Clara menatap Ponsel di tangannya dengan cemas. Karena Hana tidak juga datang. “Aduh, nih Hana kemana sih! Di telpon juga nggak Di angkat! Ayolah Han... Angkat.... “ gusar Clara kembali menghubungi Hana.
Tetap saja tidak akan mendapatkan jawaban. Clara merasa sangat cemas sekali. Karena Kali ini Hana tidak ada mengabarinya kembali setelah 2 jam berlalu.
“Kamu kenapa, Ra?”
Clara terperanjat dengan kehadiran seseorang di sampingnya yang tiba-tiba.“Ehhh.... Astagfirullah! Ngagetin aja, kamu?!”
“Ya, maaf. Kamu nya sih ngelamun mulu. Kenapa sih? Kok kayak gusar gitu?” tanya orang Itu.
Clara mengurut keningnya. “Ini, Hana Nggak bisa di hubungin. Aku Jadi khawatir tahu. Perasaan ku nggak enak tiba tiba takut dia kenapa -kenapa loh, Dim.” Jelas Clara kepada Dimas.
Pria dengan kemeja biru Itu termasuk salah satu karyawan mereka. Dimas berada di bagian penyuntingan naskah.
“Ya, Ampun! Serius kamu? Aku pikir Hana nggak datang kayak biasa.”
“Dia datang!” Sela Clara. “Terakhir aku meneleponnya katanya dia udah di jalan! “
“Mau menjemputnya? Biar aku temani?” tawar Dimas.
Clara menoleh padanya. Tampak gadis Itu memiliki banyak pertimbangan. “Nggak usah deh, Dim. Biar Aku aja yang jemput. Kamu di sini aja, Lagian masih banyak pekerjaan juga.”
“Okelah,”
“Yaudah aku pergi dulu. Nanti kalau Ada yang mau ketemu bilang aja besok...”
“Iya, Sipp...”
Clara keluar dari gedung itu dan langsung berjalan cepat menuju mobilnya. Sedari tadi dia tidak berhenti untuk terus berusaha menghubungi Hana.
“Haiss... Dimana sih kamu, Han. Semoga kamu nggak lagi dalam masalah! “ batin Clara
Dia memutuskan untuk kembali ke apart. Ntah bagaimana dia merasa terjadi sesuatu pada Hana di sana.
***
Sementara Itu....
Jefri menatap Hana yang sedang berada dalam gendongan Hilmawan dengan mulut mengangga sangkin terkejutnya.
“Ehhh? Nona penyelamat?! Pantas tadi aku merasa tidak asing dengan wajah. Buset... Ini mah pengantin pengganti yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya...”
Jefri segera membuka pintu jok belakang yang sudah ada Samir di dalamnya. “Masukan pelan-pelan. Dia pengantin Tuan muda saya yang berharga!” Cetus Jefri.
Sedangkan Samir tampaknya tak peduli. Pria itu hanya memalingkan wajah kesamping. Sampai jok Di sampingnya bergerak ketika Hana di sandarkan ke sana.
Jefri langsung masuk ke kursi kemudi. Sebelum menjalankan mobilnya dia melirik ke arah spion mobil.
Terlihat Hana masih terpejam. Dia berkata. “Bos, anda yakin tidak ingin melirik ke samping? Melihat pengantin cantik anda Itu? Wihhh... Bos, Nyonya muda saya sangat-sangat cantik loh! Bahkan lebih cantik dari yang sebelumnya. Sepertinya kaburnya Nona Calista suatu keberuntungan untuk Kita Bos!” celotehnya.
“Tutup mulutmu, dan jalankan mobil ini Jef!” ujarnya dingin.
Jefri mencebik. Namun dia mengikuti perintah Samir. Dan melajukan mobil Itu keluar dari sana. “Ah elah Tuan muda. Masih pengantin baru juga Jangan dingin banget. Ayolah Tuan muda.... Lirik dikit kesamping tuh.” Desak Jefri.
Asistennya Itu sangat menantikan bagaimana reaksi Samir jika melihat wajah istrinya yang ternyata Adalah wanita yang menyelamatkannya waktu Itu.
Karena Samir yang tampak tak acuh Jefri sedikit kesal. Namun dia tetap melirik ke spion. Dan benar saja, Samir tampaknya mulai terpengaruh dengan ucapan Jefri.
Memang benar. Dia Harusnya melihat wajah wanita yang dinikahinya kan?
Dengan ragu Samir menoleh kesamping dan tepat saat Itu wajah Hana terpampang tepat di depan matanya.
Jangan tanya reaksi Samir. Karena ekspresi Itu membuat Jefri sangat puas.
Samir membelalakan matanya. “KENAPA DIA DI SINI?!”
“Hahaha... Dia istri anda Tuan muda!”
***
“Istriku? Kau Jangan bercanda Jef! Bagaimana bisa gadis ini menjadi istriku?” Tanya Samir tak percaya.
Pria itu benar – benar Syok menatap wajah gadis yang saat ini masih memejamkan matanya.
Jefri terbahak melihat eskpresi Tuan mudanya. “Lah, ya dia Tuan. Yang namanya anda sebut dalam ijab qobul. ‘Hanawara Kinara Hilmawan’ dia Adalah putri kedua Keluarga Hilmawan!”
“Yang benar saja! “ Samir menggeleng tak percaya. Bibir pria itu selanjutnya hanya terkatup rapat.
Samir memijat pangkal hidupnya. “Dan Tuan, sepertinya dia sama seperti anda. Tidak tahu siapa yang menjadi suaminya. Sepertinya pertemuan Kalian di danau saat Itu memang sudah takdir dari yang kuasa, Tuan.” Ujar Jefri membuat Samir semakin Syok.
“Tidak mungkin! Aku hanya pernah Membayangkan bertemu dengannya lagi. Tapi kenapa pertemuan ini malah Sudah menjadikan dia sebagai istriku! Apa benar Kata Jefri Kalau pertemuan Kami memang di takdirkan? “ bisik Samir dalam hatinya.
“Tuan? Kenapa anda terus melamun? Anda tidak ingin membangunkan Nyonya muda? Sebentar lagi kita sampai ke gedung resepsi!”
Resepsi? Tidak. Samir tidak bisa membawa gadis ini kedepan publik begitu saja. Fakta bahwa Keluarga Hilmawan Punya putri yang lain saja pasti Sudah sangat mengejutkan nantinya.
Apalagi jika keluarganya sampai tahu Kalau dia menikahi gadis lain? Samir harus mengatur rencananya ulang.
“Kembali ke rumah. Tidak akan Ada resepsi pernikahan!” tukas Samir.
“Tapi Tuan?”
“Tidak ada bantahan! “ bibir Jefri langsung terkatup rapat ketika mendengar suara Tegas Samir.
Jefri pun memutar arah kembali menuju mansion milik Samir. “Hana... Hana.... Hanaa... Akhirnya Aku mengetahui namanya. Setelah ini harus kuapakan gadis ini?”
Samir memejamkan matanya. Kepalanya terus berputar berbagi Macam rencana yang telah dia siapkan untuk Hana.
Tentu saja itu bukan sesuatu hal yang baik. Samir sebenarnya tidak ingin Terikat Pernikahan dengan siapapun.
Baginya, memiliki istri akan Cukup merepotkan.
Mereka pun tiba Di mansion milik Samir. Sedangkan Hana belum juga Membuka matanya. Sedangkan Samir sama sekali tidak berniat membangunkannya.
Lebih tepatnya semuanya masih terasa canggung Dan mengejutkan.
Setelah Jefri membantu Samir turun, pria itu menatap para pelayan yang sudah berdiri di depan pintu menyambutnya.
Termasuk Bi Mariam. “Tuan, Nyonya muda bagaimana? Tidak mungkin saya gendong kan?” ceplos Jefri.
Samir langsung menatapnya tajam bagaikan samurai. “Coba saja jika Kau ingin kehilangan tanganmu! “
Jefri menggaruk keningnya, sambil nyengir. “Ya Ampun, bercanda Tuan. Mana saya berani touch your mine! “
“Panggilkan Bi Mariam. Biar dia yang membangunkannya. Aku akan kembali ke kamar.” Samir memutar kursi rodanya Dan Bergerak menjauh.
Bi Mariam menatap heran Tuan mudanya yabg hanya masuk seorang diri. Dia juga mencari-cari Di mana Nyonya muda mereka.
“Dia Ada Di dalam mobil. Setelah kau bangunkan dia. Antarkan dia ke kamarku!” Kata samir saat melewati Bi Mariam.
Wanita baya Itu hanya mengangguk patuh. “Baik Tuan muda.”
Bi Mariam Dan yang lainnya menuju mobil. Mengintip ke dalam mobil dan semuanya bergumam takjud dengan Nyonya muda mereka.
“Masya Allah... Bidadari Dari mana ini nyasar ke mansion kita!” celetuk Bi Mariam.
“Dia istrinya Tuan Muda, Bi. Tolong Di bangunkan ya... Saya mau bawa barang-barang Nyonya muda ke atas. “
“Siyap!” Balas Bi Mariam dengan senyum merekah.
Jefri menekan bell kamarnya Samir. “Tuan muda, Saya mau mengantarkan koper Nyonya muda! “ ujarnya.
Pintupun terbuka. Jefri meletakan koper Hana di sudut kamar Samir yang luas Itu. Tepat di samping lemari berlapiskan kaca miliknya.
Sementara Itu Bi Mariam Membangunkan Hana. Perlahan menepuk bahunya pelan. Wanita itu bahkan tidak berani menyentuh pipi Hana yang putih mulus Itu.
Perlahan Mata Hana pun terbuka. Matanya mengerjap, Kemudian membola ketika melihat beberapa orang asing berada di sekitarnya.
“Ka-kalian siapa?! “
Bukan menjawab mereka membungkuk sopan padanya seraya berkata. “Selamat datang Nyonya muda! “
Hana kembali mengerjap. “Nyonya muda? Nyonya muda apa? Dan.... “ dia menatap sekitarnya dan juga menatap tubuhnya sendiri yang masih terbalut gaun pengantin.
Mata Hana melebar. “Jadi aku benar-benar Sudah menikah?!”
#Bersambung...