teriak. Berisik tahu! “ “Iya, Iya. Maaf.” Sesal Clara. Hana hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah sahabatnya Itu. Memang karakter keduanya cukup bertolak belakang. Hana lebih kalem dan Sama sekali tidak pernah mengumpat. Tetap Clara gadis yang sangat bar -bar dan Terkadang ucapanya juga bisa sangat pedas kepada orang yang tidak di sukanya. Mereka juga sering bertengkar jika Ada perbedaan pendapat. Namun waktu yang sudah mereka jalani bersama-sama dalam waktu bertahun-tahun membuat Mereka bisa saling memahami. Kalaupun mereka bertengkar Pasti tak lama akan segera berbaikan. Karena Mereka Berdua selalu Jujur akan Perasaan masing-masing. Jika Salah satu dari mereka merasa kesal Karena satu sama lain. Pasti akan langsung di ungkapkan. Dan bersama mencari solusi yang terbaik. Begitulah Cara Hidup yang mereka jalani sampai detik ini bisa membuat perusahan bersama. Ya, Walaupun masih Di bilang kecil – kecilan. Hanya heading bertingkat 5 yang berada di pusat kota. Yang menjadi salah satu penerbit terlaris yang sudah bekerja sama dengan berbagi statisun tv dan juga dunia perfiliman. “Oh Iya, Ra. Kamu Besok temenin aku kan?” tanya Hana Ketika dirinya baru mengingat sesuatu yang penting. “Kemana tuh? “ “Kamu lupa Ya? Besok kan kita mau ada acara pembukaan book store kita!” “Lah, Iya Ya!” Clara menepuk keningnya. “Kok aku bisa lupa sama acara sepenting Itu.” Rutuknya. “Kamu mah, Nggak heran. Udah mulai kenak penyakit pikun. Factor usia tuh! “ cibir Hana. “Ehh, sorry ya Han. Kita Itu seumuran. Kalau Aku udah mulai pikun berarti Kamu juga dong.” “Dih, pikun kok ajak-ajak! “ Hana terkekeh mendengarnya. “Yaudah Besok Kita berangkat agak pagian aja. Soalnya banyak juga yang mau kita susun Di Sana. “ “Author Pada Di undang kan? “ Hana mengangguk. “Iya kok. Cuman Ada beberpaa yang udah izin katanya Nggak bisa datang Atau Ada yang telat datang. “ “Oh, yaudah Nggak papa.” Clara tersenyum – senyum. “Nggak sangka Ya Han, perlahan Semua cita – cita Kita bisa tercapai.” Ujarnya. “Iya, Ra. Allhamdulillah banget. Kita bisa sampai ketitik ini setelah banyak hal yang kita laluin. “ “Semoga aja semuanya tetep baik-baik aja kayak gini ya Hana.” “Aamiin... Insya Allah...” Balas Hana dengan tersenyum. Ya tentu saja mereka berharap Semua kebahagiaan yang mereka dapatkan ini tidak segera Berakhir. Hanya saja Terkadang Tuhan sangat Suka menguji hambanya. Dengan mendatangkan masalah yang tiba-tiba... #Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN