Kumandang azan membuat Hana membuka matanya dengan perlahan. Tanganya meraba nakas yang ada di sampingnya.
Gadis Itu mengggapai ponselnya. Dengan mata menyipit dia melihat Jam sudah menunjukan pukul 04:30. “Ihh.. Udah subuh!” gumamnya.
Hana melirik ke arah Clara yang masih tertidur lelap di sampingnya. “Udahlah, bagunin nanti aja.” Hana memutuskan untuk sholat lebih dulu.
Setelah sholat dia mengocang tubuh Clara. “Ra, bangun uyy... “
“Eummmm.... Apasih, Han. Masih ngantuk tahu!” sahut Clara yang mulai merasa terganggu namun tetap memejamkan matanya.
“Udah subuh loh, Ra. Sana sholat subuh dulu baru lanjutin tidurnya nanti!”
“Aku lagi libur...”
“Libur?” Hana tampak berpikir sejenak Kemudian Hana menarik selimut Clara. “Libur apaan! Kamu kan baru dapet 1 minggu yang lalu! Ishh... Buruan Sana!”
Clara Membuka matanya lebar Ketika mendengar kekesalan Hana. “ishh... Iya, Iya. Kamu mah Nggak bisa Di boongin dikit doang!”
“Habisnya kamu tuh banyak banget alasannya. Makanya Jangan begadang mulu nonton drakor. Jadi susah di bagunin kan!” omel Hana panjang lebar.
“Iya, Mak-ku!’ balas Clara. “Bawel banget sih kamu tuh! Iya nih Aku sholat!”
“Gitu dong!” seru Hana senang Ketika sahabatnya Itu masuk ke dalam kamar mandi.
Hana pun mengambil ponselnya. Setelah subuh biasanya dia akan turun ke bawah untuk membuat sarapan. Di ujung pintu Hana berteriak.
“Aku kebawah buat sarapan! “
“IYA IBU KOSS!”
Hana berdecak mendengar balasan Clara. “Ibu kost-ibu kost. Awas aja nanti Aku tagih Uang kosnya.”
Setelah turun, dia langsung menuju dapur. Hana lebih dahulu mengotak-ngatik ponselnya. Dan menyetel murotal Qur’an Untuk menemani paginya.
Dia meletakan ponselnya Di meja. Dan mulai mencari-cari bahan makanan yang ingin Di masaknya Di kulkas.
Hana mulai memotong Wortel dan bumbu lainnya. Dia juga mengiris ayam. “Buat Nasi goreng ayam aja deh... Nasi juga Masih banyak. Takutnya nanti basi Kalau kelamaan Di rice cooker.”
Satu Jam berlalu Hana Sudah selesai dengan aktivitasnya. Dia melirik ke arah tangga namun masih tidak menemukan tanda-tanda Clara akan turun.
“Huhfttt... Beneran molor lagi tuh.”
Terlebih dahulu Hana menutup masakannya yang sudah ada di meja dengan tudung saji. Setelah melepas celemeknya. Hana kembali naik ke atas.
Membangunkan Clara Sekaligus untuk membersihkan dirinya. “Ra, bangun kenapa! Masya Allah, Aku udah siap masak loh itu!” tegur Hana sembari mengambil pakaian Gantinya.
“Hmmm... “
“Aku selesai Mandi Kamu harus udah bangun Ya! Ingat, Kita mau buka bookshop Kita. Jangan sampai terlambat.”
“Hmmm....iya...iya!”
Hana menghela nafas dengan sabar melihat tingkah sahabatnya. Mereka benar-benar sangat berbeda. Namun sisi Hana yang sangat penyabar bisa membuat Hubungan persahabatan mereka bertahan.
30 menit Kemudian Hana keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkapnya. Matanya membelalak melihat Clara yang masih tidur.
Teriakannya pun menggelegar. “ASTAGFIRULLAH, CLARA?! “
Detik Itu juga Clara terlonjak Dari tempat tidurnya. Dan langsung ngacir ke kamar mandi.
***
Sementara Itu Samir juga baru selesai mandi. Walaupun pria itu masih belum bisa Bergerak total Dari kursi rodanya Namun sebisa Mungkin Samir melakukan Kegiatan mandinya seorang diri. Meski kadang dia juga Cukup kesusahan.
Pria itu mengggapai remot yang tersambung dengan intercom Rumahnya. Dia hanya Cukup menekannya dan akan terhubung dengan intercom lain yang sudah Dia pasang Di beberpaa tempat.
“Halo, Tuan?” terdengar Suara Bibi Mariam dalam sambungannya. Karena Dia menekann sambungan intercom yang Ada Di dapur.
“Bi, tolong antarkan sarapan Saya ke atas.”
“Tuan ingin makan apa?”
“Stek dan segelas teh saja.”
“Baik Tuan muda, akan segera bibi antarkan.”
“Oh iya, Bi. Minta Jefri ke kamar Saya Setelah Kalian sarapan.”
“Baik Tuan muda.”
Panggilan terputus. Tak lama Bibi Mariam naik ke lantai atas mengantarkan makanan Samir. Pria itu Membuka pintu kamarnya hanya dengan menekan tombol remot.
Setelah itu Bibi Mariam kembali turun untuk sarapan bersama pelayan yang lain. Memang Samir sangat Jarang sekali untuk turun sarapan Di meja makan.
Maka Dari Itu Samir tak pernah melarang para pelayannya untuk makan Di Sana. Pria itu juga sangat baik Walaupun terksan dingin.
30 menit Kemudian, Tepat Jam 07:30 Jefri menekan bell kamarnya. “Masuklah... “ujar Samir Setelah Membuka pintu.
“Ada apa Tuan?”
Samir memutar kursi rodanya, dan menghadap ke arah Jefri. “Jawab aku. Apa kau sudah memberi tahu Keluarga utama tentang keputusanku menerima Pernikahan ini?”
Jefri menggeleng cepat. “Tidak Tuan! Sungguh Saya tidak melakukan Itu. Saya hanya melakukan Pekerjaan yang anda perintahkan saja! “
“Lalu kenapa mama sampai Datang kemari?!” sentaknya. Samir terlihat sangat kesal membuat Jefri cenat-cenut.
“Suer Tuan. Saya langsung pergi mengruus gedung Pernikahan Setelah memberikan hadiah pernikahan.” Sanggah Jefri. “Atau mungkin keluarga Hilmawan yang memberi tahu Keluarga utama.”
“Keluarga Hilmawan?” Samir menajamkan matanya. “Berani sekali Mereka... “ pria itu berdesis Marah.
“Sudahlah jika Memang benar mereka pelakunya. Biarkan saja. Aku ingin membiarkan mereka berbahagia dulu sebelum aku mempermalukan mereka!” lanjutnya yang membuat Jefri tidak mengerti Namun pria itu memilih untuk tetap Diam.
“Siapkan mobil Jef. Aku ingin mengeceknya perusahan...”
Jefri tampak terkejut. “Anda ingin ke Kantor?”
“Tidak Bodoh! Belum saatnya. Aku hanya ingin bertemu Andra Untuk mengurus beberpaa hal. “
“Baik Tuan.”
***
Tepat pukul 09:30 Jefri Dan Samir Sudah dalam perjalanan. Namun sayang sekali Mereka malah terjebak macet, di tambah lagi dengan lampu merah.
“Kenapa sangat Lamar Jefri? Kau tidak tahu ini Sudah Jam berapa? “ Tanya Samir dengan kesal.
“Ya Ampun Bos. Sabar kenapa, ini lagi macet -macetnya Bos. Nanti kalau ini mobil udah bisa terbang Kita Pasti nggak akan kenak macet lagi.”
Samir berdecak. “Cihh, tahu begini lebih baik Kita mengusulkan helicopter saja.”
“Iya dah iya... Sultan mah bebas...” cibir Jefri.
Mereka hanya Berdua Di dalam mobil dengan Jefri yang menjadi pengemudi. Memang Samir memiliki sopir pribadi sendiri. Hanya saja itu berlaku jika dirinya akan pergi keluar negeri.
Karena tentu Jefri akan ikut bersamanya. Sudah Pasti mobil miliknya akan Di bawa pulang Oleh supir.
Dengan kebosananya. Samir memalingkan wajah ke arah Jendela. Di sebrang sana terdapat sebuah Toko yang sangat ramai orang berkerumun.
“Ada apa Di Sana? “ tanyanya spontan
“Apa Tuan?” Jefri pun ikut menatap ke arah yang Sama. Pria itu membaca papan besar yang Ada Di atas gedung itu. “Ohh... Peresmian Tokoh mungkin Tuan. Itu bacanya Ada ‘Booshop'”
“Toko buku?”
“Dari Namanya sih Begitu.”
“Zamaan Seperti sekarang Masih Ada ornag yang Suka membaca buku? “ pria itu tampak tak percaya.
Jefri terkekeh pelan. Dengan mobil mereka yang perlahan mulai Bergerak. “Ya pastilah Tuan. Masih banyak orang yang ingin pinta dari membaca buku. Mungkin Tuan ingin Singgah ke Sana suatu saat? “ Tawar Jefri. “Saya akan menemani Tuan.”
Sudut Bibir pria itu tertarik sedikit. “Kau atur untukku. Sepertinya itu tempat yang menarik.”
“Ashiayp Tuan! “ Balas Jefri dengan Semangat.
#Bersambungg....