Bab 12 : Aku menerimamu...

1406 Kata
Hana masih tak percaya jika dia benar-benar sudah terikat dengan seseorang yang bahkan sama sekali tidak dikenalnya. “Kalian siapa?” “Kami pelayan di sini Nyonya muda. Saya Mariam kepala pelayan di sini, saya diperintahkan Tuan muda untuk mengantarkan anda ke kamar.” Ucap Bibi Mariam dengan sopan. “Tuan muda, siapa?”  tanyanya dengan ekspresi bingung. Bi Mariam saling pandang dengan pelayan yang lain. Wanita paruh baya itu kemudian tersenyum serta terkekeh pelan. “Nyonya muda bercanda saja. Tentu saja Tuan muda Samir, suami anda.” “Huh?” “Mari Nyonya muda, saya antarkan.” Dengan lembut Bibi Mariam menarik pelan tangan Hana untuk keluar. Tubuh gadis itu terasa lemas sampai tidak bisa menolak uluran tangan Mariam. Dia berjalan dengan penuh kebingungan dalam hatinya. “Sebenarnya pria seperti apa yang menjadi suamiku?” matanya menatap mansion mewah itu. “Jika dia seorang Tuan muda yang sangat kaya. Kenapa Kak Calista menolaknya?” Mata Hana mengerjap melihat sebuah lift tepat berada di depannya. “Ini...” “Ini lift khusus yang akan membawa anda ke kamar Tuan muda, Nyonya!” sela Bibi Mariam saat melihat ekspresi bingung Hana. “Mari...” Dengan ragu Hana melangkah masuk mengikuti Bibi Mariam. “Kalian lanjutkan pekerjaan. Biar saya yang mengantar Nyonya muda.” Kata wanita paruh baya itu kepada pelayan yang lain. Mereka membungkuk sopan, dan pergi dari sana bersamaan dengan pintu lift yang tertutup. Tak lama mereka sampai di lantai tiga. Hana hanya bisa diam, sambil mengikuti langkah Bibi Mariam. Gadis itu melihat Mariam menekan sebuah tombol yang berada di samping pintu berwarna putih dengan ukiran yang indah. “Tuan muda, saya membawa Nyonya muda.” Hana bingung dan berpikir. “Dengan siapa Bibi ini berbicara?” Namun tak lama Bibi itu memutar engsel pintu dan membukanya sedikit. “Silahkan masuk Nyonya. Tuan muda sudah menunggu anda di dalam.” “Aku... apa boleh aku tidak masuk Bi?” tanyanya ragu. Mariam hanya tersenyum dan menggeleng pelan. “Silahkan... suami anda menunggu.” Kemudian berpamitan. Deg... Suami? Ahh... benar, pria yang berada di dalam kamar itu pastilah suaminya. Seorang pria tidak di kenal yang sudah mengucapkan namanya di depan penghulu, para saksi, dan juga orang tuanya. Mengucapkan ijab qabul untuk mengikatnya dalam pernikahan. Yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi seperti ini sebelumnya. Hana menghela nafas pelan. Gadis itu meremas gaunnya dia harus menyiapkan diri, dan berharap tidak membuat kekacauan pada pertemuan pertama mereka. Mau bagaimanapun dia sudah menjadi seorang istri. “Bismillah...” Hana melangkahkan kaki memasuki kamar itu dengan jantung berdebar. Pemandangan pertama yang dia temukan adalah kamar berwarna putih bercampur abu-abu membuat matanya terasa tenang memandangnya. Kamar yang sangat luas dan sangat bersih, juga menenangkan. Hana menangkap satu sosok yang sedang duduk menghadap ke arah jendela. Tepatnya balkon kamar. Hana menatapnya begitu intens, sampai matanya menatap bahwa sosok itu tidak duduk di kursi yang wajar, melainkan sebuah kursi roda. “Dia? Apa dia sakit. Atau dia terluka karena sesuatu? Kenapa dia duduk di kursi roda?” berbagai macam pertanyaan muncul di kepalanya. Gadis itu menenangkan hatinya, dan kembali melangkah. “Permisi, Assalamualaikum...” ucapnya tentunya pada sosok yang ada di depannya. “Apa kamu yang bernama Samir?” tanyanya kemudian. Pria itu masih diam di tempatnya. Sementara Hana meremas gaunnya merasa gelisah. Dia tidak tahu harus melakukan apa agar pria di depannya menghadap padanya. “Ak-aku...” Hana mengigit bibirnya yang terasa kelu. Di sana sudut bibir Samir sedikit terangkat. Bibirnya kemudian terbuka dan sebuah katapun keluar dari sana. “Apa kamu merasa tidak nyaman, Hana?” Hana semakin meremas gaunnya ketika suara lembut dan dalam pria itu terdengar.  “Ti-tidak, aku hanya merasa bingung dengan keadaan ini.” sahut Hana. Kepala gadis itu tertunduk dalam. Samir memutar kursi rodanya. Kini pria itu sudah tepat di hadapannya, menghadap padanya. Namun gadis itu tidak menyadarinya dan terus menunduk. “Aku sedang melihatmu, kenapa kamu terus menunduk?” Deg... Hana menahan nafas. Dia mengintip sedikit dan terlihat sebuah kaki yang tersandar di kursi roda sudah menghadap ke arahnya. Dengan perlahan Hana mengangkat kepalanya. Dan tepat saat itu Hana melebarkan matanya. “Kamu!” pekiknya spontan. Hana menutup mulutnya tak percaya. Gadis itu bahkan sampai mundur kebelakang. Tidak menyangka siapa yang ada di depannya. “Kamu... kamu kan... Da-danau—“ Samir tersenyum tipis. “Ah... mungkin kamu mengingatnya. Kita pernah bertemu di danau saat kamu menyelamatkanku.” “Jangan bilang kamu yang menjadi suamiku?” tanya Hana masih tak percaya. Samir terkekeh pelan mendengarnya. “Mungkin pernikahan mendadak ini membuat kamu tidak tahu siapa suamimu. Baiklah, kita bisa berkenalan dulu...” Samir menyodorkan tangannya. “Aku Samir. Samir Ali Fadekya, suamimu.” Hana menatap uluran tangan Samir. Pria itu terlihat menunggu sambutan dari Hana. Dengan ragu gadis itu mengulurkan tangannya. Menjabat tangan Samir. Baru saja bibirnya ingin berucap Samir lebih dulu menyelanya. “Tidak perlu menyebutkan namamu. Aku sudah mengingatnya sangat jelas sejak akad.” Uluran tangan merekapun terlepas. Hana menatap pria itu dengan ragu. “Kenapa? Mak-maksudku pernikahan ini kenapa bisa terjadi? Aku hanya mendengar kalau Kak Calistalah yang akan menikah!” dia memberanikan diri untuk bertanya. Samir memutar kursi rodanya. “Kemarilah, duduknya di sofa. Kakimu akan kebas jika terus berdiri di sana.” Hana menatapnya sebentar. Namun tetap menuruti ucapan pria itu. Berjalan di belakangnya. Hana duduk di sebuah sofa berukuran besar yang sangat empuk dan nyaman. Sedangkan Samir duduk di depannya masih dengan kursi rodanya. “Kamu benar, jika harusnya aku menikahi Calista. Tapi sebelum itu kakakmu ingin membatalkan pernikahan ini...” “Kenapa?” Samir meliriknya dengan ekor matanya. “Kamu pasti sudah menyadarinya sejak pertama kali masuk ke kamar ini, Hana. Melihat seorang pria di sebuah kursi roda. Menurutmu bagaimana...” “Aku—“ “Aku cacat Hana. Kakiku lumpuh dan tidak bisa berdiri seperti orang normal lainnya.” Hana tertegun mendengarnya. Suaminya pria yang lumpuh? Benarkah? Pria yang sangat tampan dan memukau ini memliki kekurangan yang seperti itu? Samir memasang wajah datar melihat ekspresi terkejut Hana. Dia sudah menduga tidak akan ada gadis yang mau menerima kondisinya. “Calista membatalkan pernikahan setelah tahu kalau aku pria cacat. Kedua orang tuamu kemudian membawamu sebagai pengantinya.” Hana termenung sampai tidak tahu harus mengatakan apa. “Bagaimana denganmu, Hana? Aku memberimu kesempatan untuk memutusakan mengakhiri pernikahan ini.” Hana menatapnya dengan terkejut. “Apa maksudnya? Apa menurutmu pernikahan sebuah permainan?” matanya memicing. Samir terkekeh pelan. “Permainan atau bukan, anggap saja begitu. Tidak ada yang ingin memiliki suami yang cacat sepertiku. Pernikahan ini juga terpaksa karena orang tuamu tidka ingin menganti rugi mahar pernikahan jika pernikahan ini sampai batal.” “Cukup memenuhi syarat dengan adanya akad. Jika kamu mau bercerai aku tentu akan memberikannya padamu.” Sambungnya. Hana mendengus, menatap pria di depannya dengan sinis. “Sepertinya penilaianku saat pertama kali bertemu dengan anda jauh lebih buruk. Awalanya aku pikir kamu hanya sosok yang dingin dan tidak tahu bagaimana cara mengucapkan terima kasih saja. Tapi sekarang aku tahu bahwa kamu juga orang yang sombong dan suka mempermainkan takdir!” “Hanaa... aku tidak sudah dengan ucapanmu!” sela Samir merasa tersentil dengan ucapan sang istri. Hana berdiri dari duduknya. Memutari meja yang membatasi mereka. Dia memutar kursi roda Samir untuk menghadapnya. Hana menekuk lututnya menyamakan tingginya dengan Samir. Pria itu hanya diam dengan apa yang Hana lakukan. “Tuan Samir yang terhormat, jika anda terbiasa mempermainkan banyak hal, tapi anda tidak bisa dan tidak boleh mempermainkan pernikahan.” “Maksudmu?” pria itu menatapnya dengan hati yang mendadak gelisah. Bibir Hana melengkung membentuk sebuah senyum tipis yang cukup membuat Samir terpesona.  Senyum yang sangat berkesan di hatinya sejak pertama kali. Kemudian Hana berkata, yang membuat sudut hati pria itu terasa tersengat. “Pernikahan ini sudah terjadi. Terpaksa atau tidak aku sudah menjadi istrimu, dan tidak akan meminta perceraian darimu!” Deg... “Hana, apa kamu sadar dengan yang kamu katakan?” tanya pria itu berusaha tenang walaupun hatinya sangat tidak tenang. Gadis itu tidak menjawab namun hanya mengangguk dan tersenyum tipis. “Aku tidak akan melepaskanmu setelah ini, Hana. Jangan pernah menyesali keputusanmu untuk tetap bersanding denganku!” Hana memejamkan matanya sejenak. “Insya Allah... aku menerima pernikahan ini.”  Hana tidak tahu, apa yang di katakannya itu dalam keadaan sadar atau tidak. Yang pasti Hana mengatakannya karena dorongan dari sudut hatinya yang memintanya untuk berkata begitu. Melihat sosok Samir, ntah mengapa malah membuat dirinya akan merasakan sebuah pernikahan yang sangat berbeda. Sebuah warna yang baru... #Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN